Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Arka langsung mengajari Nisa cara menggunakan mesin kasir pintar dan tugas-tugas dasar seperti menyiapkan bahan pelengkap untuk sop buntut.
Benar saja sesuai analisis sistem, Nisa belajar dengan sangat cepat.
Hanya dalam waktu tiga puluh menit, tangannya sudah lincah membungkus pesanan dan mengoperasikan mesin kasir tanpa satu pun kesalahan.
"Bagus sekali Nisa, dengan begini aku bisa fokus seratus persen hanya pada wajan dan masakanku." Arka memuji asisten barunya itu dengan puas.
Di saat Arka dan Nisa sedang sibuk melakukan persiapan untuk jam buka, suara langkah kaki berat terdengar mendekat ke arah konter mereka.
Tap tap tap.
Pak Anton dan Bu Rina berjalan berdampingan menghampiri kios Arka dengan senyum yang terlihat sangat palsu dan dipaksakan.
"Selamat pagi anak muda, kudengar kemarin jualanmu sangat meledak ya." Sapa Pak Anton sambil menyandarkan sikunya di atas etalase kaca milik Arka.
Arka menghentikan aktivitas memotong dagingnya dan menatap kedua tetangga kiosnya itu dengan tatapan menilai.
"Pagi Pak, Bu. Ya, puji syukur kemarin pembukaannya lumayan lancar." Arka menjawab dengan sopan, mencoba menjaga hubungan baik dengan sesama penyewa.
"Lancar sih lancar, tapi kau tahu tidak kalau kesuksesanmu itu menyusahkan orang lain di sini?" Bu Rina langsung menyambar dengan nada yang sangat ketus.
Nisa yang sedang menyusun mangkuk langsung terdiam ketakutan mendengar nada tinggi dari wanita paruh baya itu.
Arka mengerutkan keningnya, suasana ramah tamah seketika berubah menjadi hawa permusuhan yang kental.
"Maksud Ibu bagaimana ya? Saya kan cuma berjualan seperti biasa, tidak mengganggu lahan kios siapa pun." Arka membela diri dengan tenang.
Pak Anton tertawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.
"Dengar ya anak baru, di area pujasera ini ada aturan tidak tertulis yang harus kau patuhi." Pak Anton menunjuk wajah Arka dengan jari telunjuknya yang gemuk.
"Kau tidak boleh menyedot semua pelanggan sendirian, kau harus membatasi porsi jualanmu setiap hari."
"Dan satu lagi, harga sop buntutmu yang delapan puluh ribu itu terlalu murah, kau merusak harga pasar, naikkan harganya jadi seratus lima puluh ribu sekarang juga!" Perintah Pak Anton dengan sangat arogan.
Mendengar aturan bodoh dan tidak masuk akal itu, Arka justru tersenyum miring.
Ia menyadari bahwa senioritas beracun ini hanyalah alasan bagi orang-orang malas yang tidak mau berinovasi dengan masakan mereka sendiri.
"Maaf Pak Anton, saya yang menentukan harga dan porsi dagangan saya sendiri, bukan Anda." Arka menolak mentah-mentah permintaan konyol itu.
"Lagi pula, kalau masakan Bapak dan Ibu memang enak, pelanggan pasti akan tetap datang ke kios kalian tanpa perlu saya membatasi jualan saya." Sindir Arka dengan sangat halus namun menusuk tepat ke jantung.
Wajah Pak Anton langsung memerah padam menahan amarah karena direndahkan oleh anak muda yang usianya jauh di bawahnya.
Bu Rina bahkan sampai terbelalak karena tidak menyangka Arka berani melawan terang-terangan.
"Kau benar-benar anak yang sombong dan tidak tahu diuntung!" Bentak Pak Anton sambil menggebrak kaca etalase Arka.
Brak!
"Kau pikir Nona Clara akan selalu melindungimu? Dia itu bos besar, tidak akan peduli dengan urusan sampah di bawah sini!" Ancaman Pak Anton mulai terdengar mengarah ke kekerasan.
Nisa langsung bersembunyi di balik punggung Arka karena ketakutan melihat pria besar itu mengamuk.
"Jangan berani merusak barangku Pak Anton, atau aku akan melaporkanmu ke pihak keamanan mal." Arka menatap tajam mata pria itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Kau menantang kami? Baik, kita lihat seberapa lama kios sombongmu ini bisa bertahan!" Pak Anton menarik lengan Bu Rina untuk segera pergi dari sana.
"Tunggu saja pembalasan kami anak muda!" Bu Rina ikut memberikan ancaman terakhir sebelum mereka berdua melangkah menjauh.
Arka hanya menghela napas panjang melihat kelakuan kekanak-kanakan dari para pesaingnya itu.
"Mas Arka, apakah kita akan baik-baik saja? Mereka sepertinya orang yang punya pengaruh di sini." Nisa bertanya dengan suara gemetar dari belakang Arka.
"Tenang saja Nisa, kamu tidak perlu takut pada anjing yang cuma bisa menggonggong." Arka tersenyum menenangkan asistennya itu.
"Tugas kita cuma satu, yaitu memasak makanan yang paling enak untuk pelanggan yang sudah rela mengantre."
Namun Arka tidak tahu bahwa ancaman Pak Anton bukanlah gertakan sambal belaka.
Satu jam kemudian, saat area pujasera sudah mulai didatangi oleh pengunjung untuk makan siang, sebuah masalah baru datang menghampiri.
Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja rapi berdasi lengkap dengan tanda pengenal manajemen mal berjalan mendekati kios Arka.
Di belakang pria itu, Pak Anton dan Bu Rina mengikuti dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.
Pria berdasi itu adalah Pak Joko, manajer operasional lantai tiga yang sudah menerima amplop suap tebal dari Pak Anton tadi pagi.
Pak Joko berdiri tepat di depan konter Arka dengan melipat tangannya di dada.
"Permisi, apakah Anda yang bernama Arka, pemilik Dapur Arka Absolute?" Pak Joko bertanya dengan nada formal yang sangat dingin.
"Benar Pak, saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?" Arka membalas tatapan manajer itu dengan tenang.
Pak Joko mengeluarkan sebuah papan klip berisi tumpukan kertas dari dalam pelukannya.
"Saya menerima surat keluhan resmi kolektif dari sepuluh penyewa kios di lantai ini mengenai operasional kios Anda." Pak Joko membaca kertas itu dengan suara lantang agar didengar oleh pelanggan yang mulai mengantre.
"Mereka melaporkan bahwa Anda menggunakan bahan penyedap ilegal yang menyebarkan bau menyengat hingga mengganggu kenyamanan kios lain."
Fitnah keji itu langsung membuat para pelanggan yang sedang mengantre saling berbisik-bisik dengan wajah ragu.
"Bahan ilegal? Itu fitnah yang sangat tidak berdasar Pak Manajer!" Arka menaikkan nada suaranya karena tidak terima masakannya dihina.
"Bumbu saya adalah murni racikan rempah tradisional yang kualitasnya bisa diuji di laboratorium mana pun!" Arka membela diri dengan tegas.
"Saya tidak butuh pembelaan Anda." Pak Joko memotong ucapan Arka dengan arogan.
"Berdasarkan wewenang saya sebagai manajer lantai, saya memutuskan untuk menangguhkan operasional kios Anda selama satu minggu untuk penyelidikan lebih lanjut."
Mata Arka membulat sempurna, ia menyadari bahwa ini bukan sekadar teguran biasa, melainkan sabotase berkedok peraturan resmi.
Pak Anton tertawa terbahak-bahak dari belakang Pak Joko.
"Tutup saja kiosmu itu anak muda, ini akibatnya kalau kau tidak mau menghormati aturan orang tua di sini." Ejek Pak Anton dengan sangat puas.
"Silakan tutup etalase Anda sekarang juga, atau saya akan memanggil satpam untuk menyeret Anda keluar." Pak Joko memberikan ultimatum dengan wajah tak berbelas kasihan.
Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat, darahnya mendidih melihat penyalahgunaan kekuasaan dari pegawai rendahan mal ini.
Jika ia menutup kiosnya selama seminggu, bukan hanya target omset sistem yang akan gagal total, tetapi reputasinya juga akan hancur lebur di mata pelanggan setianya.
"Aku tidak akan menutup kios ini walau sedetik pun." Arka menjawab dengan suara rendah yang mengancam, siap untuk melawan habis-habisan pengusiran paksa ini.
Tepat saat situasi mulai memanas dan memicu keributan besar, suara dering telepon yang sangat nyaring terdengar dari dalam saku celana Pak Joko.