NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Pemuas Badboy Kampus

Terpaksa Menjadi Pemuas Badboy Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18.

Gymora masih menatap Wiliam dari balik kaca mobil, Draka sedikit merasa cemburu dengan aksi yang dilakukan oleh Gymora.

"Apakah kamu masih sangat mencintainya?" Celetuk Draka.

Gymora terdiam. Hatinya terasa sakit dengan sikap kasar Wiliam barusan.

Cinta?

Gymora mencintai Wiliam sejak bertahun-tahun yang lalu. Sebelum Kania datang, hubungan Wiliam dan Gymora tentu sangat baik.

Bahkan sebelumnya Wiliam sangat memperlakukan Gymora begitu istimewa.

Sedangkan Draka, kebersamaan yang ia jalani dengan pria itu baru seminggu yang lalu.

Ia tahu kalau hatinya sedikit terasa bergetar saat dekat dengan Draka, tapi Gymora belum bisa memastikan apakah itu cinta atau bukan?

Draka merasakan hatinya semakin nyeri, saat Gymora terdiam.

Bayang-bayang siang hari itu, saat melakukan dengan Gymora kembali terngiang didalam otaknya.

Bagaimana pun juga, Draka hanya manusia biasa yang bisa memiliki rasa kesal atau pun cemburu jika wanita yang dicintainya masih memiliki perasaan pada pria lain.

Sebelum kejadian panas siang itu, Draka memang hanya mengagumi Gymora dan perasaannya sekedar rasa iba dan kasihan.

Tapi sejak saat itu, Draka seperti benar-benar tidak bisa lepas dari bayang-bayang wanita itu.

Bahkan otaknya sekarang ini hanya dipenuhi Gymora.

Draka menarik napas panjang, matanya yang dingin menusuk langsung ke arah Gymora.

"Kenapa masih diam? Apakah kamu masih mencintai Wiliam?" Suaranya lebih dingin, hampir tanpa emosi, namun penuh tekanan yang membuat udara di dalam mobil seketika menjadi berat.

Gymora terkejut, tubuhnya sedikit menegang saat menoleh.

Tatapan mereka bertubrukan; matanya yang samar-samar menunjukkan kebingungan dan rasa sakit, sementara Draka menatap tajam, penuh amarah yang terpendam lama.

Detik-detik itu terasa seperti pertempuran batin yang tak berujung.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Draka menekan rem dengan keras, mobil melambat dan berhenti di pinggir jalan sepi.

Wajahnya berubah kesal, tangan kasar menarik tengkuk Gymora hingga wajah mereka nyaris berdekatan.

"Jangan hanya diam!" geram Draka, lalu tiba-tiba bibirnya menempel paksa ke bibir Gymora.

Gymora benar-benar dibuat terkejut dengan ekspresi Draka yang biasanya terlihat begitu lembut, sekarang ini terlihat sangat menakutkan.

Ia berusaha menolak, mendorong dengan lembut tapi tegas, matanya memancarkan ketakutan dan ketidakberdayaan.

Namun Draka tak menghiraukan perlawanan itu, ciumannya semakin kuat, seolah ingin menelan seluruh keberadaan Gymora.

Dalam diam, perasaan mereka terperangkap dan perlawanan yang sia-sia membeku di antara mereka, meninggalkan luka yang tak terlihat tapi sangat nyata.

Sekarang Draka malah semakin menarik Gymora lebih dekat, napasnya berat dan wajahnya memerah oleh amarah yang menggelegak.

Bibirnya menempel kasar di bibir Gymora, mencium dengan paksa tanpa memberi ruang sedikit pun.

Gymora terkejut, matanya membelalak lebar, dadanya bergetar mencoba menghirup udara yang kian tertahan.

Tangannya meronta di tubuh Draka, mencoba menolak sentuhan yang tak diinginkan itu.

Namun, Draka tak peduli, tangan kirinya tanpa sopan merambat masuk ke dalam pakaian Gymora, meremas kulitnya dengan kasar.

Ketegangan di dalam mobil itu membuncah, suara napas mereka berdua beradu.

Gymora menggigil, air matanya mulai menetes, suaranya terputus-putus saat memohon, "Draka, aku mohon jangan..."

Namun Draka, yang dikuasai amarah dan cemburu pada Wiliam, malah dengan kasar menurunkan kursi mobil perlahan, jari-jarinya sibuk membuka kancing baju Gymora.

Hatinya terombang-ambing antara cinta yang salah arah dan kemarahan yang membutakan, sementara Gymora hanya bisa berjuang melawan ketakutan yang menjalari tubuhnya.

Draka menciumi bagian dada Gymora, tapi saat ingin bertindak lebih lanjut.

Seorang polisi berpatroli datang menghampiri mobil Draka, Gymora langsung mendorong Draka dan menutup dadanya dengan kain yang sbelumnya ia gunakan untuk menutup kepalanya.

Draka menurunkan kaca mobil, wajahnya terlihat sangat muram.

"Ada apa?" Tanyanya seraya menatap polisi itu dengan tatapan yang sangat tajam.

Pria berpakaian seragam itu menjawab dengan nada tak kalah dingin. "Anda tidak boleh berhenti dijalan raya utama. Lebih baik Anda ikut saya ke kantor polisi."

Polisi itu lalu menatap ke arah Gymora yang menyedihkan.

"Nggak perlu kamu melihatnya dengan tatapan seperti itu? Dia itu istriku," kata Draka bohong dengan nada posesif, ia menegakkan punggungnya untuk menutupi polisi yang masih ingin menatap ke arah wajah Gymora.

Polisi itu mengajukan beberapa pertanyaan, Draka dengan tenangnya menjawabnya.

Keduanya berbasa-basi sebentar.

Lalu Draka menyerahkan kartu kendaraan mengemudi miliknya nya dan berkata, "aku masih ada urusan. Nanti biar asisten pribadiku saja yang langsung datang ke kantor polisi untuk membuat janji temu dengan kepala jenderal."

Ucapan Draka menyiratkan kekuasaan yang sekarang ini dia miliki.

Tapi wajah polisi itu terlihat tak takut sama sekali, "baiklah. Aku akan menunggu Anda di kantorku."

Tanpa menunggu jawaban dari Draka, polisi itu langsung pergi.

Dikota ini, nama Gymora sebelumnya sangat terkenal.

Bahkan gadis itu menjadi incaran bebarapa pengusaha dan konglomerat untuk dijadikan menantu, mengingat hal itu rasa cemburu benar-benar membakar hati Draka.

Setelah polisi itu pergi, Draka berusaha keras untuk menenangkan hatinya.

Lalu ia kembali mengemudikan mobilnya tanpa menoleh ke arah Gymora.

Tak berselang lama, mobil yang dikemudikan Draka sampai di apartemen.

"Kamu bisa jalan nggak?" tanya Draka dengan suara yang jauh lebih lembut.

Gymora menjawab dengan nada sedikit takut, "aku bisa."

Setelah Draka membuka kunci mobilnya, Gymora pun keluar.

Setelah Draka keluar, ia melihat Gymora masih berdiri terpaku dan menunggunya.

Hatinya pun terasa menghangat. "Mungkin tadi Gymora tidak langsung menjawab karena dia bingung mau menjawab apa," gumam Draka dalam hatinya berusaha untuk menyenangkan dirinya sendiri.

Padahal yang sebenarnya terjadi, Gymora menunggu Draka karena apartemen itu memang milik Draka.

Ia yang tidak punya tempat tinggal tidak ada pilihan lain selain menunggu yang punya rumah.

Baginya tidak sopan kalau ia masuk lebih dulu, lagi pula Gymora juga tidak memiliki akses kartu untuk membuka pintu apartemen.

Dua orang yang mempunyai pemikiran yang sangat berbeda.

Setelah keduanya masuk ke dalam apartemen, Gymora malah merasa bingung. Ia harus tidur dimana?

Memang semalam ia tidur didalam kamar sendirian, tapi akhirnya sekarang ia menyadari.

Kalau apartemen ini hanya memiliki satu kamar saja.

"Apakah tidak ada ruangan lain?" tanya Gymora.

Draka menjawab, "nggak ada. Lebih baik kamu bersihkan dirimu dulu! Aku sudah pesan makanan!!"

Draka terlihat sangat sibuk berkutat dengan laptopnya, bahkan ada beberapa dokumen yang menumpuk disana.

Gymora memang marah dengan sikap Draka, jadi sampai sekarang ia belum menyadari tentang pakaian Draka yang berbeda dan terlihat mahal.

Ia memang curiga dengan Draka yang menyembunyikan identitasnya.

Tapi ... Karena Draka satu-satunya orang yang menolongnya, Gymora mengerti, mungkin Draka mempunyai alasan mengapa dia melakukan semua itu.

Mengingat Draka seorang yatim piatu, jadi Gymora memilih untuk tidak menyinggung Draka dan menganggap uang Draka yang banyak hasil dari Raka Grup.

Walaupun Gymora bukan orang bodoh, ia tahu fakta jika perusahaan yang baru berjalan selama dua tahun tidak mungkin mampu memberikan deviden sebanyak itu.

Dengan kata lain, Draka bisa mempunyai saham 20 persen itu karena sebelumnya Draka berasal dari orang kaya.

Gymora memilih segera mandi, lalu mengganti bajunya yang tersedia di lemari.

Saat mengambil baju, ia sedikit terkejut karena lemari itu sekarang dipenuhi beberapa pakaian wanita karena sebelumnya pakaian itu memang tidak ada.

Gymora memasukkan sim miliknya yang sebelumnya terambil di ponselnya yang rusak, karena ponsel baru yang diberikan oleh Draka ini memang sudah ada nomornya.

Alisnya mengkerut, karena banyak sekali panggilan dan pesan dari nomor tak dikenal.

Bahkan ibunya juga menelpon.

Gymora memilih mengabaikan mereka untuk segera memakai pakaiannya dan tidur. Ia merasa sangat kelelahan.

1
Mia Camelia
lanjut thor 😄
cerita nya seruuu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!