Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sebelas
Pagi itu, rumah keluarga Arsaka masih terasa sama seperti biasanya. Suara peralatan makan yang disiapkan bibi di dapur, aroma kopi buatan Hana, dan cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar ruang makan membuat suasana rumah itu seharusnya terasa hangat.
Tapi pagi ini sepertinya berbeda. Ada sesuatu yang tidak terlihat, tapi terasa begitu jelas. Sebuah kesunyian yang tidak biasa.
Arsaka sudah duduk di kursinya. Di sebelahnya ada Hana yang sejak tadi hanya memainkan sendoknya tanpa benar-benar menyentuh makanan.
Di sisi lain meja, El duduk diam. Tatapannya kosong menatap piring di depannya.
Sementara Al, anak paling kecil di keluarga itu, beberapa kali melihat ke arah tangga. Seperti sedang menunggu seseorang.
Seseorang yang biasanya menjadi orang pertama yang turun ke ruang makan. Ia yang selalu membuat pagi mereka lebih ramai.
“Kak Chelsea belum turun?” tanya Al akhirnya.
Hana yang sejak tadi melamun langsung tersadar. “Mungkin belum bangun, Sayang,” jawab Hana pelan. “Biar Mommy panggilkan.”
Al mengerutkan kening. “Belum bangun?”
Ia melihat jam di dinding. “Tidak biasanya Kak Chelsea telat bangun.”
Ucapan itu membuat suasana meja makan semakin sunyi. Al melanjutkan sambil tersenyum kecil.
“Biasanya dia malah sudah bangun dari tadi. Bahkan sering bantu bibi menyiapkan sarapan.”
Hana menunduk. Kalimat dari Al justru membuat hatinya semakin berat. Karena ia tahu, mungkin pagi-pagi berikutnya rumah ini tidak akan lagi melihat kebiasaan kecil Chelsea.
Arsaka yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. “Mungkin kakakmu kurang sehat.”
Begitu mendengar itu, Al langsung berdiri. “Aku mau lihat Kak Chelsea.”
Nada suaranya panik. “Jangan-jangan dia sakit.”
El yang mendengar itu hanya menarik napas panjang. Entah kenapa, ia juga merasa tidak tenang. Sejak bangun pagi tadi, pikirannya terus bertanya-tanya. Kenapa Chelsea belum turun?
Biasanya gadis itu akan mengetuk pintunya hanya untuk mengingatkan sarapan. Gadis itu akan berkata dengan wajah kesal kecilnya.
“Bang El, jangan kerja terus. Sarapan dulu.”
Tapi pagi ini, tidak ada suara itu. Tidak ada Chelsea yang mengganggunya. Dan anehnya, keheningan itu justru membuat El merasa tidak nyaman.
“Kenapa aku peduli?” gumam El dalam hati.
Ia mencoba membuang pikirannya sendiri. Chelsea sudah membuat pilihannya. Ia yang meminta jarak.
Tapi tetap saja, ada bagian dalam dirinya yang merasa takut. Takut sesuatu terjadi pada gadis itu.
Al baru saja melangkahkan kaki menuju tangga ketika tiba-tiba ia berhenti. Matanya melihat ke arah atas. Chelsea berdiri di sana.
Gadis itu berjalan perlahan menuruni tangga. Wajahnya terlihat tenang, tapi mata Chelsea menyimpan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.
Al langsung menarik napas lega. “Kak Chelsea!”
Chelsea menoleh. Al langsung menghampirinya. “Aku takut terjadi sesuatu sama Kakak.”
Chelsea tersenyum kecil. “Kenapa?”
“Karena Kakak telat bangun.” Al tampak menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya. “Tidak biasanya Kakak seperti ini. Biasanya Kakak paling ribut kalau aku masih tidur.”
Chelsea tertawa kecil. “Maaf. Mungkin Kakak terlalu lelah.”
Al menatap wajah kakaknya. Seolah mencoba memastikan Chelsea benar-benar baik-baik saja. “Kakak baik-baik saja?”
Chelsea mengangguk. “Iya, Al. Kakak baik.”
Setelah itu Chelsea berjalan menuju meja makan. Seperti kebiasaannya setiap pagi, ia menghampiri Arsaka dan Hana terlebih dahulu.
Ia mengecup pipi Hana. “Selamat pagi, Mom.”
Hana langsung tersenyum, meski matanya kembali berkaca-kaca. “Selamat pagi, Sayang.”
Lalu Chelsea berpindah ke Arsaka. “Selamat pagi, Dad.”
Tapi sebelum Chelsea sempat menjauh, Arsaka menahan kepalanya. Tangannya menyentuh pipi Chelsea lembut. Lalu pria itu mengecup kepala putrinya cukup lama. Tidak seperti biasanya. Ada sesuatu dalam kecupan itu.
Seolah Arsaka sedang menyimpan banyak hal yang tidak bisa ia ucapkan. Chelsea membeku. Dadanya langsung terasa sesak. Air matanya hampir jatuh. Ia tahu, ia pasti akan sangat merindukan hal ini.
"Selamat pagi Putri Kecilku," bisik Arsaka. Ia memang selalu memanggil Chelsea putri kecil, karena badannya yang sangat mungil. Bahkan ada yang mengira ia adiknya Al.
Pelukan dan perhatian kecil. Panggilan “putri kecil Daddy”. Semuanya. Dengan cepat Chelsea mengedipkan mata dan menahan air matanya agar tidak terlihat. Ia tidak ingin pagi ini menjadi lebih berat.
Ia lalu duduk di kursinya. Mereka mulai sarapan. Tapi tidak ada yang benar-benar berbicara. Suara tawa juga tak terdengar. Tidak ada cerita kecil. Tidak ada perdebatan ringan antara El dan Chelsea seperti biasanya.
Al yang duduk di sana akhirnya merasa aneh. Ia melihat satu per satu wajah keluarganya.
“Kenapa semua diam?”
Tidak ada yang menjawab. Al menatap El. Kakaknya itu hanya menunduk. Lalu ia melihat Chelsea. Gadis itu tersenyum kecil, tapi senyum itu terasa berbeda.
Kemudian Al melihat Hana. Matanya langsung menyipit. “Mom.”
Hana menoleh. “Iya, Sayang?”
“Kenapa mata Mommy sembab?”
Hana terdiam. Al kemudian melihat Chelsea. “Dan mata Kak Chelsea juga.”
Chelsea langsung menunduk. Al semakin curiga.
“Kalian menangis semalaman?”
Hana dan Chelsea saling pandang. Ada kepanikan kecil di mata keduanya.
Hana buru-buru tersenyum. “Mommy tidak apa-apa.” Ia mencoba bercanda. “Namanya juga sudah tua. Pasti mata gampang bengkak. Kerutan juga mulai banyak.”
Al langsung menggeleng. “Tidak.”
Hana mengangkat alis.
“Tidak?” Al tersenyum. “Mommy tetap cantik.”
Lalu ia melihat Chelsea. “Dan Mommy wanita tercantik di dunia setelah Kak Chelsea.”
Chelsea langsung tersenyum kecil. Al memang selalu bisa membuat suasana sedikit lebih ringan.
“Kalian berdua cantik. Jadi bukan karena itu.”
Al kembali serius. “Mata sembab itu pasti karena menangis.”
Meja makan kembali sunyi. Al melihat mereka semua. “Ada apa ini?”
Tidak ada yang menjawab. Al mulai merasa dadanya tidak nyaman.
“Aku bukan anak kecil lagi.” Suaranya lebih pelan. “Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan dari aku.”
Kalimat itu membuat semua terdiam. Karena Al benar. Dia memang masih yang paling muda. Tapi dia bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.
Arsaka akhirnya menarik napas panjang. Ia menatap putra bungsunya. “Al .…”
Al langsung menatap ayahnya. “Ada apa, Dad?”
Arsaka diam beberapa detik. Seolah mencari cara paling lembut untuk mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
Akhirnya ia berkata. “Kakakmu, Chelsea .…”
Chelsea langsung menggenggam sendoknya lebih erat.
Arsaka melanjutkan. “Chelsea akan pindah dari rumah ini.”
Mata Al langsung membesar. “Apa?”
Ia menoleh cepat pada Chelsea. “Kak?”
Chelsea hanya diam. Al menatap Arsaka lagi.
“Pindah?” Ia mencoba tersenyum. “Maksudnya bukan pindah selamanya kan?”
“Bukan pindahkan?” Al tertawa kecil, mencoba menghibur dirinya sendiri. “Maksudnya Kak Chelsea pergi ke Batam buat bantu usaha Daddy?”
Arsaka menggeleng pelan. “Bukan, Nak.”
Senyum Al perlahan hilang.
“Kak Chelsea mau mencoba mandiri.” Arsaka melanjutkan. “Ia akan tinggal di apartemen sendiri.”
Ruangan itu seketika terasa membeku. Al menatap Chelsea. Seolah berharap kakaknya akan tertawa dan mengatakan semua itu hanya bercanda. Tapi Chelsea hanya diam.
“Kenapa?” Suara Al mulai bergetar. “Ada apa ini?”
Tidak ada yang menjawab. Al melihat wajah Chelsea. Melihat wajah El. Serta menatap wajah kedua orang tuanya. Al merasa rumah yang selalu ia kenal tiba-tiba terasa berbeda.
“Kenapa Kak Chelsea harus pergi?”
Pertanyaan itu menggantung di ruang makan. Dan tidak ada seorang pun yang langsung mampu menjawabnya.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka