Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Ayahnya justru melangkah satu langkah lebih dekat. "Kamu tega sekali sama Ayah."
Kalimat itu membuat pertahanan Dira runtuh. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. "Pergilah..." Ia menggeleng berulang kali. "Tolong... jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Suara Dira semakin lirih. "Aku sudah berusaha sangat keras untuk melupakan semuanya."m Aku ingin lepas dari trauma ini. Aku mohon..." Tangisnya pecah. "Aku tidak akan pernah memberimu apa pun. Jadi jangan datangi aku lagi." saat itu Dira menekan nomor darurat di Hpnya. Nomor Beri.
"Tolong... Biarkan aku hidup tenang. Aku sudah sangat lelah..." Tubuh Dira semakin gemetar. Bertahun-tahun ia membangun hidup baru. Mendirikan perusahaan. Mengubah nasibnya. Namun setiap kali lelaki itu muncul, semua luka yang berusaha ia sembuhkan seolah kembali terbuka. Di hadapan dunia, Dira adalah seorang pengusaha sukses yang disegani. Tetapi di hadapan pria yang pernah menjualnya demi sebotol minuman keras Ia masih menjadi gadis enam belas tahun yang ketakutan dan terus memohon agar mimpi buruk itu benar-benar berakhir.
Pria itu tersenyum tipis, seolah menikmati ketakutan yang terpancar di wajah putrinya. "Hei, anak baik," katanya santai. "Tidak boleh menolak ayahmu. Itu namanya durhaka."
Dira menggeleng kuat. "Bukan..." Air matanya terus mengalir. "Tolong..." Ia ingin berteriak meminta bantuan. Namun tenggorokannya seperti tercekat. Tak ada suara yang keluar. Tubuhnya begitu kaku hingga bahkan melangkah mundur pun terasa sulit.
Melihat itu, ayahnya justru semakin percaya diri. "Bagi Ayah uang." Ia mengulurkan tangan. "Setelah itu, Ayah akan melepaskanmu. Ayah cuma butuh makan. Jangan pelit." Nada suaranya berubah menjadi seolah-olah penuh jasa. "Sejak kecil, kaulah yang Ayah rawat. Ibumu saja meninggalkanmu."
Kalimat itu membuat Dira membeku. Lalu perlahan ia menggeleng. "Tidak..." Untuk pertama kalinya, ingatan yang selama ini terkubur kembali bermunculan. Wajah ibunya. Tangisnya. Rumah kumuh mereka. Lalu pertengkaran yang hampir setiap malam terjadi. Potongan-potongan kenangan itu menyatu. Bukan... Ibunya tidak meninggalkannya!
Air mata Dira mengalir semakin deras. "Jangan bohong..." bisiknya lirih. "Aku ingat..." Suara Dira bergetar hebat. "Ibu tidak meninggalkanku..." Tatapannya berubah penuh kebencian. "Ibu meninggal..." Napasnya tersengal. "Karena Ayah."
Pria itu tampak terkejut sesaat.
Namun Dira terus berbicara di sela isak tangisnya. "Ayah menjual Ibu... Ibu tidak sanggup menanggung semua penderitaan itu. Bahkan saat ibu hamil karena dijual, kau menginjak perutnya hingga ia keguguran. Beliau depresi... Dan akhirnya meninggal." Tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya menancap ke telapak tangan. "Ayah bukan kehilangan istri. Ayah yang menghancurkan hidupnya."
Suasana mendadak sunyi. Wajah pria itu berubah tegang.
Sementara Dira masih berdiri gemetar. Selama bertahun-tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa ibunya telah meninggalkannya. Namun malam ini, ingatan yang terkubur itu akhirnya kembali. Kebenarannya jauh lebih menyakitkan. Perempuan yang paling menyayanginya tidak pernah pergi dengan kemauannya sendiri. Melainkan menjadi korban dari kekejaman lelaki yang kini kembali berdiri di hadapannya.
Tatapan ayah Dira berubah gelap. Tak ada lagi kepura-puraan di wajahnya. Dalam sekejap, ia menerjang ke arah Dira. Brak! Tangannya mencengkeram leher Dira dengan kuat.
Dira membelalakkan mata. Kedua tangannya spontan berusaha melepaskan cengkeraman itu. Namun tenaga lelaki itu jauh lebih besar. "Ngh..." Napasnya mulai tersendat. Wajahnya memerah. Air mata mengalir tanpa henti.
Ayahnya menatapnya penuh amarah. "Jadi sekarang kau menyalahkanku?" Cengkeramannya semakin kuat. "Siapa suruh jadi perempuan lemah!" ia menyeringai. "Bagaimana kalau ku buat saja kau menyusulnya ke neraka sana!"
Dira mulai kehilangan tenaga. Pandangannya berkunang-kunang. Suara di sekitarnya perlahan menghilang. Ia hanya mampu memukul lengan ayahnya dengan lemah. "To...long..." Tubuhnya mulai lunglai.
Tepat saat kesadarannya hampir menghilang... Brak! Seseorang menghantam tubuh ayah Dira dari samping hingga cengkeraman di leher Dira terlepas. Lelaki itu tersungkur beberapa meter.
Dira langsung jatuh berlutut sambil batuk-batuk hebat. "Huk... huk..." Ia memegangi lehernya yang terasa perih, berusaha menghirup udara sebanyak mungkin.
Sementara itu, sosok yang baru datang berdiri di depan Dira, menghadang ayahnya. Beri. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kemarahan. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Ayah Dira bangkit sambil mengusap sudut bibirnya. "Ini urusan keluarga."
Beri melangkah maju. "Sejak kau mencoba membunuh putrimu sendiri, ini bukan lagi sekadar urusan keluarga."
Ayah Dira berusaha menyerang kembali. Namun Beri lebih sigap. Ia menangkis pukulan itu, lalu melumpuhkan lelaki tersebut hingga tidak mampu melawan lagi. Beberapa petugas keamanan apartemen yang mendengar keributan segera berlari menghampiri. "Ada apa, Pak?"
Beri tetap menahan ayah Dira agar tidak kabur. "Hubungi polisi. Orang ini baru saja mencoba mencekik seorang perempuan."
Petugas keamanan segera menghubungi pihak berwajib.
Sementara itu, Beri berlutut di samping Dira. "Dir..."
Dira masih batuk-batuk. Napasnya belum sepenuhnya pulih. Lehernya memerah akibat bekas cengkeraman.
Beri menatapnya dengan cemas. "Hei... lihat aku."
Dira perlahan mengangkat wajah. Begitu melihat Beri, air matanya kembali pecah. "Aku..." Suaranya serak. "...aku takut."
Tanpa berkata apa-apa, Beri merangkul bahu Dira untuk menenangkannya. "Sudah. Aku di sini. Dia tidak akan menyentuhmu lagi."
Untuk pertama kalinya malam itu, Dira merasa cukup aman untuk berhenti melawan. Ia menutup wajahnya sambil menangis di bahu orang yang selama ini selalu hadir ketika masa lalunya kembali mengejar.
Setelah memberikan keterangan singkat kepada pihak kepolisian, Beri mengantar Dira menuju unit apartemennya. Sepanjang perjalanan menuju lift, Dira tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya masih gemetar. Wajahnya pucat. Sesekali ia refleks menoleh ke belakang, seolah takut ayahnya tiba-tiba muncul lagi.
Pintu apartemen terbuka. Begitu masuk ke dalam, Dira meletakkan tasnya begitu saja di lantai. Pertahanan yang sejak tadi ia bangun akhirnya runtuh. Tangisnya pecah. Ia menutup wajah dengan kedua tangan sambil terisak. "Kak..." Suaranya bergetar hebat. "Ia akan membunuhku..." Bahu Dira bergetar menahan tangis. "Ia tidak akan pernah melepaskanku. Aku takut... Aku benar-benar takut..."
Beri tidak memotong ucapannya. Ia membiarkan Dira meluapkan semua ketakutan yang selama ini disimpannya. Beberapa menit kemudian, setelah tangis Dira mulai mereda, Beri mengambil segelas air hangat dan meletakkannya di atas meja. "Minum dulu."
Dira menggeleng pelan. "Aku tidak tenang..."
Beri duduk di sofa yang berhadapan dengannya. "Dengarkan aku."
Dira perlahan mengangkat wajahnya.
"Ayahmu sudah diamankan oleh polisi. Petugas keamanan apartemen juga sudah memberikan rekaman CCTV sebagai barang bukti. Untuk malam ini, dia tidak akan datang ke sini."
Dira masih menggigit bibirnya. "Tapi kalau dia keluar..."
"Kita pikirkan nanti." Beri menjawab dengan tenang. "Yang penting sekarang, kamu aman."
Dira kembali menunduk. Trauma yang selama bertahun-tahun berusaha ia tekan kini muncul lagi dengan begitu kuat. Tubuhnya masih sesekali bergetar tanpa bisa ia kendalikan.