Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
“Dari mana kau tahu alamat apartemenku?” tanya Maxime dingin saat ia melihat Helena lah yang mengetuk pintu apartemennya.
Helena yang melihat Maxime berdiri di depannya, dengan pakaian kasual itu tak bisa menahan diri. Senyum yang awalnya ia pertahankan benar benar luntur saat mendengar pertanyaan Maxime yang sarat akan kekesalan.
“Max, aku hanya ingin_”
“Max, di mana kau menyembunyikan celana dalamku. Aku benar benar tidak bisa melakukannya lagi malam ini. Aku sudah mengambil cuti tadi pagi karena ulahmu, jadi, aku tidak bisa mengambil cuti lagi besok!” teriak Selina yang baru saja keluar dari kamar, dan hanya berbalut handuk pendek.
Wajah Helena memucat. Sekali pun ia sudah menebak hubungan Selina dan Maxime, tapi ia tetap tak bisa menerima begitu saja saat mendengarnya secara langsung.
Matanya tanpa sadar menatap Maxime yang tak mengubah ekspresinya sama sekali. Bahkan, ia tak menemukan setitik rasa bersalah di wajah pria yang masih menjabat sebagai suaminya itu.
“Kau ... kau tinggal di sini bersama adikku?” tanya Helena dengan suara tercekat.
Maxime tak menjawab. Namun, diamnya seolah menjadi jawaban terpahit yang bisa Helena terima.
Selina sendiri yang bertingkah seolah tidak tahu jika di depan ada Helena merengut kesal. Ia menghentakkan kaki, kemudian melangkah ke depan untuk melihat Max.
“Eh, apa kau memiliki tamu?” tanya Selina sedikit kebingungan.
Sebelum maxime menjawab, Helena lebih dulu mendorong suaminya itu, masuk ke dalam dan dengan jelas melihat penampilan Selina yang benar benar terlihat seperti wanita dewasa.
“K-kak Helen?” keterkejutan tak bisa Selina tahan.
Terlebih, saat matanya bertemu dengan tatapan dingin dan tajam dari Helena.
Namun, sebelum Helena sempat mengatakan satu kata, Maxime lebih dulu bergerak.
Ia menghalangi pandangan Helena dari selina. Menatap istrinya itu dingin.
“Karena kau sudah tahu, maka aku tidak akan menyembunyikannya lagi,” ucap Maxime tenang.
Helena menatap Maxime dengan mata memerah. Tenggorokannya terasa tercekik. Namun, ia berusaha tenang.
“Max, ayo pulang. Aku akan pura pura tidak melihat ini,” ucap Helena dengan suara serak.
Selina menunduk. Terlihat jelas jika wanita itu ketakutan
Maxime yang mendengar itu mengerut tak senang.
“Dan kau Selina, kau adik kandungku, aku tidak akan memakimu seperti wanita j4lang di luar sana yang haus akan pria. Aku akan melupakan semuanya. Dan kau ... segera kemasi pakaianmu, dan kembalilah ke rumah orang tua kita. Jangan injakkan kakimu di kota ini lagi. Dan jangan berani berani menemui Max,” ucapnya pada Selina.
Selina tak menjawab. Namun, tangannya yang dipegang Maxime berubah dingin, membuat tatapan Maxime terlihat menajam ke arah Helena.
“Aku menyukai Selina!” tegas Maxime yang membuat tatapan Helena menyipit.
“Max,” cicit selina seolah ingin mengingatkan Maxime jika kata katanya akan menyakiti Helena.
Namun, pemandangan seperti itu semakin menyakiti hati Helena.
“Tidak Selina, aku tidak akan menutupinya lagi,” ucap Maxime lembut.
Helena bahkan dibuat terpaku. Selama ini, Maxime selalu bersikap dingin. Berkali kali ia membayangkan bagaimana sikap Maxime saat melembut.
Sayang sekali, saat hari itu tiba, kelembutan itu sama sekali bukan tertuju padanya.
“Helena, dengarkan aku. Aku menikahimu semua karena kesepakatan bisnis. Yang aku cintai, satu satunya, itu Selina. Karena kau sudah tahu, maka kita bisa bercerai_”
“Max, tidak. Kau sudah berjanji padaku!” sela Selina cepat. Gelengan kepala dengan manik air mata yang mengalir membuat penampilannya benar benar terlihat rapuh.
Ia bahkan menarik tangan Maxime, membuat Maxime menatap Selina seolah tak percaya. Bahkan, di saat seperti ini, wanitanya masih tidak ingin ia menceraikan kakanya, dan meresmikan hubungan mereka.
“Aku mohon, aku mohon, jangan ceraikan kakaku, demi aku,” lanjutnya dengan mata memerah hebat.
Maxime yang melihat itu benar benar tak berdaya.
Sementara Helena yang menjadi penonton berubah kaku. Penampilan seperti ini, ia pernah mengalaminya.
Namun, saat itu, ia berada di posisi Selina, dan sahabatnya lah yang berada di posisinya.
Saat itu, ia yang sudah berhasil memikat suami pertama sahabatnya itu dengan sengaja mengatur agar sahabatnya mengetahui affair mereka.
Sahabatnya tampak marah, dan saat itu, suami pertama sahabatnya juga memutuskan untuk menceraikan sahabatnya karena mencintainya.
Dia, dengan berkedok wanita lemah lembut dan selalu memikirkan sahabatnya dengan patah hati memohon pada suami pertama sahabatnya untuk tidak menceraikannya.
Kenapa, semua perbuatan yang ia banggakan di masa lalu seolah satu persatu datang untuk menagihnya. Seharusnya tidak seperti ini kan.
“TIDAK! SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI!” teriaknya tanpa sadar.
Selina yang sedang memohon pada Maxime itu terkejut, kejutan yang membuat Maxime menatap tajam ke arah Helena.
“Apa yang kau teriakkan? Kau menakuti Selina!” tegurnya marah.
Helena menggelengkan kepala. Teguran itu, semua kata kata, dan tindakan mereka berdua saat ini, seolah sedang menertawakannya.
“Kalian .... kalian tidak boleh seperti ini!” ulangnya benar benar seperti orang gila.
Maxime menatap Helena tajam.
“Aku tidak akan menceraikanmu,” putus Maxime dengan nada dingin.
Namun, alih alih bahagia, jantung Helena semakin terasa sesak. Seolah, ia bisa menebak kalimat selanjutnya yang akan dikatakan maxime padanya.
“Kau bisa terus menyandang status Nyonya Maxime. Semua itu karena kebaikan Selina. Tapi, kau juga harus tahu, selain menyandang nyonya maxime, kau tidak memiliki hak apa pun. Hatiku, dan semuanya yang bersangkutan denganku hanya milik Selina.”
Benar, kalimat seperti ini juga yang dikatakan suami pertama sahabatnya waktu itu.
“Max_”
“Jangan membujukku lagi, Sayang. Toleransiku hanya sebatas membiarkan kakakmu tetap menjadi nyonya di keluargaku,” sela Maxime lembut.
Namun, saat ia melirik Helena yang seolah tak mempercayai pendengarannya saat ini, wajahnya berubah dingin.
“Jangan kira aku tidak tahu, kau menyetujui pernikahan ini semua karena statusku. Jadi, jangan melewati batasmu. Aku memberikan status yang kau inginkan. Jangan berani berani memarahi Selina dibelakang ku, atau menudingnya dengan tudingan buruk.”
Air mata Helena meluruh. Ia menatap Maxime dengan pandangan kosong. Bukan hanya karena kata kata Maxime yang menyakitkan, tapi juga ingatan masa lalunya.
Di mana, ia juga bersembunyi di pelukan suami pertama sahabatnya, sementara sang sahabat hanya bisa menatapnya terpaku dengan air mata mengalir deras tanpa bisa mengucap satu kata pun.
“Kau pergilah, jangan datang ke sini lagi. Kita urusi urusan kita masing masing. Atau ... jika kau masih ingin ikut campur, aku tidak masalah jika harus menceraikanmu, dan menikahi Selina. Kita semua tahu, siapa yang aku nikahi itu tidak penting, yang paling penting, wanita itu adalah keluargamu. Jadi, jangan berani berani kau menguji batasku!” tegasnya sebelum mendorong helena pergi.
Helena bahkan tidak sadar, bagaimana ia bisa di dorong begitu saja, dan hanya bisa melihat pintu apartemen itu yang tertutup rapat, dengan bunyi kilik yang langsung membuatnya berubah gila.
[“Tuan, anda benar benar luar biasa. Anda tahu, guncangan hari ini membuat Helena bahkan merasakan tiga kali lipat rasa sakit sahabatnya di masa lalu,”] ucap sistem semangat.
[“Anda tidak hanya mengambil pria yang wanita itu kagumi selama ini, tapi anda sedang menginjak harga diri dan kebanggan Helena, karena menganggap dirinya sebagai penakluk pria sejati.”]
Selina yang masih berada di pelukan Maxime tak menanggapi kata kata sistem. Tapi, sudut bibirnya sedikit terangkat, menunjukan seberapa puas pembalasan yang Helena terima saat ini.