NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Hari pertama setelah kesepakatan itu … sunyi.

Hari kedua … masih sama. Namun yang berbeda—

tidak ada lagi amarah, tidak ada tatapan tajam yang seolah ingin merobek harga diri Queen seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Justru sebaliknya.

“Sudah makan?”

Queen yang sedang duduk di sofa menoleh cepat. Waktu masih menunjukkan pukul dua siang. Ia tidak menyangka Nial akan pulang lebih awal.

“Belum,” jawabnya jujur.

Nial melepas jasnya, meletakkannya sembarangan—sesuatu yang jarang ia lakukan. “Makan denganku.”

Bukan permintaan. Namun juga … bukan paksaan.

Queen bangkit perlahan. “Baik.”

Di meja makan, suasana terasa aneh. Bukan karena tegang, tapi karena terlalu tenang.

Nial duduk di hadapannya, memotong makanan dengan gerakan rapi.

“Kenapa tidak makan?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.

Queen tersadar. “Aku … sedang makan.”

“Kau hanya memindahkan makanan di piringmu.”

Queen terdiam.

Nial akhirnya menatapnya. “Tidak sesuai seleramu?”

Queen menggeleng cepat. “Bukan begitu.”

“Kalau begitu, makan.”

Akhirnya, Queen mulai makan perlahan.

Beberapa detik berlalu. Lalu—

“Besok,” ucap Nial tiba-tiba.

Queen mengangkat wajahnya. “Ya?”

“Kau ingin melakukan sesuatu?”

Pertanyaan itu … membuat Queen benar-benar terdiam.

“Kau… bertanya padaku?” ulang Queen pelan, seolah tidak yakin.

Nial mengangkat alis. “Aku tidak berbicara dengan dinding.”

Queen menahan napas kecil. Ini pertama kalinya—ia diberi pilihan.

“Aku …” ia ragu sejenak. “Aku tidak tahu.”

“Pikirkan.”

Queen menatapnya. Lalu, entah dari mana keberanian itu datang.

“Aku ingin keluar.”

Nial tidak langsung menjawab.

“Ke mana?”

Queen berpikir sejenak. Matanya sedikit berbinar, seperti mengingat sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan.

“Ada satu tempat…” gumamnya. “Dulu aku sering ke sana.”

“Tempat seperti apa?”

Queen tersenyum tipis. “Private art gallery. Bukan galeri umum. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Mereka sering mengadakan private viewing … koleksi seni dari kolektor internasional.”

Nial memperhatikannya. Ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Queen. Bukan kepasrahan, tapi ketertarikan.

“Hm,” gumam Nial pelan. “Selera yang cukup mahal.”

Queen menunduk sedikit. “Aku tidak tahu apakah itu masih—”

“Kita ke sana besok.”

Queen langsung menatapnya. “Apa?”

“Aku bilang kita ke sana besok.” Nada suaranya santai, seolah itu hal biasa. Padahal bagi Queen, itu bukan hal kecil.

“Terima kasih.” Queen tersenyum tipis.

Nial mengangguk. "Sekarang, makan yang banyak."

"Baiklah."

•••

Malam itu, mansion terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lampu kota berpendar di balik dinding kaca, memantul samar di lantai marmer.

Queen berdiri di dekat jendela, memeluk lengannya sendiri. Tatapannya kosong, seolah menatap sesuatu yang tidak benar-benar ia lihat. Ia tidak bergerak.

Langkah kaki terdengar pelan dari belakang.

“Sudah hampir satu jam kau di sana.”

Suara Nial datar, memecah keheningan tanpa benar-benar mengusiknya.

Queen tidak langsung menoleh. “Aku hanya … melihat.”

“Melihat apa?”

“Entahlah,” jawabnya lirih.

Nial berhenti beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya tertuju pada punggung Queen—kecil, diam, dan … berbeda.

Hening beberapa detik. Lalu—

“Kau ingin kembali?”

Queen mengernyit, akhirnya menoleh. “Kembali?”

“Ke rumahmu.”

Jawaban itu sederhana. Datar. Namun cukup membuat tubuh Queen menegang. Ia langsung menggeleng cepat. Refleks.

“Tidak.”

Nial mengamati reaksi itu. “Kau yakin? Kau bisa kembali kalau mau.”

“Ya, aku yakin.” jawab Queen, lebih pelan tapi tegas. “Aku tidak ingin kembali ke sana.”

Sunyi.

Nial berjalan mendekat. Berhenti di sampingnya, menatap lurus ke luar jendela.

“Kau terlihat seperti seseorang yang sedang dipaksa bertahan.”

Queen menunduk sedikit. “Aku hanya mencoba menyesuaikan diri.”

“Dengan cara menjadi diam seperti ini?”

Tidak ada jawaban. Hanya napas pelan yang tertahan.

“Aku tidak menyukai ini,” ucap Nial akhirnya.

Queen menoleh. “Apa maksudmu?”

“Kau.”

Satu kata, namun terasa jelas.

“Aku tidak menyukai versi dirimu yang ini,” lanjut Nial. “Terlalu diam. Terlalu hati-hati. Seolah setiap kata yang kau ucapkan harus kau timbang dulu.”

Queen menatapnya, sedikit terpaku. “Bukankah itu yang kau inginkan?” tanyanya pelan. “Aku tidak melawan. Aku tidak membuat masalah.”

Nial menggeleng kecil. “Itu bukan berarti kau harus kehilangan dirimu sendiri.”

Hening.

“Aku lebih mengenalmu sebagai wanita yang berani menghentikan mobilku di tengah jalan,” lanjutnya. “Yang berbicara tanpa takut. Yang menatapku tanpa ragu.”

Tatapan mereka bertemu.

“Aku ingin melihat itu lagi.”

Napas Queen tertahan. Beberapa detik berlalu …

dan untuk pertama kalinya malam itu—ia tidak menghindar.

“S–sebelum itu…” Nada suara Queen berubah. Lebih hati-hati. Lebih dalam. “Aku ingin menanyakan sesuatu.”

Nial tidak menjawab. Hanya menatapnya, memberi isyarat untuk lanjut.

Queen menarik napas pelan. “Hubungan ini…” ucapnya, sedikit ragu. “Maksudku ... apa sebenarnya arti semua ini bagimu?”

Hening lagi.

“Ini hanya kesepakatan, kan?” lanjutnya, menatap langsung ke mata Nial. “Atau … ada hal lain yang tidak aku pahami?”

Nial tidak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya—ia diam cukup lama. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya. Ada jeda. Ada sesuatu yang … tidak terbaca.

Queen menelan ludah. “Karena jujur,” lanjutnya. "Aku bingung.” Ia tersenyum tipis. “Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku tidak tahu … harus menempatkan diriku di mana.”

“Apa bagimu … ini hanya tentang kendali?” tanyanya lebih pelan. “Kau benar-benar tidak merasakan apa pun?”

Kalimat itu menggantung. Berat. Dan kali ini—Nial tidak bisa mengabaikannya. Ia mengalihkan pandangan sejenak, seolah mencari jawaban … atau mungkin menghindarinya.

“Perasaan…” ulangnya pelan. Seperti kata yang asing.

Queen tidak menyela. Ia menunggu.

“Aku tidak terbiasa memikirkan hal seperti itu,” lanjut Nial akhirnya. Nada suaranya tetap rendah, tapi tidak lagi sekeras biasanya.

Queen menatapnya. “Apa maksudmu?”

Nial menghela napas pelan. “Bagiku, hubungan bukan sesuatu yang perlu didefinisikan dengan rumit.”

“Lalu dengan apa?”

Nial menatapnya lagi. Dalam. “Apa yang aku tahu…” ucapnya perlahan, “aku memilihmu.”

Queen terdiam.

“Di luar sana ada banyak wanita,” lanjut Nial. “Lebih mudah. Lebih patuh. Tidak membawa masalah seperti dirimu.”

Nada suaranya nyaris datar—tapi tidak terdengar merendahkan. Justru … jujur.

“Tapi aku tetap memilihmu.”

Jantung Queen berdetak lebih cepat.

“Itu saja yang aku pahami,” tambah Nial. “Aku tidak tahu apakah itu yang kau sebut perasaan … atau bukan.”

Queen tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Nial. Mencoba mencerna. “Mungkin…” bisiknya pelan, “itu sudah cukup.”

Nial mengangkat alis tipis. “Cukup?”

Queen mengangguk kecil. “Karena setidaknya … aku tahu aku bukan hanya sekadar ‘kesepakatan’ di matamu.”

•••

“Kau siap?”

Queen menoleh.

Nial sudah berdiri di ambang pintu, rapi dan tampan seperti biasa. Tatapannya menyapu penampilan Queen tanpa banyak ekspresi—namun berhenti sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.

“…ya,” jawab Queen pelan.

Tanpa banyak kata, mereka keluar bersama.

Satu jam kemudian...

Mobil berhenti tepat di depan galeri. Bangunan itu berdiri tenang, eksklusif, dengan fasad modern yang seolah menutup diri dari dunia luar.

Begitu Queen melangkah masuk—ia langsung merasakannya.

Beberapa pasang mata menoleh. Bukan hanya karena Nial, tapi karena … dirinya.

“Bukankah dia seorang Arresta?”

“Ya, dia yang menghilang itu, kan?”

“Yang kudengar, dia menolak perjodohan dengan Armand Chaleb…”

Bisik-bisik itu halus, nyaris tak terdengar—namun cukup jelas untuk menusuk.

Queen menarik napas pelan, namun langkahnya tidak goyah. Ia tetap berjalan tegak.

Di sampingnya, Nial berjalan tanpa menoleh ke siapa pun. Seolah dunia di sekitarnya tidak cukup penting untuk diperhatikan.

Seorang pria berpenampilan rapi segera menghampiri mereka. Wajahnya profesional—hingga matanya jatuh pada Queen. Dan di sanalah ekspresinya berubah.

“Nona Queen…?” Nada suaranya mengandung keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan.

Queen memberi senyum tipis. “Sudah lama ya?!”

“Benar-benar … sudah lama,” balas pria itu, masih sedikit terpaku. “Kami sempat mendengar … kabar bahwa anda menghilang.”

Queen tersenyum tipis. “Aku hanya … mengambil waktu.”

Pria itu mengangguk pelan, meski jelas masih menyimpan banyak pertanyaan. Lalu tatapannya beralih pada Nial. Dan saat itulah—ekspresinya berubah lagi. Lebih kaget. Lebih berhati-hati.

“Tuan Percy,” ucapnya, sedikit menunduk. “Suatu kehormatan bisa menyambut Anda di sini.”

Nial hanya mengangguk singkat.

Tatapan pria itu kembali bergantian antara mereka berdua. Mencermati. Menilai. Menyusun sesuatu di kepalanya. Lalu—senyum tipis muncul.

“Menarik sekali melihat Anda berdua datang bersama,” ucapnya hati-hati. “Terlihat sangat ... serasi.”

Queen langsung menangkap arah pembicaraan itu.

“Tidak, kami—”

Belum selesai.

Suara Nial memotong.

“Tidak perlu.”

Queen terdiam.

Nial tidak menoleh padanya. Tatapannya tetap pada pria di depan mereka. Tenang. Dingin. Namun jelas.

“Kau tidak salah.”

Sunyi sekejap.

Kurator itu sedikit mengernyit, mencoba memahami.

Nial melanjutkan tanpa ragu— “Dia memang kekasihku.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Datar. Tanpa tekanan. Namun efeknya langsung terasa.

Queen membeku, jantungnya berdetak lebih cepat.

Sementara pria di depan mereka tampak sedikit terkejut—namun cepat menutupi dengan profesionalisme.

“Saya sudah menduganya.” ucapnya, kali ini dengan senyum yang lebih pasti. “Anda berdua terlihat sangat serasi.”

Queen masih diam. Namun kali ini—pipinya sedikit memanas.

“Silakan,” lanjut kurator itu, memberi jalan. “Ruang private viewing sudah kami siapkan.”

Nial mengangguk. Lalu, tanpa banyak kata tangannya melingkar di pinggang Queen. Gerakannya alami. Seolah itu memang tempatnya.

Queen menoleh sedikit. Nial tidak melihatnya. Ia tetap berjalan. Membawanya ikut.

Beberapa langkah menjauh, Queen akhirnya berbisik. “Kau tidak perlu mengatakan itu.”

Nial tetap berjalan. “Mengatakan apa?”

“Bahwa aku … kekasihmu.”

Langkah Nial terhenti. Sunyi sekejap. Ia menoleh perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke mata Queen—tenang, namun dalam.

“Kau memang kekasihku, kan?”

Queen membeku.

Nial melanjutkan. “Dan aku tidak suka ada orang yang mengira … kau bukan milikku.”

Blush!

Wajah Queen memerah. Entah serius atau tidak, tapi ucapan Nial berhasil membuatnya salah tingkah.

•••

Ruang private viewing itu sunyi.

Hanya ada beberapa karya yang dipajang—masing-masing dengan pencahayaan sempurna, seolah setiap sudutnya diperhitungkan dengan presisi.

Kurator berjalan sedikit di depan mereka, sesekali melirik untuk memastikan keduanya mengikuti.

“Ini adalah salah satu koleksi terbaru yang baru saja tiba dari Milan,” ucapnya, berhenti di depan sebuah lukisan besar.

Queen ikut berhenti. Matanya langsung tertarik. Lukisan itu … berbeda.

Tidak sepenuhnya abstrak, tapi juga tidak realistis.

Siluet seorang wanita tergambar samar—dengan garis tegas namun tidak sepenuhnya jelas. Warna-warna gelap mendominasi, namun diselingi semburat emas yang kontras.

"Lukisan ini diberi judul 'The Golden Cage'. Senimannya ingin menggambarkan sosok wanita yang terlihat tenang dan anggun di permukaan, namun sebenarnya ia sedang menyimpan gejolak besar di dalamnya. Perhatikan garis emas di bagian leher ini," ia menunjuk detail halus pada lukisan. "Ini melambangkan jeratan yang indah. Sesuatu yang mengikatnya, tapi juga melindunginya agar tidak hancur oleh kegelapan di sekelilingnya."

Queen terpaku. Penjelasan itu terasa terlalu personal, seolah sang seniman sedang melukiskan keadaannya saat ini di dalam mansion Nial.

"Menarik," suara Nial memecah keheningan. Ia melangkah sedikit lebih dekat ke arah Queen, hingga hembusan napasnya terasa di puncak kepala wanita itu. "Jeratan yang indah, ya?"

Kurator itu mengangguk antusias. "Benar, Tuan Percy. Terkadang, sesuatu yang mengikat kita justru adalah satu-satunya hal yang membuat kita tetap utuh. Bagaimana menurut Anda, Tuan?"

Nial tidak melepaskan tatapannya dari sisi wajah Queen. Matanya menggelap, menatap leher jenjang Queen yang terpapar cahaya galeri.

"Aku setuju," bisik Nial, suaranya rendah dan serak, hanya cukup didengar oleh Queen. "Sama seperti caraku menjeratnya. Terlihat tenang, tapi aku tahu persis betapa panas gejolak yang dia sembunyikan di balik sikap diamnya ini."

Mata Queen membelalak. Jantungnya berdegup kencang, memberikan sensasi tersengat listrik yang merambat ke seluruh tubuhnya.

"Garis-garis ini juga melambangkan kepemilikan yang mutlak," lanjut kurator, masih asyik dengan dunianya tanpa menyadari ketegangan di belakangnya. "Sang kolektor tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kanvas ini tanpa izinnya."

Nial menyeringai tipis. Ia mengulurkan tangan, jemarinya mengusap pinggang Queen perlahan, bergerak naik hingga berhenti di punggung Queen yang terbuka sedikit karena model gaunnya.

Kulit mereka bersentuhan, dan Nial sengaja menekan jemarinya di sana.

"Benar sekali," gumam Nial, bibirnya nyaris menyentuh telinga Queen. "Sesuatu yang seindah ini memang hanya boleh dinikmati oleh pemiliknya sendirian. Terutama saat dia mulai 'bergetar' karena sentuhanku ... persis seperti sekarang."

Wajah Queen memerah padam. Panas menjalar dari leher hingga ke pipinya. Ia merasa seolah seluruh ruangan itu mendadak kehilangan oksigen. Ia ingin menjauh, namun tangan Nial di pinggangnya justru mengunci posisinya dengan dominan.

"Nona Queen, Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat sangat merah," tanya sang kurator dengan nada khawatir yang tulus.

Queen tersentak, mencoba mengatur napasnya yang mulai berantakan. "A-aku ... ruangan ini sedikit panas," jawabnya terbata-bata, tidak berani menatap Nial.

Nial justru tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat seksi namun mematikan. Ia menarik Queen lebih rapat ke tubuhnya, membiarkan dadanya yang bidang bersentuhan dengan bahu Queen.

"Memang panas," bisik Nial lagi, kali ini dengan seringai yang lebih berani. "Tapi jangan khawatir. Aku akan memastikan kau tetap 'terjaga' sampai kita pulang nanti."

•••

Pintu galeri tertutup di belakang mereka, namun suasana panas yang diciptakan Nial di dalam tadi seolah ikut terbawa masuk ke dalam mobil.

Begitu pintu mobil tertutup rapat, suasana mendadak menjadi sangat sempit dan menyesakkan.

Queen duduk di sisi jendela, namun ia bisa merasakan kehadiran Nial di sampingnya seperti sebuah medan magnet yang kuat. Kata-kata Nial tentang "jeratan yang indah" dan bagaimana ia "bergetar" masih terngiang-ngiang, membuat detak jantungnya belum juga kembali normal.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang sarat akan ketegangan. Queen meremas jemarinya di atas pangkuan, mencoba mencari oksigen di tengah aroma maskulin Nial yang memenuhi kabin mobil.

Akhirnya, didorong oleh rasa penasaran dan gejolak yang tak tertahankan, Queen memberanikan diri untuk menoleh.

Tepat di saat yang sama, Nial sedang menatapnya.

"Kau masih gemetar," suara Nial memecah kesunyian.

Queen menelan ludah, mencoba mencari suaranya yang hilang. "Kau sengaja melakukan itu di depan kurator tadi. Kenapa?"

Nial tidak menjawab. Ia malah mencondongkan tubuhnya, memangkas jarak hingga Queen bisa mencium aroma sandalwood dan sisa napas maskulinnya. "Karena aku ingin kau tahu rasanya menjadi miliku di depan orang lain. Bukankah kau suka diperhatikan, hm?"

"Kau gila," bisik Queen, napasnya mulai memburu.

"Aku memang gila," balas Nial. Tangannya terangkat, mengusap bibir bawah Queen dengan ibu jarinya, memberikan tekanan yang menuntut. "Sekarang katakan padaku ... apa kau masih menginginkan kebebasanmu, atau kau lebih suka terjerat di tanganku seperti ini?"

Queen menatap mata itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin lari. "Jerat aku jika itu memang caramu melindungiku ... lakukan sekarang."

Mendengar tantangan itu, kilat posesif meledak di mata Nial. Ia segera mengetuk kaca pembatas depan.

"Tepikan mobilnya. Keluar dan jangan kembali sampai aku memerintahkannya," perintah Nial, suaranya rendah dan sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah.

Supir itu hanya mengangguk patuh, segera menepikan mobil di bahu jalan yang sepi di bawah naungan pepohonan besar, lalu keluar tanpa suara. Begitu pintu supir tertutup, Nial langsung menekan tombol pengunci otomatis.

Klik.

Tanpa aba-aba, ia menarik tubuh Queen hingga wanita itu terjatuh di atas pangkuannya, mengangkanginya dalam satu gerakan dominan.

"Nial—"

"Sshh," Nial membungkam protes Queen dengan ciuman yang menggairahkan.

Tangannya merayap ke punggung Queen yang terbuka, menarik tubuh itu agar semakin menempel pada dadanya yang bidang.

Ah!

Queen mendesah dalam ciuman mereka, tangannya meremas bahu Nial seiring dengan ciuman pria itu yang berpindah ke lehernya, memberikan tanda kepemilikan yang panas di sana.

"Kau milikku, Queen," geram Nial di antara ciumannya. "Jangan pernah lupakan hal itu. Tidak siapapun. Hanya aku."

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!