"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Gelembung Ikan dan Tawa yang Kembali
Kehangatan dari pasar tradisional Distrik Selatan terbawa hingga ke dalam dapur mansion mewah keluarga Oliver.
Sabtu pagi yang biasanya hening kini bertransformasi menjadi panggung kesibukan yang penuh warna.
Kantong-kantong belanjaan dibongkar bersama di atas meja konter marmer.
Yoyo, dengan kejutan energi baru yang luar biasa, bersikeras untuk ikut membantu mencuci sayuran di bawah wastafel kecil yang sengaja disiapkan Viona.
Namun, pusat perhatian utama dari hasil belanja subuh itu adalah dua ekor ikan mas hidup yang ditempatkan di dalam wadah baskom kaca besar berisi air bersih di sudut meja dapur.
"Bibi Viona! Lihat! Ikannya membuat gelembung lagi!"
pekik Yoyo riang. Gadis kecil itu menumpukan kedua tangannya di pinggiran baskom, hidung mungilnya hampir menempel pada permukaan kaca, menatap takjub pada gerak-gerik makhluk air di depannya.
Goldie ikut menegakkan kaki depannya di sisi meja, mengeluarkan suara dengkingan rendah yang penasaran sembari memperhatikan ekor ikan yang mengibas-ngibas, menciptakan riak air dan gelembung-gelembung udara kecil yang pecah di permukaan.
Viona yang sedang memotong bayam merah menoleh, membiarkan tawa kecilnya yang renyah lepas begitu saja.
"Iya, Sayang. Ikannya sedang bernapas. Mereka sedang menyapa Yoyo dan Ksatria Emas."
Tepat pada saat itu, Oliver melangkah masuk ke dapur setelah membersihkan diri dan berganti pakaian pasca-perjalanan dari pasar.
Pria tegap itu kini hanya mengenakan kemeja rajut kasual berwarna abu-abu terang dengan lengan yang digulung longgar hingga siku.
Rambut hitamnya yang biasanya ditata klimis dengan gel korporat kini dibiarkan jatuh sedikit berantakan di dahinya, memberikan kesan maskulin yang jauh lebih rileks dan matang.
Langkah kaki Oliver yang berat berhenti di dekat ambang pintu dapur.
Mata elangnya terpaku pada pemandangan di depannya.
Di bawah siraman cahaya matahari pagi yang menembus jendela kaca dapur, ia melihat Viona yang tertawa lepas dengan mata jernih yang berbinar bahagia, Yoyo yang bertepuk tangan riang menyaksikan gelembung air, dan seekor anjing pelindung yang ikut mengibas ekornya.
Suara tawa yang menggema di ruangan ini tidak lagi terdengar canggung atau dipaksakan.
Itu adalah suara tawa yang murni, yang selama dua tahun ini terkunci rapat di balik dinding-dinding dingin mansionnya.
Oliver merasakan sebuah sengatan hangat yang teramat kuat menghujam dadanya.
Rasa lega, bangga, dan kepemilikan yang mutlak membuncah di dalam dirinya.
Pria tirani yang dulu menganggap rumah hanyalah tempat persinggahan biologis, kini menyadari bahwa tempat ini telah berubah menjadi surga kecil yang paling berharga dalam hidupnya.
"Apa yang begitu lucu sampai Ksatria Emas pun ikut heboh?"
tanya Oliver dengan suara rendah yang berat, melangkah mendekati kerumunan kecil di sudut dapur.
Yoyo menoleh cepat, wajah gembilnya mendongak menatap ayahnya.
"Ayah! Lihat ini! Ikannya pintar sekali, mereka bisa membuat gelembung sabun tanpa sabun! Banyak sekali!"
Oliver berdiri tepat di belakang Yoyo, lalu menatap Viona yang berada di sisi lain meja.
Tatapan mata mereka bertemu, dan Viona bisa melihat binar kelembutan yang sangat intens terpancar dari sepasang mata elang pria itu.
"Ikan masnya memang sangat aktif, Oliver," ucap Viona dengan sisa tawanya yang manis.
"Yoyo berteman baik dengan mereka sejak kita tiba tadi."
Oliver mengulurkan tangan kanannya, mengusap pelan pucuk rambut Yoyo dengan kelembutan seorang ayah, namun pandangannya tetap mengunci manik mata jernih Viona.
"Dr. Elena benar. Keputusanku membawamu ke pasar tradisional adalah investasi terbaik minggu ini. Melihat tawa ini kembali ke rumah kita... rasanya jauh lebih memuaskan daripada memenangkan tender proyek distrik bisnis kemarin."
Mendengar apresiasi yang begitu personal dari Oliver, pipi Viona kembali merona hangat.
Kata "rumah kita" yang diucapkan Oliver kini tidak lagi terdengar asing; kata itu terdengar seperti sebuah pelukan hangat yang mengonfirmasi posisinya yang sah di dalam hati pria itu.
Proses memasak sup ikan mas segar pun dimulai.
Viona bertindak sebagai kepala koki, sementara Oliver—secara mengejutkan bagi seluruh pelayan yang mengintip dari koridor—secara sukarela mengajukan diri sebagai asisten.
Pria penguasa bisnis kota itu dengan patuh menerima pisau dapur dari Viona untuk membantu memotong jagung manis dan mememarkan jahe serta serai.
"Potongannya terlalu tebal, Oliver,"
tegur Viona lembut sambil menahan tawa saat melihat Oliver memotong jagung dengan presisi yang terlalu kaku, seolah sedang membagi aset saham perusahaan.
Oliver menghentikan pisaunya, menatap Viona dengan alis yang terangkat sebelah.
"Aku memotongnya berdasarkan efisiensi struktur hidangan, Nyonya Oliver."
"Ini masakan rumah, Tuan CEO, bukan presentasi dewan direksi,"
balas Viona berani, merebut pisau itu dengan lembut dari tangan Oliver dan mencontohkan potongan yang lebih tipis.
Jemari mereka sempat bersentuhan, menyalurkan getaran manis yang membuat detak jantung keduanya berkejaran.
Oliver hanya terkekeh rendah, membiarkan dirinya "ditegur" oleh wanita itu dengan rasa patuh yang menyenangkan.
Di sudut lain, Yoyo bertugas memasukkan daun bayam merah ke dalam wadah dengan pengawasan ketat dari Goldie.
Dapur utama mansion itu benar-benar dipenuhi oleh energi kehidupan yang begitu pekat.
Satu jam kemudian, aroma harum dari kuah sup ikan yang gurih berpadu dengan kesegaran daun kemangi dan jahe menyeruak ke seluruh ruangan. Hidangan sarapan siang (brunch) siap disajikan.
Mereka bertiga menikmati hidangan tersebut di meja makan kecil dekat jendela dapur, sengaja menghindari meja makan utama yang terlalu formal.
Yoyo makan dengan sangat lahap, menyukai rasa kuah sup ikan yang manis alami hasil masakan Viona dan potongan jagung hasil kerja keras ayahnya.
Setelah makan selesai, Yoyo yang mulai merasa mengantuk akibat aktivitas subuhnya dipindahkan oleh Viona ke ruang tengah.
Gadis kecil itu tertidur lelap di atas sofa bulu dengan kepala berbantalkan boneka kelincinya, sementara Goldie berbaring siaga di lantai bawah sofa, menjaga sang putri kecil.
Viona kembali ke dapur untuk merapikan sisa piring. Suasana dapur kini kembali tenang, hanya menyisakan suara gemercik air wastafel.
Saat Viona sedang mengeringkan tangannya dengan selembar kain, sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar dari arah belakang tubuhnya.
Oliver menyusupkan kedua lengannya di sekitar pinggang ramping Viona, menarik punggung wanita itu agar bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya yang hangat.
"Deg."
Viona tersentak kecil, napasnya tertahan. Ia bisa merasakan pelukan Oliver yang begitu posesif, hangat, dan sarat akan emosi yang mendalam.
Aroma maskulin kayu cendana yang familiar langsung mengepung indra penciumannya.
"Oliver...?"
bisik Viona pelan, jantungnya berdegup kencang dengan cara yang sangat manis.
Oliver tidak melepaskan pelukannya.
Ia justru menundukkan kepalanya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Viona yang wangi, mengembuskan napas hangatnya yang membuat tubuh Viona merinding halus.
Genggaman tangan Oliver di perut Viona mengerat, seolah menegaskan bahwa wanita di dalam dekapannya ini tidak akan pernah diizinkan untuk pergi.
"Biarkan seperti ini sebentar, Viona,"
bisik Oliver dengan suara yang sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh ketulusan yang mutlak.
"Dua tahun ini, rumah ini bagaikan kuburan yang dingin bagiku dan Yoyo. Setiap kali aku pulang, yang kudengar hanyalah keheningan yang menyiksa dan ketakutan putriku."
Oliver memutar tubuh Viona perlahan dalam dekapannya, hingga kini mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang nyaris tidak ada.
Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam mata jernih Viona yang berkaca-kaca oleh rasa haru.
Tangan besar Oliver naik, menangkup sisi wajah Viona dengan kelembutan yang luar biasa.
"Tapi hari ini, mendengar tawamu yang lepas saat melihat gelembung ikan tadi... melihat bagaimana kau menghidupkan kembali dapur ini, dan bagaimana kau mengembalikan senyuman putriku... aku menyadari satu hal yang pasti,"
ucap Oliver, suaranya bergetar oleh intensitas rasa yang membuncah di dadanya.
"Apa itu, Oliver...?" bisik Viona tulus.
"Kau bukan lagi sekadar pelindung kontrak yang kubayar untuk merawat Yoyo,"
janji Oliver dengan nada otoritasnya yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi deklarasi cinta yang mutlak.
"Kau adalah jantung dari rumah ini. Kau adalah penyembuh bagi jiwaku yang kaku dan jiwa putriku yang sempat rapuh. Lembaran kertas kontrak satu tahun itu... sudah tidak berlaku lagi bagiku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Nyonya Oliver. Kau adalah milikku, dan kami adalah milikmu, selamanya."
Mendengar komitmen suci yang keluar langsung dari bibir sang tirani dingin, pertahanan terakhir di hati Viona runtuh sepenuhnya.
Air mata kebahagiaan menetes perlahan di pipinya, namun dengan cepat dihapus oleh ibu jari Oliver yang lembut.
Viona tersenyum manis, mengulurkan kedua lengannya untuk melingkar di leher kokoh Oliver, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu, mendengarkan detak jantung Oliver yang berdegup kencang dengan frekuensi yang sama dengan miliknya.
"Aku juga tidak ingin pergi ke mana-mana, Oliver..."
bisik Viona di sela kehangatan pelukan mereka.
"Rumah ini... kau dan Yoyo... telah menjadi duniaku yang baru. Aku telah menemukan kesembuhanku di dalam perlindunganmu."
Di bawah kehangatan siang yang cerah di dapur mansion tersebut, ditemani oleh tawa damai Yoyo yang tertidur di ruang tengah dan gelembung-gelembung air ikan mas yang terus memecah sunyi, episode gelembung ikan hari itu berakhir bukan hanya sebagai aktivitas memasak biasa, melainkan sebagai penanda mutlak bahwa ikatan suci yang sesungguhnya telah terjalin dengan kokoh—di mana masa lalu yang penuh luka telah hanyut sepenuhnya, digantikan oleh masa depan yang penuh dengan tawa yang telah kembali ke rumah mereka.