Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Tersembunyi di Balik Keheningan
"Xiao Chu, apakah Tuan Muda Pertama sudah selesai mandi?" tanyaku dengan nada santai, berusaha menutupi kecemasanku sendiri setelah perdebatan panjang sebelumnya.
Xiao Chu menunduk dalam, suaranya terdengar bergetar. "Nona Muda... Tuan Muda Pertama... beliau tidak sadarkan diri di dalam sana."
"Apa? Kenapa kau baru bicara sekarang?!" tanpa memedulikan etika, aku segera berlari menuju kediaman Mo Jiu. Hatiku berdegup kencang, sebuah perasaan buruk merayap di sepanjang tulang punggungku. Aku juga segera memerintahkan Xiao Chu untuk memanggil tabib istana dengan kecepatan penuh.
Setibanya di kediaman Mo Jiu, pemandangan di depanku sungguh menyesakkan. Mo Jiu terbaring tak berdaya di lantai kamar mandinya, tubuhnya yang gagah kini tampak lemah, dan wajahnya sepucat kertas.
"Ah-Jiu... A-Jiu, bangunlah!" aku berlutut di sampingnya, mengguncang bahunya dengan panik. Aku tidak pernah menulis alur ini dalam naskah asliku. Kenapa dia tidak sadarkan diri? Apakah ini racun? Atau efek dari luka pertempurannya tadi? batinku, berusaha keras menahan tangis yang mendesak keluar. Aku tidak bisa membiarkan diriku runtuh sekarang.
"Pengawal!" teriakku dengan suara yang menggelegar, memanggil para penjaga di luar.
"Ya, Nona!"
"Cepat, angkat Tuan Muda ke atas ranjang!" perintahku tegas. Para pengawal segera bergerak dengan sigap, memindahkan tubuh Mo Jiu yang terasa sangat dingin ke atas ranjang sutranya. Tak lama kemudian, tabib istana tiba dengan wajah yang penuh keringat karena terburu-buru.
"Tabib, cepat periksa Pangeran Mo!" ucapku, suaraku nyaris menjadi bisikan karena rasa takut yang teramat sangat. Tabib itu segera memeriksa nadi Mo Jiu, alisnya bertaut dalam seolah menemukan sesuatu yang sangat ganjil.
Tak lama berselang, Hou Juntian muncul di ambang pintu dengan napas memburu. Kepanikannya begitu terlihat saat ia menatap kondisi kakak pertamanya. "Ning'er, bagaimana keadaan Kakak Pertama?"
"Tabib masih memeriksanya, Juntian," jawabku lemah, berusaha menatap Juntian yang tampak begitu cemas. "Tian-ge, selidiki apa yang sebenarnya dilakukan Mo Jiu akhir-akhir ini. Kondisinya tidak normal, dia baru saja kembali dari pertempuran dan keadaannya seharusnya tidak seperti ini."
Hou Juntian mendekat, memegang bahuku dengan erat untuk memberiku kekuatan. "Tenanglah, aku sudah memerintahkan orang-orang kepercayaanku untuk menyelidiki setiap gerak-geriknya sejak pagi tadi. Kita akan segera menemukan jawabannya."
Ia memelukku dengan hangat, mencoba memberikan ketenangan di tengah kekacauan yang menghantam. Namun, di dalam dekapan Juntian, pikiranku justru melayang pada satu hal: apakah musuh-musuh di luar sana, atau bahkan orang terdekat di kediaman ini, sedang mencoba melenyapkan Mo Jiu secara perlahan?
Misteri ini semakin dalam, dan aku menyadari bahwa kehidupan di kediaman ini jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah kubayangkan dalam ceritaku sendiri. Sesuatu yang gelap sedang merayap, dan aku harus menjadi orang pertama yang menghentikannya sebelum semuanya terlambat.
Tabib perlahan berbalik menghadapku dan Hou Juntian setelah selesai memeriksa kondisi Mo Jiu yang masih terbaring lemah. Wajahnya tampak serius, menyiratkan beban berat yang baru saja ia temukan.
"Tabib, bagaimana keadaan suamiku?" tanyaku dengan suara yang bergetar hebat, jemariku mencengkeram erat ujung gaunku untuk menahan kecemasan yang meluap.
Tabib itu menghela napas panjang sebelum menjawab, "Tuan Muda Mo terkena racun dingin dari negeri barat. Penawarnya hanya satu, yaitu Bunga Teratai Salju yang legendaris."
Aku terpaku sejenak. Racun dingin? Tentu saja, itu masuk akal. Itu adalah racun yang akan menyerang saat malam hari, membuat korbannya perlahan membeku dari dalam, batinku menyadari betapa parahnya situasi ini. Waktu kami sangat sempit.
"Tian-ge, jaga Mo Jiu baik-baik di sini. Aku harus segera mencari Bunga Teratai Salju itu," ucapku tegas, tanpa keraguan sedikit pun dalam suaraku.
Namun, sang Tabib menyela dengan nada peringatan, "Nona Muda, harap berhati-hati. Bunga Teratai Salju hanya tumbuh di puncak gunung tertinggi saat musim dingin mencapai puncaknya. Medan di sana sangat ekstrem dan tidak ada seorang pun yang pernah kembali setelah mencoba mendakinya."
"Tabib, tolong pastikan keadaannya tetap stabil. Lakukan apa pun yang kau bisa, aku akan membawa penawarnya kembali sebelum fajar menyingsing," kataku sambil menatap Mo Jiu yang tampak semakin pucat.
Hou Juntian segera mencegat langkahku, tangannya menahan bahuku dengan tatapan penuh protes. "Ning'er, jangan gegabah! Biarkan para penjaga dan prajurit terbaik yang mencari penawar itu untuk Kakak Pertama. Kau tidak perlu mempertaruhkan nyawamu sendiri!"
Aku menatap mata Juntian, mencari secercah pengertian di sana. "Tian-ge, tidak bisa. Ini adalah tanggung jawabku. Aku tidak mau kehilangan dia, ataupun kehilangan kalian. Aku sudah memutuskan, biarkan aku pergi."
"Tapi Ning'er..." ucapan Juntian terputus oleh keberanian yang membuncah di dalam diriku.
"Tian-ge, dengarkan aku. Aku mencintai kalian. Meski pun nyawa adalah taruhannya, aku tidak takut. Tugasmu sekarang adalah menjaga rumah ini dan memastikan Mo Jiu tetap bernapas. Tunggu kembaliku, dan percayalah padaku, sayang."
Setelah mengucapkan kata itu, aku segera berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengucapkan kata 'sayang' kepada laki-laki yang tadinya hanyalah karakter di dalam novel yang kutulis. Namun, saat ini, aku benar-benar merasakan ketulusan itu. Aku merasa dicintai oleh mereka, dan demi cinta itu, aku bersedia menantang maut sekali pun, batinku dengan tekad yang semakin bulat.
Langkahku mantap menuju gerbang kediaman, menembus kabut malam yang dingin. Aku tidak tahu apa yang menanti di puncak gunung salju, namun satu hal yang pasti: aku tidak akan membiarkan takdir memisahkan kami begitu saja. Perjalanan ini bukan lagi tentang memperbaiki alur cerita, ini adalah tentang memperjuangkan kebahagiaan yang kini telah menjadi milikku.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸