NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Luka yang Tak Pernah Sembuh

Sejak makan malam berdua itu, sesuatu berubah di antara Nara dan Damar.

Perubahan kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat keduanya lebih sadar akan keberadaan satu sama lain.

Nara mulai menyadari kebiasaan-kebiasaan kecil Damar.

Cara pria itu selalu minum kopi tanpa gula.

Cara ia mengernyit saat membaca laporan yang berantakan.

Cara ia diam ketika sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Dan yang paling berbahaya...

Cara Damar menatapnya akhir-akhir ini.

Tatapan yang membuat jantung Nara tidak pernah benar-benar tenang.

---

Pagi itu kantor sedang sibuk.

Proyek baru mulai berjalan.

Semua orang kembali tenggelam dalam pekerjaan.

Namun suasana hati Nara terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa minggu lalu.

Setidaknya sampai ia melihat Bianca.

Wanita itu baru saja keluar dari lift VIP.

Wajahnya tampak serius.

Tidak seperti biasanya.

Dan ketika pandangannya bertemu dengan Nara, ada sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang.

Tatapan itu dingin.

Sangat dingin.

Seolah Bianca telah mengambil keputusan penting.

---

"Nara."

Siska muncul sambil membawa setumpuk dokumen.

"Hm?"

"Kamu kenapa?"

"Apa lagi?"

"Aku merasa akhir-akhir ini banyak orang melihatmu."

Nara tertawa kecil.

"Itu cuma perasaanmu."

"Sayangnya bukan."

jawab Siska.

Nara mengikuti arah pandangan sahabatnya.

Beberapa karyawan memang sedang berbisik.

Lalu langsung mengalihkan wajah saat sadar diperhatikan.

Aneh.

Sangat aneh.

---

Menjelang siang.

Damar mendapat panggilan mendadak dari direksi.

Rapat berlangsung hampir dua jam.

Ketika pria itu kembali, wajahnya terlihat lebih dingin dari biasanya.

Bahkan Raka yang biasanya santai memilih tidak banyak bercanda.

"Ada masalah?"

tanya Nara saat mereka berpapasan di koridor.

Damar berhenti.

Tatapannya melembut sedikit.

"Tidak."

jawabnya.

Namun Nara tahu.

Itu bohong.

---

Sore hari.

Sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Nara sedang mengantarkan dokumen ke lantai atas ketika melewati ruang arsip lama.

Pintu ruangan itu sedikit terbuka.

Dan dari dalam terdengar suara dua direktur senior.

Awalnya ia tidak berniat mendengarkan.

Namun satu nama membuat langkahnya terhenti.

"Damar."

Jantungnya langsung berdebar.

---

"Aku masih tidak percaya dia memilih bertahan."

kata salah satu pria.

"Padahal setelah kematian Pak Arman, dia punya banyak alasan untuk pergi."

Pria lain mengangguk.

"Dia terlalu keras pada dirinya sendiri."

Nara membeku.

Pak Arman?

Bukankah itu nama ayah Damar?

"Aku ingat hari pemakaman itu."

lanjut pria pertama.

"Damar bahkan tidak sempat menangis."

"Besoknya dia langsung menghadiri rapat perusahaan."

Keheningan memenuhi ruangan.

Lalu suara lain terdengar.

"Sejak saat itu dia berubah."

"Dia tidak pernah benar-benar pulih."

Nara merasakan dadanya mengencang.

Tanpa sadar.

Ia melangkah mundur.

Lalu pergi.

---

Sepanjang perjalanan kembali ke meja kerja, pikirannya kacau.

Ia selalu tahu Damar kehilangan ayahnya.

Namun tidak pernah tahu seberapa besar luka yang ditinggalkan peristiwa itu.

Kini banyak hal mulai masuk akal.

Kenapa Damar selalu bekerja berlebihan.

Kenapa pria itu jarang menunjukkan emosi.

Kenapa ia seolah memikul seluruh dunia di pundaknya.

Karena mungkin...

Ia memang sedang melakukan itu.

---

Malam tiba.

Sebagian besar karyawan sudah pulang.

Namun Nara masih berada di kantor.

Bukan karena pekerjaan.

Melainkan karena pikirannya tidak tenang.

Ketika ia berjalan menuju pantry untuk mengambil minuman, sosok yang dikenalnya terlihat berdiri di dekat jendela.

Damar.

Sendirian.

Lampu kota memantul di kaca besar di belakangnya.

Membuat suasana terasa sunyi.

---

"Kamu belum pulang?"

tanya Nara.

Damar menoleh.

"Kamu juga."

Nara berjalan mendekat.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri berdampingan.

Menatap pemandangan malam.

"Sulit tidur?"

tanya Damar tiba-tiba.

Nara tertawa kecil.

"Kenapa?"

"Kamu terlihat banyak pikiran."

Pria itu memang terlalu jeli.

---

"Aku dengar sesuatu hari ini."

ucap Nara pelan.

Damar mengernyit.

"Dengar apa?"

Nara ragu beberapa saat.

Namun akhirnya memilih jujur.

"Tentang ayahmu."

Tubuh Damar sedikit menegang.

Hanya sedikit.

Namun cukup untuk disadari.

---

"Aku tidak sengaja mendengarnya."

lanjut Nara cepat.

"Aku tidak bermaksud menguping."

Damar terdiam.

Tatapannya kembali ke jendela.

Lama.

Sangat lama.

Sampai Nara mengira pria itu tidak akan menjawab.

Namun akhirnya suara pelan terdengar.

"Ayah meninggal karena serangan jantung."

Nara menoleh.

Damar jarang sekali berbicara tentang dirinya.

Dan malam itu...

Pria tersebut membuka pintu yang selama ini selalu tertutup.

---

"Saat itu aku sedang berada di luar negeri."

lanjut Damar.

"Rapat bisnis pertama yang diberikan langsung oleh beliau."

Senyum pahit muncul di wajahnya.

"Saat aku kembali..."

Kalimat itu terputus.

Namun Nara mengerti.

Tidak perlu dijelaskan lebih jauh.

---

"Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal."

Suara Damar hampir seperti bisikan.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya...

Nara melihat luka yang selama ini disembunyikan pria itu.

Luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

---

"Aku menyalahkan diriku sendiri."

ucap Damar.

"Aku pikir kalau saja saat itu aku ada di rumah..."

Nara langsung menggeleng.

"Itu bukan salahmu."

Pria itu tertawa kecil.

Namun terdengar hampa.

"Semua orang mengatakan hal yang sama."

"Karena memang benar."

balas Nara tegas.

---

Keheningan kembali hadir.

Namun kali ini tidak terasa canggung.

Justru terasa hangat.

Karena untuk pertama kalinya...

Damar membiarkan seseorang melihat sisi rapuhnya.

---

"Ayahku juga meninggal saat aku masih muda."

ucap Nara pelan.

Damar menoleh.

"Aku tahu."

"Tapi aku tidak pernah benar-benar menceritakannya."

Nara menarik napas panjang.

"Malam itu aku marah pada beliau."

Senyum kecil muncul di bibirnya.

"Karena beliau tidak datang ke acara sekolah."

Tatapannya perlahan turun.

"Besoknya aku kehilangan kesempatan untuk meminta maaf."

Damar terdiam.

Kini giliran dia yang mendengarkan.

---

"Aku menghabiskan bertahun-tahun menyalahkan diriku sendiri."

lanjut Nara.

"Sampai akhirnya aku sadar."

"Apa?"

"Kita tidak bisa mengubah masa lalu."

Suara Nara terdengar lembut.

"Tapi kita bisa memilih bagaimana hidup setelahnya."

Untuk beberapa detik.

Tidak ada yang berbicara.

---

Damar menatap wanita di sampingnya.

Dan entah kenapa...

Kata-kata itu terasa lebih kuat dibanding semua nasihat yang pernah ia dengar.

Karena yang mengucapkannya adalah seseorang yang benar-benar memahami rasa kehilangan.

---

"Terima kasih."

ucap Damar akhirnya.

Nara tersenyum kecil.

"Sama-sama."

---

Malam semakin larut.

Namun tidak ada yang terburu-buru pergi.

Untuk pertama kalinya.

Mereka berbicara bukan sebagai atasan dan bawahan.

Bukan sebagai pewaris perusahaan dan karyawan.

Melainkan sebagai dua orang yang sama-sama pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti.

---

Saat mereka akhirnya meninggalkan kantor, suasana terasa berbeda.

Lebih dekat.

Lebih hangat.

Dan jauh lebih berbahaya bagi hati mereka masing-masing.

Karena tanpa disadari.

Tembok yang selama ini melindungi Damar mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Dan orang yang berhasil meruntuhkannya adalah Nara.

---

Namun jauh di sudut lain kota.

Bianca sedang duduk di dalam mobilnya.

Sebuah amplop cokelat terletak di pangkuannya.

Di dalamnya terdapat data pribadi Nara yang baru saja ia dapatkan.

Riwayat keluarga.

Alamat.

Masa lalu.

Semuanya.

Bianca membuka halaman terakhir.

Lalu tersenyum tipis.

Senyum yang membuat suasana di dalam mobil terasa dingin.

"Akhirnya aku menemukan sesuatu."

gumamnya.

Matanya menyipit.

Karena kali ini.

Ia tidak berniat hanya menyebarkan gosip.

Ia ingin menghancurkan posisi Nara sepenuhnya.

Dan itu berarti...

Badai yang sebenarnya baru akan dimulai.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!