Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 1 Sang Protagonis|
...Legacy Of Soryu...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Di sebuah gudang tua di pinggiran kota Jakarta, terdengar jeritan kesakitan yang bergantian dengan suara cambukan.
Namun tak ada yang peduli. Gudang itu berdiri di antara pabrik-pabrik yang sudah tak beroperasi dan lahan kosong yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya, tempat di mana suara keras di tengah malam adalah hal biasa, dan tetangga paling dekat berjarak sekitar dua kilometer.
Bau darah dan keringat bercampur dengan apeknya bau kayu lapuk. Di kursi besi di tengah-tengah ruangan, seorang pria muda terduduk.
Usianya baru sekitar dua puluh tiga tahun. Namun tak ada yang akan menebak usianya semuda itu jika melihat matanya yang tampak kosong dan sayu, seperti milik seseorang yang sudah melewati terlalu banyak hal untuk pria seusianya.
Wajahnya tegas dan simetris, perpaduan antara garis rahang kuat khas Asia dan hidung mancung ala Eropa. Kulitnya pucat, sementara rambutnya sedikit menutupi bagian mata kirinya.
Dia tampan. Terlalu tampan untuk sekedar berada di gudang seperti ini.
Satu kakinya disilangkan di atas lututnya yang lain. Di tangannya, sebotol wiski berputar pelan di antara jari-jarinya. Tetapi isinya tinggal setengah.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya terduduk dengan tangan terikat dibelakang punggungnya, tetapi punggungnya sudah hancur oleh cambukan.
"Wakadanna," lapor salah satu anak buahnya. "Dia masih bersikeras tidak tahu siapa yang memberinya perintah."
Bara tidak menyahut. Ia menyesap wiskinya perlahan, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya. Ia kemudian berdiri, langkah sepatu pantofelnya di atas lantai semen terdengar seperti detak jam kematian bagi pria di hadapannya.
Pria itu menjambak rambut pria paruh baya itu, memaksa wajah yang sudah hancur itu untuk menatapnya.
"Dengar bajingan," bisik pria muda itu. Suaranya halus, hampir terdengar sopan.
"Aku sudah melakukan ini berkali-kali. Setiap orang yang duduk di kursimu selalu memulai dengan kalimat 'aku tidak tahu'. Dan setiap orang itu berakhir di dasar sungai tanpa nyawa. Apa kau ingin menjadi bagian dari mereka?"
Pria itu terisak, darah menetes dari bibirnya. "Aku... aku masih punya keluarga, Tuan Muda..."
"Keluarga," Pria muda itu tertawa kecil, suara yang kering tanpa humor.
"Semua orang punya keluarga. Ayahku dulu juga punya keluarga, sebelum seseorang 'merampoknya' sembilan belas tahun lalu. Lalu di mana belas kasihan pada saat itu?"
Pria muda itu melepaskan jambakannya dan berjalan kembali ke kursinya. Ia menyalakan rokok dengan lighter perak, membiarkan asap itu mengepul di antara mereka.
"Lanjutkan," perintah Pria muda itu dingin.
Cambukan kembali mendarat di kulit punggungnya. Setiap hantaman membuat pria itu melolong kesakitan hingga suaranya serak. Akhirnya, di hantaman ke-seratus, pria itu menyerah.
"STOP! TOLONG! AKU AKAN BICARA!"
Pria muda itu mengangkat tangannya. Cambukan akhirnya berhenti.
"Siapa?"
"Ada... ada seseorang yang pesanan di pasar gelap," pria itu terengah, air mata membasahi pipinya yang sudah bengkak.
"Lima miliar. Untuk kepala Baraziven Soryu. Siapa pun yang bisa membawa kepalamu ke sebuah titik pertemuan di pelabuhan akan mendapatkan uang itu."
Bara menaikkan alisnya. "Lima miliar? Hanya itu harga untuk kepalaku? Benar-benar penghinaan terhadap nama keluarga Soryu."
"Siapa yang memasang harga?"
"Aku tidak tahu namanya! Sumpah! Tapi... tapi di akunnya bernama Delapan Dewa Petir."
Bara tertegun sesaat. Delapan Dewa Petir. Nama itu terasa asing baginya namun seperti ada sesuatu yang tampak sangat familiar dengan nama itu.
"Hanya itu yang kau tahu?"
"I-iya, Tuan Muda. Aku hanya disuruh membunuhmu. Tolong lepaskan aku..."
Bara berdiri, ia mengeluarkan pistol dari balik jas hitamnya. Ia menatap pria itu tanpa sedikit pun keraguan dimatanya.
"Terima kasih atas informasinya. Tapi dalam dunia ini, saksi yang bicara terlalu banyak adalah liabilitas."
DOOR!
Satu peluru mendarat tepat di kening pria paruh baya itu. Bara tidak berkedip saat darah memuncrat ke arah sepatunya yang mengkilap.
"Bereskan," ujarnya kepada anak buahnya sambil berjalan keluar menuju mobilnya.
...-Perjalanan Pulang-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Mobil milik Bara Soryu melaju keluar dari area gudang. Hujan mulai turun tipis-tipis, lalu tak lama semakin deras, memukul kaca jendela dengan suara yang monoton dan tidak berhenti.
Di kursi belakang, Bara Soryu duduk dengan satu tangan bertumpu di dagu. Matanya menatap jendela yang berembun, sembari memandangi lampu-lampu jalan yang memanjang dan berubah jadi garis-garis kuning di bawah hujan.
Ponselnya bergetar, tetapi ia tidak mengangkatnya. Getaran itu kembali tak lama kemudian hingga kelima kalinya. Namun Bara tetap mengabaikannya. Setelah itu hening sejenak, sebelum ponselnya kembali bergetar.
Bara dengan malas akhirnya melihat layar ponselnya. Lalu mengangkatnya.
"Baraziven, kau di mana?" suara wanita di seberang telepon terdengar tegas. Itu adalah suara Ibunya, Olivia Soryu.
"Jalan pulang," jawab Bara singkat.
"Segera kembali. Ayahmu ingin bicara soal ekspansi di Surabaya. Dan adik-adikmu, Indra dan Ashura, mereka mencarimu sejak tadi."
"Aku tidak punya ayah, Ma," suara Bara mendatar. "Aku hanya punya paman yang tidur di ranjang papaku."
Hening di seberang sana. Bara tahu kalimat itu selalu menyakitkan bagi Olivia, namun ia tidak peduli. Baginya, pernikahan ibunya dengan Raiden Soryu yang berselang hanya empat bulan setelah kematian ayahnya adalah sebuah pengkhianatan terbesar dalam hidup Bara.
"Jangan terlambat," tutup ibunya.
Telepon langsung ditutup. Bara menurunkan ponselnya. Dalam benaknya samar-samar terlintas wajah ayahnya.
"Papa," bisiknya pelan. Hampir tidak terdengar di antara suara hujan yang memukul atap mobil.
"Aku akan membalaskan kematianmu."
...-Mansion Soryu-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Mansion Soryu berdiri di atas perbukitan di kawasan elit, mansion itu tampak megah, terang, dengan lampu-lampu yang menyala di setiap jendelanya.
Bara turun dari mobil tanpa menunggu pengemudi membukakan pintu untuknya. Jas hitamnya langsung basah diguyur air hujan.
Saat Bara masuk ke mansion, ia langsung disambut oleh kegaduhan biasa dari dua adik tirinya. Ashura, si bungsu yang temperamental, langsung melompat dari sofa.
"KAK BARA! MANA JAJANNYA?!" teriak Ashura sambil menghentakkan kaki di atas lantai marmer.
"Katanya mau bawa oleh-oleh dari kantor!"
Bara menatap Ashura dengan tatapan sayu. "Aku lupa. Aku terlalu sibuk mengurus sampah."
Indra, yang sedang membaca tablet di sudut ruangan, mendongak. Matanya tajam, jauh lebih tenang dari Ashura.
"Sampah jenis apa, Kak? Yang harus dicambuk atau yang langsung ditembak?"
Bara menyeringai tipis. "Dua-duanya."
Indra menutup tabletnya. "Kakak pulang dengan bau mesiu dan wiski lagi. Ayah akan marah kalau tahu Kakak masih bermain di lapangan daripada duduk di ruang rapat."
Bara melangkah mendekati Indra, memberikan tekanan intimidasi yang membuat remaja delapan belas tahun itu sedikit tegang.
"Dengar, Indra. Kursi empuk di ruang rapat itu hanya untuk mereka yang sudah cukup kuat untuk menahan tusukan pisau dari belakang. Kamu terlalu banyak membaca buku, tapi tidak pernah tahu bagaimana rasanya di khianati oleh orang-orang yang kau percayai."
Bara beralih ke Ashura yang masih cemberut. "Dan kau, Ashura. Teruslah merengek soal jajan. Karena di luar sana, banyak musuh yang sedang merencanakan bagaimana cara memenggal kepalamu saat kau sedang tertidur."
Ashura terdiam, wajahnya berubah pucat. "Siapa mereka?"
"Kematianmu," balas Bara sebelum melangkah naik ke kamarnya.
Ashura terdiam. Dia akhirnya duduk kembali di sofa dengan kesal, sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Dasar kau Bara! Kau tetep bajingan karena nggak bawa jajan!" gerutunya.
"Kalau itu aku juga setuju," kata Indra.
...-Kamar Bara-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Di kamarnya yang berada di lantai dua, Bara masuk dan langsung melepaskan jasnya. Ia melemparkannya ke kursi kerja, disusul sepasang sarung tangan hitam yang tadi ia gunakan.
Ia melangkah ke depan jendela. Di luar, hujan masih turun dengan irama yang membosankan, memukul-mukul kaca mansion tanpa henti.
Tangan Bara bergerak ke leher, meraba kalung perak yang selalu tersembunyi di balik kancing baju teratasnya. Liontin pada kalung itu sudah aus dimakan waktu—benda yang tampak tak berharga bagi orang lain, namun segalanya bagi dia.
"Sembilan belas tahun," bisiknya pada kaca jendela yang berembun.
"Aku sudah menunggu selama sembilan belas tahun."
Dia mengepalkan kalung itu di telapak tangannya sampai tepiannya membekas di kulitnya.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉