NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

"Aku ambilkan baju kakakku dulu, lebih baik kamu ganti pakaian dulu," ujar Yisla seraya berbalik menuju lemari kayu di sudut ruangan.

Astra buru-buru menggeleng dengan cepat. "Eh, gak usah. Gak usah repot-repot, ini aja udah cukup kok."

"Pakaianmu itu tipis dan basah karena salju. Kalau gak segera diganti, kamu bisa mati kedinginan tahu!" potong Yisla keras kepala. Ia membongkar isi lemari dan menarik sepasang pakaian wol tebal.

"Kakak laki-lakiku lagi keluar berburu rusa. Pake aja punya dia dulu."

Yisla menyodorkan pakaian itu ke pangkuan Astra.

Astra menatap kain tebal itu dengan ragu. Keramahan Yisla terasa begitu asing di hatinya. Di dunia aslinya, Astra cuma terbiasa menerima makian, pukulan, dan tatapan jijik. Diperlakukan baik oleh manusia seperti ini justru malah membuatnya agak kikuk.

"Terima kasih..."

"Kamar di sebelah kanan kosong, ganti di sana saja." Yisla menunjuk dengan dagunya.

Astra mengangguk, ia segera masuk ke kamar tersebut. Pakaian milik kakak Yisla terasa agak longgar di tubuh kurus Julian, tapi wolnya jauh lebih hangat. Setelah menepuk-nepuk pipinya untuk mengusir sisa rasa panik, Astra melangkah keluar.

Aroma gurih yang super lezat langsung menyambut indra penciumannya. Di dekat perapian, Yisla sibuk mengaduk sesuatu di dalam panci besi.

"Wangi banget," gumam Astra, mendekat dengan canggung. "Masak apa?"

"Cuma sup daging sederhana," jawab Yisla tanpa menoleh.

Astra memperhatikan keheningan rumah kecil itu. Hanya terdengar suara letupan kayu bakar.

"Kamu... cuma tinggal berdua sama kakakmu di sini?"

Gerakan tangan Yisla mendadak terhenti. Bahunya agak menegang sebelum akhirnya ia mendesah pelan. "Iya. Kami yatim piatu."

Deg.

Astra seketika membeku. Rasa bersalah langsung menghantam dadanya dengan telak.

Aduh, mulut sialan! Kenapa harus nanya hal sensitif kayak gitu, sih?

"Maaf..." Astra jadi panik sendiri, wajahnya memucat karena merasa gak enak banget.

"Maaf, aku gak maksud... aku beneran gak tahu."

Melihat kepanikan Astra, Yisla malah terkekeh pelan. Ia menoleh dan tersenyum tipis.

"Gak apa-apa, itu udah lama banget kok. Nah, supnya udah matang. Kamu pasti lapar, kan?"

Yisla menuangkan sup itu ke mangkuk kayu, lalu mendongak menatap Astra lekat-lekat.

"Ngomong-ngomong... dari tadi kita belum kenalan," tutur Yisla, menopang dagunya dengan sebelah tangannya.

"Siapa namamu? Dan dari mana kamu berasal?"

Astra tertegun. Otaknya berputar dengan cepat. Dia gak mungkin bilang namanya Astra dan dia berasal dari Indonesia.

"Namaku... Julian," jawab Astra pelan, mulai membiasakan diri dengan nama barunya. "Dan aku... aku lupa dari mana asalku."

Yisla menyodorkan mangkuk sup yang masih panas itu kepada Astra.

"Cobalah, Julian."

Astra menerima mangkuk itu. Rasa lapar yang sedari tadi terpendam karena panik mendadak bergejolak. Ia meniup kuahnya sedikit, lalu menyendok sup itu ke dalam mulutnya. Begitu kuah kaldu dari sup itu masuk ke lidahnya, matanya seketika berbinar.

"Wah, enak banget!" seru Astra spontan.

Mendengar pujian tulus itu, pipi Yisla merona merah. Ia memalingkan wajahnya dengan canggung sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.

"B-benarkah? Syukurlah kalau kamu suka."

Namun, dasar perut Julian yang sudah kelaparan parah, Astra benar-benar kehilangan urat malunya. Sendok demi sendok melesat dengan cepat.

"Boleh nambah lagi?" cengir Astra sambil menyodorkan mangkuk kosong.

"Ah, iya, silakan."

Kejadian itu berulang. Dan berulang lagi. Sampai tiga kali nambah, Astra sukses menguras isi panci dengan brutal. Saat sendoknya hendak mengeruk sisa kuah terakhir di dasar panci, jemari Yisla menahan pinggirannya dengan ragu.

"Maaf ya, Julian... ini buat kakakku, enggak apa-apa, kan?" cicit Yisla pelan.

Deg.

Gerakan tangan Astra membeku di udara. Ia menatap dasar panci yang kini telah bersih, lalu beralih ke wajah Yisla. Kesadarannya kembali seratus persen. Otak author-nya langsung berteriak. Udah numpang, dikasih baju, dan sekarang malah habisin jatah makan tuan rumah. Bener-bener nggak tau diri!

Wajah Astra seketika memanas, merah padam mirip kepiting rebus. Ia menarik sendoknya dengan gerakan patah-patah.

"A-ah! Maaf! Aku bener-bener minta maaf! Aku gak maksud habisin semuanya!" gagap Astra sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Rasanya dirinya ingin tenggelam saja ke dalam salju.

Yisla malah terkekeh melihat kepanikan Astra. "Enggak apa-apa, Julian. Justru aku yang gak enak sama kamu... maaf ya, gak bisa kasih sajian yang layak buat tamu."

"Enggak, enggak! Ini mewah banget buat aku!" seru Astra makin merasa bersalah.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan keras dari pintu depan memutus obrolan mereka.

"Yisla! Yisla, buka pintunya! Lihat apa yang Kakak dapetin hari ini!" panggil sebuah suara berat dari luar.

"Ah, Kakak sudah pulang!" Yisla langsung bangkit berdiri dengan wajah ceria.

"Sebentar, Kak!"

Yisla buru-buru berlari ke arah pintu depan untuk menemui kakaknya.

Sementara itu, Astra yang ditinggal sendirian di dapur mendadak bingung setengah mati. Mau ikut ke depan tapi takut dianggap lancang, mau diam saja tapi kok canggung.

"Duh, ngapain ya?" gumamnya panik.

Mata Astra tertuju pada mangkuk-mangkuk kotor di atas meja. Akhirnya, demi mengurangi rasa bersalah karena sudah maruk, ia buru-buru menumpuk piring dan mangkuk bekas makan mereka. Setelah itu, dengan gerakan super pelan, Astra berjalan mendekati pembatas ruangan, mencoba mengintip ke arah pintu depan.

...***...

Dari balik pembatas ruangan, Astra bisa melihat seorang pria bertubuh tegap sedang akan menurunkan seekor rusa besar dari pundaknya. Di tangan kirinya, ada beberapa ekor kelinci salju.

"Wah, Kakak hebat banget malam ini!" seru Yisla riang.

Pria itu bernama Vito kakak kandungnya Yisla. Ia terkekeh sambil mengibaskan salju yang menempel di mantelnya.

"Lagi beruntung. Ini bisa buat stok seminggu, sisanya kita jual ke pasar besok pagi." Vito tiba-tiba mengendus udara saat melangkah masuk.

"Kamu masak apa? Aromanya sampai ke depan."

"Sup daging babi, Kak!"

"Wah, pas banget! Perut Kakak udah keroncongan."

Namun, langkah Vito mendadak terhenti di ambang dapur. Matanya yang tajam langsung menangkap siluet seseorang di balik sekat kayu.

Astra seketika kicep. Jantungnya serasa copot karena tertangkap basah sedang mengintip sambil memeluk tumpukan mangkuk kotor.

Vito mengernyit, tangannya refleks bergerak mendekati belati di pinggangnya. "Siapa itu?!"

"Kak, tunggu! Jangan galak-galak," Yisla buru-buru menengahi. "Dia... namanya Julian."

"Julian?" Vito menatap Astra dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan mengintimidasi.

"Kenapa ada orang asing di rumah kita malam-malam begini, Yisla?"

"Dia tadi dikejar orang-orang jahat di desa, Kak. Mau diculik dan dijadikan budak," jelas Yisla. "Aku gak tega, makanya aku tarik dia ke sini buat sembunyi."

Mendengar kata 'budak', raut wajah Vito mengeras. Ia langsung menarik lengan Yisla menjauh dari Astra, berbisik dengan suara tertahan namun penuh penekanan.

"Yisla, kamu sadar gak sih, bahaya banget masukin orang asing ke rumah? Apalagi statusnya buronan budak!" bentak Vito frustrasi.

"Kalau orang-orang yang mengejarnya tahu dia di sini, bukan cuma dia yang habis. Kita berdua juga bisa dibunuh karena dituduh mencuri dan menyembunyikan seorang budak!"

"Maaf, Kak... maafin Yisla," cicit Yisla, matanya mulai berkaca-kaca karena bersalah.

"Yisla cuma gak tega lihat dia..."

Astra berdiri kaku di tempatnya. Duh, aku harus ngapain sekarang? Otaknya nge-blank. Mau minta maaf dan keluar dari sini terasa seperti bunuh diri, tapi kalau diam saja dia malah jadi beban.

Wush.

Tiba-tiba, suhu di sekitar Astra mendadak menjadi aneh. Angin tipis berembus di dalam ruangan, dan dari balik bayangan dapur, dua sosok familiar perlahan mewujud.

Mereka adalah sosok Animus dan Anima Hemisphere yang sempat Astra temui tadi saat dirinya sedang berada di dalam kereta kuda.

Astra melirik panik ke arah Vito dan Yisla, tapi kakak-beradik itu sama sekali tidak menyadari kehadiran kedua makhluk itu. Mereka seolah membeku dalam argumen mereka sendiri.

"Hati-hati dalam bertindak di adegan ini, Author," bisik Animus, sembari menepuk-nepuk gulungan kertas kosong di pelukannya.

"Satu kali kau melangkah tanpa mempertimbangkan risiko, alur cerita ini bisa berbelok menjadi sangat tajam."

Anima tersenyum misterius dari balik pundak saudaranya. "Betul, Sayangku. Ingat, tidak ada outline. Good ending atau bad ending untuk cerita dan hidupmu sekarang benar-benar ada di tanganmu."

Astra menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

Sial... bab pertama ini benar-benar taruhannya nyawaku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!