Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUKUMAN ELISABETH
Di dalam sebuah bangunan tua yang sepi dan berdebu di area belakang kediaman Duke Luminar.
Elisabeth terbangun dengan kepala yang terasa sangat pening, tangannya terikat kuat di kursi kayu, dan mulutnya di tutup kain hitam.
"Mmph! Mmph!" jerit Elisabeth panik, matanya liar memandangi sekeliling ruangan yang gelap dan kotor.
Terakhir kali yang dia ingat adalah, saat dirinya sedang dalam perjalanan pergi bersama kedua orang tua nya, untuk meninggalkan ibu kota Kerajaan Caliber, tiba-tiba kereta kuda mereka di hadang oleh beberapa pria lalu setelah itu dia tidak ingat lagi.
"Sial! Apa aku di culik, oleh salah satu penagih hutang itu," batin Elisabeth, kesal dan juga takut.
Tak
Tak
Tak
Suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar melangkah masuk ke dalam ruangan.
Elisabeth mendongak cepat, matanya seketika membelalak lebar saat melihat Aura melangkah masuk dengan gaun elegannya, didampingi Rian yang berdiri tegap di belakangnya.
Jadi Yang menculiknya bukan salah satu orang penagih hutang, tapi Aura Luminar.
Aura memberi isyarat tangan pada Rian, pria itu langsung maju dan membuka kain di mulut Elisabeth secara kasar.
Srett
"Awh! Sakit!" jerit Elisabeth meringis kesakitan.
"Aura?! Kamu gila, ya?! Kenapa kamu menyuruh orangmu menculik ku?!" bentak Elisabeth histeris, napasnya memburu penuh amarah dan ketakutan.
Aura tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding ruangan tua yang sepi itu, dengan santai, dia menarik sebuah kursi kayu lain, lalu duduk tenang di hadapan Elisabeth yang terikat.
"Menculik?" ulang Aura menaikkan sebelah alisnya dengan raut wajah pura-pura terkejut.
"Aku cuma ingin bicara sebentar dengar mu, Elisabeth. Lagi pula, tidak ada orang yang peduli lagi padamu sekarang, kan? Termasuk kedua orang tua mu, yang kini sudah pergi meninggalkan Ibu kota, tanpa memikirkan mu," cibir Aura, tersenyum mengejek.
Elisabeth mengepalkan tangannya yang terikat, matanya merah padam menahan tangis dan benci.
"Mau kamu apa lagi, Aura?! Rumahku sudah hancur, keluargaku sudah diusir! Kamu belum puas juga membuat hidupku menderita?!" teriak Elisabeth histeris.
Aura memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Elisabeth dengan tatapan dingin yang mampu membekukan darah.
"Puas?" ulang Aura bersuara rendah.
"Bagaimana aku bisa puas kalau kamu belum merasakan rasa sakit yang dulu pernah kamu berikan padaku?" lanjut Aura penuh penekanan.
Elisabeth tertegun, raut wajahnya mendadak berubah cemas.
"M-maksudmu apa? Aku tidak pernah melakukan apa-apa padamu!" ucap Elisabeth, menggeleng kan kepala nya kuat.
Aura mendengus sinis, menatap Elisabeth dengan tatapan paling merendahkan.
"Masih mau berpura-pura polos, Elisabeth?" cibir Aura tajam.
"Siapa yang dulu berpura-pura jadi sahabat baikku, tapi diam-diam menghasut Luis agar membenciku? Siapa yang dulu sengaja mendorongku ke danau, hanya demi menjadi pasangan pria bajingan itu, hah?!" cecar Aura dengan nada suara membara, membalaskan seluruh rasa sakit milik Aura yang asli.
Wajah Elisabeth mendadak pucat pasi mendengar tuduhan yang tepat sasaran itu.
"I-itu... itu bukan aku! Kamu cuma salah paham, Aura!" elak Elisabeth terbata-bata, mencoba membela diri.
"Salah paham?" ucap Aura tertawa hampa, menyunggingkan senyum miring yang teramat kejam.
"Kamu pikir aku gila yang bisa kamu bohongi terus-terusan dengan wajah lugu manismu itu?" bentak Aura pelan namun sangat menekan jiwa.
Aura berbalik menatap Rian yang sejak tadi berdiri diam.
"Rian, bawa gunting dan ember air kotor ke sini," perintah Aura tenang.
Elisabeth langsung melotot panik, tubuhnya gemetaran hebat di atas kursi.
"G-gunting?! Air kotor?! Aura, kamu mau melakukan apa padaku?!" tanya Elisabeth panik.
"Dulu kamu sangat bangga dengan rambut indah mu dan gaun mewah mu saat berada di samping Luis, kan?" ucap Aura santai sembari menerima gunting tajam dari tangan Rian.
"Sekarang, aku mau menyesuaikan penampilanmu dengan status barumu sebagai rakyat jelata yang miskin," lanjut Aura tersenyum manis penuh ancaman.
"Tidak! Aura, jangan! Aku mohon maafkan aku!" jerit Elisabeth histeris, mencoba melonggarkan ikatan tangannya sembari menangis histeris.
Aura tidak mempedulikan jeritan itu sedikit pun, dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, Aura memotong beberapa bagian rambut panjang Elisabeth secara acak hingga berantakan
Srek
Srek
Srek
"TIDAK! AURA JANGAN LAKUKAN INI HIKS...HIKS...!"
Jerit Elisabeth sama sekali tidak membuat Aura iba.
Srek
Srek
"Aaaagghh! Rambutku! Aura, kamu iblis!" teriak Elisabeth histeris melihat potong-potongan rambutnya jatuh berhamburan ke lantai kotor.
Brak
Aura melempar gunting itu ke lantai dengan bunyi berdenting keras, lalu mengambil ember berisi air kotor yang disiapkan Rian.
Tanpa rasa kasihan sedikit pun, Aura menyiramkan seluruh air kotor itu tepat ke kepala Elisabeth.
Byurr
"AAAKKKKHHH! Uhuk...Uhuk...."
Elisabeth batuk-batuk, tubuhnya kini basah kuyup, bau, dan berantakan, dia menangis sesenggukan dengan kepala menunduk dalam, benar-benar kehilangan seluruh harga dirinya sebagai mantan bangsawan.
Aura berdiri tegak, merapikan gaun nya sendiri agar tidak terkena cipratan air kotor itu, sambil menatap Elisabeth yang merangkak pasrah di tanah bagaikan sampah.
"Ini baru permulaan dari balasan dendamku, Elisabeth," ucap Aura dingin dan datar.
"Ingat rasa malu dan sakit hari ini, karena mulai sekarang... kamu tidak akan pernah bisa bangkit lagi," lanjut Aura penuh penekanan.
Aura berbalik arah, melangkah anggun keluar dari ruangan tua itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
"Rian, buang dia ke gang sempit dekat pasar," perintah Aura santai saat berjalan di lorong.
"Baik, Lady Aura," jawab Rian membungkuk hormat, menyunggingkan senyum puas melihat pembalasan dendam majikannya berjalan dengan sangat sempurna.
Aura berjalan pelan menyusuri lorong menuju kamar nya, rasa lelah dan puas bercampur jadi satu setelah melihat Elisabeth seperti gembel.
Sora yang sudah menunggu di depan pintu kamar langsung menyambut majikannya dengan wajah penasaran setengah mati.
"Nona! Bagaimana? Apakah Rian sudah membereskan gadis bermuka dua itu?" bisik Sora cepat, matanya berbinar-binar.
Aura tersenyum miring, menepuk pelan bahu pelayan kesayangannya itu.
"Tentu saja sudah, Sora," jawab Aura santai sembari melangkah masuk ke dalam kamar.
"Rambut indahnya sudah dipotong asal-asalan dan tubuh mewahnya sudah dibasahi air kotor. Sebentar lagi Rian akan membuangnya ke pasar," lanjut Aura mendaratkan tubuhnya di atas sofa empuk.
Sora menepuk tangannya kegirangan, tertawa puas mendengar nasib sial musuh majikannya.
"Bagus sekali, Nona! Rasakan itu! Dulu dia sok suci sekali di depan semua orang," seru Sora penuh semangat.
"Iya, setidaknya dendam lamaku padanya sudah terbalas tuntas hari ini," ucap Aura sembari memejamkan mata sejenak.
Baru saja Aura ingin memejamkan mata untuk istirahat, tiba-tiba suara ketukan pintu kamar terdengar cukup keras.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛