NovelToon NovelToon
PENDEKAR NAGA SAKTI

PENDEKAR NAGA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:38
Nilai: 5
Nama Author: Adih Supriadi

Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 27

*PERANG BESAR 3*

Pasukan Naga Berkumpul di Kencana.

Gong besar ditabuh tiga kali.

Aula Kerajaan Kencana bergema. Di lapangan luas, *500 prajurit tombak dan perisai* sudah berbaris rapi.

Debu beterbangan, bendera Kerajaan Kencana berkibar kencang.

Di depan barisan, berdiri *Jasiren*. Rambutnya sudah beruban, tapi sorot matanya masih setajam pedang.

Penasehat kerajaan yang 10 tahun lalu turun gunung, kini kembali.

Di sampingnya *Jendral Cokro*, bertubuh kekar, bekas luka di pipi jadi bukti ratusan medan perang.

Terdengar langkah kaki kuda terdengar dari gerbang timur.

Rombongan kedua datang.

Terpimpin seorang kakek berjubah hijau , hitam dan putih , rambut panjang dikuncir.

Aura tenangnya bikin angin berhenti.

*Pendekar Naga Langit*. Legenda hidup yang sudah pensiun 15 tahun kini kembali ke medan pertempuran.

Di belakangnya dua murid terbaiknya:

*Oval* - *Pendekar Naga Hijau*. Tubuh tegap dan tinggi besar.

*Apis* - *Pendekar Naga Hitam*. Diam, bertubuh gagah .

Raja Kencana turun dari singgasana. “Selamat datang, Guru Naga Langit. Kerajaan Kencana berhutang budi. Kerajaan Khan dari utara ingin menjajah Nusantara. Korban pertama mereka, *Kerajaan Rinjani* di pesisir sedang di serang, . Utusan Rinjani memohon bantuan kita.”

Naga Langit mengangguk pelan. “Khan serakah. Jika Rinjani tumbang, Kencana jadi berikutnya. Aku kembali bukan untuk nama, tapi untuk tanah Nusantara .”

Oval senyum nyengir. “Akhirnya bisa gebuk orang lagi, Guru.”

Apis cuma mengangguk. “Aku akan hancurkan barisan depan mereka.”

Jasiren mengangkat pedangnya. “Berangkat!”

---

Perjalanan 6 Hari ke Rinjani

Barisan berangkat saat fajar.

Urutan: *Jasiren di depan, diikuti Naga Langit, Naga Hijau, Naga Hitam, dan Jendral Cokro*. Di belakang mereka, *500 prajurit Kencana* menggemparkan tanah.

Setiap desa yang dilewati, rakyat Rinjani keluar menyambut.

“Naga Langit kembali!”

Malam hari, mereka berkemah di hutan bambu.

Di sekitar api unggun, Raja Kencana, Jasiren, dan Jendral Cokro duduk bersama tiga pendekar naga.

“Menurut mata-mata,” kata Jendral Cokro, “Khan bawa 2000 prajurit, kavaleri besi, dan satu dukun perang bernama Maha.”

Suasana langsung berat, Oval melirik Apis. Perang belum mulai, tapi bayang-bayangnya sudah terlihat jelas sebuah pertempuran.

Hari ke-6, dari bukit, terlihat laut dan tembok Rinjani yang sudah separuh hancur. Bendera Khan berkibar di atasnya.

Perang sudah di depan mata.

Rombongan Jasiren tidak berhenti di Kerajaan Rinjani namun langsung ke medan pertempuran, memakai jalur selatan agar langsung ketempat pasukan prajurit Khan.

Debu perang belum turun, tapi teriakan sudah mengoyak langit.

*Rombongan prajurit Khan* berbaris seperti lautan baja. Di paling depan, berdiri sosok berkerudung hitam, tongkat tengkorak memancarkan asap ungu. *Maha, Dukun Perang Khan*.

“Menyerah lah kalian!!! !” suara Maha menggelegar, memecah barisan.

Tanpa aba-aba, *Oval, dan Apis* melompat dari barisan.

*Pendekar Naga Hijau, dan Hitam* berdiri segaris di depan musuh.

Maha tertawa. “2 anak baru? HANCURKAN MEREKA!”

Puluhan prajurit Khan menyerbu seperti ombak.

*Pertarungan pecah.*

*Apis - Naga Hitam* mengayunkan kapaknya. _DUAR!_ Sekali hantam, tiga perisai Khan remuk. Tanah bergetar. Ia seperti tembok hidup yang berjalan.

*Oval - Naga Hijau* bergerak bagai angin. Dua golok kembarnya menari. Musuh yang datang, tumbang tanpa sempat melihat. “Terlalu lambat!” ejeknya.

Dalam hitungan menit, puluhan tumbang. Barisan Khan goyah.

Maha marah. Tongkatnya dihantam ke tanah. _BRAK!_ Asap ungu naik, membentuk bayangan Monster.

“Roh IBLIS, MAKAN MEREKA!”

Bayangan itu melesat ke arah Pendekar Naga Langit .

“Naga Langit, hati-hati!! !” teriak Jasiren.

Tapi tidak mundur. Ia menancapkan pedang ke tanah.

Naga Langit langsung membentuk segel. Langit mendadak gelap.

Petir menyambar.

“NAGA LANGIT... JURUS PENGGABUNG!” teriaknya.

Cahaya hijau, Putih, Hitam dari Naga Langit, . menyatu jadi satu sinar.

_BOOM!_

Sinar itu menghantam Monster Iblis. Asap ungu Maha terbelah. Maha terpental 10 meter, darah keluar dari mulutnya.

Seluruh medan perang hening. prajurit Khan mundur selangkah ketakutan.

Maha terbatuk, menatap empat pendekar. “Kau... kalian belum selesai... Khan akan datang dengan seluruh armada...” lalu ia mundur, diseret prajuritnya.

Hari itu, Rinjani selamat. Untuk sementara, karena Pasukan Khan mundur untuk sementara.

***

Sudah 8 hari pasukan gabungan *Rinjani + Kencana* menahan garis depan.

Hari ini, untuk pertama kalinya, suasana tenang. Bendera Khan mundur ke belakang setelah kalah di perang besar kemarin.

Di depan tendanya, *Arden - Pendekar Naga Putih* duduk di atas batu.

Jubah putihnya kotor debu, tapi sorot matanya tetap tenang. Di tangannya mangkuk kopi panas dan sepotong roti jagung.

“Akhirnya bisa napas,...” gumamnya sambil menyeruput kopi.

_TAP! TAP!_

Seorang prajurit Rinjani berlari, napas ngos-ngosan.

“Tuan Arden! Ada utusan Khan! Dia... dia menantang Tuan duel satu lawan satu!”

Arden meletakkan kopinya pelan. “Siapa namanya?”

“*Pendekar Mata Malaikat*, Tuan. Katanya pendekar bayaran termahal Khan. Matanya... matanya bisa baca gerakan musuh sebelum bergerak.”

Para prajurit yang tahu tentang Kesakitan Mata Malaikat, melarang Arden untuk bertarung .

“Jangan, Pendekar Arden. Itu jebakan. Mata Malaikat licik.”

Arden berdiri, mengikat rambutnya. Senyum tipis muncul. “Perang ini bukan cuma soal jumlah. Kalau aku mundur dari tantangan, moral pasukan kita jatuh. Aku terima tantangan ini .”

***

Angin berhenti.

Berdiri seorang lelaki bertubuh kurus tinggi. Jubah abu-abu, topeng separuh wajah. Tapi yang paling menyeramkan: *matanya*. Kanan hitam, kiri keemasan, seperti punya dua pupil. Itulah *Mata Malaikat*.

“Jadi kau Naga Putih,” suaranya dingin.

“Katanya kau tak terkalahkan. Aku dibayar 1000 keping emas kalau kepalamu jatuh.”

Arden menghunuskan pedang Naga Putih. Cahaya putih berpendar.

“Aku tidak bertarung demi emas. Aku bertarung demi NUSANTARA .”

Tanpa basa-basi, *Mata Malaikat* bergerak duluan. Kecepatannya gila.

Dalam sekejap dia sudah di belakang Arden, belatinya mengarah ke leher.

Tapi Arden sudah menoleh duluan. _TING!_ Pedang menahan belati.

Mata Malaikat terkejut. “Kau... bisa lihat gerakanku?”

Arden tersenyum. “Guruku bilang: _‘Jangan lihat mata musuh. Rasakan niatnya.’_”

Pertarungan pecah.

Mata Malaikat mengandalkan kecepatan + prediksi. Setiap tebasan Arden, ia hindari setengah langkah lebih dulu.

Arden mengandalkan ketenangan + aura Naga Putih.

Setiap kali Mata Malaikat mau menusuk, pedang Arden sudah menunggu di sana.

_DUG! DUG!_ Debu beterbangan.

Mata Malaikat mulai frustasi. “Mustahil! Mataku belum pernah salah!”

Ia berteriak, kedua matanya menyala keemasan. *“MATA NUBUAT!”*

Dunia di sekitar Arden mendadak melambat. Ia bisa lihat 3 bayangan masa depan dirinya: tertusuk, terjatuh, mati.

Tapi Arden memejamkan mata.

“Naga... tidak butuh mata untuk terbang.”

_SHING!_

Satu tebasan putih melintas. Cepat, tanpa ragu, tanpa melihat.

Mata Malaikat terdiam. Topengnya terbelah dua. Garis darah tipis muncul di pipinya. Belatinya jatuh ke tanah.

“Kau...” Mata Malaikat jatuh berlutut. “Mata mu itu ... lebih tajam dari mataku...”

Arden menancapkan pedangnya di tanah. “Pulanglah. Katakan pada Khan: Nusantara tidak bisa dibeli.”

Mata Malaikat menunduk, lalu pergi tertatih. Tidak mati, tapi harga dirinya hancur.

Mata Malaikat melarikan diri dan menuju markas Jendral Tongji.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!