NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Malam itu, mobil hitam milik Regan kembali terparkir di seberang jalan depan restoran tempat Arin bekerja.

Mesin mobil sudah dimatikan sejak beberapa menit yang lalu, tetapi Regan masih enggan beranjak dari balik kemudi. Ucapan Fahri saat mereka mengobrol semalam terus terngiang dan berputar tanpa henti di kepalanya.

“Kalau kamu memang tulus mau bantu Arin... tolong jangan mulai semuanya dari uang atau materi. Mulailah dengan memperbaiki kesalahan kamu yang dulu.”

Regan mengembuskan napas panjang, merapatkan rahangnya kuat-kuat. "Apa pun risikonya... aku gak bisa cuma diam dan nonton dari jauh kayak gini terus," gumamnya memantapkan tekad.

Ia meraih sebuah kantong kresek berisi paket ayam goreng bermerek yang baru saja dibelinya. Sebelum turun, Regan mengenakan jaket hoodie hitam dan topi tudung, sengaja menyamarkan penampilannya agar tidak terlalu mencolok perhatian orang di sekitar lokasi.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki tegap Regan sudah membawanya berdiri tepat di depan pintu kamar mes karyawan. Kamar yang ditempati Arin berada di paling ujung lorong, sudut yang cukup sepi dan minim dari lalu lalang penghuni mes lainnya.

Tok... Tok... Tok...

"Sebentar!" Suara familier Arin menyahut dari dalam kamar.

Tak lama berselang, kunci pintu diputar dan daun pintu terbuka perlahan. "Ada apa ya, Mas..."

Ucapan Arin terhenti seketika. Meski wajah pria di hadapannya tertutup bayangan topi, ia langsung mengenali postur tubuh dan sepasang mata tajam itu.

"Regan?" desis Arin kaget.

Refleks, Arin langsung mendorong pintu dengan kuat, berniat menutupnya rapat-rapat.

BRAK!

Namun, gerakan Regan jauh lebih cepat. Pria itu dengan sigap menyelipkan sebelah kakinya yang berbalut sepatu gunung di antara celah daun pintu, mengganjalnya dengan kuat.

"Awas kakimu! Singkirin gak!" bentak Arin, wajahnya langsung memerah menahan amarah. "Pergi kamu dari sini!"

Regan menggelengkan kepalanya kokoh. "Enggak, Rin. Tolong izinin aku masuk sebentar aja. Ada yang mau aku omongin."

Arin mendelik tajam, matanya menyiratkan kebencian yang mendalam. "Mimpi kamu! Jangan pernah berani ganggu kehidupan saya lagi!"

Regan tetap bertahan di posisinya, menahan beban pintu dengan bahu dan kakinya. "Aku gak akan pergi sebelum kamu mau duduk dan dengerin penjelasan aku, Rin."

"Jangan seenaknya ya jadi orang! Minggir gak, atau saya teriak sekalian biar semua orang mes keluar?!" ancam Arin.

Arin kembali mendorong pintu sekuat tenaga, tidak peduli jika pintu itu menjepit kaki Regan hingga patah.

"Ah..." Regan meringis pelan, giginya bergelatuk menahan linu yang menjalar di tulang keringnya. Namun, sudut bibirnya malah memaksakan senyum getir.

"Hebat juga ya tenaga kamu sekarang."

"Biarin! Rasain!" sahut Arin ketus, terus menekan pintu tanpa rasa iba sedikit pun.

"Ibu...?" Zayyan berjalan mendekat dengan langkah pelan. Wajah bocah itu tampak penasaran. "Ibu, siapa yang datang malam-malam begini?"

Arin langsung menoleh ke belakang dengan panik. "Zayyan, masuk ke dalam lagi, Nak. Jangan ke sini."

Belum sempat bocah itu merespons, Regan langsung memanfaatkan celah kelengahan Arin. Dengan satu hentakan kuat, ia mendorong pintu hingga terbuka lebar, lalu berdiri tegak di ambang pintu sambil memamerkan senyum paling ramah ke arah Zayyan.

"Hai, Zayyan," sapa Regan, menurunkan sedikit topinya.

"Om ini temannya Ibu kamu. Tadi Ibu kamu ada titip makanan sama Om buat dianterin ke sini."

Regan mengangkat bungkusan ayam goreng di tangan kanannya, menggoyang-goyangkannya pelan. "Om boleh masuk, kan?"

Zayyan mengerjapkan matanya, menatap ibunya dan pria asing itu bergantian dengan bingung.

Arin mengepalkan kedua tangan kuat-kuat hingga gemetar karena kesal. Ingin rasanya ia mengusir Regan sekencang mungkin, namun egonya terpaksa runtuh. Ia tidak berani memicu keributan besar. Arin sangat takut jika penghuni mes lain akan keluar, melihat keributan, dan menyebarkan gosip buruk tentang dirinya.

Regan melangkah masuk ke dalam kamar mes yang sederhana itu. Ruangan sempit tersebut tampak sangat bersih meski isinya begitu minim; hanya ada satu kasur busa tipis di lantai, lemari pakaian plastik, kipas angin kecil yang berputar berisik, serta sebuah meja lipat kayu kecil tempat biasanya Arin dan Zayyan makan.

Enggan membuat Arin semakin risi, Regan memilih langsung duduk bersila di atas karpet tipis di dekat meja lipat. Sementara itu, Arin tetap memilih berdiri menyandarkan punggungnya di dekat pintu, melipat kedua tangan di dada dengan tatapan dingin jelas menunjukkan bahwa kehadiran pria itu sama sekali tidak diinginkan di sana.

Regan menggeser bungkusan makanan itu ke hadapan Zayyan yang kini sudah ikut duduk di dekat meja.

"Nih, buat kamu. Dimakan ya."

Mata bulat Zayyan langsung berbinar cerah saat melihat logo di kotak makanan. "Wah... ayam goreng"

Regan tersenyum kecil, ada rasa hangat yang menyelinap di dadanya.

"Iya, dimakan ya. Masih hangat kok."

Zayyan dengan antusias segera membuka bungkusnya. Dalam sekejap, aroma gurih ayam goreng tepung memenuhi ruangan sempit itu.

"Ibu... wangi banget, loh. Keliatannya enak," seru Zayyan menoleh pada ibunya, meminta izin.

Arin melembutkan tatapannya hanya saat memandang sang putra. "Iya, makan aja, Sayang. Habisin ya kalau kamu suka."

Zayyan mengangguk cepat penuh semangat. "Suka banget, Bu!" Bocah itu lalu menoleh ke arah Regan dengan senyuman tulus yang sangat manis.

"Makasih banyak ya, Om!"

Regan merasakan dadanya sedikit berdesir melihat senyuman itu. "Iya, sama-sama, Zayyan. Santai aja."

Untuk beberapa saat, suasana di dalam kamar berubah menjadi hening. Regan diam-diam terus memperhatikan cara Zayyan makan dengan lahap, mengagumi setiap detail wajah bocah itu.

Regan berdiri tegak dengan kedua tangan yang sengaja dimasukkan ke dalam saku jaket hitamnya, mencoba meredam kegugupan yang mendadak menyerang. Sementara itu, Arin tetap bersedekap dada di ambang pintu, memalingkan wajahnya ke samping karena enggan menatap sepasang mata pria di hadapannya.

Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun suara yang keluar dari mulut mereka.

Melihat kebungkaman itu, Regan akhirnya memutuskan untuk membuka percakapan. Sudut bibirnya terangkat tipis, mencoba mencairkan suasana dengan nada suara yang dibuat sesantai mungkin.

"Kamu... masih suka minum teh manis hangat kalau pagi?" tanya Regan lirih.

Arin bergeming. Ia tetap menatap lurus ke arah tembok lorong, menganggap pertanyaan itu bagai angin lalu.

Regan tidak menyerah. Ia kembali melemparkan pertanyaan ingatan masa lalu. "Masih tidur pakai lampu yang dinyalain terang ngga?"

Tetap tidak ada respons. Lorong itu hanya menyisakan deru napas mereka.

"Masih suka nangis ketakutan kalau denger suara petir?" lanjut Regan lagi, suaranya melembut, menyiratkan kerinduan yang mendalam.

Arin mengembuskan napas pendek melalui hidung, menahan diri agar tidak terpancing oleh rangkaian pertanyaan yang sengaja dilemparkan Regan untuk mengorek memori lamanya.

"Masih selalu milih ayam goreng bagian paha bawah?" cecar Regan lagi, kali ini tatapannya terkunci lekat pada profil samping wajah Arin.

Merasa telinganya mulai panas, Arin akhirnya menoleh. Ia menatap Regan dengan sorot mata yang teramat datar dan dingin.

"Sudah selesai nanyanya?"

Regan tersenyum tipis, sangat tipis hingga menyerupai seulas senyum getir.

"Belum."

Arin menggelengkan kepalanya pelan, raut lelah tercetak jelas di wajahnya. "Kalau gak ada hal penting atau urusan pekerjaan yang mau dibicarakan, aku masuk dulu. Masih banyak kerjaan."

Baru saja Arin memutar tubuhnya hendak melangkah masuk ke dalam kamar, jemari tangan Regan bergerak cepat meraih dan menahan pergelangan tangan wanita itu.

Set!

Sentuhan itu seperti sengatan listrik bagi Arin. Dengan sentakan kasar, ia langsung menarik tangannya menjauh.

"Jangan berani-berani sentuh aku!" bentaknya tertahan, matanya berkilat penuh kilatan amarah.

Regan buru-buru mengangkat kedua telapak tangannya ke udara, lalu melepaskannya. Perlahan, senyuman tipis di wajah tampannya menguap tanpa sisa.

"Kamu... ke mana aja selama sembilan tahun ini, Rin?"

Arin tertegun, mendadak lidahnya terasa kelu.

"Kenapa kamu tiba-tiba ngilang gitu aja dari hidup aku? Kenapa gak pernah sekalipun kasih kabar atau petunjuk?" desak Regan, melangkah maju satu depak hingga mengikis jarak di antara mereka.

"Sebenarnya... apa yang kamu sembunyiin dari aku selama ini?"

Arin memejamkan matanya erat-erat selama beberapa detik, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketegaran di dalam hatinya sebelum akhirnya membuka mata dan menjawab dengan suara yang teramat pelan namun sarat penekanan.

"Sudahlah, Regan. Gak ada lagi yang perlu kita bahas atau pertanyakan."

Regan menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Ada, Rin. Banyak banget yang harus kita selesaikan."

Untuk pertama kalinya malam itu, Arin memberanikan diri menatap tepat ke dalam manik mata Regan. Sorot matanya begitu dingin, seolah-olah pria di depannya ini adalah orang asing yang tak pernah memiliki sejarah di hidupnya.

"Kejadian itu sudah sembilan tahun yang lalu, Regan. Menurut aku... itu sudah waktu yang sangat lama," ucap Arin dengan nada bicara yang teramat tenang namun menusuk.

"Dan gak ada satu hal pun yang tersisa untuk dibahas lagi. Kita... sudah lama selesai."

"Lalu... anak kecil di dalam itu?" Suara Regan terdengar sangat berat, bergetar menahan gejolak emosi.

"Anak itu... anak siapa, Rin?"

Arin menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu liar. Tatapannya tetap terkunci lurus, luar biasa tenang.

"Dia anak aku."

"Jawab pertanyaan aku yang bener, Arin!" tuntut Regan, emosinya mulai tersulut.

"Aku udah jawab. Dia anak aku. Darah daging aku," tegas Arin tanpa gentar sedikit pun.

Regan menggelengkan kepalanya lemah, tidak puas dengan jawabannya.

"Arin... maksud aku, siapa ayah kandung dari anak itu?"

Arin langsung memotong kalimat Regan dengan cepat dan tajam. "Itu bukan urusan kamu, dan gak akan pernah jadi urusan kamu!"

Arin maju setengah langkah, menatap Regan lurus-lurus tepat di depan wajahnya. "Mulai detik ini... aku harap kamu jangan pernah berani lagi muncul di depan Zayyan. Jangan pernah coba-coba bikin dia kenal atau tahu siapa kamu. Dan tolong... jangan pernah usik kehidupan kami yang udah tenang ini lagi."

Setelah menumpahkan seluruh kalimat penegas itu, Arin langsung berbalik badan, melangkah masuk, dan menutup pintu kamar mesnya dengan rapat.

Sementara itu, Regan hanya bisa berdiri mematung layaknya raga tanpa jiwa di depan pintu kayu yang tertutup. Tatapannya kosong, terpaku pada daun pintu di hadapannya. Sosok wanita yang selama sembilan tahun ini ia cari kini terasa begitu dekat berada di jangkauannya, namun di saat yang sama, ia sadar jarak di antara hati mereka justru terbentang teramat jauh.

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!