“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Bab 28: Malam di Bawah Bintang-Bintang
Angin malam bulan Juli berhembus lembut, membawa kesejukan sisa hujan sore yang sempat membasahi kawasan perumahan elit tempat Rangga dan Keisha tinggal. Di halaman belakang rumah mereka yang asri—yang kini telah disulap menjadi taman mini penuh dengan bunga melati dan lampu-lampu gantung kuning temaram—suasana terasa begitu damai dan intim. Jauh dari hiruk-pikuk deru kendaraan kota dan ketegangan ruang rapat kantor, malam itu adalah waktu yang mereka khusukan untuk diri mereka sendiri.
Rangga duduk bersandar di kursi kayu panjang berbalut bantalan empuk, mengenakan kaos polos hitam lengan panjang dan celana santai. Di pangkuannya, sebuah gitar akustik tua berwarna cokelat kayu tampak bersandar tenang. Senar-senar gitar itu sesekali ia petik pelan, menghasilkan melodi minor yang mengalun syahdu, menyatu dengan suara jangkrik malam yang bersahutan di balik semak-semak halaman.
Tidak jauh dari tempat duduk Rangga, Keisha melangkah keluar dari pintu dapur membawa sebuah nampan kecil berisi dua cangkir teh chamomile hangat dan sepiring kecil kue brownies cokelat buatan tangannya sendiri. Mengenakan daster rumahan, kecantikan wanita itu tampak semakin memancar di bawah temaram cahaya lampu taman.
Keisha meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping suaminya, lalu menarik kursi kayu kecil tepat di hadapan Rangga. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lekat-lekat wajah pria yang telah menjadi separuh jiwanya itu dengan senyuman penuh kekaguman.
"Wah, musisi jalanan kita tumben banget malam ini mau main gitar lagi," goda Keisha lembut, mengambil cangkir teh hangat dan menyeruputnya pelan. "Biasanya kalau malam Jumat gini, Direktur Muda sibuk banget meriksa laporan keuangan perusahaan sampai larut malam."
Rangga menghentikan petikan gitarnya, mendongak menatap istrinya dengan senyuman tipis yang sarat akan kehangatan. Ia meletakkan gitar tersebut bersandar di sisi kursi, lalu meraih tangan kiri Keisha, mengusap lembut jemari wanita itu dan memandangi kilau cincin perak pernikahan yang melingkar sempurna di sana.
"Laporan kantor itu nggak ada habisnya, Keish. Kalau diturutin terus, waktu buat kamu malah habis," jawab Rangga dengan suara baritonnya yang lembut. "Malam ini, aku nggak mau mikirin soal pabrik, mesin, atau rapat direksi. Aku cuma mau duduk di sini, nemenin istri tercinta, sambil nikmati malam yang tenang."
Keisha merasakan dadanya menghangat. Perasaan haru dan cinta yang begitu dalam selalu berhasil menyelimuti hatinya setiap kali Rangga memperlakukan dirinya dengan begitu istimewa. Bulan-bulan pertama pernikahan mereka berjalan begitu cepat, namun perhatian, ketulusan, dan romansa di antara mereka tidak pernah sedikit pun memudar—justru semakin mengakar kuat, diuji oleh waktu dan dibentuk oleh kedewasaan.
"Ingat nggak, Kak..." ucap Keisha pelan, menerawang menatap langit malam yang bersih tanpa awan, menampakkan jutaan bintang yang bertaburan indah. "...waktu pertama kali kita duduk berdua di bangku taman sekolah dulu? Waktu itu Kakak masih jadi anak berandalan yang suka bikin masalah, dan aku cuma gadis cupu yang ketakutan setengah mati ngeliat Kakak."
Rangga ikut mendongak, tersenyum kecil mengingat memori masa remaja mereka yang penuh warna dan air mata. "Ingat banget. Waktu itu aku mikir, cewek di hadapanku ini cerewet banget, hobi banget menceramahi aku soal masa depan dan kewajiban belajar. Padahal aku paling benci diceramahi orang lain."
"Tapi sekarang?" selidik Keisha dengan mata berbinar jenaka.
"Sekarang..." Rangga menarik tangan Keisha, membawanya ke dalam genggaman kedua telapak tangannya yang hangat, lalu mengecup punggung tangan istrinya lama-lama. "...aku bersyukur setengah mati atas semua ceramah itu. Kalau bukan karena kamu yang nggak pernah lelah narik aku kembali ke jalan yang lurus, mungkin hari ini aku cuma jadi preman jalanan yang nggak punya masa depan, atau bahkan mendekam di balik jeruji besi."
Keisha menggeleng pelan, mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap rahang tegas suaminya yang kini ditumbuhi bulu-bulu halus janggut tipis. "Jangan ngomong gitu, Kak. Semua itu terjadi karena Kak Rangga sendiri punya niat kuat buat berubah. Aku cuma perantara kecil yang dikasih tuhan buat nemenin langkah Kakak."
"Kamu bukan perantara kecil, Keish," sanggah Rangga tegas namun penuh kelembutan. "Kamu adalah rumah. Tempat di mana seluruh lelahku hilang, tempat di mana duniaku berhenti berputar dengan damai."
Suasana malam semakin larut. Angin malam berhembus sedikit lebih kencang, menggoyang-goyangkan dedaunan pohon mangga di sudut halaman. Keisha merapatkan selimut rajut tipis yang sempat ia ambil dari dalam rumah ke atas pundaknya.
Rangga yang melihat istrinya sedikit menggigil langsung bangkit dari kursinya, berpindah duduk di sebelah Keisha, lalu merangkul bahu ramping wanita itu erat-erat, membawanya mendekat ke dalam dekapannya yang hangat. Keisha menyandarkan kepalanya nyaman di atas dada bidang suaminya, mendengarkan debar jantung Rangga yang berdetak tenang dan teratur.
"Dingin ya?" bisik Rangga, mengeratkan rangkulannya.
"Sedikit," jawab Keisha lembut, memeluk pinggang Rangga erat-erat. "Tapi pelukan Kakak bikin hangat."
Mereka terdiam beberapa saat, menikmati keheningan malam yang menenangkan. Pikiran mereka kemudian melayang pada perjalanan hidup yang telah mereka lalui bersama—dari masa-masa sulit di mana mereka harus sembunyi-sembunyi bertemu di kantin sekolah, ancaman geng motor Black Raven yang hampir merenggut nyawa Rangga, pertentangan keras dari keluarga Aldebaran yang memandang rendah latar belakang mereka, hingga akhirnya kini mereka bisa berdiri tegak di atas kaki sendiri, memegang kendali karier profesional masing-masing, dan hidup dalam kedamaian rumah tangga pengantin baru yang diberkahi.
"Kak..." panggil Keisha lagi setelah beberapa lama terdiam.
"Hmm? Ada apa lagi, istriku tersayang?"
"Kamu senang nggak... menjalani hari-hari kita sejauh ini? Berdua saja di rumah ini, tanpa ada yang mengganggu waktu kita?" tanya Keisha pelan, menengadahkan wajahnya untuk menatap mata suaminya.
Rangga menunduk, balas menatap manik mata Keisha lekat-lekat dengan pancaran cinta yang meluap-luap. Ia merapikan beberapa helai anak rambut istrinya, menyisipkannya pelan ke belakang telinga.
"Senang banget, Keish. Bahkan lebih dari apa yang pernah aku bayangkan dalam hidupku," jawab Rangga jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Masa-masa awal pernikahan kita ini adalah masa paling berharga. Kita punya waktu luang untuk saling mengenal lebih dalam, membangun fondasi rumah tangga kita dari nol, dan menikmati setiap detik kebersamaan tanpa terburu-buru oleh beban lain."
Keisha tersenyum manis, merasa sangat bersyukur mendengarkan jawaban suaminya. Bagi mereka yang baru beberapa bulan mengikat janji suci di pelaminan, menikmati masa-masa berdua sebagai pengantin baru adalah sebuah keindahan tersendiri. Belum ada tangis bayi atau kerepotan mengurus anak, yang ada hanyalah fokus untuk saling membahagiakan, mendukung karier satu sama lain, dan merajut hari-hari penuh cinta di bawah satu atap.
"Aku juga ngerasa begitu, Kak," ucap Keisha lembut. "Pulang kerja, capek seharian di kantor langsung ilang begitu ngeliat Kakak udah nunggu di rumah. Rasanya semua lelah terbayar lunas."
Rangga tersenyum hangat, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan. "Dan aku bakal pastikan hari-hari ke depan bakal jauh lebih indah buat kamu. Apapun impian karier kamu, selagi aku masih mampu berdiri dan bekerja, aku bakal selalu dukung kamu di belakang."
Keisha membalas pelukan suaminya semakin erat. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Rangga, menghirup aroma maskulin parfum bercampur sabun yang menguar dari tubuh suaminya. Di saat-saat seperti itu, dunia terasa begitu sempurna. Tidak ada lagi ketakutan akan masa lalu, tidak ada lagi bayangan gelap dunia jalanan. Yang ada hanyalah masa depan cerah yang membentang luas di hadapan mereka berdua.
Di dalam rumah, jam dinding kayu di ruang tengah berdetak pelan, menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun di halaman belakang, waktu seolah berhenti berputar untuk kedua insan yang tengah dimabuk cinta suci tersebut. Rangga kembali mengambil gitarnya, memetik beberapa chord lagu romantis kesukaan Keisha, sementara sang istri dengan suara merdu bernyanyi kecil mengikuti alunan musik yang mengalun di udara malam.
Lagu demi lagu berganti, diselingi oleh gelak tawa renyah dan obrolan ringan mengenai rencana akhir pekan mereka—mulai dari rencana mengunjungi pameran otomotif tempat Rangga diundang sebagai pembicara muda, hingga rencana Keisha yang ingin mencoba resep kue baru di dapur rumah mereka.
Menjelang pukul sebelas malam, udara luar semakin dingin. Rangga merangkul pinggang Keisha berdiri dari kursi taman.
"Udah malam, Nyonya Aldebaran. Nanti angin malam bikin kamu masuk angin lho," ajak Rangga lembut, merapikan selimut yang masih melingkar di pundak istrinya.
Keisha mengangguk menurut. Ia membereskan cangkir teh dan piring brownies di atas meja kecil, lalu berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah bersama suaminya.
Setelah memastikan pintu belakang terkunci rapat dan lampu taman dimatikan, mereka melangkah menaiki anak tangga menuju kamar tidur utama di lantai dua. Suasana rumah tampak begitu tenang, bersih, dan nyaman.
Di dalam kamar yang diterangi oleh lampu tidur bercahaya temaram, Rangga dan Keisha bersiap untuk beristirahat. Sebelum merebahkan diri di atas ranjang, Rangga kembali menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya untuk kesekian kalinya malam itu.
"Selamat tidur, istriku tercinta. Cintaku buat kamu nggak akan pernah berkurang, bahkan bertambah setiap detiknya,"bisik Rangga tepat di dekat telinga Keisha.
Keisha tersenyum manis, membalas pelukan suaminya dengan erat. "Selamat tidur juga, suamiku. Selamanya, aku bakal jadi pelabuhan terakhir di hidupmu."
Di bawah naungan langit malam kota yang bertabur bintang-bintang gemilang, dua jiwa yang dulunya terperangkap dalam kerasnya badai kehidupan kini bersatu dalam dekapan kehangatan abadi. Menyongsong hari esok dengan senyuman, membawa serta harapan-harapan baru, cinta yang tak pernah luntur, dan janji suci yang terus hidup di setiap degup jantung mereka—sebagai pengantin baru yang melangkah pasti di atas titian waktu, selamanya, sampai akhir masa.