NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Aurel berdiri dari duduknya. Matanya masih sembap, tetapi suaranya tetap tenang.

"Pak... Bu... aku pamit."

Ibu Mahesa langsung berdiri dan memeluk menantunya erat. Pelukan itu berlangsung cukup lama. Seolah-olah beliau tahu, mungkin inilah salah satu pelukan terakhir sebagai ibu mertua dan menantu.

"Aurel..." Suara beliau bergetar.

"Apa pun keputusanmu nanti... Ibu tidak akan membencimu."

Air mata Aurel kembali jatuh. "Terima kasih, Bu."

Aurel kemudian menyalami ayah Mahesa. Lelaki paruh baya itu menggenggam tangan Aurel cukup lama. "Maafkan kami..." Kalimat itu terdengar lirih.

"Bapak gagal mendidik Mahesa." lanjut beliau.

Aurel menggeleng pelan. "Ini bukan salah Bapak dan Ibu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam." jawab orang tua Mahesa kompak.

Aurel berbalik meninggalkan rumah. Beberapa detik kemudian, suara mesin mobilnya terdengar menjauh.

Ayah dan ibu Mahesa tetap berdiri di teras hingga lampu belakang mobil Aurel benar-benar menghilang di tikungan. Barulah mereka masuk kembali ke dalam rumah.

Suasana begitu sunyi. Tidak ada satu pun yang bersuara. Ayah Mahesa berjalan menuju ruang tamu, lalu mengambil ponselnya. "Aku mau telepon Mahesa."

Istrinya hanya mengangguk pelan. Nomor putra sulungnya segera dihubungi. Nada sambung pertama. Kedua. Ketiga. Baru pada dering keempat panggilan diangkat.

"Halo... Pak..." Suara Mahesa terdengar berat. Serak. Seperti orang yang baru terbangun dari tidur.

Ayah Mahesa langsung mengernyit. "Kamu lagi di mana?"

"Di rumah, Pak."

"Di rumah?" tanya Ayahnya mencoba menegaskan

"Iya." jawab Mahesa terdengar santai.

"Bersama Aurel?"

Mahesa menjawab tanpa berpikir panjang. "Iya, Pak. Aurel lagi istirahat."

Jawaban itu membuat ayah Mahesa terdiam beberapa detik. Ia melirik istrinya. Keduanya saling bertukar pandang.

Baru saja beberapa menit lalu Aurel berada di rumah mereka. Sendirian. Lalu siapa yang sedang bersama Mahesa?

Ayah Mahesa menarik napas pelan. "Video call."

"Hah?" jawab Mahesa terdengar panik.

"Bapak mau video call."

Mahesa yang merasa tidak melakukan kesalahan apa pun langsung mengangguk. "Oh, ya sudah." Panggilan suara terputus. Tak lama kemudian, panggilan video masuk.

Mahesa menerimanya. Begitu layar menyala Wajah Mahesa memenuhi layar ponsel. Rambutnya berantakan. Lampu kamar masih redup. Kaus yang dikenakannya kusut. Jelas sekali ia baru bangun tidur.

"Pak..." Mahesa tersenyum kecil.

"Ada apa malam-malam?" tanya Mahesa menutupi keresahan hatinya.

Namun senyum itu perlahan menghilang. Di balik layar. Ibunya sudah menangis.

"Bu?" Mahesa terlihat bingung.

"Kenapa Ibu nangis?" tanya Mahesa.

Ayah Mahesa menatap putranya tanpa berkedip. Tatapan yang selama ini penuh kebanggaan kini berubah menjadi kekecewaan.

"Kamu bilang, kamu sedang bersama Aurel."

"Iya, Pak." Jawab Mahesa masih belum menyadari.

"Aurel baru saja pulang dari rumah ini." Kalimat ayahnya membuat wajah Mahesa seketika membeku.

"D... dari rumah?" tanya Mahesa.

"Iya. Dia datang sendirian. Dia baru keluar sekitar lima belas menit yang lalu."

Mahesa tidak mampu berkata apa-apa.

Ayahnya mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi. "Kalau Aurel ada di rumah bersama kamu siapa perempuan yang tadi datang menemui kami?"

Mahesa kehilangan kata-kata. Untuk pertama kalinya sejak semua rahasia itu terbongkar, Kebohongannya tidak lagi hanya diketahui oleh Aurel. Tetapi juga oleh kedua orang tuanya sendiri.

Ibunya menangis semakin keras. "Mahesa..." Suara beliau dipenuhi rasa kecewa.

"Ibu nggak pernah ngajarin kamu bohong. Ibu nggak pernah ngajarin kamu menyakiti istrimu."

Mahesa menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Ia ingin menjelaskan. Namun setiap kata yang hendak keluar terasa sia-sia.

Karena malam itu. Bukan hanya perselingkuhannya yang terbongkar. Melainkan juga kebiasaan berbohong yang selama ini ia gunakan untuk menutupi semuanya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Mahesa melihat ayahnya memandangnya dengan sorot mata yang penuh rasa malu.

Panggilan video itu berakhir. Layar ponsel Mahesa menghitam. Namun bayangan wajah kedua orang tuanya masih jelas terpatri di benak Mahesa. Terutama tatapan ayahnya. Tatapan kecewa yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.

Mahesa mengusap wajahnya kasar, lalu segera bangkit dari tempat tidur. Ia meraih celana yang tergeletak di kursi, mengenakannya dengan tergesa-gesa, kemudian mengambil kunci mobil di atas meja.

"Mahesa?" Suara Kayla terdengar heran. Perempuan itu baru saja merebahkan diri ketika melihat Mahesa tiba-tiba bersiap pergi.

"Ada apa?" tanya Kayla.

Mahesa tidak menjawab. Ia terus mencari dompet dan ponselnya.

"Mahesa." Nada suara Kayla mulai meninggi.

"Kamu mau ke mana?" Kayla masih berusaha mencari tahu

Tetap tidak ada jawaban. Mahesa hanya mengenakan jam tangannya, lalu berjalan menuju pintu kamar.

Kayla buru-buru menyusul. Ia berdiri tepat di depan pintu, menghalangi langkah Mahesa.

"Kamu mau ke mana?"

Mahesa akhirnya mengangkat wajah. Sorot matanya dingin. "Geser." kata Mahesa.

"Jawab dulu."

"Geser, Kay."

"Tidak." Kayla menggeleng.

"Kamu tadi masih di sini. Tiba-tiba setelah ditelepon orang tuamu, kamu langsung pergi. Ada apa?"

Mahesa menarik napas panjang. "Orang tuaku baru saja didatangi Aurel."

Kalimat Mahesa membuat wajah Kayla berubah.

"Apa? Dia datang ke rumah mereka."

Mahesa mengepalkan rahangnya. "Aku harus ke sana."

Kayla langsung meraih lengan Mahesa. "Untuk apa?"

Mahesa menepis pelan tangan itu. "Aku mau tahu apa yang Aurel bilang."

Kayla mengerutkan dahi. "Lalu setelah tahu, Kamu mau memperbaiki semuanya?"

Mahesa tidak menjawab. Keheningannya membuat Kayla tersenyum pahit.

"Jadi... pada akhirnya kamu tetap memilih Aurel."

Mahesa memejamkan mata sejenak. "Aku nggak sedang memilih siapa pun. Tapi aku harus menemui orang tuaku."

Kayla tertawa hambar. "Kamu masih takut mengecewakan mereka?"

Mahesa menatap Kayla lekat-lekat. "Bukan. Sekarang mereka sudah kecewa."

Kalimat Mahesa terdengar begitu lirih.

Mahesa membuka pintu.

"Mahesa!" Kayla kembali memanggilnya.

"Kamu akan balik lagi?" teriak Kayla.

Langkah Mahesa terhenti sesaat. Namun ia tidak menoleh. Beberapa detik kemudian, ia kembali melangkah meninggalkan apartemen.

Pintu tertutup perlahan. Kayla berdiri mematung.

Kayla menggigit bibirnya sendiri. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak ia mengakui semuanya kepada Aurel, kemenangan yang semula ia rasakan perlahan berubah menjadi kegelisahan.

Kayla memang berhasil menghancurkan kebohongan yang selama ini mereka bangun. Tetapi kini ia mulai bertanya-tanya. Bagaimana jika setelah semua ini, Mahesa justru kehilangan dirinya dan Aurel sekaligus?

Di sisi lain, mobil Mahesa melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Berbagai kemungkinan memenuhi kepala Mahesa. Apa yang sudah Aurel katakan kepada kedua orang tuanya?

Apakah semua tentang perselingkuhan itu?

Atau apakah Aurel juga sudah mengatakan bahwa dirinya ingin bercerai?

Semakin dekat ke rumah orang tuanya, dada Mahesa semakin dipenuhi rasa cemas.

Malam itu, ia sadar bahwa bukan hanya rumah tangganya yang sedang runtuh. Hubungannya dengan kedua orang tuanya pun berada di ujung jurang yang sama.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!