Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
Breeemmm...
Suara knalpot RX-King Ubay memecah kesunyian gang tepat saat jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Angin malam yang menusuk tulang membuat bahunya sedikit kaku. Setelah seharian memantau armada gerobak biru dan memastikan pasokan bahan baku aman untuk esok hari, energi Ubay benar-benar terkuras habis.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah besar dengan tubuh lelah. Begitu pintu jati tertutup, indra penciumannya langsung menangkap sebuah aroma yang sangat asing di rumah tua ini, namun luar biasa menggoda.
Bau harum khas ayam yang digoreng dengan bumbu ketumbar dan lengkuas, berpadu dengan aroma terasi bakar yang gurih, masih tertinggal tipis di udara dapur.
Ubay mengerutkan kening, rasa penasarannya bangkit. Ia berjalan menuju dapur yang sudah bersih berkilat. Di atas meja makan kayu, sebuah tudung saji plastik berwarna merah, yang entah sejak kapan dibeli oleh Nadia sudah bertengger rapi. Di samping tudung saji itu, ada selembar kertas putih kecil yang ditindih gelas bening.
Ubay mengambil kertas itu. Tulisan tangan Nadia yang anggun dan rapi menyapa matanya di bawah temaram lampu dapur.
{Mas Ubay, ini saya sudah buatkan Ayam Goreng Bumbu Lengkuas sama Sambal Terasi Lalapannya sengaja saya taruh di wadah tertutup di dalam kulkas bawah ya Mas, biar tetap segar dan nggak layu kalau dimakan malam-malam. Ayam sama sambalnya sengaja saya taruh di luar, nanti kalau Mas Ubay merasa kurang hangat, tinggal dipanaskan sebentar di wajan. Selamat makan malam, Mas. Terima kasih banyak bahan belanjaannya-Nadia.}
Ubay memandangi surat itu, lalu beralih membuka tudung saji di depannya. Di sana tersaji tiga potong ayam goreng kuning dengan taburan kremesan lengkuas yang melimpah, bersanding dengan secobek kecil sambal terasi matang yang warnanya merah kehitaman, menggoda selera.
“Busyet... wangi bener ini ayam,” batin Ubay, setitik air liur nyaris menetes. Perutnya yang sedari tadi hanya diganjal kopi hitam langsung berdemo meminta haknya.
Tanpa babibu, Ubay langsung menuju kulkas. Benar saja, di rak tengah ada sebuah wadah plastik transparan berisi potongan ketimun dan daun kemangi yang masih berembun segar. Ubay mengambil piring, menyendok nasi hangat yang untungnya masih terjaga suhunya di dalam magic com kecil, lalu duduk di meja makan.
Ia mengambil potongan ayam goreng itu, mencocolnya ke sambal terasi buatan Nadia, lalu menyuapkannya bersama nasi hangat dan kemangi.
Nyam.
Mata Ubay seketika melebar. Daging ayamnya empuk, bumbunya meresap sampai ke tulang, dan sambal terasinya... pedasnya pas, gurih, dengan semburat rasa manis yang bikin nagih.
“Gila... ini bocah pinter banget masaknya. Jauh lebih enak daripada ayam goreng di warung tenda depan pasar,” puji Ubay dalam hati sembari mengunyah dengan lahap. Rasa lelah yang menggelayuti pundaknya seolah luruh dalam setiap suapan nasi hangat malam itu.
Di tengah keheningan malam jam dua belas kurang, Ubay menghabiskan makan malamnya hingga bersih tak tersisa dengan senyum puas yang tertahan. Rumah tua yang biasanya sedingin es kini benar-benar mulai terasa seperti sebuah tempat pulang yang sesungguhnya.
**
Hari Jumat siang yang terik. Kawasan trotoar di dekat taman kota tampak sedikit lebih lengang karena sebagian besar orang baru saja selesai menunaikan salat Jumat. Di sudut tempat biasanya armada gerobak motor listrik biru terparkir, Dika berdiri dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Tangannya agak gemetar saat mengelap boks bertuliskan "Kopi & Teh susu Segaarrr." miliknya.
Namun, rasa takut Dika sedikit terangkat ketika melirik ke arah bangku taman di bawah pohon rindang, tepat tiga meter di samping gerobaknya.
Di sana, Ubay sudah standby. Pemuda gondrong itu duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas lututnya. Ia hanya mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana jins belel, sementara jaket usangnya disampirkan di bahu. Di sela jarinya, sebatang rokok menyala perlahan, menghembuskan asap abu-abu yang langsung buyar ditiup angin siang. Wajahnya lempeng, matanya menatap lurus ke arah jalan raya dari balik kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
“Gue pengen tahu, preman bentukan kayak gimana yang berani-beraninya nyentuh periuk nasi anak buah gue,” batin Ubay dingin.
Tak lama kemudian, gesekan alas sepatu yang diseret di atas trotoar terdengar mendekat. Dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian ketat dan tato murahan di lengan mereka melangkah dengan angkuh. Salah satunya memegang sebuah gembok rantai besar di tangannya, sementara yang satu lagi sibuk mengunyah permen karet dengan tampang songong.
"Woi, bocah! Mana bos lu?" seru preman yang membawa gembok, langsung menggebrak pinggiran boks biru gerobak Dika.
Brak!
"Hari Jumat nih. Sesuai omongan kemarin, mana uang jaminannya? Mau lu bayar atau ini gerobak listrik gue rantai sekalian?" ancamnya.
Dika spontan mundur satu langkah, wajahnya pucat. Ia langsung melirik ke arah bangku taman.
Melihat kode dari Dika, Ubay mematikan puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya perlahan, lalu berdiri. Ia melempar jaketnya ke bangku taman dan melangkah mendekat dengan santai. Aura intimidasi mendadak menguar dari tubuh tegapnya. Tindikan hitam di telinganya berkilat tertimpa cahaya matahari siang yang menyengat.
"Ada urusan apa lu sama gerobak ini?" tanya Ubay, suaranya berat, dalam, dan terdengar sangat tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat atmosfer di sekitar trotoar mendadak mencekam.
Kedua preman itu menoleh serentak. Mereka menatap Ubay dari atas sampai bawah, mencoba mengukur kekuatan pemuda berambut gondrong di depan mereka.
"Lu siapa? Nggak usah ikut campur ya! Ini wilayah kekuasaan Bang Tato, semua yang dagang di sini harus setor uang keamanan!" gertak preman yang memegang gembok, membusungkan dadanya yang legam.
Ubay menaikkan sebelah alisnya di balik kacamata hitam. Sebuah tawa hambar dan sinis lolos dari sudut bibirnya.
“Bang Tato katanya? Elah... nama premannya aja kayak nama mainan hadiah chiki,” batin Ubay geli sendiri di dalam hati. Namun secara lahiriah, wajahnya justru semakin mengeras tanpa ekspresi.
"Gue yang punya gerobak ini," ucap Ubay pendek, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya hanya satu jengkal dari preman tersebut. "Dan setahu gue... dari ujung jalan sana sampai batas lampu merah, nggak ada nama 'Bang Tato'. Jadi, mending lu berdua balik, kasih tahu bos lu yang namanya mirip mainan itu... kalau mau duit, suruh dia sendiri yang datang nyari gue. Nama gue Ubay."
Mendengar nama "Ubay", kedua preman itu seketika tertegun. Ekspresi songong di wajah mereka mendadak luntur, berganti dengan keraguan yang nyata. Di dunia jalanan kota ini, nama Ubay si penunggang RX-King memang bukan nama asing di telinga para pencari upeti liar seperti mereka.
***