Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Kepulan asap rokok terakhir diembuskan Bagas ke udara malam yang kian mendingin. Di teras rumah ibunya, ia masih duduk bersandar, mencoba mempertahankan sisa-sisa kesombongan yang baru saja disuntikkan oleh kata-kata ibunya. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah ruang gelap yang dipenuhi oleh rasa cemas dan kepalsuan yang ia tutupi rapat-rapat dari semua orang, terutama dari ibunya sendiri.
Bagas tahu persis bahwa semua cerita yang baru saja ia sampaikan kepada ibunya tentang bagaimana jalannya keuangan rumah tangganya adalah kebohongan besar. Di depan ibunya, Bagas selalu berlagak sebagai pahlawan finansial. Ia selalu membual bahwa gaji kantorannyalah yang menopang seluruh biaya hidup, membayar sewa kontrakan, membayar listrik, hingga membiayai sekolah Dimas. Ia mencitrakan Adinda sebagai istri yang hanya menumpang hidup dan uang hasil katering istrinya itu hanyalah uang recehan yang tidak ada artinya.
Kenyataan yang sebenarnya justru bertolak belakang secara absolut. Gaji bulanan Bagas yang selalu ia banggakan itu hampir tidak pernah menyentuh meja makan rumah mereka. Uang itu habis menguap untuk membayar cicilan motor sportnya yang mahal, membeli barang-barang bermerek demi menjaga gengsi di depan rekan-rekan kantornya, serta nongkrong di kafe-kafe mahal setiap akhir pekan. Bahkan, sebagian dari gaji itu sering ia gunakan untuk membelikan ibunya barang-barang mewah atau sekadar memberi uang jajan tambahan agar ia tetap dipandang sebagai anak laki-laki yang sukses dan berbakti.
Selama belasan tahun ini, Adindalah yang memikul seluruh beban hidup yang sesungguhnya. Uang dari keringat subuh Adinda yang mengurus katering itulah yang membayar sewa kontrakan tripleks mereka tepat waktu, yang memastikan meteran listrik tidak berbunyi di tengah malam, yang mengisi lemari makan dengan lauk-pauk, dan yang membayar uang SPP Dimas agar putranya tidak dikeluarkan dari sekolah. Lebih dari itu, Bagas bahkan sering memaksa Adinda mencari pinjaman ke sana-kemari jika uang jajannya sendiri habis sebelum akhir bulan.
Bagas menatap puntung rokoknya yang memudar di dalam asbak. Ada rasa tidak tenang yang mulai merayap di dadanya. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Besok pagi, ada sebuah berkas penting terkait laporan proyek kantor yang harus ia serahkan kepada bos besarnya. Berkas itu tertinggal di dalam laci meja kecil di kamar kontrakan mereka. Mengingat ancaman Adinda kemarin siang tentang reputasinya di depan atasan, Bagas tahu ia tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun di kantor besok.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat.
"Bu, Bagas harus pamit pulang ke kontrakan sekarang," ucap Bagas sembari bangkit dari duduknya, mendekati ibunya yang sedang asyik menonton televisi di ruang dalam.
Ibunya menoleh dengan kening berkerut. "Lho, kok pulang sekarang? Katanya mau biar Dinda tahu rasa dan menangis sendirian di sana selama beberapa hari?"
Bagas memaksakan sebuah senyuman tipis agar kebohongannya tidak terbongkar. "Ada berkas kerjaan penting yang ketinggalan di sana, Bu. Harus dibawa buat rapat besok pagi-pagi sekali. Lagipula, kalau Bagas pulang jam segini, pasti Dinda sudah tidur. Biar saja dia tahu kalau Bagas pulang tapi tetap mendiamkannya. Itu juga bisa jadi pelajaran buat dia."
Ibunya mendengus, namun akhirnya mengangguk. "Ya sudah kalau urusan kantor. Ingat ya, Gas, sampai di sana jangan kamu yang pasang muka manis duluan. Biar dia yang datang minta maaf dan menyapa kamu lebih dulu!"
"Iya, Bu. Bagas mengerti," jawab Bagas sembari menyalami tangan ibunya.
Bagas memacu motor sportnya membelah jalanan kota yang mulai sepi. Deru mesin motornya yang bising menggema di sepanjang jalan, mencerminkan arogansi pemiliknya yang merasa berada di atas angin. Sepanjang perjalanan, ia menyusun skenario di dalam kepalanya. Ia membayangkan akan masuk ke rumah dengan wajah dingin, mengabaikan Adinda jika istrinya itu terbangun, mengambil berkasnya, lalu tidur memunggungi istrinya seolah-olah Adinda adalah makhluk tak kasat mata. Ia yakin betul taktik mengabaikan ini akan membuat mental Adinda jatuh miskin dan menyerah.
Namun, begitu motor sportnya berbelok masuk ke dalam gang sempit tempat kontrakannya berada, ada sesuatu yang terasa janggal.
Suasana gang itu sangat sepi. Dan yang lebih aneh lagi, saat ia menghentikan motornya tepat di depan pagar besi kontrakan nomor tiga itu, rumahnya tampak gelap gulita. Tidak ada satu pun berkas cahaya yang keluar dari celah jendela depan. Biasanya, meskipun Adinda sudah tidur, istrinya itu selalu menyalakan lampu teras depan dan lampu kecil di ruang tamu agar rumah tidak terkesan mati. Malam ini, rumah itu tampak seperti sebuah bangunan yang tidak berpenghuni.
Bagas mematikan mesin motornya. Keheningan seketika menyergap. Ia turun dari motor dengan kening berkerut dalam, rasa dongkol kembali menguasai hatinya.
"Pasti sengaja dimatikan semua lampunya sama Dinda. Sengaja mau bikin aku kesusahan masuk rumah," gerutu Bagas dalam hati, menganggap kegelapan itu sebagai bentuk perlawanan kekanakan dari istrinya.
Ia melangkah mendekati pagar besi kecil. Tangannya meraba bagian bawah keset tempat Adinda biasanya menyembunyikan kunci cadangan jika ia pulang larut malam. Kosong. Keset itu rata dan tidak ada benda apa pun di bawahnya.
Bagas mendecik kesal. Beruntung, di dalam dompet kulitnya, ia selalu menyimpan kunci cadangan miliknya sendiri. Ia mengeluarkan gantungan kunci itu, lalu memasukkan anak kuncinya ke dalam lubang selot pagar. Pagar besi itu terbuka dengan derit tipis.
Bagas melangkah menaiki teras kecil yang sempit. Suasana gelap gulita di sekelilingnya entah mengapa mulai menimbulkan firasat aneh yang membuat bulu kuduknya meremang sedikit. Ia memasukkan kunci cadangan ke lubang pintu utama. Pintu tripleks itu terasa berat saat dikunci kemarin, namun malam ini, saat ia memutar anak kuncinya...
Klik.
Selot pintu bergeser dengan mudah. Bagas mendorong pintu tripleks itu ke dalam.
"Dinda! Keterlaluan ya kamu, sengaja matikan lampu teras!" seru Bagas dengan suara lantang yang sengaja dibuat berwibawa begitu ia melangkah melewati ambang pintu. Tangannya refleks meraba dinding di samping pintu, mencari sakelar lampu ruang tamu untuk menerangi ruangan.
Tek.
Bagas menekan sakelar tersebut. Lampu neon di langit-langit menyala, memancarkan cahaya putih yang seketika menerangi seluruh sudut ruang tamu dan ruang tengah.
Namun, begitu cahaya itu memenuhi ruangan, kata-kata makian yang sudah tersusun di ujung lidah Bagas mendadak terkunci rapat. Sepasang matanya melebar, menatap pemandangan di hadapannya dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. Pikirannya mendadak kosong, seperti dihantam oleh benda tumpul.
Ruang tamu dan ruang tengah itu... tampak begitu luas. Terlalu luas dari biasanya.
Bagas melangkah maju satu langkah, matanya memindai sekeliling dengan panik. Kardus-kardus bekas mi instan tempat penyimpanan barang-barang yang biasanya bertumpuk di sudut ruangan kini telah lenyap. Rak sepatu plastik murah yang biasanya ada di dekat pintu sudah tidak ada di tempatnya. Meja makan kayu masih berada di sana, namun permukaannya bersih total tidak ada tudung saji, tidak ada piring, tidak ada gelas, bahkan tidak ada satu pun stoples bumbu katering yang biasanya berjejer di atasnya.
Rasa panik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai menjalar dari telapak kakinya naik hingga ke dada, membuat jantungnya berdegup dengan ritme yang liar.
Bagas berlari kecil menuju sekat kamar pertama kamar milik Dimas. Ia menyibak kain gorden yang menjadi penutup pintu. Kamar itu kosong melompong. Kasur lantai tempat Dimas tidur sudah tidak ada di sana. Lemari plastik tempat pakaian seragam anak laki-lakinya itu hilang tanpa bekas, hanya menyisakan lantai semen yang berdebu tipis. Di sudut lantai, selembar kertas coretan kalkulus yang robek menjadi satu-satunya bukti bahwa kamar ini pernah dihuni oleh seorang anak sekolah.
"Dimas?! Dinda?!" teriak Bagas, suaranya kini tidak lagi berwibawa, melainkan bergetar dipenuhi ketakutan yang mendalam.
Ia berbalik dengan cepat menuju kamarnya sendiri. Pintu kamar dibukanya dengan paksa hingga membentur dinding tripleks dengan suara keras. Kamar itu juga telah berubah menjadi ruang kosong yang dingin. Kasur busa di lantai tidak lagi dilapisi sprei. Lemari pakaian kayu besar miliknya masih berdiri di sudut, namun ketika Bagas menarik pintunya hingga terbuka lebar... isi lemari itu telah terbagi menjadi dua dunia yang kontras.
Di sisi sebelah kanan, pakaian-pakaian dinas dan baju kaus milik Bagas masih menggantung dengan rapi. Namun di sisi sebelah kiri tempat di mana Adinda biasanya menyimpan gamis-gamis katun usang dan jilbab-jilbab instannya kini kosong melompong tanpa menyisakan sehelai benang pun. Tas travel besar yang biasanya disimpan di rak paling atas juga telah hilang.
Bagas mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur pinggiran lemari. Napasnya memburu. Ia teringat akan berkas kantor yang menjadi alasan kepulangannya malam ini. Dengan tangan yang gemetar hebat, Bagas mendekati meja kecil di samping kasur, menarik lacinya. Beruntung, map berisi berkas kantornya masih ada di sana, tergeletak di samping sebuah benda kecil yang menarik perhatiannya.
Di dalam laci yang kosong itu, Adinda meninggalkan kunci rumah utama yang kemarin ia bawa. Di samping kunci itu, sebuah kertas nota katering kecil diletakkan dengan tulisan tangan Adinda yang rapi menggunakan bolpoin hitam.
Bagas memungut kertas itu dengan jari-jari yang kaku. Di bawah temaram lampu kamar yang sunyi, ia membaca pesan singkat yang tertulis di sana.
"Rumah ini sudah saya kembalikan fungsinya seperti semula saat pertama kali kita sewa. Semua urusan kita di bawah atap ini sudah selesai. Jangan cari saya atau Dimas lagi. Surat resmi dari pengadilan akan segera sampai ke tanganmu."
Kertas itu terlepas dari genggaman Bagas, melayang jatuh ke atas lantai semen yang dingin.
Bagas terduduk di tepi kasur tanpa sprei, memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening luar biasa. Kata-kata di dalam surat itu terutama kata pengadilan seperti sebuah petir yang menyambar seluruh dinding kesombongan yang ia bangun bersama ibunya tadi sore. Ternyata, ancaman Adinda kemarin siang sama sekali bukan gertakan sambal. Istrinya yang selama belasan tahun ini ia anggap lemah, penurut, dan tidak berdaya tanpa uangnya, kini telah melangkah pergi meninggalkannya dalam kehampaan yang mutlak. Bagas tersadar, kebebasan yang ia pamerkan di rumah ibunya kini berubah menjadi hukuman mati bagi egonya sendiri di dalam rumah kontrakan yang sunyi dan kosong ini.