Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah memakai beberapa peralatan wajah, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Clark segera membukanya dan mendapati di sana berdiri Elena yang membawa nampan berisi makanan.
"Tuan Dante menyuruh saya mengantar makanan ini, Nyonya," ucapnya dengan senyum yang tak sampai ke mata.
"Masuklah," jawab Clark singkat, berusaha tetap bersikap tenang meski hatinya tak suka.
Saat perempuan itu meletakkan nampan di meja, Dante keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan jubah mandi yang terbuka di bagian dada, memperlihatkan bidang tubuh yang tegap dan berotot.
Kedua mata Clark dan Elena terpaku sejenak. Clark segera memalingkan wajah, pipinya memerah hebat, namun rasa malu itu segera berubah menjadi amarah saat melihat bagaimana perempuan itu menatap suaminya dengan tatapan yang tak pantas.
Tiba-tiba terdengar suara denting keras. Nampan beserta isinya jatuh berantakan ke lantai. Diikuti jeritan kecil Clark saat kuah panas menyiram kakinya.
"Sakit..." rintihnya pelan.
Dante seketika bergegas menghampirinya, wajahnya berubah seketika menjadi penuh kekhawatiran sekaligus amarah yang meledak.
"Maafkan saya, Tuan! Saya tidak sengaja!" Elena langsung bersujud gemetar.
Tanpa menatapnya sedikit pun, Dante menggendong Clark duduk di atas tempat tidur yang empuk. Ia segera membuka lemari obat, mengambil salep penenang luka.
"Tuan, ampunilah saya..."
"PERGI!" bentak Dante menggelegar, membuat seluruh ruangan seakan bergetar. Elena tak berani menengadah dan segera lari keluar kamar.
"Aku akan mengoleskan ini. Mungkin sedikit perih, tahan sebentar ya," ucap Dante pelan saat kembali pada Clark. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, seolah-olah yang dipegangnya adalah benda paling rapuh di dunia.
Sesekali Clark meringis, bukan semata karena perih, tapi karena betapa ia begitu menyukai perhatian yang diberikan suaminya itu.
Setelah selesai mengoleskan obat, Dante bahkan meniup pelan bekas luka itu agar terasa lebih dingin.
"Jangan terkena air dulu."
"Ya..."
"Aku akan meminta Paman Luis membawakan makanan baru."
Saat Dante berbicara lewat telepon di sudut ruangan, Clark menatap kakinya yang dibalut perban tipis. Sebenarnya nampan itu ia sengaja senggol saat perempuan itu lengah.
Luka itu memang sedikit menyakitkan, tapi melihat wajah takut perempuan itu dan kecemburuan Dante yang terlihat jelas, rasa puas itu jauh lebih besar. Luka ini tak ada apa-apanya dibanding siksaan yang dulu sering ia terima.
'Sepertinya aku harus tetap bersikap lemah dan rapuh di hadapannya,' pikirnya sambil tersenyum tipis.
'Dengan begitu, aku bisa terus berada di dekatnya, melindunginya, dan memastikan kali ini takdir takkan berjalan sama seperti sebelumnya.'
Setelah selesai berbicara dengan Paman Luis, Dante kembali duduk di tepi ranjang tempat Clark bersandar lemas. Ia kembali memeriksa perubahan warna kemerahan di kaki pemuda itu dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan kekhawatirannya.
"Sudah jauh lebih baik," ucap Clark lembut, berusaha meredakan keresahan suaminya. Saat ia mengangkat wajah dan tersenyum tulus ke arahnya, Dante semakin diliputi kebingungan.
Bukankah wanita ini sangat membencinya? Bukankah ia menolak mati-mati pernikahan ini? Namun apa yang ia lihat sekarang sungguh berkebalikan. Ada sesuatu yang berubah drastis, seratus delapan puluh derajat dari apa yang selama ini dilaporkan mata-matanya.
Kemarin saja, pasukan pengawasnya melaporkan bahwa Clark hampir mematahkan kakinya sendiri saat nekat memanjat pagar untuk melarikan diri dari rumah keluarganya. Usahanya gagal, dan sebagai hukuman, ia diikat lalu dikurung di gudang yang gelap dan lembap.
Hati Dante terasa perih teriris setiap kali mengingat betapa kerasnya penolakan itu, bukan karena tak padanya, melainkan karena betapa menderitanya hidup wanita itu di tangan keluarganya sendiri.
Namun hari ini, sepanjang upacara pernikahan, Clark tampak tenang, bahkan sesekali menatapnya dan tersenyum seolah mereka sudah saling mengenal lama. Dante mencoba menelusuri manik mata gelap itu, namun tak menemukan jejak kebohongan sedikit pun.
"Kau... tidak membenciku?" pertanyaan itu meluncur tanpa sadar saat keheningan melingkupi mereka.
Clark menggeleng pelan.
"Kau tidak takut padaku?"
Bukan tanpa alasan ia bertanya demikian. Di luar sana, namanya selalu disandingkan dengan kekejaman, darah, dan ketakutan. Hanya mendengar namanya saja orang-orang sudah gemetar hebat, padahal ia tahu dirinya tak seburuk yang dibayangkan dunia.
Clark kembali menggeleng, lalu berbisik pelan, "Aku tidak takut padamu. Hanya... aku takut sakit."
Dante paham betul maksud kalimat itu. Ia mengalihkan pandangan tepat saat terdengar ketukan pintu. Ia segera bangkit dan mengambil alih tugas pelayan.
Saat Dante pergi, Clark menggigit bibirnya menahan senyum geli. Ia melihat jelas ujung telinga pria itu memerah padam.
'Dasar pemalu, kau benar-benar menggemaskan,' batinnya.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭