NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:131.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Malamm kian merayap pekat di atas langit Gang Kelinci. Suara bising knalpot motor yang memekakkan telinga dari para pemuda yang nongkrong di ujung gang, bersahut-sahutan dengan suara tangis bayi dari rumah tetangga sebelah yang dindingnya hanya bersekat batako tipis. Udara di dalam rumah peninggalan almarhum suami pertama Ibu Rahma itu terasa sangat pengap, panas, dan berbau lembap khas bangunan tua yang sudah bertahun-tahun ditelantarkan.

​Ini adalah malam kedua semenjak Hanif, Ibu Rahma, dan Sarah diusir secara tidak hormat oleh Tian dan Papa Irwan dari istana mewah milik Hanum. Dua malam yang terasa seperti neraka jahanam bagi mereka yang biasanya tidur di atas kasur busa premium berselimut pendingin ruangan.

​"Aduh! Panas sekali rumah ini! Panas, Hanif!" omel Ibu Rahma untuk kesekian kalinya malam itu.

​Wanita paruh baya itu duduk di atas tikar plastik yang sudah robek di beberapa sudut, tangannya sibuk mengibas-ngibaskan selembar kardus bekas untuk menghalau gerah. Wajahnya yang dulu selalu dipoles bedak mahal kini tampak kusam, berminyak, dan dipenuhi gurat kekesalan yang luar biasa.

​"Sabar, Ibu... Hanif juga sedang mengusahakan mencari kipas angin bekas besok. Uang kita benar-benar habis, Bu. Rekening Hanif diblokir semua oleh orang-orang sialan itu," sahut Hanif yang duduk bersandar pada dinding rumah yang catnya sudah mengelupas dan berjamur.

​Penampilannya sangat berantakan kemeja mahalnya kini kusut dan dia hanya mengenakan celana pendek. Hubungan cinta yang dulu dia agung-agungkan di depan Hanum kini mendadak terasa hambar ketika dihadapkan pada kenyataan perut yang kelaparan.

​"Sabar bagaimana?! Ibu tidak bisa tidur dua malam ini! Nyamuknya sebesar-besar jempol! Kulit Ibu sudah bentol-bentol semua!" pekik Ibu Rahma lagi, suaranya yang melengking menembus celah ventilasi rumah dan terdengar jelas oleh orang-orang yang lewat di luar gang.

​Kondisi rumah warisan dari ayah kandung Hanif ini memang sangat memprihatinkan. Atapnya di bagian dapur sudah ada yang bocor, dan ruang tengahnya sangat sempit, hanya berukuran tiga kali empat meter. Jangankan sofa mewah, untuk meluruskan kaki saat tidur saja mereka harus saling berhimpitan.

​Penderitaan mereka semakin lengkap karena tanggapan dari para tetangga sekitar yang sama sekali tidak ramah. Tadi sore, saat Ibu Rahma mencoba keluar rumah untuk membeli tabung gas di warung kelontong depan, janda-janda tua yang sedang berkumpul di sana langsung membuang muka. Beberapa di antara mereka bahkan secara terang-terangan menyindir dengan suara keras.

​"Eh, ada mantan orang kaya baru pulang kampung ya? Dulu waktu dijemput mobil mewah pas nikah lagi sama bos besar, jalannya mendongak sampai hidungnya mau copot. Rumah ini dibilang kandang kambing yang tidak sudi dia injak lagi. Kok sekarang balik lagi ke kandang kambing? Diusir ya?"

​Kata-kata tajam dari tetangga itu masih terngiang-ngiang di telinga Ibu Rahma, membuat dadanya sesak karena malu dan dongkol setengah mati. Dulu, saat dipungut oleh Papa Irwan dari kemiskinan, Ibu Rahma memang meninggalkan lingkungan itu dengan cara yang sangat sombong. Dia memutus komunikasi dengan semua tetangga lama, mengklaim dirinya sudah menjadi nyonya besar, dan menghina daerah asal tempat dia melahirkan Hanif. Kini, takdir memutar roda kehidupannya dengan sangat kejam, memaksanya kembali merangkak di tempat yang paling dia benci.

​Dari arah dapur yang gelap dan hanya diterangi bohlam lima watt, Sarah berjalan keluar sambil membawa sebuah nampan plastik. Di atasnya terdapat tiga piring plastik berisi nasi putih hangat dan lauk seadanya; tumis kangkung yang warnanya sudah menghitam serta beberapa potong tempe goreng yang bentuknya tidak beraturan.

​"Ibu... Mas Hanif... ini makan malamnya sudah siap. Maaf ya, bahannya cuma ada ini di pasar tadi," ucap Sarah dengan suara yang dibuat selembut mungkin, mencoba mengambil hati ibu mertuanya yang sejak kemarin terus-menerus menekuk wajah.

​Ibu Rahma melirik sinis ke arah piring yang diletakkan Sarah di atas tikar. Beliau meraih sendok dengan kasar, menyuapkan sedikit tumis kangkung dan nasi itu ke dalam mulutnya. Namun baru dua kali mengunyah, Ibu Rahma langsung menyemburkan kembali makanan itu ke atas lantai dengan ekspresi wajah yang sangat jijik.

​"Uhuk! Uhuk! Makanan apa ini?! Asin sekali seperti air laut! Kangkungnya juga keras seperti karet ban! Kamu ini bisa masak tidak, sih?!" omel Ibu Rahma meledak-ledak, melemparkan sendoknya hingga berdenting keras di lantai semen.

​Sarah seketika terkejut, matanya berkaca-kaca karena tertekan. "Maaf, Ibu... tadi Sarah buru-buru. Lagipula kompornya apinya kecil sekali, jadi..."

​"Alasan saja kamu! Menantu tidak berguna!" potong Ibu Rahma tanpa belas kasihan. "Dulu sebelum kamu menikah dengan Hanif, saat kamu masih jadi selingkuhannya, kamu sering membawakan Ibu rantangan makanan. Kamu selalu bilang kalau itu masakanmu sendiri, dan rasanya enak sekali sampai Ibu memuji-muji kamu di depan Hanif! Tapi kenapa sekarang setelah tinggal bersama, masakanmu hambar dan menjijikkan seperti ini?! Hah?!"

​Sarah menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan rasa malu yang teramat sangat. Di dalam hatinya, Sarah berteriak panik. Kebenaran yang sebenarnya adalah, dulu saat dia masih berusaha merebut Hanif dari tangan Hanum, seluruh makanan rantangan yang dia bawa untuk mengambil hati Ibu Rahma adalah makanan yang dia beli dari restoran katering mahal. Sarah sengaja memindahkannya ke dalam wadah rantang plastik rumahan agar terlihat seolah-olah dia adalah wanita saleha yang pandai memasak, demi menandingi Hanum yang sibuk bekerja di kantor. Kini, setelah mereka jatuh miskin dan dia dipaksa memasak sungguhan dengan bahan murah, kedoknya sebagai wanita idaman perlahan mulai terkelupas habis.

​Hanif yang melihat perdebatan itu hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa sangat pening. Dia mencoba memakan bagian makanannya, namun rasa tempe yang gosong dan nasi yang agak mentah itu membuat tenggorokannya benar-benar tersumbat.

​"Sudahlah, Sarah... kalau memasak itu yang benar. Ibu sedang emosional, jangan ditambah dengan makanan yang tidak layak seperti ini," tegur Hanif, suaranya terdengar mulai dingin dan tidak lagi sehangat dulu. Logika Hanif mulai berjalan seiring dengan perutnya yang lapar dia mulai membandingkan pelayanan Sarah dengan Hanum.

​Dulu, di rumah mewah mereka, sesibuk apa pun Hanum mengurus perusahaan, Hanum selalu memastikan bahwa makanan yang tersaji di atas meja makan adalah makanan kelas satu yang dimasak dengan higienis oleh koki atau asisten rumah tangga yang terlatih. Hanif tidak pernah sekalipun harus mencium bau asap dapur atau memakan nasi mentah. Hanum selalu menyambutnya dengan wangi parfum premium dan senyuman anggun, bukan dengan wajah kusam penuh keringat dan omelan mertua seperti yang ditunjukkan Sarah malam ini.

​"Mas... kok kamu malah ikut menyalahkan aku?" bisik Sarah dengan air mata yang mulai menetes bebas di pipinya. "Aku sudah berusaha sebisaku di dapur yang sempit itu..."

​"Halah! Menangis saja kerjaanmu! Menangis tidak akan membuat rumah ini jadi dingin atau masakanmu jadi enak!" semprot Ibu Rahma lagi, memalingkan mukanya dengan sisa kemarahan yang meluap-luap. "Kalau tahu begini jadinya, Ibu tidak akan sudi merestui Hanif menikah sirimu kemarin! Sialan! Ini semua gara-gara perempuan sialan ini, hidup kita jadi hancur!"

​Malam itu, di dalam rumah petak yang pengap dan dikelilingi oleh cibiran tetangga, penyesalan yang teramat mendalam mulai merayap pelan di dalam sudut hati Hanif dan Ibu Rahma. Mereka baru menyadari bahwa ketika mereka memilih untuk membuang emas demi mendapatkan kerikil jalanan, takdir tidak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang. Dan besok pagi, badai yang sesungguhnya surat gugatan cerai dari Hanum dan Pak Baskoro sudah siap dikirimkan untuk meremukkan sisa-sisa hidup mereka yang sudah hancur berantakan

1
Bundo yenti
Bagus banget ceritanya.... saya suka sikap tegas tokohnya
Noey Aprilia
Wjar aja kl hanum galau bgt....
lmaran aja pke map yg isinya ky proposal biar prshaan mau krjsma,mskpn yg ni isinya klebihan dia sndri sih...🤣🤣🤣...
jd pgn ngakak ngebyangin tiap hri ktmu,trs kl lg diskusi yg d bhas pke bhsa formal.....
Jetva
Tiaaaan..Tian..bagaimana cwq mau terkesan....lah kamu aza klo ngomong pake rumus fisika n kimia....🤣🤣🤣
susi ana
kira2 nanti setelah resmi pas MP nya pakek perhitungan korporat atau gravitasi atau medan magnet ya Thor?
aku tertawa sendiri membayangkan lanjutan ceritanya....
semangat💪
blcak areng: kak😁😁😁
total 1 replies
Muft Smoker
gx kebayang tuh penjual bunga tekanan darah ny naik apa malah turun drastis gara2 si tian Listrik ,, 😂😂😂
Muft Smoker
papa irwan totalitas marah nya ,, telan lgi aj pak ank ny ,, 😂😂😂😂
Meity Londok
bagus hanum.hancurkan musuh musuhmu
Noey Aprilia
Aku ngebyangin muka pnjual bunganya....antara pgn nyakar orng,sm gemes pgn nabok.....🤣🤣🤣....
Niken Ns
aduh udh ga sabar nunggu lamarannya
Jetva
🤣🤣🤣🤣HANIIIIIF....HANIF....KAGETAN KAYA, BANYAK DUIT...PENGEN PUNYA ISTRI LEBIH DARI 1🤣🤣🤣..ALASAN ISTRI GA ADA DI RUMAH....🤣🤣🤣 LAH..GILIRAN ISTRI ADA DI RUMAH, LU GA PUNYA APA" BUAT NYENANGIN ISTRI LU YG DUDUK MANIS DI RUMAH🤣🤣🤣🤣
Jetva
🤔Tian sebenarnya udah naksir dr awal...🤔🤔
🥀
suka karakter istri" yg begini
Jetva
🤣🤣Hanif dgn angkuhnya ngomong ke Hanum..kamu bisa tanpa aku......🤣🤣🤣..sekarang kamu merangkak seperti buaya...setelah persidangan, kamu akan merayap seperti ular...🤣🤣🤣
Muft Smoker
ni namany dingin dingin empuuk ,,
itu laa tian dingin di luar tetapi lembut di dalam ,, 😁😁😁😁😁
Muft Smoker
sebenarny tian tu kaku dingin Dan agak absurd dikit num ,, tp kalo soal tanggung jawab Dan perhatian dy gx main2 num ,,
Rahmawati Amma
itu temanilah suamimu dari nol 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
rasain lo🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
balas aja hanum nanti menikah aja sama kakak tirinya si hanif🤣🤣🤣
PNC
ibunya Hanif kenapa sebenarnya
Jetva
logam bukan lembar, Thor.....klo kunci ya sebuah kunci...klo koin ya sekeping koin...
blcak areng: iya kak maaf🙏 kadang ngantuk pas nulis 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!