Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan
Beberapa kali aku mengerjapkan mata membiasakan diri dengan cahaya silau yang menerpa wajahku. Aku ingat sekarang sedang berada di rumah Ferdy. Rumah besar di pinggiran ibu kota yang berbatasan langsung dengan sawah dan beberapa kolam ikan yang cukup besar. Mungkin bagi yang belum mengetahuinya akan menganggap kawasan kecil ini bukan bagian dari ibu kota, mengingat luasnya sawah masih dapat kita nikmati disini. Tapi faktanya kawasan persawahan ini memang ada di tengah kota yang mungkin jarang diketahui orang. Babeh Ferdy lah pemilik terbesar tanah persawahan ini, dan beberapa kolam ikan lele yang juga ikut meramaikan suasana kota rasa desa disini adalah milik pribadi babeh Ferdy. Mungkin jika dibandingkan dengan orangtua ku, babeh Ferdy mempunyai aset kekayaan berkali-kali lipat, sedangkan orangtuaku hanya sedikit aset yang dimiliki. Meski aku dan keluargaku hidup di lingkungan mewah yang siapapun akan langsung menganggap semua penghuninya kaya raya.
Aku memilih memperhatikan kandang ayam yang terletak tidak jauh dari jendela kamar yang ku tempati. Kulihat beberapa orang mengisi ulang makanan ayam didalam kandangnya. Pikiranku mulai menerawang pada kejadian semalam. Rasa sakit itu masih terbayang dengan jelas, meskipun sekarang aku merasa baik-baik saja tapi serangan semalam benar-benar menyisakan rasa trauma di pikiranku. Aku mulai takut, jika nyawaku tidak lagi bertahan lama di tubuh ini.
"Dit, lo disini dulu aja. Kata babeh nanti ada om Hendry dateng sekalian bisa cek kondisi lo." Ferdy memasuki kamar ini dengan seragam lengkapnya.
"Gue udah nggak kenapa-kenapa kok Dy, om lo nggak usah repot-repot suruh kesini segala." Aku mencoba menolak karena merasa sudah sangat merepotkan disini.
"Om gue emang tiap dua hari sekali kesini. Buat cek kondisi engkong. Nah, kebetulan banget hari ini dateng jadi bisa sekalian lo di cek juga." Ferdy mengambil gel untuk rambutnya dan menyisir kasar dengan jari-jari tangannya.
"Oh iya, Lo ada masalah apa sama bokap lo? Semalem babeh hubungin om Dhika, dan... Bokap lo malah marah-marah intinya minta nggak usah hubungin dia lagi untuk urusan lo." Aku cukup kaget mendengarnya. Setidak peduli itu papah padaku.
"Biarin aja, mungkin bokap gue lagi banyak masalah." Aku mendesah berat dan melangkahkan kaki ini ke kasur kembali. Fakta ini benar-benar merusak mood ku. Rasa nyeri di perut ini kembali kurasakan. Meski masih dengan intensitas yang ringan, namun cukup memberikan signal kurang baik bagiku.
Please Dit, lo jangan lemah. Positif thinking semuanya akan baik-baik saja...
"Sehat-sehat lo ya, nggak usah baper. Gue berangkat dulu, kalau butuh apa-apa keluar aja. Banyak orang, lo tinggal nanya sendiri, anggap aja ini rumah lo sendiri."
Aku hanya mengangguk menanggapinya. Kembali kurebahkan tubuhku dikasur ini dengan sedikit meringkuk. Perutku nyeri, tapi hatiku sepertinya mempunyai luka yang terasa lebih perih. Tetesan bening dari mataku keluar, aku merasa sangat lemah sekarang, aku merasa belum siap menjadi anak yang terbuang. Aku masih butuh papah dan mamah...
Cukup lama aku berdiam diri di kamar ini. Karena merasa bosan, aku beranjak keluar dan baru kusadari ternyata sudah hampir jam 10 pagi. Kulihat babeh Ferdy mengobrol dengan engkong di teras luar. Aku segera menghampirinya dan menyalami tangan kedua nya dengan penuh takzim.
"Maaf Beh, Adit baru keluar." Aku mencoba bersikap senormal mungkin, meski nyeri di perutku semakin berulah.
"Santai Dit, Ferdy kalau di rumah juga bisa seharian di kamar. Sekarang gimana? Sehat?" Babeh memintaku duduk tepat disampingnya.
"Alhamdulillah sudah enakan beh. Maaf sudah merepotkan dari semalem." Aku berkata sungkan menanggapinya. Ya, masih kuingat jelas langkah lebar babeh Ferdy yang tergesa menyambutku dari dalam mobil nya. Semalem Ferdy langsung menghubungi supirnya dan akupun diantar menaiki mobil babeh Ferdy sampai di rumah ini. Turun dari mobil, aku merasa duniaku berputar. Meski masih kuusahakan senormal mungkin menanggapi setiap pertanyaan khawatir babeh Ferdy, tapi tetap tak bisa kutahan gejolak dalam perutku yang seolah siap membobol setiap pertahanan yang kubuat. Dan akhirnya aku kembali memuntahkan semua isi lambungku.
"Di belakang ada Hendri, Adik babeh. Dia dokter umum. Nanti babeh suruh dia buat periksa kondisi kamu juga." Aku tersenyum mengangguk menanggapinya. Selanjutnya obrolan kami terfokus pada engkong Ferdy yang menceritakan masa mudanya. Masih dengan sesekali ringisan kecil, aku menyimak cukup baik semua cerita engkong. Ingin sebenarnya menanyakan perihal telepon yang dilakukan babeh semalam dengan papah. Tetapi aku sungkan menyela engkong.
"Ini Hendri yang babeh ceritain." Hampir sepuluh menit berlalu saat seseorang tiba-tiba muncul dari dalam. Seorang pemuda yang kuyakin baru menginjak awal-awal usia 20 tahun-an dengan kaos putih yang tertutup jaket hitamnya.
"Salam kenal om, Adit." Aku segera berdiri menyalami beliau.
"Oh ini yang teman Ferdy katanya sakit. Kita di kamar aja yuk." Om Hendri membalas uluran tanganku dan segera menarikku kedalam mengikutinya. Dengan isyaratnya, aku diminta untuk membaringkan tubuhku di kasur kamar Ferdy.
"Masih ada yang sakit?" Om Hendri menekan perutku keras dengan dua jarinya membuat aku tersentak kaget dan segera mengaduh.
"Ada mual?" Aku menggeleng pelan menanggapinya.
Om Hendri kembali menekan perut ku keras, aku memekik tertahan saat dua jarinya menekan pusat rasa sakitku.
"Hmm,, asam lambung kamu naik kayaknya. Beneran nggak ada mual Dit?"
"Lebih tepatnya perih si om, tapi tadi sakit banget pas om Hendri tekan." Aku menggeleng dan mencoba mendeskripsikan rasa tak nyaman di perutku ini.
"Hmm,, belum makan?" Kembali aku menggeleng dengan senyum sungkan padanya. Dari kemaren siang memang belum ada makanan berat yang masuk ke perutku. Terakhir makan berat, sarapan kemarin dan itu pun hanya sandwich yang baru beberapa potong kumakan langsung kumuntahkan kembali.
"Mmm,, ada yang mau kamu ceritain?" Aku memandang bingung kearahnya. Cerita apa maksudnya.
"Jadi gini Dit, beban pikiran kamu sepertinya lebih mendominasi penyebab asam lambung kamu naik. Untuk telat makan, memang menjadi faktor juga tapi akan sembuh dengan sendirinya saat kamu mulai konsisten teratur makan lagi." Om Hendri terlihat sibuk mengeluarkan isi tasnya setelah penuh perhatian menjelaskan padaku.
"Sedikit tambahan mungkin om, Dua pekan lalu aku baru keluar rumah sakit. Kecelakaan. Sepulang dari rumah sakit aku selalu merasa perutku nggak nyaman. Jadi sering perih, mual malah sampai muntah. Aku memang punya sakit bawaan maag, tapi hampir nggak pernah merasakannya lagi setahun terakhir ini." Aku kembali memejamkan mata menahan nyeri yang semakin menjadi.
"Kecelakaan, sampai ada tindakan operasi atau bedah perut gitu?" Sekarang om Hendri memusatkan perhatiannya padaku.
"Nggak om, seinget aku hanya ada jahitan di kaki. Kecelakaan kecil kok Om sebenarnya. Motor aku nabrak tiang listrik karena menghindari kucing lewat. Tapi karena nggak pakai helm, kepala terbentur dan berdarah cukup banyak."
Om Hendri terdiam cukup lama seperti menimbang-nimbang sesuatu. Ingin rasanya aku segera meringkuk dan menekan perutku menahan pusat rasa nyeri ini.
"Hhh.. ssh.. Sakit banget om sekarang." Tanpa memperdulikan respon om Hendri, aku segera meringkuk dan menekan kuat perutku. Aku merasakan gigitan kecil di lengan atasku, sepertinya om Hendri menyuntikkan sesuatu ke lenganku. Detik berikutnya kurasakan mataku yang telah terpejam menahan nyeri ini seakan melemah dan menuntunku untuk terpejam sempurna.
[pov Ferdy]
Di jam istirahat ini, tiba-tiba Dheka mendatangiku. Aku masih ingat ucapan terakhirnya semalam bahwa dia akan menagih penjelasan padaku hari ini.
"Gue minta lo nggak usah ngurusin kehidupan gue dan Adit lagi." Tanpa aba-aba dan dengan sangat tiba-tiba Dheka langsung duduk di bangku depanku dan mengucapkan kalimat yang menurutku sangat aneh.
"Oke,,, ada lagi?" Aku sengaja tidak merespon dengan panjang lebar. Padahal aku sudah mempersiapkan jawaban dari pertanyaan kenapa, bagaimana, apa atau bahkan pertanyaan apapun yang akan dheka sampaikan. Pernyataan yang cukup mengagetkan itu sudah bisa membuatku menyimpulkan bahwa dirinya tidak membutuhkan penjelasan apapun dariku.
"Lebih baik lo jauhin Adit. Dia nggak sebersih dan sebaik yang lo tau." Ucapnya lagi sambil berlalu. Aku hanya bisa terbelalak menanggapinya.
Jauhin Adit?!
Demi apapun, nggak akan pernah aku lakukan itu. Adit sahabat seperjuanganku dari zaman SMP. Dan dengan epiknya takdir mendukung persahabatan kami tumbuh tanpa penghalang apapun, kami selalu disatukan dalam satu kelas, kami pun selalu duduk bersebelahan, bahkan semua organisasi dan eskul yang kami ikuti pun sama.
Ada rasa penasaran cukup besar yang muncul di kepalaku. Tentang alasan yang mendasari Dheka mengucapkan itu. Aku sangat tahu perjalanan kisah bersatunya Dheka dan Adit. Berawal dari pemilihan ketua dan sekre osis di kelas 2 SMP, menjadikan mereka dekat dan semakin banyak interaksi diantara keduanya. Sampai tiba-tiba Dheka menyatakan rasa sayangnya dan Adit yang saat itu masih sangat bocah dengan polosnya menerima langsung tanpa tahu arti kata cinta sebenarnya. Masih dengan sikap profesional Adit yang kala itu menjabat sebagai ketua OSIS, Dheka tetap menerima Adit apa ada nya. Hubungan mereka kala itu layaknya pacaran yang hanya sebagai status namun tidak ada hubungan khusus. Setahun kemudian, Adit mulai peka dan sepertinya rasa cinta Adit benar-benar tumbuh untuk Dheka. Adit yang memang basic nya baik dan perhatian pada siapapun, bisa kupahami perbedaan perhatiannya pada Dheka. Dan Dheka yang memang sedikit tomboy, berhasil mengenalkan Adit pada warna warni kehidupan dunia remajanya. Aku menjadi saksi betapa sweet nya hubungan yang mereka bangun, saling mendukung dalam semua hal. Saling mengingatkan dan saling mengalah saat ada perselisihan. Dan dua-duanya pun mempunyai prestasi yang luar biasa. Adit selalu menduduki peringkat pertama dan Dheka selalu diantara peringkat lima besar.
Entah apa yang menjadi alasan Dheka menjauhi Adit sekarang.
semangatt juga kak 💪