....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan
L'EVANNE - PUKUL 17.12
Cheyrin berjalan kembali ke Meja Nomor 14 dengan nampan berisi Steak Wagyu Well Done yang baru. Jantungnya masih berdetak cepat karena kejadian di dapur tadi.
Wanita itu sudah menunggu dengan wajah masam. Lengannya terlipat di atas meja.
Cheyrin berhenti di samping meja, tersenyum, lalu menunduk.
"Selamat sore, Ibu. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Ini pesanan Ibu yang baru."
Ia meletakkan piring itu dengan hati-hati di hadapan wanita tersebut.
Namun wanita itu tidak langsung menyentuh makanannya. Ia justru mendengus.
"Waktu saya sudah banyak terbuang di restoran ini. Saya akan memberikan peringkat rendah untuk pelayanan di sini."
Cheyrin tetap menjaga sikap. Suaranya tenang dan sopan.
"Saya mohon maaf sekali lagi, Ibu. Atas nama L'Evanne, kami memohon maaf sebesar-besarnya."
Wanita itu menggeleng.
"Permintaan maaf tidak mengembalikan waktu saya. Waktu saya sangat berharga."
Suasana menjadi hening sejenak. Cheyrin menarik napas pelan.
Lalu ia mengambil keputusan.
"Kalau gitu, Ibu nggak perlu membayar untuk pesanan ini. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dari kami."
Wanita itu terdiam. Ia menatap Cheyrin beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa.
Pukul 23.00
Lampu restoran sudah mulai dipadamkan satu per satu.
Cheyrin keluar dengan langkah pelan. Tas selempangnya terasa berat, begitu juga tubuhnya.
Udara malam dingin. Ia menghela napas panjang lalu memejamkan mata sejenak di trotoar.
"Jay..." gumamnya pelan.
Ia baru sadar. Hari ini Jay masih sakit. Bahkan pesan dari pagi tadi belum dibalas.
Selama ini Cheyrin terlalu bergantung pada Jay. Untuk memesan makanan, untuk bercerita, bahkan untuk sekadar pulang.
Sekarang sudah selarut ini.
"Jay... lihat ni. Karena lo terlalu baik ke gue, gue jadi nggak bisa apa-apa sendiri," gumam Cheyrin pada dirinya sendiri sambil merogoh tas mencari ponsel. Baterainya tinggal 3%.
Tiba-tiba angin malam berembus pelan.
Bulu kuduk Cheyrin meremang.
Ia menoleh.
Di seberang jalan, berdiri sebuah gedung kosong. Dindingnya menghitam, bekas terbakar. Jendelanya pecah dan gelap.
Di balik salah satu jendela lantai satu, ada sesosok bayangan.
Tinggi. Tegak. Seluruh tubuhnya tertutup warna hitam. Bahkan wajahnya tertutup topeng.
Bayangan itu tidak bergerak.
Namun Cheyrin yakin, ia sedang menatap ke arahnya.
Dadanya seketika sesak. Jantungnya berdegup tidak beraturan.
Cheyrin segera memalingkan wajah. Ia berusaha menenangkan diri, tapi tangannya dingin dan gemetar.
"Ng... nggak mungkin..." bisik Cheyrin.
Tanpa menoleh lagi, ia bergegas masuk kembali ke area L'Evanne. Di dalam masih ada dua orang karyawan yang sedang membereskan meja. Setidaknya di sana lebih aman.
Ia bersembunyi di balik pintu kaca dan mengintip keluar.
Jalan sudah kosong. Hanya gedung gosong itu yang masih berdiri gelap di seberang.
Jantungnya masih berdegup kencang.
Orang aneh. Jam segini ngapain di situ, pikir Cheyrin sambil memeluk dirinya sendiri.
Ia segera membuka aplikasi ojek online. Mencari pengemudi yang bersedia mengantar selarut ini ternyata tidak mudah.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Hingga akhirnya...
vrooom
Suara motor berhenti tepat di depan L'Evanne.
Cheyrin mengangkat wajahnya perlahan.
"Juno?"
Juno mematikan mesin dan membuka kaca helmnya sambil nyengir lebar. Rambutnya masih sedikit basah. Di punggungnya ada ransel dan ia masih mengenakan sepatu basket. Wajahnya tampak lelah tapi matanya berbinar nakal.
"Lo... Ngapain?" tanya Cheyrin, masih terkejut dan sesekali melirik ke arah gedung itu. Bayangan tadi sudah tidak ada.
"Penyelamat umat. Ayo naik. Gue antar pulang. Kebetulan gue sama Steven abis basket, lewat sini sekalian jadi pahlawan."
Cheyrin terdiam beberapa detik sambil memperhatikan Juno dari atas sampai bawah. Jujur Cheyrin sangat membutuhkan bantuan Juno malam ini.
Akhirnya ia tersenyum kecil merasa lega dan menerima helm yang diberikan Juno. Helm itu masih hangat.
"Serius? Thanks ya..."
Juno mengerutkan dahinya "Lo kenapa pucet banget dah?"
Cherry menggeleng cepat "n-nggak kok"
Cheyrin naik ke boncengan. Motor pun melaju perlahan, meninggalkan restoran yang semakin gelap di belakang.
Angin malam menerpa. Hanya suara mesin motor dan celotehan Juno yang terdengar.
Cheyrin tiba-tiba bertanya.
"Lo habis basket ya?"
Juno sedikit menoleh ke belakang. "Iya. Bareng Steven tadi. Dia kalah terus, makanya mukanya asem dari tadi."
Ia tertawa. "Gue sih MVP."
Setelah itu Cheyrin tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian Cheyrin bertanya lagi, suaranya pelan.
"Lo ada kontekan sama Jay nggak hari ini?"
Juno terdiam beberapa detik.
"Nggak ada. Kenapa emang?"
Cheyrin menghela napas. Rasa khawatirnya akhirnya keluar.
"Dia kenapa nggak bales chat gue seharian ini ya. Kenapa tu anak..."
Juno terkekeh kecil di balik helmnya.
"Namanya juga orang sakit. Wajar kalau tidurnya lebih lama. Mungkin lagi mimpiin lo kali."
Cheyrin langsung tersipu. "Apaan sih..."
Lalu nada Juno berubah, lebih santai tapi tetap iseng.
"Ngomong-ngomong, kalian pacaran ya?"
Cheyrin langsung terdiam.
"Nggak," jawabnya singkat.
Juno bersiul.
"Satu kampus juga nggak bakal kaget kalau kalian pacaran."
Cheyrin mengerutkan kening.
"Kenapa bisa begitu?"
"Ya karena kalian itu udah kayak orang pacaran tau gak." jawab Juno sambil belok pelan.
"Pulang bareng, pergi bareng, ke kantin bareng. Jay juga apa-apa nyarinya elo. Gue aja kadang gak di peduliin dia."
Cheyrin terdiam. Ia menatap punggung Juno.
"Kita... Cuma temen," katanya pelan.
Juno terkekeh lagi.
"Lo sadar nggak sih, kalau Jay suka sama lo. Bukan cuma sekadar teman atau sahabat. Ya kan? Masa gue doang yang liat."
Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya menggenggam ujung jaket Juno lebih erat. Jelas Cheyrin tau. Karena Jayden bukan cuma sekali, tapi sudah dua kali mengungkapkan perasaan yang belum bisa di terima Cheyrin.
Juno melanjutkan lagi, nadanya kali ini lebih serius.
"Lagian Jay itu cowok baik. Gue udah lama temenan sama dia. Apalagi satu kelas, satu tongkrongan pula. Sayang banget kalau disakitin."
Jalanan kembali hening. Yang terdengar hanya deru motor dan pikiran Cheyrin yang berisik sendiri.
DI DEPAN KOS - PUKUL 23.40
Motor berhenti.
Cheyrin turun dan mengembalikan helm pada Juno.
"Makasih ya udah nganter," ucap Cheyrin pelan.
Juno mengangguk di balik helem nya. "Iya. Istirahat sana. Besok kerja lagi kan. Titip salam buat Jay ya, bilang cepet sembuh biar bisa gue kalahin lagi pas basket."
Lalu ia menyalakan motor dan pergi dengan gaya, meninggalkan Cheyrin di depan gerbang kos.
Cheyrin masuk. Kamar kosnya kecil tapi hangat. Ia meletakkan tas, lalu menggulung rambutnya ke atas.
Hari ini berat. Ia berniat mandi malam ini untuk menghilangkan lelah.
Tapi entah kenapa, pikirannya terus terisi oleh Jayden.
Sejak malam hujan itu, sejak Jayden menyatakan perasaan untuk keduakalinya, wajahnya tidak pernah lepas dari kepala Cheyrin.
Tiba-tiba...
Dreettt
Notifikasi ponsel menyala di atas meja. Nama yang tertera: Jayden.
Jantung Cheyrin langsung berdetak cepat. Ia segera mengangkat teleponnya.
Dari seberang terdengar suara yang lemah dan serak.
"Chey... lo pulang sama siapa?"
Tidak ada basa-basi lain. Bahkan saat sedang sakit pun, hal pertama yang Jayden tanyakan adalah keadaan Cheyrin.
Cheyrin menggigit bibirnya. Tangannya meremas ujung selimut.
"Naik ojek... online," jawabnya pelan.
Hening.
Di seberang, Jayden menghela napas panjang. Suaranya terdengar makin lemas.
"Oh... gitu."
Cheyrin mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Enggak," Jayden tertawa kecil. Tapi tawanya kosong. "Cuma nanya aja. Takut lo kenapa-kenapa di jalan."
Cheyrin tersenyum kecil. Ada rasa lega yang aneh.
"Jay... keadaan lo gimana? Udah mendingan?"
Jayden menghela napas. Terdengar lemas.
"Badan gue masih panas, Chey. Maaf ya baru sempat pegang HP. Kayaknya gara-gara lo nolak gue deh malam itu... hahaha"
Cheyrin ikut tersenyum, tapi dadanya terasa sesak. Air mata tiba-tiba menggenang di ujung matanya.
"Jangan bercanda gitu. Cepat sembuh dong. Sepi nggak ada lo," jawab Cheyrin, suaranya sedikit bergetar.
Hening sejenak. Hanya terdengar napas Jayden di seberang.