NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : Fajar Karang Tumpuk dan Warisan yang Terbakar

Malam yang panjang dan penuh aroma tak sedap itu akhirnya gulung tikar. Cahaya jingga keemasan perlahan menembus celah-celah pepohonan Hutan Larangan, menyambut pagi yang sejuk. Di tepi sumur tua, Sari masih terduduk dengan lutut gemetar. Di pangkuannya, jasad Nyai Seruni terbaring tenang. Wajah sang dukun yang tadinya menyeramkan bagai kerak neraka, kini kembali bersih dan tampak jauh lebih muda—seolah-olah kematian akhirnya sudi mengembalikan sisa-sisa paras aslinya yang telah lama dirusak oleh dengki.

"Nyai... bangkit dong, Nyai... aku mana kuat menggendong jasadmu sendirian sampai ke desa..." bisik Sari meratapi nasibnya yang terlunta-lunta.

Sari mencoba mengangkat jasad bibinya ke punggung. Namun, meskipun raga Seruni sudah menyusut, mengangkat sesosok mayat sendirian di tengah hutan rimba tetaplah pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra. Baru dua langkah melangkah sambil memanggul bibinya, kaki Sari tersandung akar pohon cemara yang mencuat.

GEDEBUK!

Sari dan jasad Seruni bergulingan ria di atas tumpukan daun kering. Kepalanya terantuk batang pohon, sementara jasad Seruni mendarat telentang dengan posisi tangan bersedekah yang sangat rapi di atas rumput.

"Aduh... ampun, Nyai! Bukan maksudku mengetes kekuatan tengkorakmu," meringis Sari sambil mengelus jidatnya yang benjol sebesar telur puyuh.

Sari memandangi jasad bibinya yang masih tampak santai telentang. Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncul sosok kera hitam yang tadi malam pingsan terkena "ledakan gas ghaib" Seruni. Kera itu berjalan agak sempoyongan dengan kepala miring—tampaknya masih mengalami efek samping pusing tujuh keliling akibat trauma aroma kemarin.

Melihat Sari yang kesusahan, kera itu mendengkus keras: "Uuk! Uuk!"

Si kera berjalan mendekati jasad Seruni, lalu dengan sangat terlatih, ia mengambil dua utas tali akar pohon yang menjuntai. Kera itu membantu mengikatkan kain jarik Seruni ke sebatang kayu besar, lalu mengisyaratkan Sari untuk memegang ujung satunya.

Sari membelalakkan mata. "Kamu... mau bantu aku menandu Nyai? Wah, ternyata racun bibiku kemarin bukan cuma membiusmu, tapi juga mengaktifkan naluri gotong royongmu ya?"

Kera itu hanya menepuk jidatnya sendiri dengan muka pasrah, seolah berkata, “Cepat jalan sebelum bau kemarin kumat lagi!”

Dengan bantuan si kera hutan yang berhati mulia (dan sedikit trauma), Sari berhasil membawa jasad Nyai Seruni kembali ke Desa Karang Tumpuk saat matahari sudah sepenggalah naik.

Suasana desa yang biasanya sepi mendadak gempar. Warga keluar dari rumah masing-masing dengan membawa sapu lidi, alu penumbuk padi, hingga kuali dapur sebagai senjata panggulan. Mereka mengira ada serangan makhluk halus, sebelum menyadari bahwa yang datang adalah Sari yang sedang menandu jasad Nyai Seruni bersama seekor kera hitam yang memakai topi dari daun talas.

"Itu Sari! Dan... Nyai Seruni sudah mati!" teriak salah seorang warga.

"Tunggu! Kenapa bau busuknya hilang?" sahut warga lainnya sambil mengendus-endus udara dengan ragu. "Malah bau minyak kayu putih dan daun talas?"

Pak RT setempat, Pak Karto, melangkah maju dengan memegang tongkat bambu. "Sari! Apa yang terjadi? Kenapa dukun itu... Maksudku, bibimu... tampak seperti orang tidur biasa?"

Sari menurunkan tandu kayu itu perlahan dengan bantuan si kera—yang langsung melesat naik ke atas pohon kelapa begitu melihat kerumunan warga. Sari mengusap keringat di dahinya, lalu menghembuskan napas panjang.

"Nyai Seruni sudah pergi dengan tenang, Pak RT," jawab Sari jujur. "Semua racun, penyakit, dan pelaris ghaibnya sudah sirna. Beliau sudah meminta maaf pada Mbok Sumi, Kang Marno, dan Nyi Pertiwi sebelum napas terakhirnya dihembuskan."

Mendengar nama-nama korban tersebut disebut, warga desa saling berbisik. Rasa benci dan dendam yang selama belasan tahun membakar desa itu perlahan-lahan lumer, berganti dengan rasa iba melihat raga sang Nyai yang kini tak berdaya.

Proses pemakaman Nyai Seruni berlangsung sederhana namun penuh khidmat. Tidak ada lagi gangguan ghaib, tidak ada angin puyuh, maupun raungan aneh dari dalam tanah. Bumi Karang Tumpuk akhirnya mau menerima raga perempuan yang pernah dipenuhi rasa iri dan dengki tersebut.

Setelah pemakaman usai, Sari kembali ke rumah panggung tua milik bibinya. Rumah yang dulu terasa sangat mencekam dan berbau empedu itu kini terasa lapang, meskipun sepi. Di tengah ruangan, kotak kayu jati berukir ular masih tergeletak terbuka.

Di dalam kotak itu, tersisa belasan gulungan lontar, keris kecil tanpa warangka, dan minyak-minyak racun petunduk. Semua itu adalah simbol dari kemungkaran besar yang pernah dilakukan Seruni semasa hidupnya yaitu Sihir dan Persekutuan dengan Ilmu Hitam (Syirik).

Sari mengambil korek api dan minyak tanah. Tanpa ragu sedikit pun, ia membawa kotak jati beserta seluruh isinya ke halaman rumah.

"Segala benda keramat dan racun ini tidak boleh ada lagi di dunia," gumam Sari mantap.

Ia menyiramkan minyak tanah dan menyulutkan api. Dalam hitungan detik, kobaran api merah keemasan melahap kotak jati, lontar-lontar ilmu hitam, dan keris pusaka milik Seruni. Asap hitam membumbung tinggi ke udara, membawa terbang sisa-sisa kegelapan yang pernah mencengkeram desa itu selama puluhan tahun.

Jangan pernah tergiur untuk meminta bantuan ilmu hitam, sihir, atau menggunakan jalan-jalan yang dimurkai Allah hanya demi memuaskan rasa dengki dan rasa sakit hati. Kemenangan yang didapat dari jalan sihir adalah ilusi semata yang pada akhirnya akan menagih bayaran teramat mahal—berupa kehancuran raga, hilangnya kedamaian jiwa, dan siksa neraka.

Allah SWT menegaskan dengan sangat jelas dalam Al-Qur'an bahwa perbuatan sihir adalah kemungkaran yang tidak akan pernah membawa keberuntungan atau kemenangan bagi pelakunya:

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

"Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang."

(QS. Thaha: 69)

Sari berdiri menatap puing-puing abu dari kotak jati yang telah habis terbakar. Angin sore berembus membawa kehangatan baru di Desa Karang Tumpuk. Sari tersenyum tenang, mengetahui bahwa perjalanan panjang bibinya telah usai, dan desa tempat tinggalnya kini telah bebas dari cengkeraman racun dengki selamanya.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!