"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Dokter Rewel
Lantai lima puluh sembilan Pradipta Tower adalah definisi nyata dari kemewahan yang dingin. Lantai ini hanya diisi oleh ruang kerja Arka, ruang rapat eksekutif, dan kubikel beberapa sekretaris inti. Begitu pintu lift terbuka, Ayana langsung disambut oleh hamparan karpet beludru tebal yang membuat langkah sepatunya sama sekali tidak bersuara.
"Selamat pagi, Pak Arka," seorang wanita dengan pakaian kerja yang sangat rapi dan rambut disanggul modern langsung berdiri dari meja kerjanya. Namanya Karina, sekretaris utama Arka yang sudah bekerja selama lima tahun di sana.
Karina sempat melirik Ayana dengan tatapan bertanya-tanya, namun profesionalismenya membuat wanita itu langsung kembali menatap Arka. "Sepuluh menit lagi rapat dengan dewan direksi dan perwakilan dari Jerman akan dimulai di ruang utama, Pak. Semua berkas sudah saya siapkan di meja Anda."
"Kopi saya sudah siap?" tanya Arka datar sambil terus melangkah menuju pintu ruang kerjanya yang bermaterial kayu jati pekat.
"Sudah, Pak. Espresso ganda tanpa gula seperti biasa—"
"Batalkan kopinya, Suster Karina. Tolong ganti dengan air putih hangat dan... kalau bisa, carikan bubur ayam instan atau oatmeal di pantry," potong Ayana dengan suara lantang dari belakang tubuh tegap Arka.
Langkah kaki Arka langsung terhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Ayana dengan tatapan yang bisa membuat manajer divisi langsung mengajukan surat risign saat itu juga. Di sisi lain, Karina melotot sempurna, menatap Ayana seolah-olah dokter muda itu baru saja menantang maut di kandang macan.
"Dokter Ayana," suara Arka merendah, menekan setiap suku kata dengan penuh penekanan. "Saya tidak sedang menerima tamu di rumah sakit. Ini kantor saya. Dan di sini, aturan saya yang berlaku."
Ayana tidak gentar. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Arka sambil menepuk-nepuk tas medis yang ia peluk di dada. "Dan aturan medis saya berlaku di mana pun raga Anda berada, Pak Arka. Ingat poin pertama dan kedua di kontrak kita kemarin? Memantau kesehatan fisik dan mengatur pola makan. Lambung Anda baru saja terguncang karena stres akibat panic attack tiga puluh menit yang lalu di mobil. Kalau Anda nekat memasukkan kafein dosis tinggi sekarang, saya jamin di tengah-tengah rapat Anda akan muntah asam lambung. Anda mau kehilangan wibawa di depan orang Jerman?"
Karina menahan napas. Ia sudah bersiap melihat Arka meledak dan memanggil satpam untuk menyeret wanita asing ini keluar dari gedung. Namun, pemandangan berikutnya justru membuat rahang Karina hampir jatuh ke lantai.
Arka hanya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas berat dari hidungnya, lalu kembali menatap Karina. "Lakukan apa yang dikatakan dokter rewel ini, Karina. Ganti kopi saya dengan air hangat."
"Ba-baik, Pak," jawab Karina terbata-bata, masih syok berat melihat bosnya yang terkenal keras kepala menyerah begitu saja dalam satu kali debat.
"Dan kamu," Arka menunjuk Ayana dengan jarinya. "Ikut saya masuk ke ruang rapat. Duduk di kursi belakang. Jangan membuat suara sedikit pun yang bisa mengganggu konsentrasi saya."
"Siap, Pak Bos!" Ayana memberikan gestur hormat dua jari dengan senyum jenaka yang membuat Arka mendecih kesal sebelum memutar tubuhnya masuk ke dalam ruangan.
Ruang rapat eksekutif itu dikelilingi oleh dinding kaca tebal yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian. Di tengah ruangan, sebuah meja oval panjang dari marmer hitam dikelilingi oleh belasan pria dan wanita paruh baya berjas necis. Aura di dalam ruangan itu begitu tegang, khas tempat di mana keputusan bernilai triliunan rupiah diambil.
Ayana mengambil posisi di kursi sudut ruangan, agak jauh dari meja utama namun masih memiliki pandangan yang jelas ke arah Arka. Ia meletakkan tas medisnya di lantai dan mulai mengamati jalannya rapat.
Begitu Arka duduk di kursi utama, aura pria itu langsung berubah total. Tidak ada lagi sisa-sisa pria rapuh yang gemetaran di dalam mobil tadi. Arka memimpin rapat dengan sangat dominan, bicaranya taktis, tajam, dan sesekali menggunakan bahasa Jerman yang fasih saat berdiskusi dengan perwakilan asing di seberang meja.
Keren juga si singa kalau lagi kerja, batin Ayana diam-diam memuji. Namun, pandangan medisnya tidak pernah lepas dari gerak-gerik fisik Arka.
Setengah jam rapat berlangsung, Ayana mulai menangkap gelagat yang tidak beres. Arka beberapa kali mengubah posisi duduknya dengan gelisah. Tangan kirinya sesekali meraba area ulu hati, dan dahi pria itu mulai kembali dihiasi oleh butiran keringat tipis, padahal suhu AC di dalam ruangan ini sudah mirip seperti kutub utara.
Magnya mulai bereaksi, analisis Ayana. Perut kosong ditambah tekanan stres memimpin rapat besar adalah kombinasi sempurna untuk memicu asam lambung naik.
Tepat saat itu, Karina masuk dengan senyap, meletakkan secangkir air putih hangat dan semangkuk kecil oatmeal instan yang permukaannya sudah agak mengental di samping laptop Arka.
Arka melirik mangkuk itu dengan sudut matanya, lalu melemparkan tatapan tajam ke arah Ayana di sudut ruangan. Ayana membalas tatapan itu dengan gerakan mulut tanpa suara: 'Ma. Kan.' sambil memperagakan gerakan menyuap makanan dengan tangannya sendiri.
Arka mengabaikannya dan kembali fokus pada layar proyektor yang sedang menampilkan grafik keuntungan kuartal pertama.
Melihat kebebalan pasien VIP-nya, Ayana memutar otak. Ia tidak bisa membiarkan Arka pingsan atau meringis kesakitan di depan para kolega bisnisnya. Mengabaikan rasa malunya, Ayana merobek selembar kertas dari buku catatan kecilnya, lalu menuliskan sesuatu di sana dengan pulpen tinta hitamnya.
Ia berdiri dengan senyap, berjalan memutari meja rapat dengan langkah seringan kucing, lalu meletakkan kertas lipat itu tepat di samping mangkuk oatmeal Arka sebelum kembali ke tempat duduknya.
Arka mengernyitkan dahi. Ia membuka lipatan kertas kecil itu dan membaca tulisan cakar ayam khas dokter di dalamnya:
"Kalau dalam hitungan ketiga oatmeal itu tidak masuk ke mulut Anda minimal tiga suap, saya akan maju ke depan meja itu, merebut mikrofon, dan mengumumkan ke semua direktur dan orang Jerman di sini kalau CEO Pradipta Group yang agung ini sedang menahan kentut karena belum sarapan. Satu... dua..."
.
Rahang Arka mengeras. Ia meremas kertas itu di dalam genggamannya hingga berbentuk bola kecil. Berani-beraninya perempuan ini mengancamnya dengan hal sekonyol itu! Namun, mengetahui tabiat Ayana yang nekat saat di UGD kemarin, Arka tahu wanita itu tidak sedang bercanda.
Dengan enggan dan wajah yang sangat terpaksa, Arka meraih sendok kecil di samping mangkuknya. Di tengah-tengah keheningan presentasi dari salah satu direktur keuangan, sang CEO tertinggi Pradipta Group mendadak menyuapkan sesendok oatmeal hambar ke dalam mulutnya.
Para direksi yang melihat hal itu langsung saling pandang dengan bingung. Seorang Arkananta Pradipta yang terkenal sangat disiplin dan tidak pernah makan atau minum apa pun selama rapat penting, kini sedang mengunyah oatmeal dengan ekspresi wajah seperti orang yang sedang menelan kerikil tajam.
Di sudut ruangan, Ayana menahan tawa setengah mati sampai harus menggigit bibir bawahnya sendiri. Kemenangan kecil ini terasa sangat memuaskan bagi jiwanya yang hobi menistakan keangkuhan orang kaya.
Rapat yang melelahkan itu akhirnya selesai dua jam kemudian. Setelah para tamu asing dan direksi keluar dari ruangan sambil berbisik-bisik aneh tentang menu sarapan sang CEO, menyisakan Arka dan Ayana berdua di dalam ruang rapat yang luas itu.
Arka langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Kamu... benar-benar tidak punya urat takut ya, Dokter Ayana?"
Ayana berjalan mendekat, mengambil mangkuk oatmeal yang kini sudah habis setengahnya—sebuah kemajuan besar. "Takut itu sama Tuhan, Pak, bukan sama manusia yang kalau belum sarapan juga bisa lemas dan gemeteran."
Ayana meletakkan telapak tangannya di dahi Arka tanpa permisi, memeriksa suhunya. "Suhu badan Anda normal, tapi Anda kurang istirahat. Sekarang, kembali ke ruang kerja Anda dan istirahat selama tiga puluh menit sebelum jadwal berikutnya. Saya tidak mau dengar bantahan."
Arka tidak membalas. Ia hanya menatap Ayana dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada keheningan yang mendadak terasa canggung di antara mereka. Kehangatan tangan Ayana di dahinya seolah kembali memanggil rasa nyaman yang asing, yang selama belasan tahun ini sengaja ia kubur rapat-rapat di dalam hatinya yang terluka.
"Dokter Ayana," panggil Arka lirih saat Ayana hendak berbalik mengambil tasnya.
"Ya? Ada yang sakit lagi?" tanya Ayana sigap, langsung siaga mode dokter.
Arka menatap keluar jendela kaca besar, memandangi langit Jakarta yang mulai mendung kelabu. "Aroma minyak kayu putihmu yang tadi di mobil... jangan dibuang. Simpan di tasmu."
Ayana terpaku sejenak melihat ekspresi melankolis yang mendadak muncul di wajah pria itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh Arka yang tidak ditutupi oleh kemarahan atau keangkuhan.
"Iya, selalu saya bawa kok," jawab Ayana lembut, seulas senyum tulus mengembang di wajahnya. "Saya kan dokter pribadi Anda, Pak Bos. Tugas saya adalah memastikan Anda selalu punya tempat untuk bernapas lega."
.
Bersambung.
💪💪