Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amanah Diatas Panggung
Tepuk tangan memenuhi ballroom sesaat setelah pembawa acara mempersilakan narasumber pertama naik ke atas panggung.
Adzra berdiri, merapikan jas putih yang dipadukan dengan blazer biru tua. Ia mengucapkan basmalah pelan sebelum melangkah menuju mimbar.
Di barisan depan, dr. Rayyan memperhatikan jalannya acara bersama para panitia.
Sementara di sisi kanan ruangan, Ghazi duduk di kursi tamu undangan bersama Ja'far dan beberapa perwakilan lembaga.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengetahui bahwa hari itu, takdir sedang menempatkan mereka dalam satu ruangan yang sama.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Suara Adzra terdengar tenang memenuhi ruangan.
"Lima tahun lalu, ketika saya mendirikan Klinik Arafah Medika, banyak yang bertanya..."
"Mengapa membuka klinik di daerah yang masyarakatnya sebagian besar berpenghasilan rendah?"
Adzra berhenti sejenak.
Tatapannya menyapu seluruh peserta.
"Saya selalu menjawab dengan kalimat yang sama."
"Orang yang mampu membayar memang membutuhkan dokter."
"Namun orang yang tidak mampu juga membutuhkan kesempatan untuk sembuh."
Ruangan mendadak hening.
Tidak ada satu pun peserta yang sibuk dengan telepon genggamnya.
"Karena itu, pelayanan kesehatan primer bukan hanya soal mengobati penyakit."
"Tetapi menjaga martabat manusia."
Kalimat itu membuat beberapa peserta mulai mencatat.
Adzra melanjutkan pemaparannya dengan sederhana.
Tidak banyak istilah yang rumit.
Tidak ada kalimat yang dibuat-buat.
Ia lebih banyak berbagi pengalaman nyata di lapangan.
Tentang seorang ibu yang rela menahan sakit demi membeli susu anaknya.
Tentang seorang kakek yang baru mau berobat setelah diyakinkan bahwa biaya tidak akan menjadi penghalang.
Tentang pentingnya mendengar keluhan pasien sampai selesai, meski ruang tunggu telah penuh.
"Bagi saya..."
"...pasien tidak pernah datang hanya membawa penyakit."
"Mereka membawa rasa takut."
"Membawa harapan."
"Kadang juga membawa kesepian."
"Tugas dokter bukan hanya menemukan diagnosis."
"Tetapi memastikan mereka pulang dengan keyakinan bahwa masih ada orang yang peduli."
Seisi ruangan kembali hening.
Rayyan menundukkan kepala sejenak.
Kalimat itu terasa begitu dekat dengan apa yang selama ini ia yakini.
Di sisi lain, Ghazi memandang ke arah panggung tanpa berkedip.
Ia tidak sedang melihat seorang dokter.
Ia melihat perempuan yang dulu pernah berjalan bersamanya.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Adzra bukan menjadi kuat karena luka yang pernah dialaminya.
Adzra memang selalu perempuan yang kuat.
Hanya saja...
Dulu ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak pernah benar-benar melihatnya.
***
Empat puluh lima menit berlalu tanpa terasa.
Presentasi ditutup dengan tepuk tangan panjang.
Seorang dokter muda mengangkat tangan ketika sesi tanya jawab dibuka.
"Dokter Adzra."
"Di tengah tekanan pekerjaan, bagaimana Dokter menjaga semangat agar tidak mengalami kelelahan emosional?"
Adzra tersenyum.
"Itu pertanyaan yang sangat penting."
Ia terdiam beberapa detik.
"Saya juga pernah lelah."
Beberapa peserta saling berpandangan.
Jawaban itu terasa jujur.
"Kalau boleh jujur..."
"Ada hari-hari ketika saya merasa tidak mampu lagi."
"Tetapi setiap kali itu terjadi..."
"...saya mengingat bahwa saya tidak bekerja sendirian."
"Saya punya tim."
"Saya punya sahabat-sahabat yang saling menguatkan."
Pandangan Adzra tanpa sadar mengarah kepada dr. Nabila yang duduk di barisan depan.
Nabila membalasnya dengan senyum kecil.
"Dan yang paling penting..."
"...saya selalu berusaha mengingat bahwa pasien bukan datang kepada saya."
"Mereka datang karena Allah mengizinkan saya menjadi salah satu jalan pertolongan-Nya."
Ruangan kembali sunyi.
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa mengendap di hati banyak orang.
***
Acara memasuki waktu istirahat.
Para peserta mulai berdiri.
Beberapa menghampiri Adzra untuk mengucapkan terima kasih dan berdiskusi singkat mengenai materi yang disampaikan.
Rayyan baru mendekat setelah antrean peserta mulai berkurang.
"Terima kasih, Dok."
Adzra menoleh.
"Oh... Dokter Rayyan."
"Materinya luar biasa."
Adzra tersenyum kecil.
"Berlebihan."
"Saya hanya berbagi pengalaman."
"Justru itu."
Rayyan menggeleng pelan.
"Pengalaman yang disampaikan dengan jujur biasanya lebih membekas daripada teori yang panjang."
Adzra mengangguk pelan.
"Semoga bermanfaat."
"Insyaallah."
Percakapan mereka tidak berlangsung lama.
Seorang panitia datang memanggil Rayyan karena ada tamu dari Ikatan Dokter yang ingin bertemu.
"Maaf, Dok."
Rayyan berpamitan.
"Terima kasih sekali lagi."
"Terima kasih juga."
Adzra kembali melayani peserta lain yang ingin bertanya.
Semuanya berlangsung sewajarnya.
Profesional.
Penuh rasa hormat.
***
Di sisi lain ballroom, Ghazi berdiri di dekat pintu keluar.
Ja'far menghampirinya.
"Mas, Ketua Panitia mengundang semua sponsor untuk foto bersama."
Ghazi mengangguk.
"Ayo."
Namun sebelum melangkah, ia kembali menoleh ke arah Adzra.
Perempuan itu masih berdiri melayani pertanyaan para dokter muda.
Tidak sedikit pun terlihat lelah.
Padahal Ghazi tahu...
Pagi tadi Adzra tetap membuka praktik di klinik sebelum datang ke seminar.
Dadanya dipenuhi rasa bangga.
Sekaligus sesak.
Betapa banyak hal tentang Adzra yang baru ia sadari...
justru setelah semuanya berakhir.
Ia mengembuskan napas pelan.
Dalam hati ia berdoa,
"Ya Allah... jika Engkau belum mengizinkanku memperbaiki masa lalu..."
"Setidaknya, jagalah perempuan itu dalam setiap langkahnya."
Ghazi kemudian berbalik menuju panggung utama.
Tanpa menyadari bahwa beberapa langkah di belakangnya...
Adzra juga sedang berjalan ke arah yang sama untuk sesi foto bersama.
Jarak mereka hanya beberapa meter.
Namun takdir masih memilih menyisakan ruang.
Belum hari ini.
***
Malam mulai turun ketika mobil Ghazi memasuki halaman rumah.
Langit Bandung masih menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Angin yang berembus pelan menggoyangkan daun-daun mangga di halaman rumah, menghadirkan suasana yang begitu akrab baginya sejak kecil.
Ghazi mematikan mesin mobil.
Namun ia tidak segera turun.
Tangannya masih menggenggam kemudi.
Pikirannya kembali pada seminar siang tadi.
Bukan isi materi yang terus terngiang.
Melainkan sosok perempuan yang berdiri di atas panggung dengan penuh ketenangan.
"Pasien tidak pernah datang hanya membawa penyakit."
"Mereka membawa rasa takut."
"Membawa harapan."
"Kadang juga membawa kesepian."
Ghazi menutup mata sejenak.
Dulu...
Perempuan itu pernah menyampaikan banyak hal kepadanya.
Tetapi ia terlalu sibuk membuktikan dirinya benar.
Kini, ketika mendengar kalimat yang sama diucapkan kepada orang lain, barulah ia memahami maknanya.
Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya turun dari mobil.
***
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Siti Maryam muncul dari ruang tengah dengan senyum hangat.
"Baru pulang?"
"Iya, Bu."
"Ibu buatkan teh?"
Ghazi mengangguk kecil.
"Terima kasih."
Beberapa menit kemudian mereka duduk berhadapan di meja makan.
Tidak ada percakapan yang panjang.
Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan cangkir.
Namun sebagai seorang ibu, Siti Maryam tahu.
Ada sesuatu yang sedang memenuhi pikiran putranya.
"Kamu bertemu Adzra lagi?"
Pertanyaan itu membuat Ghazi menghentikan gerakan tangannya.
"Iya."
"Di seminar."
Siti Maryam mengangguk pelan.
Beliau tidak terlihat terkejut.
"Hm..."
"Bagaimana kabarnya?"
Ghazi tersenyum tipis.
"Baik."
"Dia tetap seperti dulu."
"Selalu sibuk."
"Selalu lebih memikirkan orang lain."
Siti Maryam memandang putranya cukup lama.
"Baru sekarang kamu menyadarinya?"
Ghazi tertunduk.
Kalimat sederhana itu terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam hatinya.
"Iya, Bu..."
"Baru sekarang."
***
Siti Maryam mengambil napas pelan.
"Dulu..."
"Ibu pernah marah pada Adzra."
Ghazi mengangkat wajah.
"Tapi bukan karena Ibu membencinya."
"Ibu marah..."
"...karena Ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian."
Beliau tersenyum getir.
"Belakangan, setelah semuanya berlalu..."
"Ibu baru sadar."
"Kehilangan itu sering kali membuat kita melihat seseorang dengan lebih jujur."
Ghazi terdiam.
Ia tahu.
Ibunya sedang berbicara bukan hanya tentang dirinya.
Tetapi juga tentang penyesalan seorang ibu yang dahulu tidak cukup peka membaca luka menantunya.
"Apa Ibu masih berharap..."
"...kami kembali?"
Siti Maryam tidak langsung menjawab.
Beliau memandang ke arah jendela, tempat angin malam menggerakkan tirai perlahan.
"Ibu berharap..."
"...Allah memberikan yang terbaik untuk kalian."
Kalimat itu begitu tenang.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada ambisi.
"Lalu kalau yang terbaik itu bukan kembali?"
tanya Ghazi lirih.
Siti Maryam menoleh.
"Kalau memang itu keputusan Allah..."
"...Ibu akan menerimanya."
"Tapi..."
Beliau menggenggam tangan putranya.
"Ibu tidak ingin kamu hidup membawa penyesalan sampai akhir."
"Minta maaflah."
"Bukan supaya Adzra kembali."
"Tetapi supaya hatimu selesai menjalankan kewajibannya."
***
―Bersambung―