NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh
Popularitas:620.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Menjaga Ezio

Raisa berdiri agak kikuk di tengah dapur, baby Ezio masih terlelap di gendongannya.

Benar-benar terlelap.

Kepala kecil itu bersandar nyaman di bahu Raisa, napasnya teratur, tangan mungilnya mencengkeram kain kemeja Raisa seperti jangkar. Baju baby Ezio masih bernoda MPASI, tapi jelas tak ada satu pun di dunia ini yang bisa membangunkannya sekarang.

“Lengket banget,” gumam Raisa pelan, setengah heran, setengah pasrah.

Ia melirik ke arah wastafel—tumpukan piring masih menunggu. Beberapa ibu di dapur bergerak ke sana ke mari, tapi tak satu pun berani menyuruh Raisa melakukan apa pun. Mereka hanya saling melirik, lalu tersenyum kecil melihat bayi yang tertidur pulas itu.

Bu Lita datang menghampiri, langkahnya pelan agar tidak mengganggu baby Ezio. Ia mencondongkan badan sedikit, memperhatikan wajah cucunya.

“Tidurnya nyenyak sekali,” katanya lirih.

Raisa mengangguk. “Kayaknya capek karena rewel  dari pagi, Bu.”

Bu Lita terkekeh kecil. “Seperti bapaknya.”

Raisa hampir tersenyum, tapi ia menahan diri. Ia masih ingat wajah Krisna yang kaku, nada suaranya yang dingin, dan kalimat yang—meski tidak diucapkan terang-terangan—tetap terasa menyakitkan.

Bu Lita melirik noda di baju Noval. “Bajunya belum diganti ya.”

“Iya, Bu. Tadi mau ganti, tapi—” Raisa mengangkat bahu kecil. “Keburu tidur.”

Bu Lita berpikir sejenak, lalu berkata, “Ikut Ibu.”

Ia berjalan lebih dulu, memberi isyarat agar Raisa mengikutinya. Raisa menuruti, melangkah hati-hati, kali ini menuju arah berbeda—koridor yang lebih sepi.

“Kita ke kamar tamu,” ujar Bu Lita pelan. “Rebahkan saja Ezio di sana. Biar tidurnya lebih nyaman.”

Raisa mengangguk. “Baik, Bu.”

Kamar tamu itu luas, rapi, dengan seprai putih bersih dan tirai krem yang menahan cahaya siang agar tetap redup. Bu Lita membuka tirai sedikit, lalu menunjuk ke arah ranjang.

“Pelan-pelan,” katanya.

Raisa menurunkan baby Ezio dengan hati-hati, gerakannya nyaris tanpa suara. Begitu tubuh kecil itu menyentuh kasur, baby Ezio  menggeliat—kecil, mengerjapkan mata—lalu kembali tidur.

Raisa menghela napas lega.

Bu Lita tersenyum. “Kamu berbakat mengurus bayi Raisa.”

Raisa refleks menggeleng. “Ah, enggak, Bu. Hanya kebetulan saja.”

“Kebetulan yang berulang-ulang,” balas Bu Lita lembut.

Raisa terdiam. Ia tidak ingin larut. Tidak ingin berharap. Apalagi mengingat siapa ayah bayi ini.

Bu Lita menepuk pelan bahu Raisa. “Hari ini, kamu tidak perlu bantu-bantu di dapur.”

Raisa menoleh cepat. “Lho, Bu—”

“Tugas kamu hari ini cuma satu,” lanjut Bu Lita tegas tapi hangat. “Urus cucu Ibu. Itu saja.”

Raisa ragu. “Tapi nanti saya dimarahin karena nggak bantu.”

Bu Lita tersenyum tipis. “Siapa yang marahin?”

Raisa tidak menjawab.

“Jam kerjamu sampai jam enam petang, kan?” tanya Bu Lita.

“Iya, Bu.”

“Ya sudah. Sampai jam enam, kamu temani Ezio. Kalau dia bangun, kamu urus. Kalau dia tidur, kamu istirahat di sini. Anggap saja ini perintah kerja dari Ibu.”

Nada itu tidak memberi ruang bantahan.

Raisa akhirnya mengangguk. “Baik, Bu.”

Bu Lita melangkah keluar, meninggalkan Raisa sendirian di kamar tamu bersama bayi yang tertidur pulas. Raisa duduk di kursi dekat ranjang, menatap baby Ezii lama.

“Aneh,” gumamnya pelan. “Kamu ini.”

Tangannya terulur, membetulkan selimut kecil itu. Ada rasa asing di dadanya—hangat, tapi juga membuatnya waspada. “Padahal aku datang buat bantu di dapur. Eh, kenapa jadi ngurusin anak dari dokter yang nyebelin itu sih. Tapi ... kamu itu menggemaskan Dek, ganteng, bulet kaya boneka panda.”

***

Di lantai bawah, Bu Lita melangkah menuju ruang kerja Pak Wijaya.

Ruangan itu sunyi, dipenuhi rak buku dan map-map lama. Krisna berdiri di dekat meja, memandangi catatan hasil wawancara tadi. Wajahnya serius, dahi berkerut.

Bu Lita masuk tanpa mengetuk.

“Krisna,” panggilnya.

Krisna menoleh. “Bu.”

Bu Lita menutup pintu pelan. “Gimana hasil wawancara calon pengasuhnya?”

Krisna menyandarkan punggung ke meja. “Dua orang belum ada pengalaman mengurus bayi.”

“Dan satu lagi?” tanya Bu Lita.

“Yang terakhir … namanya Lena,” jawab Krisna. “Janda. Punya satu anak. Pengalamannya jelas.”

Bu Lita mengangguk pelan. “Itu masuk akal.”

“Tapi—” Krisna berhenti.

“Tapi apa?” Bu Lita menatapnya tajam.

Krisna menghela napas. “Pengalaman saja nggak cukup kan, Bu.”

Bu Lita tersenyum kecil, seolah sudah menunggu kalimat itu. “Akhirnya kamu sadar.”

“Sadar apa, Bu?”

“Kalau bayi bukan mesin yang bisa dirawat pakai SOP saja,” jawab Bu Lita tenang. “Percuma berpengalaman kalau Ezio tidak nyaman.”

Krisna terdiam.

Bu Lita melanjutkan, “Kamu lihat sendiri. Dari pagi sampai sekarang. Siapa yang bikin Ezio tenang?”

Nama itu menggantung di udara.

Raisa.

Krisna mengatupkan rahang. “Itu beda.”

“Beda bagaimana?” tanya Bu Lita.

“Raisa itu cuma … kebetulan, dan dia juga tidak ikutan melamar,” jawab Krisna, meski nada suaranya tidak lagi sekeras keyakinannya.

Bu Lita mendekat satu langkah. “Krisna, Ibu ini sudah melahirkan dan membesarkan anak. Ibu tahu bedanya kebetulan dan kenyamanan.”

Krisna mengalihkan pandang.

“Lena mungkin berpengalaman,” lanjut Bu Lita. “Dan itu penting. Tapi jangan abaikan kenyamanan Ezio. Itu yang utama.”

Krisna mengangguk pelan. “Aku akan pertimbangkan.”

Bu Lita tersenyum tipis. “Ya ... memang harus dipertimbangkan.”

Ia berbalik hendak keluar, lalu berhenti di ambang pintu. “Oh ya.”

Krisna menoleh lagi.

“Jangan ribut lagi sama Raisa,” kata Bu Lita tanpa basa-basi. “Dia hanya menggantikan ibunya yang sakit, bukan orang yang bekerja di rumah kita.”

Krisna mengangguk. “Iya, Bu.”

“Dan satu lagi,” lanjut Bu Lita. “Kamu dokter. Tolong cek kondisi Bu Rika.”

Krisna terdiam sesaat, lalu mengangguk lagi. “Ya,  Bu.”

Bu Lita menatap anaknya sejenak, seolah ingin memastikan ia benar-benar mendengar. Lalu ia keluar dari ruangan.

Krisna berdiri sendiri di ruang kerja itu.

Ia menatap tangannya sendiri. Tangannya yang terlatih menolong orang, tapi sering kaku dalam hal-hal sederhana. Tangannya yang gagal menenangkan anaknya sendiri.

Pikirannya kembali ke dapur.

Ke Raisa.

Ke caranya menggendong Ezio. Ke caranya berbicara lembut tanpa dibuat-buat. Ke caranya berdiri tegak ketika merasa direndahkan.

Krisna menghela napas panjang.

Sementara itu, di kamar tamu, baby Ezio bergerak pelan. Raisa langsung siaga, mencondongkan badan.

“Ssst …,” bisiknya.

Baby Ezio membuka mata sedikit, menatap wajah Raisa yang berada tepat di atasnya. Mata mereka bertemu.

Raisa tersenyum tipis tanpa sadar. “Eh, Dede sudah bangun ya?”

Baby Ezio mengoceh kecil.

Raisa menepuk pelan kasur, seolah mengajak bicara. “Bajumu kotor, tau nggak. Tapi nanti aja digantinya. Kamu tidur dulu. Habis itu kita mandi ya, De.”

 

Bersambung ... 🔥💔

1
RARA
selamat menikmati liburan keluarga dok , 😍😍😍😍🤣🤣🤣
Wiek Soen
selamat berbulan madu Raisa
K4RL4
bener² layak utk diratukan sm mas dokter. kepo sm kejutannya yg lainnya utk ratu baru nya mas dokter.
Annabelle
semoga d8 Bali gk ketemu sama Hana 🫣😩
Nandi Ni
HORANG KAYA,Raisa...jangan kaget🤭
@Arliey🌪️🌪️
gagal lagi🤣🤣🤣
@Arliey🌪️🌪️
ezio ganggu ihhhhhh mau main bola juga🤣🤣
@Arliey🌪️🌪️
lanjut dongggg....❤️
@Arliey🌪️🌪️
yeyyyy SAH g tuch selamat ya pak duda yang g duda lagi🤭
@Arliey🌪️🌪️
aduhhhh ampun yang mode on jatuh cinta 🤭🤣
Puput Assyfa
selamat menikmati bulan madu pengantin baru🥰
@Arliey🌪️🌪️
wkwwkwk bucin🤭
@Arliey🌪️🌪️
aduhh pisah dulu bentar jangan kangenn ya🤭
Sugiharti Rusli
intinya kerjasama mereka b-2 sebagai pasangan suami-istri baru harus saling mendukung satu sama lain,,,
Sugiharti Rusli
mungkin sekarang Ezio masih bayi, nanti kalo sudah todler dan Raisa sudah memulai pendidikannya juga harus ada penyesuaian
Sugiharti Rusli
paling penempatan posisi yang tadinya Raisa seorang pengasuh, sekarang jadi ibu sambung dan itu juga harus menambah wawasan tentang pendidikan Ezio dan anak" mereka kelak
Sugiharti Rusli
apalagi bagi Krisna yang duda beranak satu, antara Ezio dan Raisa tidak butuh adaptasi lama juga,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya baik Raisa dan Krisna masing" saling beruntung mendapatkan pasangan hidup yang tepat yah,,,
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
beda ya sambutannya kalau tamu vip mah🥰🥰
Rarik Srihastuty
nanti aku cari ke Ubud ya Raisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!