Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Faust
Malam itu, Paris tampak seolah-olah mengenakan pakaian terbaiknya.
Kereta-kereta kuda berdatangan tanpa henti di depan gedung opera. Roda-roda besi beradu dengan batu jalanan, menghasilkan bunyi berirama yang bercampur dengan derap kaki para pelayan dan percakapan para tamu.
Laki-laki turun dari kereta dengan jas hitam dan topi tinggi.
Para perempuan menyusul dengan gaun panjang yang berkilauan di bawah cahaya lampu gas. Beberapa mengenakan sarung tangan putih hingga siku, sementara yang lain menyembunyikan leher mereka di balik untaian mutiara.
Malam itu adalah malam pertunjukan.
Dan gedung opera Paris kembali menjadi pusat perhatian seluruh kota.
Di dalam gedung, suasananya bahkan lebih meriah.
Lampu-lampu gas menyala di sepanjang lorong, memantulkan cahaya kekuningan pada dinding yang dihiasi ornamen keemasan. Karpet merah membentang dari pintu masuk hingga tangga utama. Para pelayan bergerak cepat membawa minuman dan nampan makanan, sementara para penonton mencari tempat duduk mereka.
Udara dipenuhi aroma parfum.
Bunga-bunga segar menghiasi beberapa sudut ruangan.
Suara tawa terdengar di mana-mana.
Para bangsawan berbicara dengan suara rendah.
Para penonton biasa sibuk membicarakan pertunjukan yang akan segera dimulai.
Dan di balik semua kemewahan itu, para pemain sedang mempersiapkan diri.
Aku berdiri di salah satu lorong belakang panggung.
Tanganku terasa dingin.
Aku menarik napas perlahan.
“Christine.”
Aku menoleh.
Meg berdiri di belakangku sambil membawa beberapa bagian kostum.
“Kau sudah siap?”
Aku mengangguk, “Kurasa begitu.”
Meg tersenyum, “Kau terlihat gugup.”
“Aku memang gugup.”
“Tidak perlu.”
Ia merapikan bagian bahuku, “Kau sudah berlatih berkali-kali.”
Aku tersenyum kecil.
“Berlatih di ruang latihan berbeda dengan berdiri di depan ratusan orang.”
“Ratusan?”
Meg tertawa.
“Coba lihat ke arah auditorium nanti.”
Ia mendekatkan wajahnya kepadaku, “Kau akan melihat ribuan mata.”
Aku menelan ludah.
“Meg...”
“Aku hanya bercanda.”
Ia tertawa kecil.
Namun ketika tawa itu menghilang, aku dapat melihat ketegangan di matanya.
Sejak kematian Joseph, tidak ada seorang pun di gedung opera yang benar-benar merasa tenang.
Bahkan malam ini.
Terutama malam ini.
Aku menoleh ke arah panggung.
Dari balik tirai, aku dapat mendengar suara penonton yang semakin ramai.
Kemudian sebuah bunyi bel terdengar.
Ding.
Percakapan mulai mereda.
Bel kedua berbunyi.
Ding.
Para penonton mulai mengambil tempat.
Suara kain gaun bergesekan.
Bisikan-bisikan terakhir.
Kemudian—
Ding.
Bel ketiga.
Seluruh gedung seolah menahan napas.
Lampu-lampu di auditorium perlahan diredupkan.
Suara percakapan menghilang.
Tirai besar berwarna merah tua mulai bergerak.
Orkestra mengambil posisi.
Konduktor mengangkat tongkatnya.
Sesaat kemudian—
musik pertama mengalun.
...----------------...
Tirai terbuka.
Panggung dipenuhi cahaya.
Pemandangan pertama dari Faust terbentang di hadapan penonton.
Dekorasi panggung dibuat sedemikian rupa hingga menciptakan suasana yang berbeda dari kehidupan Paris di luar gedung opera.
Para pemain bergerak sesuai peran mereka.
Suara orkestra memenuhi ruangan.
Biola mengalun lebih dahulu, disusul oleh suara alat musik tiup yang dalam dan megah.
Kemudian suara para penyanyi memenuhi panggung.
Penonton terdiam.
Tidak ada lagi percakapan.
Semua mata tertuju pada panggung.
Kisah Faust dimulai.
Seorang pria tua yang telah menghabiskan hidupnya untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Ia memiliki pengetahuan.
Ia memiliki pengalaman.
Namun semua itu tidak mampu memberinya sesuatu yang paling ia inginkan.
Masa muda.
Kehidupan.
Kebahagiaan.
Keputusasaan Faust terasa dalam setiap gerak tubuhnya.
Ketika ia memikirkan hidupnya yang telah berlalu, musik berubah.
Nada-nada rendah dari orkestra membuat suasana menjadi semakin suram.
Seolah-olah seluruh dunia sedang ikut merasakan keputusasaannya.
Kemudian nama itu muncul.
Mephistopheles.
Sosok yang membawa godaan.
Sosok yang menawarkan sesuatu yang tidak mampu diberikan dunia kepada Faust.
Kecantikan.
Kesenangan.
Dan cinta.
Aku memperhatikan panggung dari balik tirai.
Entah mengapa, aku merasakan bulu kudukku meremang.
Aku sudah mengetahui jalan cerita Faust.
Aku tahu bahwa godaan tidak pernah datang tanpa harga.
Namun melihatnya dimainkan secara langsung membuat semuanya terasa berbeda.
Ini bukan lagi sekadar cerita dalam sebuah buku.
Ini adalah manusia.
Manusia yang berdiri di atas panggung.
Manusia yang bernyanyi.
Manusia yang menangis.
Manusia yang mempertaruhkan hidup mereka demi sebuah keinginan.
Musik semakin keras.
Penonton terdiam dalam kekaguman.
Ketika Mephistopheles muncul, beberapa orang bahkan terdengar menarik napas.
Kemudian tepuk tangan pecah ketika adegan berganti.
Para pemain bergerak dengan anggun.
Kostum-kostum mereka menangkap cahaya panggung.
Kain sutra dan beludru bergerak mengikuti setiap langkah.
Di antara semuanya, Marguerite menjadi pusat perhatian.
Kepolosannya begitu kontras dengan dunia yang perlahan menyeretnya menuju kehancuran.
Ketika ia bernyanyi, auditorium seakan membeku.
Suara soprannya mengalir jernih.
Nada tinggi yang lembut memenuhi ruangan dan memantul hingga ke balkon paling atas.
Aku melihat beberapa penonton menahan napas.
Seorang perempuan tua di balkon menempelkan kipasnya ke dada.
Seorang pria di sampingnya tersenyum kagum.
“Luar biasa,” bisiknya.
Di barisan depan, seorang bangsawan bahkan tidak bergerak sedikit pun.
Ia hanya menatap panggung.
Musik membawa semua orang ke dalam cerita.
Ketika Faust dan Marguerite bertemu, suasana berubah.
Nada-nada romantis memenuhi auditorium.
Tatapan mereka bertemu.
Tangan mereka hampir bersentuhan.
Penonton seolah-olah dapat merasakan ketertarikan di antara keduanya.
Beberapa perempuan tersenyum.
Beberapa pria berbisik.
Namun kisah itu tidak berhenti pada kebahagiaan.
Mephistopheles masih berada di sana.
Menunggu.
Mengamati.
Menunggu saat yang tepat untuk mengambil apa yang telah dijanjikan.
Musik berubah sekali lagi.
Adegan berikutnya semakin gelap.
Cinta Marguerite mulai berubah menjadi penderitaan.
Kepolosannya perlahan hilang.
Dan setiap kali musik menjadi semakin suram, penonton semakin diam.
Tidak ada seorang pun yang berani memecah suasana.
Bahkan anak-anak yang sebelumnya gelisah kini duduk tenang di samping orang tua mereka.
Kemudian tiba saatnya adegan yang paling dinantikan.
Marguerite berdiri seorang diri.
Cahaya panggung jatuh tepat di atas tubuhnya.
Seluruh auditorium menjadi gelap.
Hanya satu sosok yang terlihat jelas.
Ia bernyanyi.
Suaranya lembut.
Sedih.
Hampir seperti seseorang yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Nada demi nada naik perlahan.
Semakin tinggi.
Semakin menyakitkan.
Dan ketika suara terakhir menghilang...
seluruh auditorium terdiam.
Tidak ada yang langsung bertepuk tangan.
Seolah-olah semua orang takut merusak keheningan.
Kemudian seseorang berdiri.
Tepuk tangan pertama terdengar.
Lalu yang kedua.
Dalam hitungan detik, seluruh gedung opera bergemuruh oleh tepuk tangan.
Para penonton berdiri.
Bunga-bunga dilemparkan ke arah panggung.
Beberapa orang bersorak.
“Bravo!”
“Luar biasa!”
“Bravo!”
Suara tepuk tangan bergema hingga ke langit-langit.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Untuk beberapa saat, aku melupakan semua hal yang menakutkan.
Aku hampir lupa bahwa gedung ini menyimpan rahasia.
Hampir.
Karena di saat seluruh penonton berdiri memberikan penghormatan kepada para pemain—
di sebuah tempat yang jauh dari sorotan lampu—
ada seseorang yang tidak ikut bertepuk tangan.
...----------------...
Bilik Nomor Lima.
Letaknya sedikit lebih tinggi dari beberapa bilik lainnya.
Dari sana, seluruh panggung dapat terlihat dengan jelas.
Bilik itu gelap.
Terlalu gelap.
Tidak ada lampu yang menyala.
Tidak ada pelayan.
Tidak ada penonton.
Tidak ada siapa pun yang seharusnya berada di sana.
Namun sebuah bayangan duduk di dalamnya.
Diam. Tidak bergerak.
Ia telah berada di sana sejak tirai pertama kali dibuka.
Tidak seorang pun menyadarinya.
Tidak seorang pun menoleh ke arahnya.
Bahkan para pelayan yang berjalan melewati lorong tidak pernah melihat pintu bilik itu terbuka.
Sosok tersebut duduk dengan tenang.
Satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi.
Yang lain berada di pangkuannya.
Ia tidak memperhatikan penonton.
Ia tidak memperhatikan para bangsawan.
Tatapannya hanya tertuju pada panggung.
Pada satu sosok tertentu.
Christine.
Ketika gadis itu bernyanyi, kepalanya sedikit terangkat.
Seolah-olah ia sedang mendengarkan sesuatu yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.
Suara Christine memenuhi gedung.
Sosok di Bilik Nomor Lima tidak bergerak.
Namun dari balik bayangan, sesuatu berubah dalam tatapannya.
Kebanggaan.
Kerinduan.
Dan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dijelaskan.
Ia mengenal suara itu.
Ia telah mendengarnya jauh sebelum malam ini.
Jauh sebelum seluruh Paris mengenal namanya.
Ketika Christine menyelesaikan nyanyiannya, penonton kembali memberikan tepuk tangan meriah.
Namun sosok itu tetap diam.
Ia tidak bertepuk tangan.
Tidak perlu.
Baginya, tepuk tangan ribuan orang tidak memiliki arti.
Satu-satunya suara yang ingin didengarnya hanyalah suara gadis di atas panggung.
Seseorang di barisan depan menoleh ke arah bilik-bilik.
“Bilik Lima kosong, bukan?”
Pelayan yang berdiri di dekatnya mengangguk.
“Setahuku begitu, Monsieur.”
“Sayang sekali.”
Pria itu kembali melihat panggung.
“Aku pernah mendengar bahwa Bilik Lima memiliki tempat terbaik untuk melihat pertunjukan.”
Pelayan tersenyum gugup.
“Benar.”
Kemudian ia menundukkan suara.
“Namun sebaiknya kita tidak membicarakan bilik itu.”
“Mengapa?”
Pelayan tidak menjawab.
Ia hanya pergi.
Tidak ada seorang pun yang melihat pintu Bilik Nomor Lima bergerak sedikit.
Tidak ada seorang pun yang melihat bayangan di dalamnya berdiri.
Dan tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa sejak awal pertunjukan—
seseorang telah mengawasi.
...----------------...
Pertunjukan memasuki babak terakhir.
Musik menjadi semakin dramatis.
Kisah Marguerite bergerak menuju akhir yang tragis.
Para pemain memberikan seluruh tenaga mereka.
Suara orkestra memenuhi gedung.
Biola berdering.
Alat musik tiup menggema.
Suara paduan suara terdengar seperti gelombang yang datang dari kejauhan.
Lampu panggung berubah.
Bayangan para pemain memanjang di lantai.
Kemudian adegan terakhir dimulai.
Marguerite berdiri di tengah panggung.
Sendirian.
Wajahnya dipenuhi kesedihan.
Namun di balik kesedihan itu terdapat sesuatu yang lebih kuat.
Harapan.
Penebusan.
Dan doa.
Suaranya kembali terdengar.
Kali ini lebih lembut.
Lebih dalam.
Seluruh auditorium terdiam.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Bahkan suara napas seolah menghilang.
Aku merasakan sesuatu menyentuh dadaku.
Begitu indah.
Begitu menyakitkan.
Ketika musik mencapai puncaknya, seluruh orkestra seakan meledak dalam satu gelombang suara.
Kemudian—
hening.
Tirai jatuh.
Selama satu detik, tidak ada yang bergerak.
Lalu auditorium meledak.
Tepuk tangan.
Sorakan.
Teriakan bravo.
Bunga-bunga memenuhi panggung. Para pemain muncul kembali untuk menerima penghormatan.
Para penonton berdiri.
Mereka bersorak.
Mereka tersenyum.
Mereka berbicara tentang pertunjukan yang baru saja mereka saksikan.
Malam itu menjadi malam yang indah bagi hampir semua orang.
Namun tidak bagi seseorang di Bilik Nomor Lima.
Ketika seluruh perhatian tertuju kepada panggung, sosok itu perlahan berdiri.
Ia menatap Christine untuk terakhir kalinya.
Kemudian berbalik.
Jubah gelapnya bergerak mengikuti langkahnya.
Ia menghilang ke dalam lorong yang gelap.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada saksi.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa ia pernah berada di sana.
Hanya satu hal yang tertinggal.
Di atas kursi Bilik Nomor Lima—
sebuah mawar merah.
Segar.
Indah.
Dan masih basah oleh embun.