NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4_Royal untuk wanita lain

"Permisi, Bu. Saya pamit dulu." ucap Rani sopan. Senyumnya mengembang hangat, sementara ia sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk hormat kepada pemilik toko.

Pemilik toko tersenyum ramah.

"Hati-hati di jalan, Rani." ucapnya lembut. Tatapannya penuh perhatian, sementara tangannya melambai pelan.

Rani mengangguk.

"Iya, Bu. Terima kasih." jawabnya tulus. Wajahnya tampak cerah, sementara langkahnya terasa lebih ringan dibandingkan beberapa minggu yang lalu.

Sore itu...

Langit mulai berubah jingga.

Rani berjalan menyusuri trotoar dengan tas kecil di pundaknya. Di tangannya tergenggam amplop berisi gaji hasil kerja kerasnya.

Ia tersenyum kecil.

"Alhamdulillah..." bisiknya lirih. Matanya berbinar penuh rasa syukur, sementara jemarinya mengusap perlahan amplop itu.

"Sedikit demi sedikit... hidupku mulai berubah." lanjutnya pelan. Senyumnya semakin hangat.

Namun... Senyum itu perlahan memudar.

Di kejauhan...

Sebuah motor melintas di depan matanya.

Rani spontan menghentikan langkah. Matanya membelalak.

"Mas... Arga?" bisiknya pelan. Wajahnya langsung berubah pucat, sementara napasnya terasa tercekat.

Ia mengenali motor itu. Ia juga mengenali pria yang sedang mengendarainya.

Itu benar-benar Arga.

Tetapi...Yang membuat jantung Rani seolah berhenti berdetak. Seorang wanita muda duduk di belakang Arga.

Wanita itu tertawa lepas. Tangannya melingkar erat di pinggang Arga.

Sementara Arga...Ikut tertawa bahagia. Bahkan sesekali pria itu menoleh ke belakang, mengajak wanita tersebut bercanda.

Rani membeku. Air matanya langsung menggenang.

"Tidak..." bisiknya lirih. Bibirnya bergetar hebat, sementara kedua matanya tak berkedip menatap motor itu.

"Itu pasti bukan Mas Arga..." lanjutnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun suaranya terdengar semakin lemah.

Motor itu terus melaju. Rani menggigit bibirnya.

"Aku harus memastikan." ucapnya dengan suara bergetar. Tatapannya berubah tegas meski hatinya terasa hancur.

Kebetulan...Sebuah ojek daring sedang berhenti tidak jauh darinya.

Rani segera menghampiri.

"Pak!" panggilnya tergesa-gesa. Napasnya memburu, sementara wajahnya dipenuhi kepanikan.

Pengemudi ojek menoleh.

"Iya, Bu?" tanyanya ramah. Wajahnya tampak bingung melihat Rani yang terlihat gelisah.

Rani menunjuk motor Arga yang mulai menjauh.

"Tolong ikuti motor itu." pintanya cepat. Suaranya bergetar, sementara matanya tidak lepas dari motor tersebut.

 Pengemudi itu mengernyit.

"Motor yang depan itu?" tanyanya memastikan.

Rani mengangguk cepat.

"Iya, Pak." jawabnya buru-buru. Kedua tangannya saling menggenggam karena gugup.

"Tolong jangan terlalu dekat." lanjutnya pelan. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Pengemudi mengangguk.

"Baik, Bu." jawabnya singkat.

Beberapa saat kemudian...Motor ojek mulai mengikuti Arga dari kejauhan.

Sepanjang perjalanan...Rani tidak mampu mengalihkan pandangannya. Ia melihat wanita itu sesekali memukul pelan bahu Arga sambil tertawa. Arga pun terlihat begitu menikmati kebersamaan mereka.

Pemandangan itu terasa seperti ribuan pisau yang menusuk hati Rani. Air matanya akhirnya jatuh.

"Jadi..." bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa sakit. "...selama ini Mas Arga seperti ini di luar rumah?" lanjutnya dengan suara yang hampir tak terdengar.

Tak lama kemudian...

Motor Arga memasuki area sebuah pusat perbelanjaan besar. Rani ikut turun dari ojek.

"Terima kasih, Pak." ucapnya lirih sambil menyerahkan ongkos. Senyumnya dipaksakan, sementara matanya masih berkaca-kaca.

"Semoga masalah Ibu cepat selesai." ucap pengemudi itu dengan tulus.

Rani hanya mengangguk pelan. Ia segera berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan.

Dari kejauhan...Ia melihat Arga dan wanita itu masuk ke sebuah toko perlengkapan wanita.

Di dalamnya tersedia berbagai pakaian, tas, sepatu, parfum, kosmetik, hingga lipstik.

Rani bersembunyi di balik rak agar tidak terlihat.

Tak lama kemudian...Suara Arga terdengar jelas.

"Sayang, coba lihat lipstik yang ini." ucap Arga sambil tersenyum lebar. Wajahnya tampak begitu bahagia.

Wanita itu terkekeh manja.

"Yang ini terlalu merah." ucapnya sambil cemberut lucu. Bibirnya sedikit dimonyongkan dengan ekspresi menggemaskan.

Arga tertawa.

"Kalau yang warna ini?" tanyanya sabar. Senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya. Wanita itu mengambil lipstik lain.

"Cantik juga." ucapnya riang. Matanya berbinar penuh antusias.

Arga mengangguk.

"Kalau kamu yang pakai, pasti makin cantik." pujinya lembut. Tatapannya penuh perhatian.

Wanita itu tersipu malu.

"Mas bisa saja." ucapnya sambil terkekeh pelan. Wajahnya memerah karena tersipu.

Rani memejamkan mata. Dadanya terasa sesak.

Ia teringat...

Sudah bertahun-tahun Arga tidak pernah membelikannya apa pun. Bahkan ketika ia ingin membeli sabun wajah murah.

Arga justru memarahinya.

Kini...Pria yang sama. Suami yang selalu mengatakan dirinya boros. Justru tanpa ragu mengambil beberapa lipstik mahal.

Seorang pramuniaga menghampiri.

"Apakah semuanya jadi, Pak?" tanyanya ramah. Senyumnya mengembang sopan.

Arga mengangguk santai.

"Iya." jawabnya singkat.

Ia menunjuk beberapa barang.

"Lipstik ini." ucapnya mantap.

"Parfum itu." lanjutnya.

"Gaun yang tadi juga." sambungnya tanpa ragu.

Pramuniaga tersenyum ramah.

"Baik, Pak." jawabnya sopan.

Wanita itu tampak berbinar.

"Mas, nanti Mas bangkrut." ucapnya sambil tertawa kecil. Wajahnya dipenuhi rasa senang.

Arga ikut tertawa.

"Selama buat kamu..." ucapnya lembut."...uang bukan masalah." lanjutnya sambil mengusap lembut rambut wanita tersebut.

Kalimat itu menghantam hati Rani begitu keras.

Tanpa sadar...Air mata kembali mengalir di pipinya. Ia menutup mulutnya agar isaknya tidak terdengar.

"Jadi..." bisiknya lirih. Bahunya mulai bergetar menahan tangis. "...bukan karena kita tidak punya uang."

Ia menggeleng pelan.

"...tetapi karena aku memang tidak pernah menjadi prioritasmu." lanjutnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Rani berdiri mematung.

Sorot matanya yang semula penuh harapan kini berubah menjadi tatapan yang dipenuhi luka dan kekecewaan.

Namun di balik rasa sakit itu...

Perlahan muncul tekad baru. Ia tidak akan lagi hidup hanya untuk mengharapkan perhatian dari pria yang tidak pernah menghargainya.

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!