Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membasmi Rumput Hingga ke Akarnya
Udara di dalam ruang tamu mansion Wijaya terasa lebih dingin daripada dataran es abadi. Hendra Wijaya, sang Patriark yang biasanya memerintah ribuan bawahan di dunia bisnis dan bawah tanah kota, kini kehilangan seluruh warna di wajahnya.
Melihat Tetua Gu yang diagungkannya tergeletak tak berdaya dengan Dantian hancur, pertahanan mental Hendra runtuh sepenuhnya.
Bruk!
Hendra menjatuhkan dirinya ke lantai marmer yang dingin, berlutut di hadapan pemuda berpakaian lusuh tersebut.
"T-Tuan Lin! Tuan Lin Tian yang agung!" ratap Hendra, membuang jauh-jauh seluruh martabatnya. "Keluarga Wijaya kami memiliki mata namun gagal melihat Gunung Tai! Tolong, ampuni nyawa anjing kami! Seluruh aset, perusahaan, triliunan rupiah uang tunai, dan batu giok di brankas kami... semuanya akan menjadi milik Anda! Jadikan kami anjing peliharaan Anda!"
Di sampingnya, Bima Wijaya ikut bersujud, menangis tersedu-sedu hingga air mata dan ingus membasahi wajah tampannya. "A-Arya... tidak, Tuan Lin! Aku mohon, aku masih muda! Aku berjanji tidak akan pernah mengganggu Maya lagi! Aku akan bersujud seribu kali di depannya!"
Arya menatap ayah dan anak yang merendahkan diri di kakinya dengan ekspresi tak acuh. Di Sembilan Langit dan Sepuluh Bumi, ada satu hukum mutlak yang dipegang teguh oleh setiap Kaisar Immortal yang berhasil merangkak ke puncak piramida kultivasi: Membasmi rumput harus sampai ke akarnya.
"Batu giok dan kekayaan fana kalian memang akan menjadi milikku. Tapi aku tidak membutuhkan anjing yang pernah mencoba menggigit keluargaku," ucap Arya pelan.
Ia menjentikkan jarinya ke udara. Setitik Qi Sejati yang dipadatkan melesat keluar, berubah menjadi dua jarum energi yang tak kasatmata.
Pft! Pft!
Dalam sepersekian detik, jarum Qi itu menembus tepat di titik meridian mematikan di antara alis Hendra dan Bima Wijaya. Ayah dan anak itu membeku. Pupil mata mereka melebar sebelum perlahan kehilangan cahayanya. Tanpa setetes darah pun yang tumpah, tubuh mereka ambruk ke lantai, nyawa mereka telah terputus sepenuhnya dari siklus reinkarnasi.
Tetua Gu yang menyaksikan eksekusi rapi dan tanpa ampun itu gemetar hebat. Kekejaman macam apa ini? Bahkan iblis dari sekte aliran hitam pun tidak membunuh dengan ketenangan sedingin ini!
Arya melirik Tetua Gu sebentar. "Aku sudah berjanji menyisakan mayat yang utuh untukmu."
Dengan lambaian tangannya, Arya mengirimkan gelombang Qi yang langsung menghancurkan organ dalam Tetua Gu, mengakhiri penderitaan pria tua itu seketika.
Setelah ruangan itu sunyi dari napas makhluk hidup, Arya berjalan menuju ruang kerja Hendra di lantai dua, mengikuti jejak energi tipis yang ditangkap oleh Mata Wawasan Dao-nya. Di balik lukisan kuno, ia menemukan sebuah brankas baja yang langsung ia robek dengan tangan kosong.
Di dalamnya, terdapat puluhan batang emas, sertifikat tanah, dan yang terpenting: tiga buah kotak kayu cendana. Ketika Arya membukanya, matanya sedikit bersinar.
"Batu Giok Darah berusia ratusan tahun," gumamnya, merasakan fluktuasi energi spiritual di dalam giok merah tersebut. "Meski kualitasnya di alam semesta sangat rendah, ini cukup bagiku untuk menyusun Array Pengumpul Roh di apartemen dan menembus Ranah Kondensasi Qi Lapis Ketiga."
Malam itu, rezim Keluarga Wijaya yang telah mengakar selama puluhan tahun hancur lebur menjadi debu sejarah. Saat fajar menyingsing, Arya melangkah keluar dari mansion yang terbakar oleh Api Dao miliknya.