Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
[ Satu Minggu Menuju Selamanya ]
Hari pertunangan tinggal satu minggu lagi.
Vincent sibuk mempersiapkan semuanya sendiri. Ia tidak menginginkan pesta mewah, tidak juga hotel berbintang. Baginya, satu-satunya tempat yang pantas menjadi awal kehidupan barunya hanyalah rumah yang dipenuhi mawar putih—rumah tempat kedua orang tuanya pernah mengajarkan arti sebuah keluarga.
Pagi itu, Vincent berdiri di halaman rumah bersama beberapa pekerja.
"Semua mawar putih di sepanjang jalan masuk jangan dipindahkan," ujarnya.
"Baik, Tuan."
"Lampunya cukup yang berwarna hangat."
"Jangan terlalu ramai."
Seorang pekerja tersenyum.
"Acara pertunangan ya, Tuan?"
Vincent hanya mengangguk kecil.
"Semoga lancar."
"Terima kasih."
Damian yang berdiri di sampingnya memperhatikan sahabatnya itu sambil tersenyum.
"Bos."
"Hm?"
"Saya belum pernah melihat Anda sebahagia ini."
Vincent menatap rumah di depannya.
"Aku juga belum pernah sebahagia ini."
Sore harinya, Vincent datang ke toko bunga.
Rhea sedang merangkai buket mawar putih ketika bel pintu berbunyi.
"Kau sibuk?" tanya Vincent.
"Sedikit."
Vincent mengambil satu tangkai mawar putih dari meja.
"Aku boleh meminjam ini?"
"Untuk apa?"
Vincent tersenyum misterius.
"Rahasia."
Rhea tertawa pelan.
"Akhir-akhir ini kau suka sekali menyimpan rahasia."
"Bentar lagi juga kau tahu."
Kalimat itu membuat dada Rhea kembali terasa sesak.
"Kalau saja kau tahu..." batinnya.
"Akulah yang menyimpan rahasia paling besar."
Malamnya, Rhea dipanggil ke markas.
Komandan berdiri di depan peta lokasi rumah Vincent.
"Operasi final."
Semua anggota langsung fokus.
"Target dipastikan berada di lokasi pukul tujuh malam."
"Seluruh petinggi Black Raven juga akan hadir."
Komandan menunjuk halaman rumah.
"Tim Alpha mengepung dari depan."
"Tim Bravo masuk dari belakang."
"Tim Charlie mengamankan seluruh tamu sipil."
Lalu ia menatap Zhava.
"Dan kau..."
"...tetap berada di sisi Vincent."
Zhava mengangguk pelan.
"Setelah target memasangkan cincin..."
"...kau akan memberikan kode."
Ruangan mendadak sunyi.
"Kode apa, Komandan?" tanya salah satu anggota.
Komandan menjawab singkat.
"Lepaskan tangan Vincent."
"Itu tanda operasi dimulai."
Zhava membeku.
Sesederhana itu.
Hanya dengan melepaskan genggaman tangannya...
Seluruh hidup Vincent akan berubah selamanya.
Usai rapat, Zhava keluar seorang diri.
Ia duduk di dalam mobil tanpa menyalakan mesin.
Tangannya gemetar hebat.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Vincent.
Vincent: Besok jangan membuat rencana apa pun. Ada tempat yang ingin kutunjukkan sekali lagi.
Air mata Zhava langsung jatuh.
Ia membalas dengan jari yang bergetar.
Rhea: Baik. Aku akan datang.
Ia menatap pesan itu lama.
Mungkin...
Itu akan menjadi hari tenang terakhir sebelum semuanya hancur.
Keesokan harinya, Vincent mengajak Rhea kembali ke rumah masa kecilnya.
Rumah itu kini berubah.
Lampu-lampu kecil mulai menghiasi taman.
Rangkaian mawar putih memenuhi jalan setapak.
Beberapa meja sedang disusun dengan rapi.
Rhea memandang sekeliling dengan napas tertahan.
"Indah sekali..."
Vincent tersenyum.
"Aku ingin tempat ini kembali hidup."
"Mereka pasti senang melihatnya," ucap Rhea pelan, menatap foto kedua orang tua Vincent yang tergantung di ruang tamu.
Vincent mengikuti arah pandangnya.
"Aku juga berharap begitu."
Ia melangkah mendekati Rhea.
"Kalau ibuku masih hidup..."
"...aku yakin beliau akan sangat menyukaimu."
Kalimat itu membuat air mata Rhea hampir jatuh.
Ia segera menunduk agar Vincent tidak melihat matanya yang memerah.
Vincent mengangkat dagunya perlahan.
"Rhea."
"Iya?"
"Apa pun yang terjadi nanti..."
"...terima kasih sudah datang ke hidupku."
Rhea menggigit bibirnya kuat-kuat.
Ia ingin mengatakan yang sebenarnya.
Ingin mengaku bahwa namanya bukan Rhea.
Bahwa semua pertemuan mereka adalah bagian dari penyamaran.
Namun ia tidak sanggup menghancurkan senyum Vincent hari itu.
Ia hanya tersenyum tipis sambil menahan air mata.
"Terima kasih... juga."
Di balik jendela rumah, kotak beludru hitam berisi cincin pertunangan telah diletakkan di atas meja.
Tak seorang pun menyentuhnya.
Namun cincin itu seolah telah mengetahui takdirnya.
Ia tidak akan menjadi lambang kebahagiaan...
Melainkan saksi bisu dari pengkhianatan yang akan dikenang seumur hidup. 💔