Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Penyamaran
"IPTU Milka."
"Siap, Komandan."
Komandan Arif meletakkan sebuah map tebal di atas meja rapat.
"Mulai hari ini, kamu akan memimpin penyelidikan awal dugaan pencucian uang yang berkaitan dengan pengadaan alat kesehatan."
Ruangan langsung hening. Milka menerima map itu dengan wajah tenang.
"Kasus ini masih berada pada tahap penyelidikan. Kita belum bisa melakukan penggeledahan ataupun penyitaan. Yang kita butuhkan sekarang adalah bukti awal."
"Siap."
Komandan Arif membuka beberapa lembar berkas. "Transaksi mencurigakan mengarah ke beberapa perusahaan."
Milka memperhatikan bagan aliran dana yang diproyeksikan di layar. Perlahan, ia membalik halaman berikutnya. Daftar perusahaan yang diduga Terlibat terpampang di sana.
PT Arga Medika.
Napas Milka langsung tertahan. Itu merupakan perusahaan tempat Delvando bekerja.
Komandan kembali berbicara. "Kita tidak boleh gegabah. Sedikit saja mereka mencium keberadaan polisi, seluruh dokumen bisa lenyap."
Milka mengangkat tangan. "Izin, Komandan."
"Silakan."
"Saya ingin masuk tanpa identitas sebagai polisi."
Seluruh peserta rapat menoleh. Komandan Arif menyipitkan mata.
"Jelaskan."
"Saya mengenal lingkungan perusahaan itu. Kalau saya datang membawa surat tugas, mereka pasti langsung melakukan pembersihan barang bukti."
"Lalu?"
"Saya ingin menjadi orang yang tidak diperhatikan."
Komandan terdiam beberapa saat. "Risikonya besar."
"Saya siap."
Beberapa detik kemudian ... Komandan mengangguk.
"Baik. Tapi di sana kamu hanya melakukan observasi. Jangan sampai ada konfrontasi. Jika situasi terasa membahayakan, kamu harus segera mundur."
"Siap," ucap Milka sembari memasang tubuh tegap.
.
.
Sore harinya.
Milka berdiri di depan sebuah gedung sederhana milik vendor jasa kebersihan.
Seorang wanita paruh baya menyerahkan seragam biru muda lengkap dengan topi dan masker.
"Karena ada yang izin sakit, kamu akan ditempatkan di PT Arga Medika."
Milka pura-pura gugup. "Ba-baik, Bu."
"Kamu bertugas di lantai tiga," perintah wanita paruh baya tadi.
"Lantai tiga?" tanya Milka, meyakinkan apa yang ia dengar.
"Iya. Di sana banyak ruang administrasi dan arsip."
Milka mengangguk pelan. Persis seperti yang ia harapkan.
Keesokan paginya.
Seragam polisi yang biasa ia kenakan, telah berganti menjadi pakaian petugas kebersihan. Rambut panjangnya digulung disembunyikan di balik topi.
Masker menutupi sebagian besar wajahnya. Tak ada yang akan menyangka ... Perempuan yang sedang mendorong troli berisi sapu dan cairan pembersih itu adalah IPTU Milka Tera Wijaya. Seorang penyidik. Sekaligus istri dari salah satu supervisor perusahaan itu.
Begitu melewati gerbang perusahaan, Milka menundukkan kepala.
Satpam hanya melirik sekilas sebelum mempersilahkannya masuk.
"Lantai tiga."
Milka mengangguk. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Lift perlahan terbuka.
Sesampainya di lantai tiga, ia mulai mengepel koridor seperti petugas kebersihan pada umumnya. Sesekali ia menyapa pegawai yang berlalu-lalang. Tak seorang pun memperhatikannya.
"Itu bagus," batinnya.
Matanya diam-diam menghafal setiap sudut ruangan.
Ruang keuangan. Ruang direktur. Ruang arsip dan ... Ruang server. Semuanya berada di lantai yang sama. Milka terus bekerja seolah tak memiliki kepentingan lain.
Hingga akhirnya, koridor mulai lengang menjelang jam makan siang. Inilah kesempatan yang ia tunggu.
Ia mendorong troli menuju ruang arsip. Pintu tidak terkunci. Milka menarik napas pelan. Perlahan ia masuk.
Ruangan itu dipenuhi rak-rak besi tinggi yang dipenuhi map. Ia menutup pintu tanpa suara. Matanya segera bergerak cepat membaca label pada setiap rak.
Laporan Keuangan. Pengadaan. Vendor. Transfer.
Tangannya berhenti pada sebuah laci yang diberi label khusus.
"Rahasia."
Milka mengenakan sarung tangan tipis. Perlahan ia membuka laci itu. Puluhan map hitam tersusun rapi. Ia mengambil salah satunya. Halaman demi halaman mulai dibuka.
Nominal.
Tanggal.
Nomor rekening.
Nama perusahaan.
Semakin lama membaca, membuat kening Milka semakin berkerut.
"Ini ..."
Angkanya tidak masuk akal. Dana proyek dipindahkan berkali-kali ke rekening berbeda dalam waktu yang sangat singkat.
Jelas sekali, seseorang sedang berusaha mengaburkan jejak uang.
Milka segera mengeluarkan kamera kecil yang tersembunyi di balik botol cairan pembersih.
Klik.
Klik.
Klik.
Setiap halaman dipotretnya dengan cepat. Namun, baru beberapa lembar berhasil diabadikan, terdengar suara langkah kaki dari luar.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Milka langsung membeku. Seseorang sedang mendekati ruang arsip. Gagang pintu perlahan bergerak turun.
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣