Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUAPULUHEMPAT
"Apa yang mau papah bicara in?" tanya Bio mengalihkan pertanyaan sang ayah.
Arun yang sejak tadi menatap Bio langsung menghela napasnya. Tidak mungkin Bio yang membenci pernikahan ini tiba-tiba bisa berlapang dada untuk menerima ini semua.
"Papah kesini karena papah mau menanyakan keadaan cafe. Kenapa cafe bisa seperti itu? Ada masalah apa?" tanya Broto.
"Masih Bio cari tahu pah" balas Bio.
"Cafe bermasalah? Kenapa Bio gak cerita?" Batin Arun.
"Keadaan udah kacau, baru kamu cari masalahnya? Kemana aja kamu??!" ujar Broto.
"Ini cuma masalah marketing aja pah" bela Bio, hanya dirinya lah yang saat ini harus tetap tenang agar terjadi hal yang tidak diinginkan.
Broto menghela napasnya, "papah emang gak pernah salah menilai kamu dari dulu" ujar Broto.
"Bio bisa selesain nya pah".
"Buktiin".
Suasana menjadi tambah tegang saat Broto berusaha menanggapi sikap keras dari Bio. Nita yang awalnya kesal, merubah wajahnya seketika cemas karena melihat suami dan anaknya secara bergantian.
"Silahkan minum dulu pah, mah" ujar Arun sambil menyodorkan air minum pada Nita dan Broto.
Broto tersenyum, "terima kasih ya Arun" ucap Broto.
Arun menganggukan kepala sambil tersenyum, "kenapa papah selalu ngasih tanggung jawab yang berat, sedangkan papah aja terus meragukan Bio" tanya Bio.
"Supaya kamu bisa berkembang ke arah yang lebih baik!" balas Broto.
"Pah, gak perlu pake emosi" Nita berusaha meredam ketegangan ini sambil mengelus pundak suaminya secara perlahan.
"Lebih baik? Apa yang papah harap in dari pernikahan aku sama Arun?" tanya Bio.
"Papah berharap aku berubah kayak gimana? Papah pikir pernikahan ini bisa merubah aku? Papah salah pah, aku benci sama pernikahan ini" ujar Bio dengan lantang.
Arun yang masih berdiri disitu merasakan bagai tersambar petir di siang bolong. Tiba-tiba saja Arun merasakan hatinya seolah mencelos dan tersentil oleh kata-kata Bio.
"BIO!" tegur Broto dengan suara kerasnya.
"Pah, sabar pah" Nita mencoba menahan Broto yang hendak berdiri mendekat pada anaknya.
"Kenapa pah? Bukannya papah tadi tanya, dan itu jawaban Bio".
Setelah mengatakan itu, Bio pergi keluar dari rumah tersebut dan terdengar suara derum mobil meninggalkan garasi rumahnya. Namun sebelum pergi, Bio sempat melihat dan menatap mata Arun. Namun Arun hanya bisa diam dan tidak bisa berkata apa-apa apalagi sampai menahan Bio untuk tidak pergi saat itu.
Teriakan Broto yang memanggil Bio untuk kembali seolah bagai angin lalu untuk Arun, "Arun maafin papah ya" ucap Broto sambil memegang pundak Arun.
Arun menggelengkan kepala, "papah gak salah, pah" balas Arun.
"Kamu jangan khawatir, Bio pasti akan kembali lagi nanti. Dia cuma lagi nyari ketenangan saja, kalo begitu papah pulang dulu ya" pamit Broto pada menantunya tersebut.
Nita yang sejak tadi hanya diam masih berada diposisi yang sama meski Broto sudah menghilang dari hadapannya. Arun yang menyadari hal tersebut memberanikan diri untuk menatap Nita. Meski saat ini pandangannya seolah mengintimidasi Arun.
"Puas kamu buat hubungan anak dan suami saya tambah kacau?" ujar Nita pelan namun penuh penekanan.
"Maksud mamah?".
"Anak saya tidak pernah menyukai kamu, dia sudah punya pilihannya sendiri! Yang pasti dia jauh lebih baik dari kamu" ucap Nita.
"Kalau bukan karena suami saya, Bio gak akan pernah nikah sama kamu!" lanjut Nita sambil menunjuk tepat di depan wajah Arun.
Bagai ditempa besi panas, Arun merasa saat ini aura kebencian mertuanya tersebut sudah mencapai titik didih, "Kenapa mamah gak batalin aja pernikahan kami waktu itu?" tanya Arun dengan wajah tenang.
Nita terdiam, sebenarnya keinginan tersebut sempat ingin ia wujudkan tapi ternyata hal itu tidak sempat terrealisasikan. Hingga mereka sah menjadi suami istri.
"Karena suami saya kasihan sama kamu, sebatang kara tanpa ada yang mau merawat kamu" ucap Nita.
Setelah mengatakan itu, Nita langsung bergegas keluar dari rumah. Sedangkan Arun masih terdiam, seolah meratapi dirinya dimana kehidupannya selalu dikasihani oleh orang lain.
Percaya lah, Arun bisa menjalankan hidupnya sendiri. Arun tidak perlu di kasihani. Dirinya baik-baik saja.
Suasana rumah yang sepi lantas tidak membuat Arun makin mendramatisir keadaannya. Arun langsung menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk dalam kepalanya. Dia langsung mengambil beberapa bahan sayuran yang akan dimasaknya nanti.
Untuk melakukan suatu hal, Arun harus memiliki mood yang baik agar hasilnya baik juga. Apalagi memasak, Arun tidak ingin nanti usahanya sia-sia dengan hasil masakan yang tidak enak.
Sedangkan di cafe, saat ini Bio sedang duduk di ruangannya. Sambil mencoba melihat beberapa kertas di atas mejanya.
Brukkk!
Cukup lama memang Bio berkutat dengan kertas yang berisi laporan tersebut hingga membuatnya muak dan melemparnya secara sembarang.
Laporan tersebut merupakan laporan terburuk sepanjang cafe tersebut berdiri. Entah apa yang salah, Bio pun bingung. Yang pasti karena ada beberapa cafe baru yang buka dengan jarak yang tidak jauh dari cafe milik Bio tersebut.
Tok
Tok
Tok
Mendengar ketukan pintu ruangannya, Bio langsung memungut kembali kertas yang bercecer dia atas lantai dengan cepat, "masuk" ucap Bio.
"Permisi pak".
Akbar, dia lah yang masuk kedalam ruangan tersebut, "Kenapa?" tanya Bio.
Sebelum menjawab Akbar memang sedang memperhatikan beberapa kertas yang ada dilantai tercecer meski tidak begitu banyak namun Akbar bisa tahu kalau itu bukan karena tiupan angin, "Akbar? Kalo kamu gak ada yang mau di bicarakan, silahkan keluar" ujar Bio.
"Oh, maaf pak. Begini saya mau memberi usulan untuk masalah cafe" ujar Akbar.
"Usulan?" ucap Bio heran.
Akbar menganggukan kepalanya, "kamu tahu penyebabnya?" tanya Bio.
"Menurut saya, kita harus rekrut Arun kembali ke cafe ini pak" ujar Akbar.
"Arun?".
"Iya pak. Bapak harus tahu kalau Arun itu salah satu karyawan berbakat di cafe ini, dia itu selalu punya ide yang kreatif untuk memajukan cafe ini pak" jelas Akbar.
Bio terus memperhatikan Akbar yang sedang menjelaskan mengenai Arun dalam bekerja. Sepertinya Akbar dan beberapa pegawai cafe lainnya belum mengetahui kalau saat ini Arun sudah menjadi istrinya.
"Gimana pak?" tanya Akbar tiba-tiba.
Bio yang sejak tadi tidak terlalu mendengarkan langsung tersadar dan sedikit kaget, "kamu yakin kali ini dia bisa?" tanya Bio mencoba mencari keyakinan untuk dirinya sendiri.
"Saya jamin pak, tapi ..." ucapan Akbar menggantung.
"Tapi apa?".
"Setelah nenek Salma meninggal dan Arun pindah tempat tinggal. Saya jadi jarang bertemu sama dia".
"Bukannya kalian satu kampus?".
Akbar mengangguk, "dia selalu menghindar dari saya pak, tapi saya gak tau kenapa. Tapi kalo bapak setuju dengan ide saya, saya akan berusaha bujuk Arun pak supaya dia mau balik ke cafe ini" ujar Akbar dengan sungguh-sungguh.
"Okee, saya akan kasih kamu kesempatan untuk membuktikan ucapan kamu itu. Karena kalau sampai akhir bulan ini keadaan cafe tetap begini terpaksa saya harus tutup cafe ini" jelas Bio.
"Jangan pak, ini tempat satu-satunya saya cari rezeki buat bantu kedua orang tua saya pak" balas Akbar dengan wajah memelas.
"Kalau begitu kamu harus lakukan yang terbaik untuk cafe ini, mengerti?".
Akbar mengangkat tangannya sebagai tanda hormat pada Bio, "siap pak. Kalo gitu saya balik kerja lagi pak" pamit Akbar lalu pergi keluar dari ruangan Bio.
Setelah kepergian Akbar, Bio langsung duduk di kursinya. Sedangkan di kepalanya masih teringat beberapa perkataan Akbar tentang Arun, "kenapa gue gak yakin akan hal itu? Kenapa gue rasa Akbar ada maksud dan tujuan lain?" gumam Bio sambil menatap lurus tiap sudut ruangan tersebut.
Pukul setengah sebelas malam, Bio baru saja sampai di rumahnya. Namun baru saja sampai di depan pintu, Bio kembali teringat kejadian siang tadi. Bio tidak mengetahui apa yang selanjutnya terjadi saat itu.
Bio dengan langkah mantap langsung membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Sepi, suasan seperti biasanya. Bio berpikir bahwa Arun sudah tidur didalam kamarnya. Namun baru saja Bio akan menaiki tangga, langkahnya terhenti saat menangkap seseorang tengah tertidur di atas meja makan.
"Arun?".
Perlahan Bio mendekati meja makan untuk memeriksa apakah benar dugaannya kalau itu adalah Arun.
Ternyata Benar, saat Bio menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya itu adalah Arun. Tertidur dengan damai, dimana makanan yang terhidang lengkap dihadapannya.
"Kenapa lo lakuin ini?" gumam Bio.
Tangan Bio langsung ditarik saat Arun mengalami pergerakan ternyata Arun terbangun. Arun menggesekan mata dengan tangannya,"kak Bio udah pulang?" tanya Arun dengan suara khas bangun tidur.
Bio menganggukan kepala. Hanya itu tanpa mengeluarkan suara.
"Kakak udah makan?" tanya Arun.
Bio menatap meja makan yang penuh dengan makanan yang Arun masak membuat Bio tidak tega untuk mengatakan bahwa dirinya sudah makan saat perjalanan pulang tadi.
"Lo ngapain tidur disini?" tanya Bio mengalihkan pembicaraan.
"Ehmm, tadi abis ngangetin masakan gak sengaja ketiduran. Kak Bio udah makan ya, ya udah deh. Tidur aja" ucap Arun lalu bangun dari duduknya.
Bio mencekal tangan Arun yang akan pergi menuju kamarnya, "temenin saya makan" ujar Bio membuat Arun menatap mata Bio.
Tbc.
Kejawab ya, tapi bingung gak???