NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Baiklah, kalau kamu bersikeras ingin menikah dengan nya. Aku kabulkan keinginanmu."

Ucapan itu sontak membuat Dimas dan Ibunya saling berpandangan. Raut tegang di wajah mereka perlahan menghilang, berganti kelegaan.

"Nah, begitu dong, Karin." Bu Ratna tersenyum puas. "Ibu tahu kamu wanita pengertian."

"Aku janji tidak akan mengurangi hakmu sedikitpun. Kamu tetap istri sahku." Dimas buru-buru menambahkan.

Karin nyaris tertawa mendengar janji yang begitu mudah diucapkan.

"Kalian ini begitu terburu-buru. Aku belum selesai bicara." Ia kembali duduk dengan tenang, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Senyum di wajah Dimas dan Bu Ratna perlahan memudar.

Karin mengalihkan tatapannya kepada Vina dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Tidak semudah itu, wanita rendahan seperti dia masuk ke dalam rumahku."

"Karin!" Bentak Dimas, "jaga bicaramu!"

Karin menoleh perlahan ke arah suaminya tanpa sedikit pun rasa gentar.

"Lalu menurutmu, perempuan yang sengaja mendekati suami orang pantas disebut apa kalau bukan wanita rendahan?"

Ruangan kembali sunyi.

Tak seorang pun mampu membantah ucapan Karin. Bahkan Vina hanya bisa menundukkan kepala, sementara jemarinya mengepal kuat menahan malu dan amarah.

'Wanita yang tidak tahu diri memang pantas menerima penghinaan dariku,' batin Karin dingin. 'Aku masih mengingat semuanya dengan sangat jelas. Dulu, perempuan ini berkali-kali menghinaku, merendahkanku, bahkan menikmati setiap penderitaanku. Sekarang, aku hanya mengembalikan sedikit dari apa yang pernah dia lakukan.'

"Bu Karin, maaf, saya..."

Karin mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan gadis itu.

"Nyonya Karin," sela Karin dingin."Mulai sekarang panggil aku Nyonya Karin. Jangan lupa siapa dirimu dan siapa aku."

Sesaat wajah Vina menegang. Jemarinya mengepal pelan. Ada kilatan kekesalan di matanya, tetapi hanya berlangsung sekejap sebelum ia buru-buru memasang wajah polosnya.

"I-iya... Nyonya Karin."

Meski bibirnya mengucapkan kata-kata itu, dalam hati Vina mendidih menahan amarah.

'Sombong sekali. Tunggu saja. Begitu aku resmi menjadi istri Mas Dimas, orang pertama yang akan aku usir dari rumah ini adalah kau.'

Dimas yang melihat sikap Vina justru merasa iba. Ia mengusap bahu gadis itu pelan.

"Sudahlah, Vina. Jangan dimasukan ke hati."

Melihat pemandangan itu, senyum sinis kembali terukir di bibir Karin.

'Tetap saja sama seperti kehidupan sebelumnya,' batin Karin. 'Dimas akan selalu membela perempuan itu, apapun yang terjadi.'

"Karin, aku bisa saja menikahi Vina tanpa perlu persetujuanmu. Tapi aku memilih datang dan membicarakan ini baik-baik karena aku masih menghargai posisimu sebagai istriku." ucap Dimas dengan tenang. "Aku akui memang bersalah dalam hal ini. Tapi Vina hanya gadis lemah, dia gak bersalah sama sekali. Kamu hanya perlu mengijinkannya untuk menjadi istri keduaku."

"Lalu bagaimana pandangan orang nanti? bagaimana dengan nama baik keluargaku?" tanya Karin dengan suara yang mulai meninggi.

Ucapan Dimas seketika membangkitkan kembali ingatan pahit yang pernah dialaminya. Di kehidupan sebelumnya, kedua orang tuanya sangat terpukul saat mengetahui ia mengizinkan Dimas menikah lagi. Keputusanya itu menjadi bahan gunjingan keluarga besar, rekan bisnis, hingga masyarakat menganggap karin wanita yang tidak pandai menjaga suaminya. Vina yang saat itu pandai bersilat lidah dengan wajahnya yang selalu terlihat polos berhasil menarik simpati masyarakat sehinga dalam cerita mereka itu karin lah yang bersalah. Nama baik keluarga Wijaya hancur begitu saja.

Keadaan semakin memburuk ketika kesehatan Karin menurun. Selama ia terbaring sakit, Dimas dengan sengaja melarang kedua orang tuanya menjenguknya. Ia terus mencari berbagai alasan agar mereka tidak bisa bertemu.

Orang tua Karin hanya bisa menahan rindu dan rasa khawatir, tanpa pernah mengetahui kondisi putri mereka yang sebenarnya.

Memanfaatkan keadaan itu, Dimas mulai menyingkirkan orang-orang yang masih setia kepada keluarga Karin dan perlahan mengambil alih semua yang pernah di bangun ayah mertuanya.

Hingga suatu hari...

Karin menerima kabar yang menghancurkan hidupnya. Kedua orang tuanya dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan.

Namun Kini, setelah mendapatkan kesempatan menjalani kehidupan kedua, Karin tidak lagi percaya bahwa kematian orang tuanya hanyalah sebuah kecelakaan. ada terlalu banyak kejanggalan yang dulu ia abaikan. Kali ini, ia akan melindungi kedua orang tuanya.

"Kenapa kamu harus peduli pada pandangan orang lain? Kamu jangan terlalu egois hanya karena takut omongan orang kamu tidak memikirkan perasaan Vina." Dimas menghembuskan napas pelan. Rahangnya mengeras, tetapi ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya agar terdengar tenang. "Karin, Apa salahnya kalau aku bertanggung jawab kepada Vina. Dia sudah tidak punya siapa-siapa. Kalau aku meninggalkannya begitu saja, bagaimana dia akan hidup?"

Tatapan Karin semakin dingin pada Dimas.

"Jadi, demi menolong wanita lain, kamu rela menghancurkan istrimu sendiri?"

"Bukan begitu maksudku..."

"Lalu bagaimana maksudmu?" potong Karin "Nama keluargaku kamu pertaruhkan hanya untuk wanita seperti dia? kamu seperti kacang lupa pada kulitnya, kamu melupakan semua kebaikan orang tuaku padamu."

Dimas terdiam sejenak sebelum kembali bicara.

"Aku hanya ingin memberinya kehidupan yang layak untuk Vina. Bukankah kamu selalu bilang kalau menolong orang itu perbuatan baik?"

Karin tersenyum sinis. lalu ia menggeleng pelan tak percaya dengan apa yang ia dengar, Dimas seolah menganggap dirinya bodoh.

"Kalau memang ingin menolong, kamu bisa memberinya pekerjaan, tempat tinggal, atau modal usaha. Bukan menjadikannya istri kedua."

Ucapan itu membuat Dimas kehilangan kata-kata.

Namun, beberapa detik kemudian ia kembali berkata dengan nada yang mulai meninggi.

"Aku sudah terlanjur mencintainya, Karin."

Ruangan kembali sunyi. Kalimat itu seolah menggema di seluruh ruangan.

Vina menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan senyum puas yang hampir terlukis di bibirnya.

Sementara Karin, ia hanya memandang Dimas tanpa sedikitpun merasa sakit hati atau pun cemburu.

'Bagus,' batinnya. 'Akhirnya kamu mengakuinya sendiri,'

Karin terdiam cukup lama. Tatapannya mengarah kepada Dimas, Vina, lalu Bu Ratna. Wajahnya perlahan melunak, seolah telah mengalah.

"Baik. Aku akan mengizinkan kamu menikahi Vina. Tapi ada syaratnya."

Dimas mengernyit. "Syarat apa?"

"Pertama, Vina tidak boleh menuntut status sebagai istri sah. Pernikahan yang kalian inginkan hanya boleh pernikahan siri." kata Karin dengan nada yang tenang dan stabil. "Kedua, di hadapan masyarakat, keluarga besar, maupun dunia bisnis, Vina hanya dikenal sebagai pembantu yang bekerja dirumah ini."

Wajah Vina langsung berubah.

"Apa?"

Karin tersenyum tipis.

"Kenapa? Bukankah sejak awal kalian bilang dia hanya gadis malang yang hanya perlu perlindungan? Kalau begitu, status pembantu seharusnya tidak menjadi masalah."

Vina mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun menahan amarahnya.

"K-kalau begitu orang akan merendahkanku..."

"Dari awal posisimu memang sudah rendah." Nada suara Karin tetap tenang.

Dimas segera menyela.

"Karin, syaratmu terlalu berlebihan."

"Itu pilihan kalian. Tidak ada yang memaksa." jawab karin.

"Tapi Karin..."

"Belum selesai!" Karin menyela. Tatapannya kini berubah semakin tajam. "Ketiga, Vina tidak boleh memiliki anak darimu."

Ruangan mendadak sunyi. Sampai akhirnya, Bu Ratna bersuara egan lantangnya.

"Karin! Sudah cukup! kamu benar-benar keterlaluan." Bu Ratna langsung menghampiri Vina dan menyentuh pipi Vina dengan lembut. "Kasian sekali nasibmu. Hanya karena mencintai anakku kamu sampai harus dihina seperti ini."

Lalu, Bu Ratna menoleh ke arah Dimas. "Kamu juga, kenapa membiarkan situasi ini menjadi rumit?" tegurnya. "Sejak awal Ibu sudah bilang, kamu tidak perlu meminta izin Karin. Dalam agama, laki-laki boleh menikah lagi selama mampu berlaku adil. Kamu terlalu memiikirkan perasaannya."

"Tapi Bu..." Dimas tampak ragu.

"Selama ini kamu selalu menurut pada Karin karena merasa berutang budi kepada keluarganya. Padahal sekarang kamu sudah sukses dengan usahamu sendiri. Tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan." Bu Ratna menggenggam tangan putranya. "Kamu juga berhak bahagia."

Mendengar itu, senyum tipis terukir di bibir Karin.

"Jadi begitu selama ini cara Ibu berpikir?"

1
Thewie
terlalu bertele tele.
Dede Dedeh
perasaan setiap episode nya kok cina and the geng yg selalu menang, karin terlalu lambat memberi balasan,,, kecewa aku thor/Pray/
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!