NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Rayan baru saja menuntaskan pertemuan bisnis di sebuah kafe berkonsep terbuka. Suasana di sekelilingnya masih terasa tenang dan hangat, dengan sisa udara pagi yang memberi kesan damai yang jarang ia temui dalam kesehariannya. Matahari belum sepenuhnya meninggi, membuat cahaya yang jatuh di area kafe terasa lembut dan tidak menyilaukan.

"Tempat ini lumayan juga buat istirahat sebentar," ujar Arka, asisten Rayan, sambil mengikuti langkahnya menuju taman kecil di sisi kafe. "Udara paginya enak, cocok buat nenangin pikiran sebelum lanjut kerja."

Rayan hanya mengangguk singkat. Seperti biasa, ia memancarkan ketenangan yang sulit ditembus, disertai aura dingin yang membuat orang lain segan untuk berbicara lebih dulu. Ia kemudian duduk di salah satu bangku taman dengan gerakan terukur, rapi, dan penuh kendali.

Tangannya merapikan sedikit jas hitam yang membalut tubuhnya, memastikan setiap bagian tetap jatuh sempurna di tempatnya, seolah mencerminkan dirinya yang selalu teratur dan tak mudah terusik keadaan.

Beberapa anak tampak riang bermain di sekitar kolam air mancur kecil, tawa mereka terdengar ringan dan berulang, menciptakan suasana hidup di tengah taman yang tenang. Kontras itu terasa begitu jelas bagi Rayan, seolah kebahagiaan sederhana mereka menyoroti ruang kosong dalam dirinya yang telah bertahan selama dua puluh bulan terakhir.

Sejak malam itu… sejak sosok gadis itu menghilang dari hidupnya, ada bagian dari dirinya yang seolah ikut lenyap dan tak pernah benar-benar kembali.

Tiba-tiba, suara langkah kecil terdengar mendekat, memecah lamunan Rayan. Seorang anak laki-laki sekitar dua setengah tahun muncul dari arah taman, berjalan dengan langkah ringan dan penuh percaya diri. Ia berhenti tepat di depan Rayan, menatapnya tanpa ragu.

Rayan menatap anak itu dengan alis sedikit terangkat, jelas terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.

“Eh…” gumamnya pelan.

“Kamu kenapa sendirian?” suara Rayan terdengar pelan, lebih lembut dari biasanya. Ia kemudian sedikit menunduk, mencoba menyamakan tinggi tubuhnya dengan anak kecil itu.

“Ibumu di mana?” tanyanya hati-hati, seolah takut membuat anak itu takut atau bingung.

Anak itu menatap Rayan dengan polos, lalu menjawab dengan suara cadel khas balita sambil menunjuk ke arah taman.

“Mama… cari botol… bekas,” ucapnya terbata, seolah itu hal paling biasa di dunianya.

Rayan mengerutkan dahi, mencoba mencerna jawaban sederhana itu.

“Cari botol bekas…” gumamnya pelan, seolah mengulang kata-kata anak itu untuk memastikan ia tidak salah dengar.

Sementara itu, Arka kembali mendekat sambil membawa dua botol air mineral di tangannya. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Rayan masih berjongkok di depan anak kecil itu, lalu ia berdiri di sisi bangku dengan ekspresi sedikit bingung, menunggu penjelasan.

“Ini, Tuan. Saya sudah ambilkan air,” ucap Arka sambil mendekat.

Namun langkahnya mendadak melambat. Ia terdiam sesaat ketika melihat anak kecil itu duduk dengan tenang di sebelah Rayan, menatap mereka berdua dengan sorot mata polos seolah bukan orang asing. Arka pun mengernyit ringan, merasa ada sesuatu yang janggal namun sulit dijelaskan.

Arka melangkah lebih dekat, lalu sedikit menundukkan tubuhnya untuk memperhatikan anak kecil itu dari jarak yang lebih dekat. Matanya meneliti wajah polos di hadapannya, seolah mencoba memastikan apa yang ia lihat.

Beberapa detik kemudian, raut terkejut jelas terlihat di wajahnya. Alisnya naik sedikit, dan ia refleks menoleh ke arah Rayan, seakan baru saja menemukan sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya.

“Tu-Tuan…” Arka menelan ludah sebelum melanjutkan, masih menatap anak itu bergantian dengan Rayan.

“Anak ini… wajahnya…” suaranya sedikit ragu, seolah takut salah bicara. Ia berhenti sejenak, lalu akhirnya berkata pelan, “Mirip sekali dengan Anda.”

Rayan terdiam. Pandangannya bertemu langsung dengan mata bocah itu cokelat jernih, polos, tanpa beban. Sekilas, ada sesuatu yang terasa mengganggu pikirannya.

Kulitnya yang cerah, bentuk rahang kecilnya, hingga cara ia berdiri dan menatap semuanya menciptakan perasaan aneh yang sulit dijelaskan, seperti bayangan samar dari sesuatu yang pernah ia kenal, namun tak mampu ia ingat dengan jelas.

Seakan-akan, sosok kecil yang berdiri di hadapannya itu adalah pantulan dirinya sendiri dalam wujud yang lebih muda. Sebuah versi mini yang membuat Rayan tanpa sadar terdiam lebih lama, mencoba memahami perasaan asing yang perlahan muncul di dadanya.

Jantung Rayan berdegup sedikit lebih cepat tanpa alasan yang bisa ia jelaskan. Ada dorongan aneh yang membuatnya bertindak di luar kebiasaannya. Perlahan, ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan kecil itu dengan hati-hati, seolah takut membuatnya takut.

Dengan suara yang lebih tenang namun terdengar dalam, ia kembali bertanya, berusaha menjaga nada tetap stabil meski pikirannya mulai terusik oleh banyak kemungkinan yang belum ia pahami.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Rayan pelan, suaranya terdengar lebih hangat dari sebelumnya saat ia menatap anak kecil itu dengan saksama.

Anak itu menatap Rayan tanpa ragu, lalu menjawab dengan suara kecil yang polos.

“Fariz,” ucapnya sederhana, seolah nama itu adalah hal paling biasa yang ia kenal.

Rayan langsung terdiam. Wajahnya membeku seketika, sementara pikirannya seperti berhenti memproses apa yang baru saja ia dengar. Di sisi lain, Arka pun ikut membisu, tidak mampu langsung bereaksi.

Nama itu Fariz entah kenapa terasa seperti hentakan halus yang perlahan mengguncang sesuatu yang tidak mereka mengerti, membuat suasana di antara mereka berubah menjadi tegang dan penuh tanda tanya.

Dan pada saat itu juga, dari kejauhan terdengar sebuah teriakan lirih yang dipenuhi kepanikan dan ketakutan. Suaranya samar, namun cukup untuk memecah suasana yang sebelumnya terasa beku, membuat beberapa kepala di sekitar taman langsung menoleh waspada.

"Fariz!!!! "

Rayan dan Arka serentak menoleh ke arah sumber suara tersebut. Insting mereka langsung terpicu, membuat suasana yang semula tegang berubah menjadi lebih waspada.

Seorang wanita muda terlihat berlari dari arah timur taman dengan langkah tergesa-gesa. Rambutnya berantakan, menandakan ia baru saja melewati sesuatu yang membuatnya panik. Matanya sembab, napasnya tersengal, dan pandangannya bergerak liar ke segala arah, mencari sesuatu dengan penuh harap dan kecemasan yang jelas terlihat di wajahnya.

Dan ketika pandangannya akhirnya tertuju pada bangku tempat Rayan dan Arka berada, langkah wanita itu langsung terhenti. Seluruh tubuhnya seperti membeku sesaat, seolah apa yang ia lihat membuatnya kehilangan kata-kata.

Rayan perlahan berdiri, gerakannya terasa berat seolah ada sesuatu yang menahan di dadanya. Detak jantungnya semakin tidak beraturan saat matanya menangkap wajah wanita itu dengan jelas.

Wajah yang selama ini hanya hadir samar dalam mimpinya wajah dari malam yang tak pernah bisa ia ingat sepenuhnya, namun juga tak pernah benar-benar hilang dari pikirannya. Ada sesuatu yang familiar, sekaligus menyakitkan, yang membuatnya terpaku di tempat.

“Kamu…” gumam Rayan pelan, hampir tak terdengar, seolah kata itu tercekat di tenggorokannya saat ia menatap wanita di hadapannya dengan campuran kaget dan ketidakpercayaan.

Dan Alya membalas tatapan Rayan, lalu seketika matanya membulat. Seluruh tubuhnya tampak bergetar hebat, seolah apa yang ia lihat di depannya adalah sesuatu yang selama ini ia hindari sekaligus tak pernah ia duga akan kembali muncul.

Dunia terasa berhenti sejenak, seolah waktu enggan bergerak di antara tiga sosok yang kini saling berhadapan dalam diam. Seperti garis takdir yang akhirnya menemukan titik temu setelah sekian lama terpisah tanpa kepastian.

Tiga tahun penuh pencarian, luka yang tak pernah benar-benar sembuh, dan kerinduan yang selama ini hanya bisa dipendam tanpa pernah terucap, kini bertemu dalam satu ruang yang sama membuat semuanya terasa begitu nyata sekaligus menyesakkan.

Tubuh Alya seketika membeku. Napasnya terasa tertahan di dada saat matanya bertemu dengan sosok pria yang selama ini hanya hadir samar dalam ingatan dan bayang-bayangnya.

Pria yang pernah mengacaukan hidupnya, yang tak pernah benar-benar ia cari, namun juga tak pernah mampu ia hapus dari pikirannya seolah jejaknya tetap tertinggal, meski waktu sudah lama berlalu.

“Fariz!” pekik Alya dengan suara yang pecah, lalu ia berlari menghampiri anak itu dengan langkah tergesa-gesa. Lututnya terasa lemas, hampir tak mampu menopang tubuhnya sendiri, namun ia tetap memaksa maju.

Begitu sampai, ia langsung merengkuh Fariz ke dalam pelukannya dengan erat. Pelukan yang penuh rasa takut, seolah-olah anak itu bisa hilang lagi jika ia melepaskan sedikit saja genggamannya.

Fariz menyambut pelukan ibunya dengan riang, tanpa menyadari betapa kacau perasaan Alya saat itu. Ia justru tampak senang dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Mama, itu ada om baik tadi kasih minum,” ucapnya polos sambil menunjuk ke arah Rayan, tanpa memahami ketegangan yang sedang berlangsung di antara orang dewasa di sekitarnya.

Alya merengkuh tubuh kecil Fariz lebih erat, lalu perlahan bangkit dari posisinya. Ia menegakkan tubuh sambil tetap menjaga anak itu dalam pelukannya.

Kemudian pandangannya beralih ke arah Rayan. Sorot matanya berubah tajam, penuh kewaspadaan yang jelas terasa. Ada ketegasan yang ia tunjukkan, namun di balik itu masih terselip ketakutan yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

Rayan melangkah sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga jarak yang wajar. Tatapannya tak lepas dari Alya, seolah memastikan apa yang ia lihat benar adanya.

“Kamu…” ucapnya pelan, kali ini lebih tegas. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “kamu perempuan malam itu, kan?”

Alya menelan ludah, berusaha menahan gemetar yang mulai menjalar ke suaranya. Dengan napas tertahan, ia menggeleng pelan.

“Maaf… Anda salah orang,” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan yang pecah di tengah ketegangan.

Tanpa menunggu jawaban, ia segera merapatkan pelukannya pada Fariz, lalu membalikkan tubuhnya. Langkahnya sudah bersiap menjauh, seolah ingin segera menghindari situasi yang membuat dadanya semakin sesak.

Namun Rayan segera melangkah cepat, memotong jalannya dan berdiri tepat di hadapan Alya.

“Tunggu!” ucapnya tegas, kali ini nada suaranya lebih dalam, menahan langkah perempuan itu agar tidak pergi begitu saja.

Langkah Alya langsung terhenti, namun ia tetap menunduk, enggan menatap wajah di hadapannya. Jarinya semakin erat menggenggam Fariz, seolah itu satu-satunya pegangan yang membuatnya tetap berdiri di tengah situasi yang menegangkan itu.

“Apa dia anakku?” tanya Rayan, suaranya tidak meninggi, namun terdengar jelas dan penuh keteguhan yang sulit dibantah.

Alya menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan getaran di suaranya.

“Bukan,” jawabnya pelan, singkat, namun terasa berat di antara mereka berdua.

“Kalau dia memang bukan anakku, kenapa kamu terlihat begitu takut?” tanya Rayan lagi, suaranya tetap tenang namun menusuk.

Ia menatap langsung ke arah mata Alya, tidak memberi ruang untuk menghindar. Di detik itu juga, ia menangkap sesuatu yang tak bisa disembunyikan tatapan Alya yang bergetar, penuh luka dan kepanikan yang terlalu dalam untuk sekadar kebohongan biasa.

Arka yang berdiri di belakang Rayan hanya terdiam tanpa suara. Ia menahan diri untuk tidak ikut campur, matanya memperhatikan situasi yang terjadi di depannya dengan cermat.

Dalam benaknya, ia menyadari satu hal ini adalah pertama kalinya ia melihat Rayan begitu berbeda. Biasanya tenang dan terkendali, kini justru tampak goyah, terseret oleh emosi yang sulit ia kendalikan sendiri.

“Kenapa kamu menghilang?” suara Rayan terdengar serak, tidak lagi setegas sebelumnya, melainkan retak oleh emosi yang selama ini ia tahan.

Ia menatap Alya dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Aku mencarimu selama tiga tahun ini.”

Alya memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang sebelum kembali membukanya perlahan. Kali ini, ada perubahan jelas pada sorot matanya.

Bukan lagi sekadar takut atau ragu, melainkan ketegasan yang dibalut luka lama. Di dalamnya tersimpan emosi yang dalam seperti dendam yang tidak pernah ia ucapkan, namun selama ini ia simpan rapat-rapat sendiri.

Fariz menatap kedua orang dewasa di depannya dengan kebingungan yang polos. Ia hanya menangkap nada suara dan perubahan ekspresi mereka, tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di antara Alya dan Rayan.

Sebelum Rayan sempat berkata apa-apa lagi, Alya sudah lebih dulu bergerak cepat. Ia mengangkat Fariz ke dalam gendongannya, memeluknya erat-erat seolah tak ingin ada celah sedikit pun yang bisa memisahkan mereka.

Dengan langkah tergesa, ia mulai menjauh. Matanya menyimpan luka yang dalam, sementara bibirnya terkatup rapat, menahan segala emosi yang hampir meledak. Seolah-olah kehadiran Rayan adalah sesuatu yang selama ini ia hindari sebuah masa lalu yang tak ingin ia sentuh kembali, apa pun yang terjadi.

Rayan tidak membiarkan Alya pergi begitu saja. Ia segera mengejar langkah perempuan itu yang berlari memasuki gang sempit di antara bangunan padat. Gerakannya cepat dan terarah, seolah tempat itu bukan hal asing baginya.

Rayan terus mengikuti dari belakang, hingga akhirnya Alya berhenti di sebuah bangunan kecil yang tampak sangat sederhana lebih tepat disebut tempat tinggal seadanya daripada rumah yang layak.

Tempat itu tampak sempit dan kumuh, dengan kondisi bangunan yang hampir tak layak huni. Dindingnya penuh retakan dan plester yang mengelupas, sementara pintu kayu tua berderit pelan setiap kali tertiup angin.

Di depan bangunan sederhana itulah Alya berdiri, masih menggendong Fariz erat di pelukannya. Ia berhenti, menahan langkah, seolah tempat itu adalah satu-satunya perlindungan yang tersisa baginya dan anaknya.

Rayan menatap bangunan itu dengan tatapan tak percaya, napasnya sedikit tertahan.

Jadi… seperti inikah kehidupan yang mereka jalani selama ini?

Di kepalanya berputar satu pemikiran yang menyesakkandi tempat sesederhana ini, Alya membesarkan anaknya seorang diri.

Sebuah rasa bersalah tiba-tiba menghantam Rayan dengan keras, membuat dadanya terasa berat. Terlebih ketika ia kembali teringat ucapan polos Fariz sebelumnya tentang ibunya yang

“mencari botol bekas” yang kini terdengar jauh lebih dalam maknanya dari yang ia sadari tadi.

Rayan mengatup rahangnya kuat-kuat, tangannya tanpa sadar mengepal di sisi tubuhnya. Bukan sekadar terkejut, tapi ada emosi lain yang jauh lebih berat kemarahan yang ia arahkan pada dirinya sendiri.

Ia sadar, tanpa ia inginkan sekalipun, dirinya telah menjadi bagian dari kehancuran hidup seseorang.

*****

Alya segera masuk ke dalam rumah sederhana itu dengan langkah tergesa. Ia menutup pintu kayu yang sudah usang di belakangnya, meski tidak benar-benar bisa terkunci rapat seperti seharusnya.

Di dalam pelukannya, Fariz tampak kebingungan. Bocah itu menatap ibunya dengan polos, seolah belum memahami mengapa wajah Alya terlihat tegang dan penuh ketakutan seperti itu.

Dada Alya naik turun, ia memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan gemetar di dalam dirinya. Namun usahanya sia-sia.

Sebuah suara langkah kaki yang mendekat dari luar membuat napasnya kembali tersengal, jantungnya langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Rayan berdiri di depan pintu rumah itu, ragu untuk melangkah lebih jauh. Pandangannya menyapu setiap bagian bangunan sempit yang tampak rapuh, seolah setiap detailnya menampar kesadarannya berulang kali.

Benarkah ini tempat mereka hidup selama ini? pikirnya, dengan dada yang terasa semakin sesak.

Tangannya perlahan terangkat, lalu mengetuk pelan pintu kayu di hadapannya. Suara ketukan itu terdengar samar, namun cukup untuk memecah kesunyian di dalam rumah kecil tersebut.

Tok.... Tok.... Tok.... Tok....

“Tolong buka pintunya… aku cuma mau bicara sebentar,” ucap Rayan pelan dari balik pintu. Ia menahan nadanya agar tetap terdengar tenang, tidak ingin membuat suasana di dalam rumah itu semakin tegang atau menakutkan.

Tak lama berselang, Arka menyusul dan muncul di belakang Rayan, menghentikan langkahnya sejenak saat melihat situasi di depan rumah itu.

“Tuan… apa ini benar rumah mereka?” bisik Arka pelan, nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya.

Rayan tidak menjawab. Sorot matanya tetap tertuju lurus ke arah pintu kayu yang tampak rapuh itu.

Perlahan, ia mendorongnya. Pintu itu tidak terkunci hanya terganjal engsel dan kayu yang sudah longgar, membuatnya terbuka dengan suara berderit pelan.

Di dalam rumah yang sempit itu, Alya terduduk di atas tikar lusuh yang sudah mulai usang. Ia memeluk Fariz erat, seolah takut kehilangan satu-satunya yang ia miliki. Seluruh tubuhnya bergetar, napasnya tidak stabil.

Wajahnya tampak pucat, sementara matanya sudah basah oleh air mata yang tak bisa ia tahan. Dari bibirnya, keluar suara lirih yang dipenuhi ketakutan, nyaris tak terdengar di tengah sunyi ruangan.

“Tolong… jangan sakiti kami. Jangan ambil anakku,” suara Alya bergetar hebat, hampir pecah di setiap kata yang ia ucapkan, sementara pelukannya pada Fariz semakin erat seolah tak ingin terlepas sedikit pun.

Suara itu terdengar sangat lirih, hampir hilang di antara kesunyian ruangan, namun justru cukup untuk menusuk perasaan siapa pun yang mendengarnya dan membuat dada terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!