NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Mencari Sekutu Terpercaya

Perjalanan pulang dari rumah Tiara terasa berbeda. Theo, dengan kepolosan seorang anak, memecah keheningan di dalam mobil. "Ibu, kenapa kita tiba-tiba pulang dari rumah Cristal? Apa ada sesuatu?" tanyanya, matanya menatap ibunya dengan penuh tanya.

Ibu Ratna tersenyum tipis, berusaha menutupi kegelisahan yang masih menyelimutinya. "Tidak apa-apa, sayang," jawabnya lembut, sambil mengusap kepala Theo. "Ibu hanya ada keperluan mendesak yang harus segera diselesaikan. Kamu di rumah dulu ya, sayang? Ibu akan segera kembali."

Theo mengangguk, meskipun ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan ibunya. Ia percaya pada ibunya, namun kejadian di rumah Tiara tadi meninggalkan sedikit tanda tanya di benaknya.

Begitu sampai di apartemen, Ibu Ratna segera meminta Theo untuk bermain di kamarnya. Tanpa membuang waktu, ia bergegas mengganti pakaiannya dan keluar lagi. Tujuannya kali ini adalah pasar. Bukan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, melainkan untuk mencari seseorang. Seseorang yang ia yakini bisa membantunya mengungkap kebenaran dan mungkin melawan Rendra.

Ia mencari keberadaan Pak Wijaya. Pria itu adalah mantan tangan kanan Baskara, suaminya. Pak Wijaya adalah orang yang sama yang pernah memberikan wasiat berupa uang di rekening ATM atas nama Theo. Di antara semua orang yang ia kenal, hanya Pak Wijaya yang ia percayai sepenuhnya untuk membantunya dalam situasi genting seperti ini. Ia tahu Pak Wijaya memiliki informasi dan koneksi yang mungkin bisa membantunya memahami lebih dalam tentang sepak terjang Rendra.

Ibu Ratna berkeliling pasar, matanya awas mengamati setiap sudut. Ia bertanya pada beberapa pedagang yang ia kenal, namun belum ada kabar tentang Pak Wijaya. Keringat mulai membasahi pelipisnya, bukan hanya karena panasnya cuaca, tetapi juga karena kecemasan yang semakin menumpuk. Ia harus segera bertemu Pak Wijaya.

...****************...

... Setelah hampir putus asa, matanya menangkap sosok yang familiar sedang berbincang dengan seorang penjual buah di salah satu kios yang ramai. Pak Wijaya! Ia segera mempercepat langkahnya, menerobos keramaian pasar yang padat.

"Pak Wijaya!" panggil Ibu Ratna, suaranya sedikit terengah-engah namun tegas.

Pak Wijaya menoleh, ekspresinya berubah dari ramah menjadi terkejut melihat Ibu Ratna datang menghampirinya. Ia segera menghentikan obrolannya dengan penjual buah dan menghampiri Ibu Ratna.

"Ibu Ratna? Ada apa gerangan Ibu ke sini?" tanyanya, nada suaranya menunjukkan kepedulian. Ia melihat raut wajah Ibu Ratna yang tampak tegang dan sedikit terburu-buru.

"Pak Wijaya, saya perlu bicara dengan Anda. Sangat penting," ujar Ibu Ratna, matanya menatap lurus ke arah Pak Wijaya. "Bisakah kita mencari tempat yang lebih tenang? Mungkin di kafe dekat sini?"

Pak Wijaya mengamati wajah Ibu Ratna sejenak, ia bisa merasakan urgensi dalam permintaannya. Ia tahu Ibu Ratna bukan orang yang akan bertindak gegabah tanpa alasan kuat. "Tentu saja, Bu. Mari," jawabnya singkat, lalu ia pamit sebentar pada penjual buah sebelum mengikuti Ibu Ratna.

Mereka berjalan beriringan menuju sebuah kafe yang tidak terlalu ramai, agak tersembunyi di salah satu sudut jalan pasar. Begitu duduk di meja yang agak terpencil, Ibu Ratna langsung menyampaikan maksud kedatangannya.

"Pak Wijaya," mulainya, suaranya kini lebih tenang namun penuh keyakinan. "Saya baru saja bertemu dengan istri Rendra. Dan saya yakin, Rendra adalah orang yang sama yang telah menghancurkan hidup almarhum suami saya, Baskara."

Pak Wijaya mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya berubah serius. Ia sudah menduga hal ini mungkin akan terjadi. "Saya mengerti, Bu.

...****************...

Pak Wijaya mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya berubah serius. Ia sudah menduga hal ini mungkin akan terjadi. "Saya mengerti, Bu," ucapnya pelan. "Saya sudah lama mencurigai Rendra. Sejak dulu, saat dia masih menjadi rekan bisnis Baskara. Ada banyak kejanggalan dalam cara dia bertindak, dan saya selalu merasa dia punya agenda tersembunyi."

Ibu Ratna mengangguk, rasa lega mulai menjalar di hatinya karena menemukan sekutu yang bisa dipercaya. "Terima kasih, Pak Wijaya. Saya tahu Anda adalah orang yang paling bisa saya percaya. Anda tahu persis bagaimana Rendra dan Baskara bekerja sama dulu."

Pak Wijaya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tatapannya penuh tekad. "Lantas, apa rencana Ibu selanjutnya? Dan apa yang harus saya bantu?" tanyanya langsung ke inti permasalahan. Ia siap memberikan dukungan penuh.

Ibu Ratna menarik napas dalam-dalam, matanya menatap lurus ke arah Pak Wijaya. "Saat ini, saya belum punya rencana yang jelas. Tapi yang saya butuhkan sekarang adalah informasi sebanyak mungkin dari Anda, Pak," katanya dengan suara mantap. "Informasi tentang Rendra. Bagaimana dia beroperasi, siapa saja rekan bisnisnya yang lain, aset-asetnya, kelemahan-kelemahannya. Semakin banyak yang saya tahu, semakin matang rencana saya."

Ia melanjutkan, "Saya ingin tahu bagaimana dia bisa menghancurkan Baskara. Apakah ada bukti-bukti yang bisa kita temukan? Saya ingin merencanakan semuanya dengan matang, Pak. Saya tidak ingin gegabah. Saya ingin memastikan Rendra tidak bisa lolos dari perbuatannya."

Pak Wijaya mengangguk mengerti. Ia tahu betul betapa cerdas dan liciknya Rendra. Mengumpulkan informasi adalah langkah awal yang paling krusial. "Baik, Bu Ratna. Saya akan melakukan yang terbaik. Saya masih menyimpan beberapa catatan lama dan kontak yang mungkin berguna. Saya akan coba menggali informasi dari jaringan saya."

...***************...

Pak Wijaya mengangguk mengerti. Ia tahu betul betapa cerdas dan liciknya Rendra. Mengumpulkan informasi adalah langkah awal yang paling krusial. "Baik, Bu Ratna. Saya akan melakukan yang terbaik. Saya masih menyimpan beberapa catatan lama dan kontak yang mungkin berguna. Saya akan coba menggali informasi dari jaringan saya."

Ia berhenti sejenak, memikirkan implikasi dari pertemuan tak sengaja di rumah Tiara. "Dan satu hal lagi, Bu Ratna," lanjut Pak Wijaya, nadanya berubah menjadi lebih serius. "Saya yakin, setelah pertemuan tak sengaja kalian di rumah Tiara tadi, Rendra pasti akan mengawasi Anda dan Theo dari jarak jauh. Dia pasti curiga, apalagi jika dia tahu Anda mengenali dirinya dan ada sesuatu yang tidak beres dalam pertemuan itu."

Ibu Ratna merasakan bulu kuduknya merinding mendengar perkataan Pak Wijaya. Ia memang merasakan ada tatapan Rendra yang berbeda saat mereka bertemu, tatapan yang penuh perhitungan.

"Untuk itu," Pak Wijaya melanjutkan, tatapannya penuh keyakinan, "saya akan membantu Anda untuk menjaga keselamatan dan keamanan Anda dan Tuan Theo. Saya akan mencoba memantau pergerakan mencurigakan di sekitar apartemen kita. Saya tidak akan membiarkan Rendra mendekati kalian."

Ibu Ratna menatap Pak Wijaya dengan rasa terima kasih yang mendalam. Kehadiran Pak Wijaya memberinya kekuatan dan harapan baru. Ia tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi ancaman yang mungkin datang.

"Terima kasih banyak, Pak Wijaya," ucap Ibu Ratna tulus. "Saya sangat menghargai bantuan Anda. Kita harus berhati-hati."

Pak Wijaya mengangguk tegas. "Tentu, Bu. Kita akan bekerja sama. Anda fokus mengumpulkan informasi, dan saya akan memastikan kalian berdua aman. Kita akan hadapi ini bersama-sama."

Percakapan mereka di kafe itu menjadi awal dari sebuah kerjasama yang penting. Dengan Pak Wijaya di sisinya, Ibu Ratna merasa lebih siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
Rahul: aman, author akan membuat cerita semenarik mungkin🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!