"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."
Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.
Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ingin Menyalahkan
Vania coba menghentikan air mata yang terus saja membasahi wajah cantiknya, menukar itu dengan senyuman, agar seseorang yang selalu menemani dirinya itu tak turut merasakan kesedihan. Akan tetapi, senyum yang dikembangkan oleh Vania, justru menambah goresan luka pada hati bu Rina.
Andai saja luka dalam hati mampu untuk terlihat oleh kedua mata, bu Rina sudah pasti akan berusaha mengobati dan membalut luka agar lekas sembuh tanpa bekas. Namun, nyatanya itu bukanlah luka seperti apa sering didapat oleh Vania dulu, ketika ia belajar bersepeda atau ketika dirinya berlarian di sekitar panti asuhan.
Hanya genggaman tangan juga sentuhan yang mampu diberikan oleh bu Rina sekarang, berharap jika itu akan mampu menguatkan putri cantiknya. Tanpa kata, nasihat juga tanya diajukan, membiarkan keheningan tercipta, sampai ketiganya tiba di panti asuhan.
Lelaki yang sedari tadi melirik ke arah spion tengah untuk menemukan wajah Vania, kini membukakan pintu untuk bu Rina. Bersama memasuki panti, di mana Arif mengikuti langkah keduanya dari belakang. Vania menghentikan langkah, memegang punggung tangan bu Rina pada lengannya.
“Nia boleh di sini sebentar, Bu?” tanyanya, menoleh wanita dengan anggukan kepala diberikan.
“Ibu buatin kamu minum hangat sama sarapan dulu,” senyum bu Rina.
“Enggak usah, Bu. Nia buat sendiri saja nanti,” segannya.
Bu Nia mengangguk dengan senyum tetap ditunjukkan, ia berpamitan ke dalam. Vania ingin merasakan hawa bebas sejenak, mungkin itu bisa membantu melegakan dada yang terus saja merasa sesak. Arif menemani dirinya, duduk pada kursi berbentuk setengah lingkaran pada teras panti.
“Maafin aku, karena udah seret mas dalam masalah ini.” Vania tertunduk dan berucap.
“Aku yang mau terlibat, dan ini bukan salah kamu.” Arif menoleh. “Kenapa kamu gak pernah cerita soal ini ke aku, Nia? Bukannya kamu pernah janji, kalau bakal cerita semuanya ke aku? Apa dia selalu bersikap kayak gitu ke kamu, Nia?”
Vania masih tertunduk, bibir mengulas sedikit senyuman, sebelum akhirnya ia mengangkat kepala menatap lurus ke depan. “Mas Daffa bukan orang seperti itu, Mas. Dia orang yang baik, dan dia juga orang yang lembut. Hanya saja, Nia yang sudah keterlaluan hari ini, dan wajar kalau mas Daffa marah. Harusnya, Nia gak pernah nyinggung soal mba Nessa.”
“Semua orang juga pasti marah, kalau orang yang sudah enggak ada justru dibawa-bawa. Iya kan, Mas?” menoleh Vania.
Arif memperhatikan setiap pahatan wajah perempuan di depannya, ia mengukir senyuman dan mengangguk pelan. “Kamu cinta sama Daffa?”
Vania menarik sangat dalam napas, membuangnya perlahan dengan senyuman yang tetap ia jaga. “Mas Daffa suami Nia, dan sudah keharusan untuk Nia cinta sama dia.”
“Setelah apa yang dia lakuin hari ini?” tanya Arif, anggukan kepala diberikan olehnya yang tetap menunjukkan senyum pada wajah.
Anggukan kepala dianggap cukup bagi Vania sebagai jawaban, tanpa perlu memberikan penjelasan. Ia memang mencintai Daffa, tanpa peduli apa yang telah terjadi dan apa telah diterima dalam pernikahan dijalani.
Menerima seperti apa pun lelaki yang telah menyematkan cincin di depan Tuhan untuk mengikat dirinya dalam sebuah hubungan suci, perasaan tak ingin diubah Vania dengan lebih cepat hanya karena sedikit kesalahan, di mana ia juga merasa bersalah.
Seharusnya tak pernah ia membawa nama Nessa dalam pertengkaran bersama Daffa, karena perempuan itu telah tenang di alam sana. Vania coba memahami seperti apa kemarahan Daffa, menempatkan diri pada posisi sang suami, yang pasti tak akan pernah terima saat orang telah tiada harus terseret dalam masalah.
Arif dapat memahami seperti apa perasaan dari Vania, yang begitu tulus mencintai dan menerima suaminya. Walau, ia sendiri tak membenarkan adanya pemukulan dalam rumah tangga, dan sangat menyayangkan hal itu dilakukan oleh Daffa.
Tapi, Arif sama seperti Vania yang menempatkan diri pada posisi Daffa, tanpa mau untuk sekedar menyalahkan atas apa dilakukan tadi. Mungkin apa dikatakan oleh Vania juga benar, karena tak mungkin jika ia mencintai tanpa mengetahui adanya sisi lain dari diri suaminya.
“Nia, apa janji yang pernah kamu buat dulu masih berlaku?” tanyanya tiba-tiba, menoleh Vania segera. “Untuk kamu selalu berbagi semuanya sama aku, dan ngebiarin aku ngelindungin kamu, apa itu masih berlaku sampai sekarang?” jelasnya.
Vania mengangguk, dia ingat betul janji pernah dibuat bersama Arif dulu. “Mas udah jagain Nia selama ini, mas juga udah banyak banget nolongin Nia. Tapi, Nia gak pernah bisa ngelakuin apa-apa buat mas Arif.”
“Bahagia, jadi lebih kuat dari hari ini. Cuma itu yang aku mau dari kamu, Nia.”
“Makasih banyak, Mas.”
Pahatan senyum juga binar ketulusan diberikan oleh Vania pada Arif, lelaki yang memang telah banyak membantu dirinya selama ini. Lelaki sama yang selalu berusaha untuk ada dalam setiap keadaan, tanpa peduli kesibukan apa yang dia miliki.
Pembicaraan keduanya terhenti, tatkala bu Rina kembali dengan nampan coklat di tangan. Membawakan teh hangat untuk keduanya dan meletakkan di atas meja, bu Rina tak melupakan makanan untuk putri cantiknya.
“Makan dulu, Anak. Biar kamu juga ada tenaga.” Ucapnya lembut.
“Aku gak diambilin juga, Bu?” goda Arif, tersenyum lebar wanita yang diberikan tempat duduk olehnya.
“Kita makan sama-sama, Mas. Nia juga gak bakalan habis kok,” sela Vania.
“Bercanda, Nia. Aku sudah sarapan tadi sama ibu sebelum pergi,” jawab Arif.
“Kita sudah makan kok, sekarang giliran kamu yang makan. Harus dihabisin, biar gemuk!” mengernyit hidung bu Rina ketika mengatakan gemuk, seraya mencubit pipi Vania.
“Sudah makan di sini aja, aku gak bakalan minta kok!” tutur Arif, melihat Vania tampak ragu. “Mau disuapin aja?”
“Hehehe, enggak.” Vania tertawa kecil menggelengkan kepala.
Vania meraih piring berisi makanan, sayur kuah bening dilengkapi tempe goreng yang merupakan makanan kesukaan dari Vania. Pagi ini, memang Arif sudah dipaksa makan lebih dulu oleh bu Rina, untuk itulah beliau tak mengambilkan.
Bu Rina mengambil alih sendok dari tangan Vania, ingin menyuapi seperti dulu kala. Arif meraih kursi plastik tak jauh dari tempat mereka berada, duduk mengamati Vania yang tampak lahap menikmati makanan.
Setiap kali melihat Vania makan, selalu saja lelaki itu merasa sangat ingin untuk menikmati makanan sama. Entah mengapa, tapi Vania selalu menikmati seolah apa yang disantap adalah makanan paling enak di dunia, dan berhasil memancing cacing dalam perutnya meronta-ronta seperti sekarang.
“Kok lapar lagi ya, Bu?” kata Arif mengusap perut.
“Hehehe, pasti kayak begitu kalau lihat Nia makan. Ibu ambilin bentar, ya?” kata bu Rina cepat.
“Suapin dikit saja deh, Bu. Masa iya, aku sarapan tiga kali hari ini?” sahutnya, tersenyum Rina juga Vania.
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe