NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.

Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .

Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.

Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.

Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"

Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bos Baruku Ternyata Suamiku

Pukul delapan lewat lima puluh lima menit, pengumuman resmi berkumandang melalui pengeras suara di setiap sudut ruangan. Suara sekretaris manajerial yang biasanya terdengar tenang kini menyimppan getaran gugup yang amat jelas. Seluruh staf dari divisi administrasi, keuangan, serta pemasaran diminta untuk segera menghentikan aktivitas pekerjaan mereka dan berkumpul di ruang rapat utama lantai empat. Suasana yang semula riuh oleh bisik-bisik gosip seketika berubah menjadi hiruk-pikuk persiapan yang terburu-buru.

"Ayo, Aluna! Nanti kita tidak dapat barisan depan kalau terlambat!" seru Maya seraya merapikan rok kerjanya dan memoles ulang lipstik di bibirnya secara kilat.

Aluna mengangguk pelan. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia merapikan tumpukan kertas di mejanya, mengambil sebuah buku catatan kecil ber-sampul kulit cokelat serta sebuah pulpen, lalu berdiri dari kursinya. Di dalam dadanya, jantung berdegup dengan ritme yang sangat tidak beraturan. Ketakutan akan kecurigaan teman-temannya bercampur aduk dengan rasa penasaran yang membuncah mengenai alasan di balik kehadiran Elvan di anak perusahaan ini.

Langkah kaki puluhan pegawai memadati koridor menuju aula utama. Gemeresik kain kemeja, bunyi hak sepatu wanita yang menghentak lantai marmer, serta bisikan-bisikan penasaran memenuhi udara. Semua orang membicarakan sosok pria yang baru saja tiba dengan sedan mewah tersebut.

"Katanya Pak Subroto sendiri yang langsung menyambutnya di lobi bawah," bisik salah seorang staf pemasaran yang berjalan di depan Aluna. "Tapi Pak Subroto yang biasanya congkak itu mendadak menunduk-nunduk hormat, seperti sedang berhadapan dengan Raja!"

"Jelas saja," timpal staf lainnya. "Anak perusahaan kita ini kan sedang bermasalah dengan audit internal. Kehadiran pimpinan langsung dari Aditama Group berarti akan ada pembersihan besar-besaran. Siapa pun yang bermain curang pasti akan disapu bersih hari ini."

Aluna mendengarkan setiap kata itu dalam diam. Ia berjalan berdampingan dengan Maya dan Rina, memilih untuk mengambil posisi di barisan paling belakang aula, tepat di dekat pilar besar berbahan kayu mahoni. Posisi ini cukup aman baginya, terlindung dari jangkauan pandangan langsung dari mimbar utama, sekaligus memungkinkannya memperhatikan situasi tanpa menarik perhatian.

Aula rapat utama PT Nusantara Media memiliki desain yang megah dengan pencahayaan lampu kristal yang hangat dan dinding kaca tebal yang menghadap langsung ke pemandangan gedung-gedung pencakar langit kota. Di bagian depan, sebuah mimbar kayu berdiri tebal, dikelilingi oleh jajaran kursi direksi yang dilapisi kulit hitam. Ratusan pegawai telah berdiri rapi dalam barisan yang teratur, membentuk lautan manusia yang memendam napas penuh antisipasi.

Tepat pukul sembilan pagi, suasana riuh rendah di dalam aula seketika lenyap. Keheningan yang amat pekat menyergap ruangan hanya dalam hitungan detik.

Pintu ganda berbahan kayu jati tebal di bagian depan aula terdorong terbuka. Dua orang pengawal bersetelan jas gelap berdiri tegap di sisi pintu, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan dengan tatapan waspada. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu melangkah masuk.

Atmosfer di dalam ruangan berubah secara drastis. Sebuah tekanan intimidatif yang dingin, berwibawa, dan dominan seolah-olah mengalir memenuhi setiap jengkal udara.

Pria itu melangkah dengan ritme yang sangat konstan dan tegas. Setiap pijakan sepatunya di atas lantai kayu menimbulkan gema pelan yang sanggup membungkam siapa pun yang mendengarnya. Ia mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna hitam pekat buatan penjahit kelas atas Italia, yang membalut tubuh tegapnya secara sempurna. Bahunya bidang, posturnya menjulang tinggi mencolok di antara para jajaran manajerial lama yang berjalan mengekor di belakangnya dengan wajah penuh ketegangan.

Aluna menahan napasnya secara refleks. Buku catatan kecil di genggamannya hampir saja merosot jatuh jika ia tidak segera mempererat cengkeramannya.

Wajah pria itu terlihat begitu terpahat sempurna di bawah paparan pendar lampu kristal aula. Garis rahangnya tegas dan tajam, hidungnya mancung, serta bibirnya terkatup lurus tanpa menyisakan sedikit pun celah keramahan semu. Sepasang mata elangnya yang berwarna hitam pekat memancarkan aura dingin yang membekukan, seolah sanggup menembus sanubari siapa pun yang berani menatapnya secara langsung.

Dialah Elvan Aditama.

Pria yang beberapa jam lalu memeluk Aluna di atas sofa rumah paviliun yang hangat, pria yang menatapnya dengan pendar rasa cinta yang begitu pekat dan lembut saat mendengarkan bisikan kesetiaannya ... kini berdiri di depan ratusan pasang mata sebagai seorang penguasa mutlak yang berkuasa penuh atas nasib ratusan orang di ruangan ini.

"Ya Tuhan ..." bisik Maya di sebelah Aluna dengan suara bergetar dan napas yang tertahan. Tangannya meremas lengan kemeja Aluna tanpa sadar. "Aluna ... lihat itu ... Pria itu ... foto buram tadi tidak ada apa-apanya dibanding aslinya! Ketampanannya benar-benar menakutkan!"

Rina yang berdiri di sisi lain Aluna menelan ludahnya dengan susah payah. "Gila ... auranya benar-benar dingin sekali. Kamu lihat tidak cara dia memandang para manajer? Pak Subroto saja sampai menyapu keringat di dahi dengan saputangannya. Pria ini bukan sekadar bos biasa, dia seperti seorang raja yang siap mengeksekusi musuh-musuhnya!"

Aluna tidak mampu menyahut sedikit pun celotehan kedua temannya. Matanya terpaku sepenuhnya pada sosok suaminya. Rasanya begitu surealis dan ajaib. Dunia sederhana yang selama ini dihuni Aluna terasa berbenturan secara hebat dengan kenyataan dingin tempat Elvan berasal. Di sini, di atas mimbar kebesaran ini, Elvan terlihat begitu tinggi, begitu jauh, dan begitu tak tersentuh.

Bram berdiri beberapa langkah di belakang Elvan, memegang koper perak tebal dengan sikap tubuh yang amat sigap. Tatapan mata Bram sempat menyapu aula, dan untuk sepersekian detik, Aluna melihat Bram memberikan anggukan kepala yang sangat tipis, sebuah penghormatan tersembunyi yang hanya ditujukan kepadanya, sebelum kembali memasang raut wajah dingin tak beremosi.

Elvan melangkah mendekati mimbar utama. Pak Subroto, mantan Direktur Utama yang kini berwajah pucat, memegang mikrofon dengan tangan gemetar.

"Se ... selamat pagi rekan-rekan sekalian," ucap Pak Subroto dengan suara yang agak terbata-bata, memecah keheningan yang mencekam. "Hari ini merupakan hari yang sangat penting bagi sejarah perjalanan PT Nusantara Media. Berdasarkan keputusan mutlak dari Rapat Dewan Komisaris Pusat Aditama Group, terhitung mulai hari ini, kepemimpinan penuh dan restrukturisasi perusahaan akan diambil alih secara langsung oleh utusan khusus sekaligus pimpinan eksekutif kita ..."

Pak Subroto membungkuk dalam-dalam seraya menyerahkan posisi mimbar. "Bapak Elvan Aditama."

Gema nama itu menyebar seperti gelombang listrik ke seluruh penjuru aula. Nama besar Aditama yang menyertai nama Elvan seketika membuat beberapa manajer senior saling berpandangan dengan raut wajah panik dan tidak percaya. Bagi mereka yang paham akan peta kekuatan bisnis di ibu kota, nama itu bukanlah sekadar nama keluarga biasa, itu adalah nama dari penguasa tunggal yang memegang kendali atas jaringan bisnis multinasional.

Elvan berdiri tegap di balik mimbar. Ia tidak segera berbicara. Sepasang mata elangnya menyapu seluruh ruangan secara perlahan, menciptakan ketegangan yang kian membumbung tinggi di dada para pegawai. Setiap orang menahan napas, tidak berani melakukan pergerakan kecil sekalipun.

Hingga akhirnya, pandangan mata dingin Elvan melintas di barisan belakang aula, dan terhenti tepat pada sosok Aluna yang berdiri di samping pilar mahoni.

Seketika itu juga, ketajaman dan kebekuan di dalam sorot mata Elvan melunak. Ada sebuah kehangatan rahasia yang sangat tipis, sebuah pendar kerinduan dan rasa cinta yang mendalam, yang hanya dipancarkan khusus untuk wanita yang sedang memegang buku catatan cokelat di barisan belakang tersebut. Itu adalah tatapan yang sama yang Elvan berikan saat ia mengusap air mata Aluna di malam ketakutan mereka.

Aluna merasakan desiran hangat yang membakar dadanya. Rasa asing dan ketakutan akan jarak di antara mereka seketika sirna. Di balik jas mewah dan gelar penguasa Aditama yang amat menakutkan bagi semua orang di ruangan ini, pria itu tetaplah Elvan, suami yang telah memercayakan seluruh luka dan rahasia hidupnya ke dalam genggaman Aluna.

Hanya berlangsung selama dua detik, Elvan memutus kontak mata mereka sebelum ada orang lain yang menyadari kejanggalan tersebut. Ia membetulkan letak mikrofon di mimbarnya, lalu mulai bersuara.

"Selamat pagi seluruh jajaran staf dan manajemen PT Nusantara Media," suara bariton Elvan yang sangat dalam, berat, dan jernih menggelegar melalui sistem pengeras suara aula. Suaranya memicu gema elegan yang sanggup merindingkan bulu kuduk siapa pun yang mendengar.

beberapa staf wanita di sekitar Aluna menghembuskan napas kagum secara bersamaan, terpesona oleh intonasi dan nada suara pimpinan baru mereka yang begitu karismatik.

"Saya tidak akan membuang waktu kalian dengan pidato sambutan yang panjang dan tidak berguna," lanjut Elvan dingin, tatapannya kini kembali tajam menyapu jajaran manajerial di barisan depan. "Kehadiran saya di sini hanya memiliki satu tujuan utama: mengembalikan seluruh integritas, profesionalisme, dan efisiensi kerja yang telah rusak selama beberapa tahun terakhir."

Atmosfer di barisan depan seketika makin membeku. Beberapa manajer keuangan terlihat makin menyapu keringat di leher mereka.

"Mulai detik ini, seluruh laporan keuangan, kontrak kerja sama pihak ketiga, serta pengadaan barang dan jasa akan berada di bawah pengawasan langsung tim audit pribadi saya," tegas Elvan tanpa ada keraguan sedikit pun dalam nadanya. "Bagi siapa saja yang telah bekerja dengan jujur dan mendedikasikan kemampuannya untuk perusahaan ini, tidak ada yang perlu kalian takuti. Posisi dan hak kalian aman. Namun ..."

Elvan jeda sejenak, memberikan penekanan yang amat sarat akan ancaman mematikan. "... bagi mereka yang memanfaatkan posisi untuk keuntungan pribadi, manipulasi anggaran, atau menjadi perpanjangan tangan dari pihak luar yang berniat merusak stabilitas Aditama Group ... saya sarankan kalian menyiapkan surat pengunduran diri sebelum tim audit saya menemukan buktinya sore ini."

Kata-kata itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis tak terbantahkan. Ketegasan, aura dominasi, serta keberanian Elvan dalam menyampaikan ancaman secara terbuka di hari pertamanya bekerja membuat seluruh aula terpaku dalam rasa kagum sekaligus gentar yang luar biasa.

Di barisan paling belakang, Aluna menyunggingkan senyuman paling tipis di bibirnya. Senyuman penuh rasa bangga atas pria yang kini secara sah menjadi pelindung hidupnya. Pria yang siap mengguncang dan menggulung setiap musuh yang menghalangi jalannya.

1
sunaryati jarum
Selamat akhirnya persembunyian Nak Elvan selama dua tahun sambil mencari bukti kejahatan Herlina membuahkan hasil ,semoga kamu jadi pemimpin yang bijaksana berwibawa dan mengayomi seluruh karyawan anda.Dan Aluna selalu pendamping yang selalu memberikan motivasi akan kemajuan perusahaan
sunaryati jarum
Aah masih harus sabar menunggu hasil RUPS dan kehancurannya Ny.Herlina
MayAyunda: sebentar lagi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga apa yang kau rencanakan dan bukti kejahatan Herlina yang sudah kau kumpulkan, berhasil mengalahkan ibu tirimu yang serakah harta , kedudukan dan kekuasaan yang bukan haknya.Dan Aluna diketahui oleh semua karyawan ,bahwa Aluna istri pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja tanpa dirahasiakan lagi.
Ayu Padi
pernikahan mereka sudah sah secara negara juga gak Thor? apa masih siri
MayAyunda: sudah sah kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak dengan sabar hasil keputusan RUPS
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Teman - temanmu mulai.curiga Alena.Tapi itu malah bisa mendengar sendiri penilaian kepada suami kamu
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
Ayu Padi
laaah seharus ny kn jgn sampe masuk ke dlm rumh si kagak..pas di pagar Sdh di tangkap sama keamanan Elvan...ksihn kn alunan sm ayah ny hrs ketakutan dulu ..malah br nongol keamanan ny ...
MayAyunda: tenang kak Elvan siap siaga kok 😁
total 1 replies
Ayu Padi
loooh Thor ..kn ada orang suruhan Elvan tuk jagain rumah aluna yg lagi nyiram tanaman pas Elvan mau keluar rumah ..pada kemana mereka Thor...masa pergi semua
sunaryati jarum
Pinter juga Elvan punya segala cara agar selalu dekat dan dilayani istri tercinta
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Sukses selalu Aluna, untuk pertarungan dalam RUPS lusa semoga lancar sesuai tektik dan rencana dan kemenangan di tangan Elvan.
MayAyunda: iya kak 🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Memang harus begitu,saat jadi pemimpin bersikap tegas, bijaksana,berwibawa dan beraura dingin tapi diperlukan pawangnya,ya harus manis,benar kan Nak , Elvan
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Hati emak ikut meleleh Aluna,hati beku sedingin es kutub Utara akan cair dan memberi kenyamanan jika dihangatkan oleh hati yang dicintainya
MayAyunda: he he ..iya kak 😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Itu akal- akal suamimu agar ketemu kamu Aluna.Pemimpin beraura tegas dan dingin tapi bersama istri seperti kucing peliharaan,manis dan menggemaskan /Drool//Drool/
MayAyunda: iya kak 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Teman- temanmu tidak berhenti membicarakan suamimu, Aluna.Lucu dan heboh ,ya.
sunaryati jarum
Bos Elvan sepertinya suami setia'.Belum ada pembongkaran kejahatan Herlina, Thoor
sunaryati jarum
Gebrakan setelah dalam pelarian,Nak Elvan.Membersihkan orang - orang Herlina.Alena semua temanmu mengidolakannya suamimu jangan cemburu
sunaryati jarum
Kok langsung bekerja.lsgi dan Elvan sudah menduduki posisi yang menjadi haknya, kapan terbongkarnya kejahatan Herlina?
MayAyunda: sabar kak sebentar lagi 😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga berhasil Nak Elvan,satu gebrakan membongkar banyak kejahatan Herlina
MayAyunda: baca cerita baruku ..judulnya ke grep dengan preman tengil ..
sama suami Kilatku ternyata bosku 🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Herlina mempercepat kehancurannya sendiri
sunaryati jarum
Aluna Elvan telah jujur, jangan mundur.Beri dukungan dan doa setiap langkahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!