Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
“Kamu bicara apa sih, aku tidak mengerti. Tolong beri jalan, aku tidak mau berurusan dengan kalian,” Rara masih pura‑pura tidak tahu dan berusaha melewati mereka.
“Berhenti berpura‑pura tidak tahu. Kamu bahkan menabrak mobil lain setelah gagal mengejar kami,” kali ini Fitri yang bicara dengan nada tajam.
“Jangan lari dari tanggung jawab, atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke kantor polisi. Bukannya menolong korban, kamu malah kabur. Dasar tidak punya hati,” tambah David.
“Apa kalian punya bukti? Jangan menuduh kalau tidak ada bukti nyata,” tantang Rara meski jantungnya berdebar kencang.
“Tentu saja kami punya bukti. Kamera di dasbor mobil kami merekam semuanya, termasuk saat kamu menabrak kendaraan itu,” jawab David sambil tersenyum puas melihat wajah Rara yang makin pucat.
Rara makin panik. Ia berpikir keras mencari cara untuk lolos dan membungkam mereka berdua agar tidak melaporkannya ke polisi. Tiba‑tiba teringatlah rekaman video intimnya bersama David dulu. Ia sengaja merekamnya saat mereka masih berselingkuh, sebagai jaga‑jaga jika David membuangnya. Dulu rekaman itu tidak berguna karena Fitri malah bersikap tenang, tapi sekarang ia berniat menggunakannya.
“Silakan saja serahkan bukti itu ke polisi. Tapi ingat, bukan hanya aku yang akan hancur. Aku juga akan membawa kalian hancur bersamaku,” ancam Rara sambil tersenyum miring melihat wajah mereka yang bingung.
“Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu?” tanya David dengan nada meremehkan.
“Lihat saja nanti. Apakah kamu akan tetap tegar setelah melihat ini?” ucap Rara sambil mengangkat ponselnya.
David dan Fitri tertegun kaku melihat apa yang ditampilkan di layar ponsel itu. David tak menyangka Rara tega merekam momen intim mereka dulu. Sementara Fitri merasa hatinya seperti ditusuk ribuan jarum, melihat betapa mesra dan bergairahnya suaminya bersama wanita lain. Meski sudah memaafkan masa lalu itu, tak ada istri yang sanggup melihat bukti nyata perselingkuhan suaminya.
Rasa marah dan benci meluap di dada Fitri, mungkin karena pengaruh hormon kehamilan yang membuat emosinya makin tak stabil. Padahal ia sudah tahu David pernah mendekati Rara, tapi melihatnya langsung membuat rasa sakit itu makin tajam. Namun Fitri segera menguasai diri, berusaha berpikir jernih agar tidak terjebak emosi. Ia memasang wajah datar seolah tak tergoyahkan, meski hatinya hancur lebur.
“Kuatkan dirimu, Fitri. Jangan menangis di depannya. Jangan biarkan dia menang. Kamu pasti bisa,” batinnya menyemangati diri sendiri. “Dan kamu, David… tunggu saja hukumanmu. Aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup.”
Rara tersenyum bangga melihat wajah David yang mulai cemas. Ia yakin kini kendali ada di tangannya.
“Kalau kalian berani melaporkanku, aku akan menyebarkan rekaman ini kemana‑mana. Lihat saja nanti, nama baikmu, bisnis yang kamu bangun susah payah, semuanya akan hancur. Dan kamu, Fitri yang terhormat, pasti akan menanggung malu karena suamimu selingkuh. Keluargamu pasti akan memintamu bercerai,” ucap Rara penuh percaya diri.
Rara tersenyum puas melanjutkan ancamannya. “Mana mungkin orang tua yang berasal dari kalangan terhormat mau menantu yang dikenal sebagai tukang selingkuh? Bagaimana nasib nama baik Bapak David dan Ibu Fitri yang sangat dihormati di kota ini?”
Fitri masih berusaha menahan wanita itu, “Kamu tidak takut karier dan masa depanmu sendiri akan hancur jika video itu menyebar luas?”
“Kamu pikir aku bodoh?” balas Rara dengan nada tajam. “Jika kalian melaporkanku, aku pasti akan masuk penjara. Kalau begitu, masa depanku sudah hancur sejak awal. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang begitu saja. Mari kita hancur bersama. Keputusan ada di tangan kalian: biarkan kasus ini berlalu dan aku pergi jauh, atau kita semua tenggelam dalam aib yang sama.”
David merasa sangat marah dan kecewa pada dirinya sendiri, menyesal pernah begitu percaya pada wanita licik seperti Rara. Ia sadar sepenuhnya: jika rekaman itu tersebar, kehormatan, bisnis, bahkan rumah tangganya bisa runtuh seketika. Orang tua Fitri sangat menyayangi putri tunggal mereka, dan memiliki pengaruh besar di kota ini. Jika aib itu terbongkar, mereka pasti akan membawa Fitri pergi dan meminta anaknya bercerai.
“Baiklah, kami akan melupakan kejadian ini,” ucap Fitri akhirnya, memilih menahan diri demi nama baik keluarga. “Tapi kamu harus menepati janji dan pergi sejauh mungkin dari sini. Jika kamu berani mengganggu kami lagi, jangan salahkan aku jika membuatmu menyesal seumur hidup.”
“Setuju. Aku tidak akan berbuat apa‑apa selama kalian tidak mengusikku. Sekarang minggir dan biarkan aku lewat,” jawab Rara angkuh.
Setelah Rara pergi, David dan Fitri pun pulang dengan perasaan kacau. Sementara itu Rara segera meninggalkan kota itu tanpa menoleh ke belakang lagi.