NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

"Jadi, kapan Papa akan mulai menyerahkan kendali perusahaan itu sepenuhnya padaku?" tanya Nawang langsung pada intinya dan melipat kedua tangan di dada.

Nawang berdiri di sisi ranjang setelah meletakkan map tebal berisi laporan bulanan perusahaan properti milik ayahnya.

Yudha tidak langsung menjawab. Ia memakai kacamata bacanya, membalik halaman berkas yang dibawa Nawang dengan perlahan sebelum mendongak.

"Kinerja kamu di kantor bagaimana sebulan ini, Nawang? Apakah masih sama seperti dulu yang sering terlambat, atau sudah ada perubahan nyata?"

Nawang mendengus kesal, mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

"Kamu juga belum lupa dengan syarat yang Papa berikan, kan? Syarat mutlak supaya kamu bisa mendapatkan sepuluh persen sisa saham dan aset pribadi milik Papa?" Yudha meletakkan berkas itu di pangkuannya.

Mendengar kata syarat, Nawang seketika mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuh. Ingin rasanya ia memaki kasar lelaki tua di hadapannya ini, namun akal sehatnya masih berjalan. Ia menahan diri demi harta yang selama ini ia incar bersama ibunya, Yeni.

"Papa masih saja meragukan kemampuanku?" tanya Nawang dengan nada suara yang meninggi, tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. "Mau sampai kapan Papa bersikap egois begini pada anak sendiri? Dan soal syarat konyol dari Papa itu, bagaimana bisa aku menikah dan punya anak dalam waktu dekat, kalau aku saja belum menemukan pria yang benar-benar layak dan pas buat aku!"

Yudha menghela napas panjang. Pria paruh baya itu mengulurkan tangan, mencoba mengusap kepala Nawang dengan lembut untuk menenangkannya.

"Papa melakukan ini demi masa depanmu sendiri, Nawang. Kamu cukup menikah saja dengan Satria, anak dari teman bisnis Papa. Setelah kalian menikah dan memiliki anak—"

"Cukup, Pa!" potong Nawang kasar, menepis tangan Yudha dari kepalanya. "Aku tidak mau menikah dengan Satria! Dia itu pria lumpuh yang cuma bisa duduk di kursi roda! Papa benar-benar kelewatan sama aku. Ini tidak adil tahu, Pa! Kenapa aku harus mengorbankan masa mudaku untuk merawat orang sakit hanya demi selembar kertas saham?!" cerocos Nawang berapi-api.

Tepat saat suasana di dalam kamar itu memanas hingga ke puncaknya, pintu kamar yang sedikit terbuka diketuk pelan. Ningsih melangkah masuk dengan anggun, masih mengenakan kemeja putihnya yang rapi setelah insiden di dapur tadi. Tangan kanannya menggandeng erat jemari Luna yang tampak mengantuk.

"Pa, aku pamit pulang sekarang. Urusanku di sini sudah selesai," ucap Ningsih dengan nada datar dan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh keributan yang baru saja terjadi antara ayah dan adik tirinya.

Luna yang berada di sampingnya ikut mendongak, melambaikan tangan kecilnya ke arah ranjang.

"Kakek, Luna pulang duluan ya. Sudah malam, Luna sudah mengantuk."

Nawang seketika menoleh ke arah sumber suara. Matanya membelalak sempurna saat mendapati kakak tirinya yang sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini, kini sedang berdiri kokoh di depan pintu.

"Lho... Mbak Ningsih? Mbak ada di sini?" tanya Nawang dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi canggung dan kaget. Tatapannya kemudian turun ke arah anak kecil di samping Ningsih. "Dan Mbak Ningsih sudah punya anak sebesar ini? Kapan Mbak menikah?"

Ningsih tidak berniat menjelaskan panjang lebar soal badai rumah tangganya dengan Hendra pada Nawang. Ia hanya mengangguk pendek sekilas sebagai jawaban kesopanan, tanpa berniat membalas pembicaraan lebih jauh.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Nawang sebenarnya menyimpan rasa kesal dan cemburu yang teramat besar. Sejak kecil, ia selalu merasa Ningsih-lah yang mendapatkan keberuntungan terbesar, garis wajah yang tegas, serta kasih sayang yang melimpah dari Yudha, meskipun Ningsih selalu bersikap dingin.

Tapi, bagaimanapun juga, garis darah tidak bisa bohong. Di balik rasa irinya, Nawang tetap menganggap Ningsih sebagai kakaknya.

Yudha yang melihat Ningsih hendak pergi langsung panik. Ia mengulurkan tangannya ke arah cucunya.

"Ningsih, menginaplah malam ini di sini. Jangan pulang dulu. Papa masih sangat kangen dengan Luna. Papa belum sempat mengobrol banyak dengannya."

"Tapi, Pa, besok aku harus ke kantor pagi-pagi sekali. Barang-barang Luna juga tidak ada yang dibawa ke sini," tolak Ningsih dengan halus namun tetap tegas.

Belum sempat Ningsih melangkah pergi, Luna tiba-tiba melepaskan gandengan tangan ibunya. Bocah kecil itu malah berlari kecil mendekati ranjang Yudha, lalu menatap Ningsih dengan mata yang berkedip-kedip memelas, mengerucutkan bibirnya yang menggemaskan.

"Mama... Luna betah di sini. Rumah Kakek besar sekali seperti istana Princess. Boleh ya, malam ini Luna menginap di sini saja? Please, Mama..." rengek Luna sembari menggoyang-goyangkan ujung bajunya dengan gaya yang sangat greget dan manja.

Yudha langsung tersenyum lebar melihat tingkah menggemaskan cucunya. "Dengar itu, Ningsih. Anakmu saja betah di sini. Menginaplah satu malam ini saja demi Papa."

Ningsih mengembus napas pasrah, menatap putrinya yang sudah pandai merayu itu dengan gelengan kepala heran.

Tampaknya, malam ini ia harus menunda kepulangannya demi sang putri.

"Semoga saja tidak ada drama selama aku berada di sini," gumam Ningsih.

*

*

"Mbak, tunggu!"

Nawang berlari kecil mengejar Ningsih yang baru saja keluar dari kamar Yudha, meninggalkan Luna yang sedang asyik mendengarkan dongeng dari sang kakek.

Ningsih menghentikan langkahnya di lorong lantai dua. Ia berbalik perlahan, menatap adik tirinya dengan pandangan dingin yang membuat Nawang sempat salah tingkah.

"Ada apa, Nawang?"

Nawang memamerkan senyum manis yang dipaksakan. "Mbak Ningsih kok tidak ada kabar-kabarnya sama sekali kalau sudah menikah? Sama siapa, sih? Kenalin dong ke aku."

"Kami sudah cerai," jawab Ningsih singkat, padat, dan tanpa ekspresi.

"Cerai?!" Mata Nawang membelalak sempurna, tak bisa menyembunyikan rasa syoknya. "Kok bisa, Mbak? Kenapa?"

Ningsih mengembuskan napas kasar. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Nawang dengan sorot mata dingin.

"Kamu kepo sekali dengan urusan orang, Nawang. Aku menikah dengan siapa dan kenapa aku bercerai, apa hubungannya denganmu?"

Nawang langsung mengerucutkan bibirnya, mencoba membela diri. "Ya, aku cuma mau tahu saja, Mbak. Rasanya setelah menikah itu bagaimana. Apalagi papa sekarang sedang memaksaku menikah."

Ningsih tersenyum sinis, menatap Nawang dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kalau mau tahu rasanya, cari tahu sendiri. Jangan pakai hidupku sebagai bahan eksperimenmu."

Malas meladeni pertanyaan tidak bermutu adik tirinya, Ningsih membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan Nawang begitu saja di lorong sepi.

Nawang menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Ih! Dasar pelit! Ditanya soal nikah saja kenapa ketus begitu, sih?!" gumamnya jengkel.

Namun, sedetik kemudian, senyum licik terukir di wajah Nawang. Ia mengingat postur tubuh Hendra, sopir pribadi barunya yang baru ia rekrut siang tadi.

"Tapi tidak apa-apa. Aku harus segera mencari suami yang gagah dan perkasa agar bisa dimanfaatkan. Mas Hendra yang tadi siang badannya kekar juga boleh. Yang penting aku cepat menikah, punya anak, dan Papa segera memberikan semua hartanya padaku!" batin Nawang penuh rencana busuk.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!