NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angin Timur dan Kejujuran yang Blak-blakan

Tiga bulan telah berlalu sejak insiden tegang dengan Tuan Wijaya. "Ruang Pulang" di Semarang kini berdiri kokoh, bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai simbol ketahanan Meylani. Namun, kesuksesan itu membawa konsekuensi baru: tuntutan untuk berkembang. Tawaran dari Pemerintah Kota Surabaya untuk merevitalisasi kawasan bekas industri di Genteng menjadi pusat kreativitas muda tidak bisa ditolak. Ini adalah langkah strategis untuk membuktikan bahwa model bisnis berbasis kepercayaan bisa direplikasi di budaya yang berbeda.

Bagi Meylani, Surabaya bukan sekadar kota tujuan bisnis. Ini adalah ujian adaptabilitas. Jawa Tengah, tempat ia dibesarkan, mengajarkan kelembutan, hierarki, dan unggah-ungguh yang ketat. Sementara Surabaya, dikenal dengan karakter masyarakatnya yang egaliter, dinamis, dan ceplas-ceplos. Meylani tahu, ia harus membuka hatinya lebih lebar untuk menerima perbedaan ini.

Pagi itu, pesawat Garuda mendarat mulus di Bandara Juanda. Udara Surabaya terasa lebih panas dan lembap, langsung menyapa kulit Meylani begitu ia keluar dari terminal. Ia mengenakan kemeja linen putih longgar dan celana kulot cokelat penampilan praktis namun tetap elegan. Setelah menyelesaikan urusan administratif dengan tim pemerintah kota, agenda utamanya hari ini adalah survei lokasi: sebuah gudang tua seluas 2000 meter persegi di jantung kawasan Genteng.

Lokasi tersebut berada di area yang padat dan bising. Suara klakson angkot, teriakan pedagang asongan, dan debu jalanan menyapa Meylani dengan keras. Ia merasa sedikit kewalahan. Di Semarang, ia terbiasa dengan ketenangan. Di sini, segala sesuatu bergerak cepat dan tanpa ampun.

"Gedung itu ada di ujung sana, Mbak," tunjuk seorang staf pemerintah sambil menunjuk ke arah bangunan bata merah ekspos yang tampak usang namun masih kokoh. "Pemiliknya sudah memberikan kuasa kepada agen pemasaran mereka. Agen itu yang akan mendampingi Mbak hari ini."

Meylani mengangguk, lalu berjalan menuju gedung tersebut. Di depan pintu besi besar yang berkarat, seorang pria sedang berdiri sambil memegang clipboard dan berbicara lewat telepon dengan nada tinggi.

"Iya, Pak! Sudah saya bilang, strukturnya masih bagus! Kalau Bapak mau harga murah ya cari yang rubuh! Saya nggak bisa jual barang bagus dengan harga barang rongsokan! Wes, gitu saja!"

Suara pria itu lantang, tegas, dan tanpa basa-basi. Logat Jawanya kental, khas Surabaya, dengan intonasi yang naik turun dan terkesan agak "kasar" bagi telinga Meylani. Pria itu mengenakan kemeja flanel lengan pendek yang sedikit kusut, celana bahan hitam, dan sepatu safety yang berdebu. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, kulit sawo matang, dan mata yang tajam namun jujur. Namanya, seperti tertera di name tag dada kirinya: Bima Arkhan Bagaskara.

Setelah menutup telepon, Bima menghela napas panjang, lalu menyadari ada wanita elegan yang sedang memperhatikannya. Ia segera mengubah ekspresinya, meski tetap terlihat canggung.

"Maaf, Mbak. Tadi agak panas-panasan. Urusan klien memang begitu, kalau nggak ditegasin, mereka pikir kita bisa diakali," kata Bima sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Suaranya masih berat, tapi nada bicaranya mencoba lebih sopan.

Meylani tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Pak Bima. Saya justru menghargai ketegasan Anda. Dalam bisnis properti, kejelasan informasi lebih berharga daripada basa-basi yang menipu."

Bima terkejut sejenak melihat senyuman Meylani yang tulus. Ia jarang bertemu klien yang tidak tersinggung dengan gaya bicaranya yang langsung.

"Mbak... siapa ya? Mau lihat unit gudang ini?" tanya Bima.

"Saya Meylani Nur Haliza. Saya mewakili konsorsium pengembangan kawasan kreatif. Apakah tempat ini masih tersedia?"

Mata Bima berbinar saat mendengar nama itu. "Oh, Mbak Meylani! Yang bikin 'Ruang Pulang' di Semarang? Wah, honor banget. Iya, tempat ini masih available. Tapi kondisinya butuh banyak renovasi. Atap bocor, listrik perlu ganti total. Kalau Mbak mau, saya bisa bantu jelaskan detail teknisnya secara transparan. Saya yang pegang marketing dan supervisi lapangan di sini."

Sepanjang dua jam berikutnya, Bima memandu Meylani mengelilingi area gudang. Yang menarik perhatian Meylani bukanlah hanya penjelasan teknis Bima, tetapi cara kerjanya. Ia blak-blakan. Jika ada bagian bangunan yang rapuh, ia langsung bilang, "Ini jelek, Mbak. Harus dibongkar. Jangan dipaksakan." Tidak ada diplomasi kosong. Jika Meylani bertanya tentang harga, ia menjawab dengan angka pasti, tanpa markup tersembunyi.

Mereka berhenti sejenak di tangga beton yang teduh. Seorang penjual es teh keliling lewat, dan tanpa ragu, Bima membeli dua gelas.

"Nih, Mbak. Segeran dulu. Panas banget hari ini," kata Bima sambil menyerahkan salah satu gelas plastik berisi es teh manis berwarna merah kecokelatan.

Meylani tertegun. Di Jakarta atau Semarang, ia jarang sekali minum dari gerobak pinggir jalan karena alasan higienitas. Tapi melihat ketulusan di mata Bima, ia menerimanya.

"Terima kasih, Pak Bima."

Bima tertawa renyah, suaranya lepas dan menggelegar. "Wong hidup itu cuma sekali, Mbak. Ribet-ribet amat sama gengsi. Lagian, es teh gerobak itu rasanya paling otentik. Nggak ada obat pemutihnya."

Kesederhanaan logika Bima itu menampar Meylani. Di dunia korporat yang penuh sandiwara, kejujuran sebobot ini adalah barang langka. Bima mungkin tidak memiliki gelar MBA dari luar negeri, mungkin cara bicaranya kurang halus, tapi integritasnya bersih.

"Kenapa Bapak sejujur itu?" tanya Meylani tiba-tiba, menyeruput es tehnya. Rasa manis gula jawa langsung menyebar di lidahnya.

"Karena bohong itu capek, Mbak," jawab Bima singkat. "Kalau saya bohong sekarang, nanti Mbak kecewa, reputasi saya hancur. Lebih baik jujur dari awal. Rejeki udah ada yang ngatur. Kita cuma usaha."

Meylani menatap Bima lekat-lekat. Ada kedamaian dalam diri pria sederhana ini yang tidak ia temukan pada pria-pria berjas di Jakarta. Bima seperti angin timur: kencang, langsung, dan menyegarkan.

Sebelum berpisah, Bima memberikan kartu namanya yang sederhana. "Kalau Mbak serius, hubungi saya. Saya usahakan prosesnya lancar. Bukan karena Mbak selebriti, tapi karena saya yakin visi Mbak bagus buat Surabaya."

Meylani memegang kartu nama itu. Bima Arkhan Bagaskara.

Di dalam mobil yang membawanya kembali ke hotel, Meylani merasa ada getaran aneh di dadanya. Bukan cinta pada pandangan pertama, tapi rasa penasaran yang mendalam. Ia membuka profil media sosial Bima yang ia temukan dari nomor telepon di kartu nama. Profilnya sederhana: foto proyek konstruksi, kutipan motivasi, dan foto makan di pinggir jalan. Tidak ada pencitraan. Hanya kehidupan nyata.

Sementara itu, di rumah keluarga Nur Haliza di Banyumanik, suasana sore itu hening namun hangat. Pak Bramasta duduk di teras sambil menyeruput teh panas, sementara Bu Mellysa melipat pakaian bersih di sebelahnya.

"Bu," panggil Pak Bramasta pelan. "Meylani tadi pagi mengirim pesan. Katanya dia sudah sampai di Surabaya untuk urusan proyek baru."

Bu Mellysa menghentikan lipatannya, lalu menghela napas. "Iya, Pak. Saya juga dapat kabar itu. Anak kita itu memang tidak pernah diam. Umurnya sudah kepala tiga, karirnya sudah puncak, tapi..." Ia terhenti, matanya menatap kosong ke arah halaman.

"Tapi sampai sekarang ia masih sendiri, Bu!" kata Pak Bramasta, melengkapi kalimat istrinya.

Bu Mellysa mengangguk pelan. "Iya, Pak. Kita ini sudah tua. Kapan pun Allah memanggil, saya ingin melihat Lani punya teman hidup. Punya seseorang yang bisa menjaganya ketika kita sudah tidak ada lagi. Bukan soal kaya atau miskin, Pak. Tapi soal ada tangan lain yang siap menggenggam tangannya saat dia lelah."

Pak Bramasta menepuk punggung istrinya dengan lembut. "Sabar, Bu. Meylani itu anak yang tahu diri. Dia dibesarkan dengan nilai-nilai kejujuran. Dia tidak akan mudah tertipu oleh materi. Jika ada pria yang berani mendekatinya, berarti pria itu punya keberanian lebih. Kita doakan saja yang terbaik."

"Saya tahu, Pak. Saya hanya rindu saja. Rindu punya cucu yang lari-lari di halaman ini," keluh Bu Mellysa pelan.

Mereka kembali diam, menikmati senja yang perlahan turun. Mereka tidak tahu, bahwa di Surabaya, benih takdir baru telah ditanam. Pertemuan singkat antara Meylani dan Bima hanyalah pembuka dari sebuah babak baru yang akan menguji kemampuan adaptasi Meylani, bukan hanya dalam bisnis, tapi dalam cinta dan kehidupan domestik.

Malam itu, di kamar hotelnya, Meylani tidak langsung tidur. Ia menatap kartu nama Bima yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Di luar jendela, lampu-lampu Surabaya berkedip liar, seolah menjanjikan kisah yang jauh lebih berwarna, lebih bising, dan lebih hidup daripada ketenangan Semarang.

Angin timur telah berhembus. Dan Meylani, wanita Jawa Tengah yang halus, baru saja menyadari bahwa ia mungkin membutuhkan sedikit kepedasan dalam hidupnya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!