Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PERANG TAWAR YANG MENEGANGKAN
Tiga hari kemudian, jadwal penawaran proyek pengembangan kawasan komersial datang. Ini adalah proyek besar yang menjadi incaran banyak perusahaan, termasuk Aldo yang kini berusaha bangkit kembali dengan cara yang lebih halus namun tetap mematikan. Jika Grup Arka dan mitranya—yang kini diketahui adalah usaha milik Rian—bisa memenangkan tender ini, posisi mereka akan semakin kokoh. Namun jika gagal, keraguan lama akan kembali muncul, dan usaha Rian bisa terancam terhenti di tengah jalan.
Di ruang rapat besar yang penuh dengan perwakilan perusahaan peserta, suasana terasa begitu padat dan menegangkan. Setiap peserta mempersiapkan materi penawaran terbaik, menawarkan harga yang kompetitif, serta konsep yang menarik. Aldo duduk tak jauh dari meja tempat Nadia dan Rian berada, sesekali melirik dengan senyum tipis yang penuh ancaman tersirat. Ia yakin kali ini ia bisa menang, karena ia menawarkan harga yang jauh lebih rendah dari perhitungan wajar—sebuah strategi yang sering digunakan untuk menjatuhkan pesaing, meski berisiko merugikan kualitas pekerjaan nantinya.
Saat giliran mereka tiba, Rian berdiri dengan tenang. Ia tidak terburu-buru menyebutkan angka yang fantastis atau menjanjikan hal-hal yang tak masuk akal. Ia memaparkan rencana kerja yang rinci, standar kualitas yang tinggi, serta perhitungan biaya yang jujur dan transparan.
“Kami tidak menawarkan harga termurah,” ucapnya tegas di hadapan para juri, “Karena kami percaya bangunan yang kokoh dan pelayanan yang prima tidak bisa didapatkan dengan mengorbankan kualitas demi menekan biaya serendah mungkin. Yang kami tawarkan adalah kepastian: kepastian waktu penyelesaian, kepastian mutu bahan, dan kepastian tanggung jawab jangka panjang. Semua ini kami kerjakan bukan hanya untuk keuntungan sesaat, tapi untuk menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kami.”
Saat Rian kembali duduk, Nadia menatapnya sekilas—ada rasa bangga yang tersembunyi di balik tatapan tenangnya. Pria yang dulu selalu mengejar jalan pintas demi ambisi kini belajar memegang prinsip kejujuran dan tanggung jawab.
Namun saat Aldo maju, ia langsung melontarkan angka yang membuat seluruh ruangan berbisik. Angka itu jauh di bawah penawaran mereka, bahkan hampir mustahil untuk merealisasikannya dengan standar yang layak. Aldo tersenyum puas, seolah kemenangan sudah ada di tangannya.
“Tentu saja harga yang saya tawarkan bisa lebih rendah karena saya memiliki jaringan pemasok yang lebih luas dan efisiensi kerja yang lebih baik,” ucapnya dengan nada meyakinkan, meski banyak yang tahu itu hanyalah alasan kosong.
Rian merasa cemas. Jika keputusan hanya berdasarkan angka, mereka pasti akan kalah. Namun ia melihat Nadia tetap tenang, seolah sudah memprediksi hal ini akan terjadi.
Saat sesi tanya jawab dimulai, salah satu juri yang berpengalaman lama bertanya langsung pada Aldo: “Apakah Anda yakin angka ini bisa mencakup seluruh biaya dengan standar keselamatan yang sesuai peraturan? Kami tidak ingin proyek ini selesai cepat namun menjadi berbahaya bagi penghuninya kelak.”
Aldo sempat ragu sejenak sebelum menjawab dengan gagah berani. “Tentu saja. Kami menjamin semuanya.”
Kemudian pertanyaan itu dialihkan kepada Nadia. Dengan tenang namun tegas, ia berdiri dan berkata: “Kami menghormati keputusan rekan bisnis kami. Namun Grup Arka selalu berpegang pada satu prinsip: keuntungan bisa dicari di lain waktu, namun keselamatan dan kepercayaan yang hilang tidak akan pernah bisa kembali dibeli dengan uang berapapun jumlahnya. Jika penawaran kami belum bisa diterima karena alasan biaya, kami siap mundur dengan kepala tegak, daripada harus mengorbankan kualitas yang menjadi harga mati bagi kami.”
Kata-kata itu memukau seluruh hadirin. Keberanian mereka menolak jalan pintas justru menjadi nilai lebih yang tak ternilai harganya. Rian menyadari bahwa keteguhan hati Nadia adalah hal yang dulu tak pernah ia hargai, namun kini menjadi pondasi yang membuatnya berdiri tegak kembali.
Sore itu, hasil belum diumumkan. Namun saat mereka berjalan keluar gedung, Rian merasa hatinya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Kemenangan bukan lagi segalanya baginya; yang terpenting adalah ia berani berdiri dengan jujur, bersama wanita yang mengajarkannya hal itu semua.
(Lanjut ke Bab 28?)