Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERTAMA YANG TERLUPAKAN
Eros melangkah memasuki ruang kerjanya. Begitu pintu tertutup rapat, ruangan itu langsung dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Di sana, Desmon telah menunggu sejak tadi dengan sikap tegak dan penuh hormat.
Sepanjang perjalanan pulang, ia menyadari perubahan raut wajah tuannya. Wajah Eros tampak begitu gelisah, seolah sedang memikul beban yang tak sanggup dibaginya kepada siapa pun.
Eros mengembuskan napas panjang. Tatapannya lurus ke depan sebelum akhirnya berkata dengan suara datar.
"Aku akan berangkat ke Sydney malam ini juga."
Ucapan itu membuat Desmon sedikit terhenyak. Keputusan itu terdengar begitu mendadak.
Bukankah baru beberapa jam yang lalu tuannya resmi menikahi Zenaya? Seharusnya malam ini menjadi malam pertama yang penuh kebahagiaan bagi kedua pengantin itu.
"Ada apa, Tuan?" tanya Desmon hati-hati.
"Bukankah malam ini adalah malam pertama Anda bersama Nyonya Zenaya?"
Eros memejamkan mata sejenak sebelum menjawab singkat.
"Lura sakit. Dia membutuhkanku."
Desmon mengepalkan tangannya pelan. Hatinya dipenuhi rasa tidak setuju, tetapi ia tetap berusaha menjaga sopan santun.
"Tapi, Tuan..."
"Sejak kapan kau berani membantah keputusanku?"
Suara Eros berubah dingin. Tatapan matanya tajam hingga membuat Desmon spontan menundukkan kepala.
"Maaf, Tuan."
"Siapkan jet pribadiku malam ini. Urus semua kebutuhanku selama di Sydney. Aku akan tinggal di sana beberapa hari."
"Baik, Tuan."
Desmon mengangguk patuh, meski hatinya terasa berat.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan?" tanyanya lagi. "Siapa yang akan menangani semuanya selama Anda pergi?"
"Aku sudah mempercayakannya kepada Hans. Sebagai General Manager, dia mampu mengendalikan perusahaan untuk sementara."
"Baik, Tuan."
Tak ada lagi yang bisa dibantah.
Desmon hanya mampu menghela napas pelan. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran tuannya. Demi seorang wanita yang bahkan bukan lagi bagian dari hidupnya, Eros rela meninggalkan istri yang baru saja dinikahinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Desmon segera menjalankan seluruh perintah tersebut.
...----------------...
Sementara itu, Eros berjalan menuju kamar utama.
Zenaya yang sedang merapikan beberapa barang langsung menoleh saat melihat suaminya datang.
Eros menghampiri wanita itu dengan senyum tipis yang berusaha terlihat tenang.
"Aku harus berangkat ke Sydney malam ini. Ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditunda."
Seketika senyum Zenaya memudar.
"Harus malam ini?" tanyanya lirih. "Tidak bisa besok pagi saja? Kau pasti kelelahan setelah seluruh rangkaian pernikahan kita hari ini."
Eros menggeleng pelan.
"Aku tidak apa-apa. Besok pagi aku sudah harus bertemu klien."
Seketika hati Zenaya terasa sesak.
Malam yang selama ini ia bayangkan sebagai awal kehidupan rumah tangga mereka harus berubah menjadi perpisahan.
Meski begitu, ia tetap memaksakan seulas senyum.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan barang-barangmu."
"Tidak perlu."
Eros menggeleng sambil tersenyum lembut.
"Desmon sudah menyiapkan semuanya. Kau istirahat saja. Hari ini pasti sangat melelahkan
untukmu."
Zenaya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Apakah Desmon juga ikut?" tanya Zenaya penasaran.
Eros menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Tentu. Dia sekretarisku, jadi aku pasti membutuhkannya selama perjalanan ini,"
jawabnya, diakhiri tawa kecil yang terdengar santai.
Zenaya ikut terkekeh pelan, merasa pertanyaannya sendiri terdengar sedikit lucu.
Bagaimanapun juga, ia harus terbiasa melihat Eros selalu ditemani Desmon ke mana pun urusan pekerjaan membawanya. Rasanya akan sangat aneh jika pria itu bepergian tanpa sekretaris kepercayaannya.
Jawaban Eros pun berhasil menghapus sedikit keraguan di benak Zenaya. Ia sama sekali tidak menaruh curiga terhadap alasan kepergian mereka ke Sydney. Dalam pikirannya, perjalanan itu murni untuk urusan bisnis.
Eros ikut tersenyum tipis.
"Mungkin aku akan berada di sana sekitar seminggu."
Kalimat itu membuat senyum Zenaya kembali memudar.
Namun ia segera menutupi perasaannya.
"Tidak apa-apa," ucapnya pelan.
"Yang penting pekerjaanmu berjalan lancar."
Padahal, jauh di dalam hatinya, ia sama sekali tidak ingin berpisah dengan suaminya, bahkan baru beberapa jam setelah mereka resmi menjadi pasangan.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka.
Zenaya segera berjalan dan membukanya.
Di balik pintu berdiri Desmon dengan sikap hormat.
"Selamat malam, Nona."
Ia sedikit membungkukkan badan.
"Tuan, jet pribadi sudah siap. Semua keperluan Anda juga sudah saya siapkan."
Eros mengangguk pelan.
"Baik."
...****************...
Tak lama kemudian, mereka bertiga berjalan keluar menuju halaman depan mansion megah.
Beberapa pelayan telah berbaris rapi sambil menundukkan kepala. Mobil mewah yang akan mengantar Eros ke bandara telah menunggu, begitu pula beberapa ajudan yang siap mengawal keberangkatannya.
Eros berhenti tepat di hadapan Zenaya.
Maafkan aku...
Kalimat itu ingin sekali ia ucapkan, tetapi tak pernah benar-benar keluar dari bibirnya.
Sebagai gantinya, ia mengangkat tangan dan mengusap lembut pipi halus istrinya.
Sentuhan hangat itu membuat Zenaya tersenyum tipis, meski matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan.
"Hati-hati di jalan," ucapnya lembut.
Lalu ia menoleh kepada Desmon.
"Desmon... aku titip suamiku."
Ucapan sederhana itu membuat dada Eros bergetar.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa kini dirinya telah menjadi seorang suami.
Namun, di saat yang sama, ia justru memilih pergi meninggalkan wanita yang telah sah menjadi pendamping hidupnya.
Desmon menatap Zenaya dengan penuh hormat.
"Baik, Nyonya. Jangan khawatir. Saya akan selalu berada di sisi Tuan Eros."
Zenaya mengangguk pelan.
Sesaat kemudian, pintu mobil dibukakan oleh salah seorang ajudan.
Eros masuk ke dalam mobil, disusul Desmon.
Mesin kendaraan itu perlahan menyala, lalu bergerak meninggalkan halaman mansion.
Zenaya tetap berdiri di tempatnya.
Ia terus menatap mobil yang semakin menjauh hingga lampu belakangnya menghilang di balik gerbang besar mansion.
Senyum yang sejak tadi ia pertahankan akhirnya memudar.
Malam pertama yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan berubah menjadi malam yang sunyi.
Tanpa disadarinya, air mata perlahan mengalir membasahi pipinya.
Ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri, menahan sesak yang memenuhi dada, sembari berharap suaminya benar-benar pergi demi pekerjaan... bukan karena alasan lain yang belum ia ketahui.