Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diantara dunia yang berbeda
Aku hanya sanggup mengangguk pelan, seolah ada beban berat menahan lidah hingga tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Yamal memberi isyarat dengan sopan yang tak tergoyahkan: “Mari silakan, Nyonya Fara. Kamar Nyonya ada di sini.”
Di lantai dua, Yamal membukakan pintu kamar yang terletak berhadapan dengan lorong utama — jelas, tenang, dan tetap sopan: “Ini kamar khusus untuk Nyonya Fara. Kamar Nyonya Zara berada di sebelah kanan lorong. Mohon maklum, semua staf sedang cuti panjang untuk sementara waktu, jadi Nyonya berdua diharapkan mengurus keperluan masing-masing sendiri. Jika tak ada hal lain, saya pamit.”
Sebelum menuruni tangga, Yamal kembali berhenti di hadapanku yang masih terpaku diam di tempat. Dengan sangat sopan ia mengambil tas belanjaan dari tanganku: “Izinkan saya membawanya masuk, Nyonya Zara.”
Ia mengantar semua barang itu hingga tertata rapi di sudut kamarku, lalu berpamitan sekali lagi dan menutup pintu perlahan saat ia pergi. Aku berdiri diam sejenak di ambang pintu, mataku tanpa sadar menatap ke arah pintu kamar yang baru saja ditempati Fara, lalu bergumam sangat pelan hanya untuk diriku sendiri: “Jadi… di sanalah tempat tinggalnya mulai sekarang.”
Dengan perasaan campur aduk — kaget, bingung, dan nyeri samar yang menyusup perlahan di dada — akhirnya aku melangkah masuk ke kamarku sendiri dan memutar kunci pintu perlahan dari dalam, seolah mengunci diri dari dunia yang tiba-tiba terasa asing dan sempit.
Sementara itu, di lantai paling atas gedung pencakar langit yang menjulang paling tinggi di tengah kota, ruang kerja Adrian terasa begitu luas, rapi, dan sunyi senyap. Ruangan itu bergaya klasik yang sederhana namun memancarkan kemewahan yang tak perlu dipamerkan berlebihan. Dinding-dindingnya dipenuhi deretan rak buku dari kayu hitam yang permukaannya mengkilap, berisi koleksi karya berharga yang meski tidak selalu tersusun lurus sempurna, tetap terlihat memiliki nilai yang tak terhitung harganya. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja kerja yang kokoh dan kokoh, diberi sedikit sentuhan ukiran emas yang halus, dipadukan dengan kursi kulit berwarna hitam yang sangat empuk dan nyaman diduduki. Langit-langit yang menjulang tinggi dihiasi lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya lembut yang menenangkan mata, sementara jendela kaca yang sangat besar dan tinggi membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan bebas, sekaligus memamerkan pemandangan seluruh kota yang terlihat membentang luas jauh di bawah sana. Segala sesuatu yang ada di ruangan ini sungguh mencerminkan siapa pemiliknya — Adrian Romanov.
Saat ini ia sedang berdiri membelakangi pintu masuk, menatap lurus ke arah luar jendela dengan pandangan yang tampak kosong namun menyimpan banyak pikiran yang mendalam. Pikirannya melayang jauh, menelusuri kembali setiap kejadian yang telah berlalu sejak pagi hari tadi. Ia teringat saat baru saja melangkah masuk ke lobi gedung ini, mengenakan setelan jas hitam yang pas sekali menutupi setiap lekuk tubuhnya, membuatnya terlihat semakin gagah, berwibawa, dan berkarisma. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya seketika menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat, mereka semua sangat paham siapa yang memegang kendali penuh atas perusahaan raksasa ini.
Belum sempat ia melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruang kerjanya, terdengar suara langkah kaki yang terdengar santai namun mantap mendekat dari arah belakang. Muncul sesosok pria lain yang tingginya hampir menyamai tinggi badan Adrian — dialah Vlad, sepupu Adrian. Tubuhnya tegap dan berisi, wajahnya memiliki garis rahang yang tegas dan jelas, kulitnya putih halus berkilau persis seperti porselen yang dipoles. Matanya berwarna cokelat keemasan yang terlihat tajam namun menyimpan sesuatu yang tak terduga dan sulit dibaca orang lain. Rambutnya sedikit bergelombang dan terlihat agak berantakan dengan sengaja, namun hal itu justru membuatnya tampak lebih menarik, berkarisma, dan tidak terasa kaku sama sekali. Ia mengenakan setelan pakaian berwarna hitam yang dirancang dengan gaya elegan, dilengkapi kalung rantai tipis yang melingkar di leher serta anting kecil di salah satu telinganya — hal yang memberinya kesan berani, bebas, dan memiliki pendirian sendiri yang kuat.
Vlad menyapa sepupunya itu dengan nada yang terdengar santai namun terselip nada sindiran halus yang tak tersembunyi:
“Wah, Kak Adrian! Kabar yang menarik. Rapat terpenting sepanjang tahun ini, kau malah terlambat lama. Apa ada urusan yang lebih penting dari kelangsungan perusahaan ini?” Ia berpura-pura bingung sejenak, lalu menyunggingkan senyum penuh arti yang licik namun ramah. “Ah, benar… Sekretaris bilang kau sibuk mengantar istri membeli cincin. Benarkah? Sampai lupa jadwal yang sudah disepakati bersama?”
Ia melangkah semakin mendekat lalu menepuk bahu Adrian dengan gerakan yang ringan namun penuh arti, sebelum suaranya berubah menjadi lebih menggoda seolah sedang mencari sesuatu yang tersembunyi: “Jadi namanya Zara ya… Istrimu istimewa sekali ya? Sampai Kak yang sedingin es, yang tak pernah peduli pada apa pun selain pekerjaan, mau meluangkan waktu berjam-jam mengantarnya berbelanja. Cantik sekali rupanya? Boleh aku melihatnya suatu hari nanti? Siapa tahu aku juga bisa jatuh hati padanya.” Matanya menatap tajam, menyelidiki setiap perubahan sekecil apa pun pada wajah Adrian — mencari celah, mencari tanda, mencari kelemahan yang selama ini tak pernah ada.
Namun sebelum senyum di bibir Vlad itu makin melebar, Adrian langsung memotong ucapannya dengan suara yang rendah namun terasa sangat tajam dan menekan, tatapannya menembus lurus ke dalam pandangan sepupunya itu. “Tutup mulutmu sekarang juga sebelum aku menyesal masih membiarkanmu berdiri tegak di sini.” Tanpa menambahkan satu kata pun lagi, Adrian berjalan melewati sisi tubuhnya dengan tenang lalu langsung masuk menuju ruang rapat yang berada di sebelah ruang kerjanya.
Vlad hanya diam memandangi punggung Adrian yang menjauh, senyum di bibirnya perlahan makin melebar namun kehilangan nada bercandanya. Ia kembali menyipitkan matanya sambil bergumam pelan hanya untuk dirinya sendiri: “Wah… kau sampai marah begitu rupanya. Justru sekarang kau membuatku semakin penasaran terhadap gadis itu. Gadis macam apa yang mampu mengubah sikapmu sedemikian rupa?”
Tak lama setelah rapat selesai dan Adrian kembali ke ruang kerjanya, terdengar suara ketukan yang halus namun sopan di permukaan pintu kayu itu.
“Masuk,” jawab Adrian singkat namun tegas dari balik meja kerjanya.
Pintu pun terbuka perlahan, dan masuklah Yamal. Adrian duduk kembali di kursi kulitnya yang besar itu sambil menyapu pandangan sekilas ke tumpukan berkas yang ada di hadapannya, lalu memberi isyarat agar Yamal menyampaikan apa yang hendak dilaporkan.
“Tuan, saya sudah melaksanakan segala perintah yang Tuan sampaikan pagi tadi — saya telah menjemput Nyonya Fara dengan selamat, dan menyerahkan kotak cincin itu sebagaimana yang Tuan minta.”
Adrian hanya mengangguk pelan sebagai tanda bahwa ia telah mendengar dan merasa cukup puas dengan pelaksanaan tugas itu. Saat Yamal hendak berbalik badan untuk meninggalkan ruangan, pandangan Adrian tertuju pada selembar kartu emas yang tergeletak rapi di sudut meja kerjanya — benda yang sejak pagi tadi sempat terlewatkan untuk diserahkan kepadaku.
“Tunggu sebentar,” panggilnya pelan sambil meraih kartu itu lalu mengulurkannya ke arah Yamal. “Serahkan benda ini kepada istriku, Zara. Katakan padanya bahwa ini untuk keperluannya sendiri, dan ia boleh menggunakannya sesuka hati sesuai apa yang ia butuhkan.”
“Baik, Tuan. Segera akan saya sampaikan,” jawab Yamal dengan hormat, lalu segera bergegas keluar untuk melaksanakan tugas itu.
Sementara itu, di kediaman yang megah itu suasana terasa sangat sunyi, namun di balik keheningannya tersimpan begitu banyak perasaan yang saling bertentangan dan berkecamuk di hati setiap orang yang ada di sana. Di dalam kamarku sendiri, aku sedang berusaha menyusun pakaian yang baru saja dibelikan Adrian tadi pagi. Aku melipatnya secukupnya saja, tidak perlu terlalu rapi seperti yang biasa dilakukan pelayan, namun cukup agar terlihat teratur dan tidak berantakan. Namun meski kedua tanganku sibuk melakukan pekerjaan itu, hatiku sama sekali tidak merasa tenang — pikiranku terus saja melayang pergi meninggalkan ruangan ini, terbang menuju orang-orang yang masih sangat kusayangi.
Aku pun berhenti sejenak dari apa yang sedang kulakukan, lalu duduk termenung di tepi tempat tidur yang empuk itu. “Bagaimana kiranya keadaan Aslan sekarang? Apakah ia sudah mulai sadar dari tidurnya? Aku harus segera menjenguknya sesegera mungkin setelah ini,” gumamku pelan di dalam hati sambil menahan rasa rindu yang mulai menyakitkan dada.
Tidak lama kemudian terdengar ketukan halus di pintu kamarku. Saat aku membukanya, ternyata Yamal yang berdiri di sana. “Selamat siang, Nyonya Zara. Tuan Adrian berpesan agar saya menyerahkan benda ini kepada Nyonya — ia lupa memberikannya pagi tadi sebelum berangkat,” ucapnya dengan sangat sopan sambil menyodorkan kartu emas yang tadi disebutkan itu.
Aku menerimanya dengan hati-hati seolah benda itu adalah sesuatu yang sangat berharga, namun saat Yamal hendak berbalik badan untuk pergi, aku segera memberanikan diri memanggilnya kembali. “Yamal… tunggu sebentar, bolehkah aku memohon satu hal lagi kepadamu?” Aku menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungku, lalu melanjutkan ucapanku dengan suara yang masih terdengar ragu namun tulus. “Apakah aku diperbolehkan pergi sebentar ke rumah sakit untuk menjenguk adikku, Aslan? Sebenarnya aku sudah bermaksud meminta izin ini sejak tadi… Aku berjanji tidak akan lama, sungguh, aku akan segera kembali setelah melihat keadaannya.”
Yamal mendengarkan permohonanku dengan saksama sebelum akhirnya menjawab dengan tenang: “Jika Nyonya sudah bermaksud baik dan hanya ingin menjenguk keluarga, serta Nyonya berjanji untuk kembali dengan selamat, maka Nyonya diperbolehkan untuk berangkat.”