seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sedikit perselisihan.
"baunya harum sekali James, apa yang kamu lakukan dengan dapurku...?"
Neta menatap James yang sedang menata makanan di atas meja makan, bau harum masukkan mengisi seluruh ruangan Neta.
Neta perlahan mendekat dan menarik kursi di depan James, tatapan matanya berbinar melihat makanan yang terlihat mengiurkan bagi Neta.
"boleh aku cicipi...?"
Neta menggambil sendok di samping meja, tanpa menunggu jawaban dari James Neta menggambil satu sendok sayur dan potongan ayam.
"hmm.... Enak sekali, kamu yang masak....?"
mata Neta tampak mengeryit, dia tidak percaya jika James yang memasaknya.
"siapa lagi..."
James terlihat jumawa sambil menyugar rambutnya yang terlihat berantakan, Neta mendengus mendengar kesal melihat kesombongan James.
"James yang aku kenal dulu hanya bisa minta uang sama om hans dan Tante nela, jadi wajarkan jika aku meragukan masakkanmu."
Neta tersenyum samar melihat James yang terlihat kesal.
"sudah kalau kamu tidak percaya, lebih baik kita makan. Setelah ini aku akan pergi, dan kamu... Lebih baik kamu istirahat, agar besok kamu bisa sehat kembali."
James menggambil piring dan mengisinya dengan sedikit nasi juga lauk yang dia masak tadi. Neta mengikuti apa yang di lakukan James, dengan suasana yang terasa hening mereka sama sama diam menikmati makan siangnya.
"kamu mau pergi menemui Clara...?"
Tanya Neta sambil meminum air putih di gelas yang baru saja dia isi.
James hanya mengangukan kepalanya menjawab pertanyaan Neta, melihat jawaban James Neta hanya diam, sekarang dia tidak peduli dengan apa yang akan James lakukan.
"nanti siang Eric akan datang ke sini, dia tadi sudah menghubungiku."
James mengangkat kepalanya cepat mendengar ucapan Neta, entah kenapa mendengar nama Eric perasaan James seakan tidak baik baik saja.
"buat apa dia ke sini, atau apa kalian ada hubungan di belakangku selama ini...?"
Neta menatap James, dia kesal dengan tuduhan James yang tak mendasar.
"ngawur aja, dia hanya rekan kerjaku di kantor. Dan kmu tahu sendiri jika kamu dekat hanya di kantor saja, sedang di luar jam kantor kami tidak sedekat itu."
Neta menumpukan kedua tangannya di atas dada, dia berusaha menjelaskan ke James tentang hubungannya dengan Eric.
"bukan seperti itu Neta, aku... aku hanya kawatir jika dia memanfaat kedekatan kalian, kamu tidak tahu siapa Eric. Walaupun di sahabat ku saat kuliah dulu, tapi aku tidak ingin dia memanfaatkan kamu."
Senyum samar terlihat dari kedua ujung bibir Neta, dia merasa James hanya mengada ada dengan ucapannya.
"jika aku menjalin hubungan dengan Eric memangnya kenapa James, itu wajar bukan...? Kami sama sama lajang, dan tidak salah bukan jika aku dan Eric menjalin hubungan lebih dari seorang rekan kerja...?"
James mengepalkan tangannya erat, dia kesal dengan ucapan yang Neta ucapkan, seakan Neta sedang menantang James.
"Neta ..!!!"
Suar James terdengar meninggi, Neta yang terkejut dengan reaksi James yang berlebihan membuatnya terkejut.
"aku tidak ingin melihat kamu dekat dengan Eric, kamu tidak tahu siap dia....!!!"
Neta menatap James yang terlihat kesal, bagi Neta kekesalan James tidak wajar.
"apa yang kamu tidak suka dari Eric, bukannya kamu juga berhubungan dengan Clara...? Dan Clara adalah prioritas mu selama ini...? Jadi tidak ada salahnya jika aku juga dekat dengan Eric."
Neta berdiri dari duduknya dengan cepat, dia semakin kesal menghadapi James.
James yang melihat kepergian Neta segera berdiri mengikuti gerakan Neta, tangan James terulur dan akan memegang lengan Neta. Tapi gerakkan Neta yang cepat membuat James tidak dapat menjangkaunya, James hanya bisa melihat kepergian Neta yang memasuki kamarnya.
Getar ponsel dari saku celana James membuat atensinya teralihkan, segera James mnggambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"iya haloo.. "
James diam mendengarkan suara di balik telpon.
"baik saya akan segera kesana."
James segera menutup telponnya, dengan segera dia masukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
Langkah James bergerak menuju ke kamar Neta, perlahan dia membuka handel pintu kamar Neta. Beruntung Neta tidak mengunci pintunya, dengan mudah James bisa masuk kedalam kamar Neta.
Neta yang duduk dan sedang memainkan ponselnya tidak menyadari kedatangan James, dia tampak fokus dan serius mengetik pesan di ponselnya.
"Neta..."
panggil James dengan suara berat dan pelan.
Neta yang terkejut melihat James yang berjalan menuju ke arahnya segera meletakkan ponselnya, sekarang dia takut jika James melihat apa yang sedang dia lakukan.
"Neta, aku minta maaf... ucapanku tadi sudah menyingung kamu, aku tidak akan melarang kamu dekat dengan Eric. Jadi aku mohon kamu jangan marah sama aku ya...?"
James duduk di samping Neta, melihat penyesalan dari James Neta hanya bisa diam mencerna semua ucapan James.
"hmm .."
Jawab Neta masih merasa kesal dengan James, tanpa Neta sadari tangan James terulur memegang bahu Neta.
"Neta, kamu adalah sahabatku dan kamu juga sudah aku anggap sebagai adikku. Jadi tolong dengarkan semua ucapanku, aku hanya ingin yang terbaik buat kamu. Kamu di kota ini sendiri, dan hanya aku yang kamu miliki. Aku sudah berjanji dengan om dan Tante untuk menjaga kamu, jadi please... Dengarkan aku ya..."
Lirih James yang tidak ingin melihat Neta semakin kesal.
pandangan mata Neta beralih menatap James yang ada di sampingnya, Neta merasa jika yang duduk di sampingnya bukanlah James yang dia kenal.
Neta berulang kali berkedip melihat ke arah James, dia meyakinkan dirinya apakah benar yang ada di sampingnya adalah anak manja yang dulu dia kenal.
kedua ujung bibir Neta terangkat, dia merasa jika James semakin bertambah dewasa.
perlahan tangan Neta terulur mengacak rambut tebal dan hitam milik James, dengan gemas dia mengacak sampai sang empunya rambut berdengus kesal.
"kamu sudah semakin dewasa James, kamu bukan James sang anak manja yang dulu pernah aku kenal."
Mereka sama sama saling tersenyum, seakan sedikit perselisihan tadi tidak berarti bagi James dan Neta.
"aku sudah dewasa Neta, dan aku bisa mengambil keputusan yang terbaik saat ini untuk kamu dan juga diriku."
James melirik jam dinding yang tertempel di dinding kamar Neta, pandangannya terfokus melihat angkat yang terlihat di sana.
"ya tuhan... Hampir aja lupa, Neta kamu bisa menolongku...?"
Kedua mata Neta mengeryit menatap ke wajah panik James.
"apa yang bisa aku bantu...?"
James menggambil ponsel yang ada di saku celananya, dia membuka file dokumen yang dia terima tadi sebelum masuk ke kamar neta.
"tolong kamu cetak ini, dan teliti lagi apa ada yang salah di dalamnya. Besok aku akan meating ke luar perusahaan, dan dokumen ini akan aku bawa."
Meta menganggukan kepalanya, dia mengerti akan permintaan James.
"aku akan pergi, ada urusan yang mendesak yang harus aku tangani. Jadi aku minta tolong sama kamu ya, jika semua sudah beres kamu hubungi aku."
James berdiri dan sebelum pergi dia berpamitan dengan Neta.