Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Kembali
"Onty kan sudah janji mau ajali Kai kalau bisa lempal itu timun ke papan tepat sasalan. Ini Onty malah langsung pelgi," rengek Kai sambil mengikuti Callie masuk ke dalam rumah.
"Iya, Onty ajari Kai buat tembak dan panah kalau umurnya sudah 10 tahun. Sekarang masih kecil sebesar kuaci jadi lempar timun aja," ucap Callie memberikan alasan.
Callie tak menyangka kalau Kai bisa melemparkan timun itu tepat sasaran pada papan target menembak. Apalagi kekuatan tangan Kai juga sangat kuat hingga Callie malah ngeri sendiri. Dia jadi melihat dirinya saat kecil pada sosok Kai. Ternyata ini yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya saat dia mulai mempelajari menembak dan memanah. Semua orang khawatir dengan kehebatannya itu.
Begitu pula dengan Kai, Callie malah khawatir sendiri kalau keponakannya bisa menembak. Padahal awalnya dia sendiri yang mengenalkan tembak seperti ini pada Kai. Callie menatap Kai yang meluruhkan bahunya lesu. Tampaknya Kai tidak akan senekat dia yang belajar sendiri walaupun dilarang. Callie pun duduk di ruang makan sambil makan buah, diikuti oleh Kai.
"Kai aja balu umul 3 tahun lho, Onty. Masih 7 tahun lagi, lama kali. Kebulu ubanan nanti Kai," protes Kai yang tak terima dengan keputusan Callie.
"Ubanan? Ya kali cuma nunggu 7 tahun bisa ubanan," ceplos Callie sambil menggelengkan kepalanya.
"Bisa, nanti Kai semil ini lambutnya jadi putih. Sehali satu helai lambut, bial jadi kaya ubanan." Kai mempraktikkan bagaimana dia akan mewarnai rambutnya per helai.
"Itu nggak ubanan namanya. Ada-ada aja sih,"
"Onty capek, mau bobok manis. Mending Kai pulang aja," usir Callie pada Kai.
"Onty tega kali mengusil balita paling tampan seluluh dunia ini? Sungguh teganya. Kai kutuk Onty jadi bakwan lho ntal," seru Kai tak terima diusir oleh Callie.
Percuma tampan, tapi nggak punya duit.
Hahaha...
Callie tertawa melihat Kai melongo mendengar ucapannya. Dia merasa harga dirinya dijatuhkan oleh Callie. Dia memang tampan, tapi tidak punya uang. Berbeda dengan Callie, waktu kecil sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Itu kata Opanya sendiri. Callie pun menggendong Kai yang langsung merebahkan kepalanya pada bahu Onty kesayangannya itu.
"Cala bial dapat uang banyak gimana sih, Onty Callie? Kata Opa, Onty waktu kecil sudah banyak uang lho." tanya Kai pada Callie yang membawanya ke kamar.
"Nanti malam, Onty jaga lilin. Kai nanti yang keliling rumah ini cuma pakai popok doang. Pasti dapat duit banyak," ceplos Callie dengan asal.
"Emangnya bisa?" tanya Kai dengan tatapan penasarannya. Bahkan Kai langsung melihat ke arah wajah Callie yang terlihat begitu serius. Walaupun begitu, Callie berusaha mati-matian untuk menahan tawanya karena Kai sangat lugu. Otaknya belum tercemar ucapan tak berfaedah. Pantas saja Ibunya sangat posesif ketika Kai dekat dengan Callie.
"Bisa dong. Ini cuma Onty Callie doang yang tahu caranya. Mama dan Papamu itu, nggak tahu. Makanya uang mereka nggak sebanyak punya Onty," ucapnya dengan sombong.
Kai terdiam mendengar ucapan Callie. Dia berusaha mencerna dan berpikir apakah harus mempercayai Callie atau tidak. Pasalnya Mika selalu memberi peringatan pada Kai untuk tidak percaya pada Callie. Namun ucapan Callie ini terlihat benar. Pasalnya uang Callie jauh lebih banyak dibandingkan orangtuanya. Callie duduk saja, uangnya mengalir deras.
"Nanti Kai pikil-pikil dulu. Soalnya ada bau-bau plenk lagi ini," Kai pun kembali merebahkan kepalanya pada bahu Callie setelah berpikir cukup lama.
"Keburu nanti Onty malas ngajarin kalau kamu mikirnya kelamaan," ucap Callie sambil terkekeh geli.
"Ndak bisa bulu-bulu kasih keputusan, Onty Callie. Kai sudah seling dibohongi sama Onty Callie. Ini hanya untuk antisisapi," ceplos Kai membuat Callie membulatkan matanya.
Antisipasi, bukan antisisapi. Sapinya siapa yang mau antisisapi,
Sama aja, Onty. Ada antinya,
Sudah lah, ayo mending tidur aja. Bikin ngantuk,
***
Sedangkan di tempat lain, Ricko sedang menemui Ronand dan Lucky. Lebih tepatnya karena mandat yang diberikan oleh Opa buyutnya untuk menemui mereka. Ini hal terkait tentang dunia bawah. Apalagi mereka berdua, kemampuannya sudah tak dapat diragukan lagi. Walaupun usia keduanya sekarang sudah di atas 50 tahun, tapi pemikiran mereka masih dapat diperhitungkan. Bahkan beberapa kali Opanya masih meminta masukan dari Ronand dan Lucky.
"Salam, Tuan Ronand dan Tuan Lucky." Ricko menundukkan dan membungkukkan kepalanya sedikit untuk memberikan salam pada keduanya.
"Jangan terlalu formal, Ricko. Anda itu cucunya Tuan Brixy yang terkenal jadi sudah kami anggap sebagai saudara sendiri. Tapi bukan karena terkenalnya Tuan Brixy, kami menghormati kamu. Melainkan Tuan Brixy sendiri yang selalu baik sama kami," ucap Lucky dengan santainya.
"Terimakasih, Om Lucky." Akhirnya Ricko memilih memanggil Lucky dengan panggilan Om. Usia Lucky dengan Ayahnya mungkin hampir sama.
"Tidak masalah. Jadi ada apa, Ricko? Sepertinya sangat serius sekali," tanya Lucky yang kemarin membaca email dari Ricko. Dia dan Ronand sudah lama tidak bergelut dalam dunia bawah secara langsung. Apalagi sudah ada Callie yang kemampuannya melebihi dia dan Ronand.
"Saya meminta untuk DEVIL CROWN hati-hati mengeluarkan dan mengirimkan senjata. Namun kemarin tiba-tiba ada senjata buatan DEVIL CROWN yang dipegang oleh lawan. Saya sudah mengirimkan email kepada pemimpinnya sekarang, tapi dijawab..."
Ricko menjeda ucapannya kemudian memperlihatkan layar ponselnya pada Ronand dan Lucky. Terdapat sebuah jawaban email dari organisasi DEVIL CROWN "telur gulung sepuluh tusuk dulu". Ronand dan Lucky menepuk dahinya secara bersamaan. Sudah pasti ini adalah ulah Callie. Namun Callie yang menanggapi santai permasalahan ini, artinya dia sudah tahu asal usul lawan. Mereka mengetahui bagaimana Callie begitu selektif dalam mengeluarkan senjata buatannya.
"Mungkin Om Lucky dan Om Ronand bisa bicara langsung atau diskusi dengan pemimpin yang sekarang agar tidak salah langkah," ucap Ricko memberikan saran.
"Pemimpin yang sekarang itu analisanya jauh lebih kuat dibandingkan kami, Ricko. Dia pasti ada alasan mengapa sampai senjata itu ada di tangan lawan," ucap Lucky membela anaknya. Dia tahu persis bagaimana Callie bertindak. Pasti ada alasan tertentu mengapa dia santai saja menanggapi teguran dari Ricko yang notabene organisasinya jauh di atas DEVIL CROWN.
"Kamu sudah hubungi Rendra? Atau baru mengirim email kepada pemimpin yang sekarang?" tanya Ronand tiba-tiba.
"Sudah. Dia akan bertanya pada pemimpinnya, hanya saja sampai sekarang belum ada tanggapan." ucap Ricko sambil menghela nafasnya pelan.
Siapa sebenarnya pemimpin DEVIL CROWN yang sekarang, Om?
Apa dia itu salah satu anggota keluarga kalian? Jika iya, bersiap lah karena cicit dari teman Opa kalian ingin merebut kepemimpinan DEVIL CROWN.
Apa?