Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Hari Pertama
Hari pertama Liana di Loh Group dimulai dengan kartu akses yang terasa terlalu ringan di tangannya.
Nama di kartu itu sederhana: Liana Liem. Divisi: Executive Support. Tidak ada kata mantan istri. Tidak ada kata ibu rumah tangga. Tidak ada tiga puluh tahun yang menempel sebagai label.
Hanya namanya.
Ia datang tiga puluh menit lebih awal. Lift membawanya ke lantai eksekutif yang lebih sunyi daripada lobi. Karpet tebal meredam langkah. Dinding kaca memperlihatkan Jakarta dari ketinggian, padat dan jauh.
Arman Kang sudah menunggu di depan meja resepsionis lantai itu. Wajahnya rapi, sikapnya efisien, mata tajamnya menilai tanpa banyak ekspresi.
"Bu Liana?"
"Iya. Selamat pagi, Pak Arman."
"Panggil Arman saja. Di sini ritmenya cepat. Saya akan jelaskan tugas Ibu."
Ia mengantar Liana melewati deretan meja sekretaris. Beberapa perempuan muda mengangkat wajah. Senyum mereka sopan, tetapi rasa ingin tahu tidak bisa disembunyikan.
"Itu yang dari Oma Loh?"
"Serius? Langsung masuk lantai Boss?"
"Oma ini siapa sih?"
Bisikan itu tidak terlalu keras, tetapi cukup terdengar.
Liana pura-pura tidak mendengar. Tiga puluh tahun di keluarga Phua mengajarinya satu hal: tidak semua hinaan harus dijawab saat itu juga. Beberapa cukup dibalas dengan hasil kerja.
Arman berhenti di depan sebuah ruangan kecil di samping pantry eksekutif. "Ini meja Ibu. Tugas utama Ibu bukan mengurus keputusan bisnis. Itu ranah saya dan sekretaris korporat. Ibu mengurus kebutuhan pribadi Boss Loh yang berkaitan dengan pekerjaan."
Ia meletakkan tablet di meja. "Jadwal makan, pakaian cadangan, dry cleaning, obat lambung, preferensi hotel saat perjalanan, pengaturan makanan saat rapat panjang, dan hal kecil yang sering dilupakan karena semua orang terlalu sibuk mengurus angka."
Liana mencatat cepat di buku kecil.
Arman melirik catatannya, agak terkejut melihat tulisan Liana rapi dan terstruktur.
"Boss tidak suka orang banyak bicara. Kalau ada yang perlu, sampaikan singkat."
"Baik."
"Jangan tersinggung kalau beliau tidak memberi respons."
"Baik."
"Jangan memindahkan barang di meja beliau tanpa izin."
Liana mengangguk. "Baik."
Arman berhenti sejenak. Mungkin baru sadar ia seperti memberi peringatan kepada anak magang. "Maaf, saya tidak bermaksud meremehkan."
"Tidak apa-apa. Saya memang baru."
Jawaban itu membuat Arman menatapnya sedikit lebih lama.
Pintu ruang CEO terbuka pukul sembilan tepat.
Edwin Loh masuk tanpa suara berlebihan. Dari dekat, auranya lebih kuat daripada kemarin. Setelan gelapnya sempurna, tetapi yang membuat Liana menahan napas bukan pakaiannya. Melainkan matanya. Tenang, tajam, dan seperti terbiasa membuat orang lain menjelaskan diri sebelum ia bicara.
Semua staf berdiri.
"Pagi, Boss."
Edwin mengangguk singkat. Matanya berhenti pada Liana.
Arman segera berkata, "Boss, ini Bu Liana. Asisten pribadi bidang kehidupan sehari-hari yang diatur Oma Loh."
Kata diatur terdengar hati-hati, seolah Arman ingin menegaskan bahwa ini bukan idenya.
Edwin menatap Liana beberapa detik.
"Ibu yang menolong Oma kemarin?"
"Iya, Pak Edwin. Saya Liana. Saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin, sungguh."
"Pengalaman?"
Pertanyaan itu singkat. Tidak kasar, tetapi dingin.
Liana menggenggam buku catatannya. "Pengalaman kantor saya masih sedikit. Tapi saya terbiasa mengurus detail rumah, jadwal obat, makanan, pakaian, dan kebutuhan orang sakit. Saya akan belajar sistem kantor secepat mungkin."
Edwin tidak langsung menjawab.
Sekretaris muda di belakang Liana tampak menahan napas, mungkin menunggu CEO menolak.
Akhirnya Edwin berkata, "Arman, beri akses terbatas dulu. Satu minggu masa percobaan."
"Baik, Boss."
Edwin masuk ke ruangannya.
Tidak ada senyum. Tidak ada sambutan hangat. Tetapi juga tidak ada penolakan.
Untuk Liana, itu sudah cukup.
Begitu pintu tertutup, salah satu sekretaris muda menghampiri sambil membawa map.
"Bu, kalau bingung pakai sistem calendar, nanti tanya saja ya. Di sini semua online."
Nada suaranya tidak kasar, tetapi ada rasa kasihan yang membuat pipi Liana sedikit panas.
"Terima kasih. Saya akan belajar."
"Biasanya orang seusia Ibu agak susah adaptasi."
Liana menatap layar tablet di depannya, lalu membuka aplikasi kalender seperti yang Arman tunjukkan. Ia menandai tiga rapat, memasukkan pengingat makan siang, dan menambahkan catatan obat lambung tanpa bertanya lagi.
Sekretaris muda itu terdiam sebentar.
Liana tersenyum sopan. "Kalau ada format khusus yang biasa dipakai Boss, tolong kirimkan. Saya tidak ingin mengganggu alur kerja kalian."
Kalimat itu membuat beberapa orang saling pandang. Mungkin mereka mengira Liana akan tersinggung. Ia memilih bekerja.
Tugas pertamanya adalah memeriksa ruang ganti kecil di dalam area kantor CEO. Arman memberi izin khusus dan mengingatkannya agar tidak menyentuh dokumen kerja.
Liana membuka lemari.
Isinya hampir seluruhnya gelap: jas hitam, abu-abu tua, navy, kemeja putih, dasi polos. Semua mahal, semua rapi, semua dingin. Tidak ada baju santai. Tidak ada warna yang menunjukkan seseorang pernah pulang kerja dan benar-benar beristirahat.
Di laci bawah, ia menemukan beberapa obat lambung, sebagian hampir kedaluwarsa. Di pantry pribadi, kopi tersedia dalam tiga jenis, tetapi tidak ada camilan sehat. Jadwal makan siang di kalender kosong selama empat hari berturut-turut.
Liana menulis daftar kecil: cek obat, siapkan pilihan makan siang ringan, tanyakan preferensi tanpa mengganggu.
Pukul sebelas, Arman lewat dan melihat daftar itu.
"Ibu cepat juga."
"Saya hanya mencatat yang terlihat."
"Yang terlihat kadang luput dari kami."
Kalimat itu terdengar seperti pujian kecil, meski Arman mengucapkannya sambil tetap berjalan.
Liana tidak tersenyum lebar. Ia hanya menulis satu catatan lagi, tetapi dadanya terasa sedikit lebih tegak dari beberapa hari lalu.
Menjelang sore, Liana diminta merapikan beberapa map pribadi di meja samping ruang CEO, bukan dokumen bisnis utama. Edwin sedang rapat di ruangan lain. Liana bekerja pelan, memastikan urutan tidak berubah.
Di bawah satu map kulit, sudut foto tua terlihat.
Ia tidak berniat melihat. Tetapi ketika map bergeser sedikit, foto itu terbuka cukup jelas.
Seorang pria muda berdiri di depan gerbang universitas. Di sebelahnya, seorang perempuan muda mengenakan seragam kampus lama, rambutnya terikat sederhana. Wajah perempuan itu agak buram, tetapi ada sesuatu pada cara ia menunduk yang membuat dada Liana berdenyut aneh.
Seperti pernah melihatnya.
Langkah terdengar dari luar.
Liana cepat mengembalikan map ke tempat semula.
Edwin masuk, matanya langsung menuju meja.
"Ada masalah?"
"Tidak, Pak Edwin. Saya hanya merapikan sesuai instruksi."
Edwin menatap map kulit itu sebentar, lalu menatap Liana. Wajahnya tidak berubah.
"Besok datang pukul tujuh. Jadwal rapat dimulai lebih pagi."
"Baik."
Saat Liana keluar dari ruangan, ia masih merasakan bayangan foto itu di pikirannya.
Perempuan muda dalam foto itu terasa asing.
Tetapi entah kenapa, juga tidak sepenuhnya asing baginya sejak tadi.
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/