NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Munculnya Monster Nessie

"Bagaimana, Pangeran Justin? Apakah kau menikmati pertunjukan seni tempurku?"

"Tentu saja aku sangat menikmatinya! Kau benar-benar berada di level yang luar biasa,"

Justin mengacungkan kedua jempol tangannya tinggi-tinggi ke udara. Dia kemudian melirik ke arah tumpukan abu hitam yang berserakan di atas tanah. "Apalagi saat kau mengeluarkan sihir api keunguan tadi. Mereka semua sekarang benar-benar terlihat seperti menu serigala panggang yang gosong, Alan."

"Pertarungan ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan standar asliku, Justin. Bagiku, tingkat kesulitan menghadapi mereka terlalu mudah," sahut Alan dengan nada suara meremehkan yang sengaja dibuat-buat untuk menggoda sahabatnya. "Aku sudah terbiasa menghadapi amukan monster di planet asalku yang ukurannya jauh lebih besar, mengerikan, dan mematikan daripada sekadar kumpulan anjing-anjing kurus tak berpemilik ini. Jadi... jika suatu hari nanti kau berada di dalam situasi bahaya atau merasa takut menghadapi makhluk jahat Bumi, panggil saja namaku. Aku akan selalu siap berdiri di depan untuk menjadi perisai pelindungmu, Saudaraku."

Justin mendengus kencang, lalu memutar bola matanya malas mendengar untaian kalimat kesombongan Alan yang dirasanya setinggi langit malam. "Aku tidak selembek dan selemah yang kau kira di dalam otak kecilmu itu, Alan! Dan berhenti memanggilku dengan sebutan penakut!" protes Justin sambil membusungkan dada kecilnya, mencoba untuk terlihat berwibawa dan garang meskipun tinggi anatomi tubuh mereka berdua sama persis.

"Ingat ini, aku adalah calon Raja Vampir penguasa Luminara di masa depan! Aku pasti bisa melindungi diriku sendiri dengan sepasang taringku tanpa harus merepotkanmu untuk memanggang musuh-musuhku!"

Alan tertawa lepas melihat reaksi Justin yang tampak tersinggung manis akibat ucapannya. Di tengah kegelapan hutan yang kelam dan masih menyisakan bau maut terbakar, tawa renyah kedua anak kecil itu memecah kesunyian malam, mengabaikan fakta psikologis bahwa mereka baru saja melintasi sebuah pertarungan hidup dan mati yang nyata.

"Baiklah, durasi malam kian larut, sebaiknya kita segera putar balik pulang ke kastil sekarang! Aku sama sekali tidak tertarik untuk berakhir dimarahi oleh ayah angkatmu yang berwajah dingin dan menyeramkan itu," seru Alan sembari merentangkan kembali sepasang sayap putih megahnya, bersiap untuk melesat kembali menembus angkasa. Dia mengulurkan tangan kanannya ke bawah, bermaksud untuk meraih tubuh Justin seperti sebelumnya.

Namun, Justin menepis kasar tangan itu dengan satu gerakan cepat. Wajah pucatnya masih tertekuk masam akibat sisa egonya yang terluka. "Aku bisa menempuh jalur pulang dengan kekuatanku sendiri! Tidak perlu lagi kau angkut-angkut di udara seperti seorang bayi fana!"

Sebelum Alan sempat melontarkan kalimat balasan, tubuh Justin sudah melesat maju ke depan. Gerakan motoriknya berubah menjadi bayangan kabut hitam yang samar, membelah kegelapan jalur hutan dengan kecepatan kilat khas bangsa vampir sejati.

Alan hanya bisa diam terpaku sejenak di tempatnya berdiri, menatap pusaran debu yang tertinggal di sepanjang jalur lari Justin. Dia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu mengembuskan napas panjang. "Justin! Apakah fisikmu tidak akan didera rasa lelah? Kau yakin benar-benar menolak untuk terbang bersamaku lagi?" teriak Alan dari ketinggian udara.

Dia mengepakkan sepasang sayap putihnya sekuat tenaga, berusaha mempertahankan posisinya agar tetap bisa menyejajari kecepatan lari horizontal sahabatnya di bawah.

"Tidak!" sahut Justin singkat tanpa repot-repot menolehkan kepalanya ke atas. Sepasang kakinya menghantam permukaan tanah hutan dengan ritme konstan yang teramat cepat.

Sebagai seorang vampir, akumulasi kelelahan fisik hampir tidak pernah dirasakan oleh sistem ototnya, namun harga diri dan egonya saat ini jauh lebih kuat menuntut eksistensi daripada rasa lelah itu sendiri.

Beberapa saat kemudian, kepadatan vegetasi pepohonan di depan mereka mulai menipis, menandakan mereka telah hampir sampai di area perbatasan belakang kastil batu hitam. Namun, ayunan langkah kaki lari Justin mendadak terhenti total tepat di tepi daratan sebuah danau yang teramat luas.

Tubuh kecilnya mematung, menatap hampa pada permukaan air danau yang berwarna gelap dan berkilau keperakan tertimpa cahaya bulan purnama. Tadi sore, saat pergi meninggalkan kastil bersama Alan, mereka melintasi bentangan danau mati ini lewat jalur udara dengan sangat mudah tanpa hambatan.

Namun sekarang, genangan air danau raksasa ini menjelma menjadi rintangan fisik yang mustahil untuk dilewati hanya dengan modal berlari horizontal.

Justin mendongakkan kepalanya ke atas langit, melihat siluet tubuh Alan yang terbang meluncur dengan anggun melewati bentangan air danau begitu saja, seolah-olah anak Pegasus itu tidak menyadari bahwa Justin tertinggal jauh di tepi daratan seberang.

"Alan... tunggu aku!" gumam Justin pelan dengan suara yang teramat lirih, vokal kalimatnya langsung tertelan oleh deru embusan angin malam. Dia menatap permukaan air danau yang dalam, tenang, dan pekat.

Detik itu juga, isi kepalanya mulai kembali dihantui oleh bayangan mitos monster air Nessie yang tadi sore mereka perdebatkan.

Justin bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang. Di usianya yang baru menginjak fase awal pertumbuhan, dia belum memendam kemampuan metamorfosis untuk mengubah wujudnya menjadi seekor kelelawar malam seperti ayahnya, Jacob. Dan nekat berenang membelah danau seluas ini sendirian pada malam purnama rasanya tidak berbeda jauh dengan tindakan bunuh diri yang konyol.

"Aku... aku harus bagaimana sekarang? Apakah aku benar-benar dipaksa harus berenang menembus air ini?"

Justin berdiri didera kebimbangan yang masif di tepi air, menatap arsitektur kastil ayahnya yang terlihat begitu dekat di seberang sana, namun terasa teramat jauh karena terhalang oleh bentangan air yang pekat.

"Sudahlah, persetan dengan mitos! Berenang saja! Aku ini adalah seorang vampir abadi, tubuhku tidak akan pernah bisa mati tenggelam," gumam Justin mencoba menyuntikkan keberanian fiktif ke dalam sistem sarafnya.

Dengan detak jantung yang berdegup kencang menabrak rongga dada, Justin melompat masuk ke dalam air danau yang gelap.

BYUURRR!

Hantaman air danau yang teramat dingin menusuk kulit pucatnya, namun dia segera menggerakkan kedua lengannya dengan gerakan taktis, berenang secepat mungkin membelah arus menuju ke arah dermaga kayu kastil di seberang sana.

Baru saja posisi tubuh kecil Justin berhasil mencapai titik tengah danau, permukaan air di sekeliling radius berenangnya mendadak bergejolak hebat tanpa ada indikasi angin.

Muncul riak-riak gelombang besar yang membentuk formasi lingkaran pusaran air, seolah-olah ada sebuah entitas makhluk hidup berukuran teramat masif sedang bergerak naik secara vertikal dari dasar danau yang paling kelam.

Justin menghentikan gerakan berenangnya, tubuhnya mematung kaku di tengah air. Deru napasnya mendadak tertahan di tenggorokan.

SPLASH—

Secara mendadak, sebuah leher panjang berdiameter raksasa yang dilapisi oleh struktur sisik tebal sewarna legam mencuat keluar menembus permukaan air dengan suara desisan supranatural yang teramat mengerikan.

Bagian kepalanya berbentuk pipih kecil, namun sepasang kelopak matanya memancarkan kilat cahaya kuning keemasan yang tajam di bawah siraman rembulan, menatap lurus penuh intimidasi ke arah tubuh Justin yang terlihat bagai titik kecil tak berdaya di tengah luasnya danau.

"Nes... Monster Nessie?"

Seluruh sistem saraf Justin membeku total di dalam air dingin. Mitos itu nyata. Monster air kuno itu meliukkan leher panjangnya yang fleksibel di udara, memamerkan deretan punuk-punuk kasar yang menonjol di atas permukaan air, persis seperti deskripsi horor yang sering dituturkan oleh para pelayan senior kastil.

Nessie membuka moncong mulutnya yang lebar, memamerkan jajaran gigi-gigi runcing sekeras baja yang berkilau tajam.

Justin mencoba memutar posisi tubuhnya dengan panik, sepasang tangannya bergerak liar membelah air untuk mencoba berenang menjauh ke arah tepi daratan terdekat. Namun, monster purba itu memendam pergerakan yang jauh lebih gesit dan absolut di dalam habitat aslinya.

Dengan satu kibasan ekor raksasanya di bawah permukaan air, sebuah pusaran air kecil yang memendam daya hisap masif terbentuk, menyeret paksa tubuh kecil Justin untuk kembali ke titik tengah pertahanan sang monster.

"Pergi kau mahluk jelek! Jangan berani-berani mendekati tubuhku!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!