NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

***

Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden raksasa di ruang makan Mansion Hadiwinata, memantul di atas meja marmer panjang yang dipenuhi hidangan sarapan kelas atas. Aurelia yang kini lebih nyaman menyapa dirinya sebagai Nadia turun dengan langkah santai. Ia memilih mengenakan dress rayon berwarna pastel yang lembut.

Potongannya sederhana, namun karena bahan yang jatuh dan pas di tubuhnya, aura anggun sekaligus seksi seorang calon ibu terpancar begitu kuat.

Di ujung meja, Raditya sudah duduk dengan gagah. Setelan jas mahalnya sudah terpasang rapi, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan, dan ia tampak sibuk dengan tablet di tangannya sembari sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula.

"Pagi, Mas Kulkas... eh, Mas Radit," sapa Nadia dengan senyum manis yang sengaja ia buat sedikit malu-malu.

Raditya melirik sekilas. Matanya tertahan sejenak pada wajah Nadia yang terlihat segar meski tanpa riasan tebal. "Duduk. Makan sarapanmu. Jangan sampai anak itu kelaparan," jawabnya dingin, namun ada nada protektif yang terselip.

Baru saja Nadia hendak menyendok bubur ayam organiknya, suara decitan sepatu hak tinggi yang nyaring menggema di lobi, diikuti suara tawa yang dibuat-buat.

"Wah, wah... pagi-pagi sudah mesra ya?"

Nyonya Sekar masuk dengan gaya pongah, diikuti Siska yang berdandan sangat menor seolah hendak pergi ke pesta malam hari, padahal ini baru jam delapan pagi.

Raditya meletakkan tabletnya, raut wajahnya langsung berubah kaku. "Mama? Ada apa lagi pagi-pagi ke sini?"

"Mama cuma mau memastikan kalau kamu baik-baik saja, Radit. Setelah kejadian 'pengusiran' kemarin, Mama khawatir kamu ditekan oleh wanita ini," ucap Nyonya Sekar sambil melirik sinis ke arah Nadia.

Siska menimpali sambil mengibaskan rambutnya, "Iya, Mas. Kemarin Kak Nadia barbar banget, Mas. Siska sampai trauma lho ditunjuk-tunjuk begitu."

Nadia menarik napas dalam. Jiwa Aurelia-nya ingin sekali melempar sendok perak ini ke dahi Siska, tapi ia ingat: Main cantik, Aurel. Main cantik.

Nadia meletakkan sendoknya, wajahnya berubah sendu. Ia menatap Nyonya Sekar dengan mata yang berkaca-kaca. "Mama... Siska... Nadia benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Nadia merasa sangat pusing dan lelah setelah pulang dari rumah sakit, mungkin hormon kehamilan membuat Nadia bicara tanpa sadar. Tolong maafkan Nadia ya?"

Nyonya Sekar dan Siska tertegun. Mereka tidak menyangka Nadia akan kembali menjadi "si penurut" secepat ini. Raditya pun menaikkan sebelah alisnya, merasa ada yang aneh dengan perubahan drastis istrinya.

"O-oh, jadi kamu sadar kalau kamu salah?" Nyonya Sekar berdeham, mencoba menguasai keadaan. "Bagus kalau begitu. Kamu harus tahu posisi—"

Siska mendekat ke arah Nadia, hendak memberikan tatapan kemenangan. "Makanya Kak, kalau lagi hamil jangan sensi-sensi amat. Kasihan Mas Radit kalau punya istri tukang marah-marah..."

Siska sengaja berdiri tepat di samping Nadia, mengibaskan syal sutranya yang sudah disemprot parfum berlebihan. Saat itulah, bencana dimulai.

Wush...

Bau parfum yang sangat tajam, perpaduan aroma bunga yang terlalu manis dan alkohol yang menyengat, langsung menusuk hidung Nadia. Bagi orang biasa, mungkin hanya tercium wangi, tapi bagi hidung sensitif bumil, itu adalah bau paling mengerikan di dunia.

Wajah Nadia yang tadinya berpura-pura sedih, tiba-tiba berubah pucat pasi. Ia benar-benar merasa perutnya jungkir balik. Rasa mual itu nyata, bukan akting.

"Ugh..." Nadia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kepalanya mendadak berputar hebat.

"Eh, Kak Nadia kenapa? Jangan akting lagi deh!" sindir Siska.

Nadia tidak bisa menjawab. Oksigen di sekitarnya seolah habis digantikan oleh bau parfum Siska yang "limited edition" tapi terasa seperti racun baginya. Tubuh Nadia limbung, ia terpaksa berpegangan erat pada lengan jas Raditya yang duduk di sebelahnya.

"Mas... Mas, tolong..." bisik Nadia dengan suara tercekat. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak seolah sedang dicekik.

Raditya yang tadinya diam, langsung sigap merangkul pinggang Nadia. Ia bisa merasakan tubuh istrinya gemetar hebat dan dingin. "Nadia? Ada apa?"

"Baunya... Mas, jauhkan dia... perutku sakit sekali," rintih Nadia. Ia benar-benar merasa kram di bagian bawah perutnya karena kontraksi otot saat menahan mual.

"Sepertinya bayinya... bayinya tidak suka bau ini. Mas, sesak..."

Melihat wajah Nadia yang benar-benar pucat dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, kemarahan Raditya langsung tersulut. Ia menatap tajam ke arah Siska yang masih berdiri mematung di sana.

"Siska! Apa yang kamu pakai?!" bentak Raditya. Suaranya menggelegar, membuat Nyonya Sekar pun tersentak kaget.

"I-ini parfum mahal, Mas! Limited edition dari Paris—"

"Aku tidak peduli itu dari Paris atau dari langit sekalipun!" potong Raditya dengan suara dingin yang mematikan. "Istri saya sedang hamil dan dia tidak bisa menghirup bau menyengat itu. Kamu tidak lihat dia sampai sesak napas?!"

"Tapi Radit, ini kan parfum biasa, masa Nadia selebay itu—" Nyonya Sekar mencoba membela keponakannya.

"Cukup, Mah!" Raditya berdiri, sambil tetap mendekap Nadia yang lemas di dadanya. "Siska, pergi dari sini sekarang. Ganti pakaianmu atau mandi sampai bau itu hilang, baru boleh kembali ke ruangan ini. Jangan biarkan bau sampah itu mendekati anakku lagi!"

Siska nyaris menangis karena dibentak sedemikian rupa di depan para pelayan. "Mas, tapi ini parfum mahal..."

"PERGI!"

Nyonya Sekar masih berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka, sementara Siska sudah menghilang di balik pintu lobi setelah teriakan menggelegar Raditya.

Suasana ruang makan yang tadinya penuh intimidasi kini berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan suara detak jam dinding mewah dan napas Nadia yang masih tersengal.

Raditya masih memeluk Nadia, membiarkan wajah istrinya terkubur di balik dada bidangnya. Ia mengabaikan noda air mata atau keringat dingin Nadia yang mungkin mengotori jas mahalnya.

"Sudah lebih baik?" tanya Raditya pelan. Suaranya tidak lagi membentak, melainkan rendah dan berat, sangat dekat di telinga Nadia.

Tangannya yang besar, yang biasanya hanya menyentuh berkas-berkas kontrak triliunan rupiah, kini bergerak kaku namun terasa tulus mengusap punggung Nadia. Ia bisa merasakan tubuh wanita itu masih sedikit gemetar.

Nadia perlahan mendongak. Bulu matanya basah, dan wajahnya yang putih kini terlihat sangat pucat, memberikan kesan rapuh yang luar biasa. "Terima kasih, Mas... Nadia benar-benar tidak kuat tadi. Perut Nadia sampai kram, rasanya seperti ditarik-tarik," rintihnya dengan suara serak.

Mendengar kata 'kram', rahang Raditya kembali mengeras. Ia melirik ke arah kursi yang tadi diduduki Siska dengan tatapan muak.

"Raditya, kamu jangan terlalu berlebihan," sela Nyonya Sekar, mencoba mengambil kembali wibawanya. "Siska itu tamu kita, dan dia cuma pakai parfum. Mungkin Nadia saja yang terlalu sensitif karena ingin cari perhatianmu."

Raditya menoleh perlahan, menatap ibunya dengan tatapan tajam yang membuat Nyonya Sekar bungkam seketika. "Sensitif? Mama lihat sendiri wajahnya pucat seperti mayat. Jika terjadi sesuatu pada pewaris Hadiwinata hanya karena bau-bauan tidak berguna itu, apa Mama mau bertanggung jawab?"

Nyonya Sekar terkesiap. "Tapi Radit—"

"Selesaikan sarapan Mama sendiri," potong Raditya tanpa kompromi.

Detik berikutnya, tanpa aba-aba, Raditya merendahkan tubuhnya dan menyusupkan lengannya di bawah lutut serta punggung Nadia. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh Nadia dalam gendongan bridal style.

Nadia yang terkejut secara refleks mengalungkan lengannya ke leher Raditya. "Mas... Nadia bisa jalan sendiri, nanti Mas capek..."

"Diam, Nadia. Jangan banyak bicara kalau napasmu saja masih pendek," sahut Raditya dingin namun tetap mendekapnya dengan erat.

Ia berbalik, melangkah gagah menuju tangga besar tanpa menoleh lagi pada ibunya. Sambil berjalan, ia berujar dengan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke telinga Nyonya Sekar.

"Bi Sum! Beritahu Siska, jika dia masih ingin menginjakkan kaki di mansion ini, jangan pernah memakai bahan kimia murahan seperti itu lagi. Jika dia keberatan, silahkan angkat kaki dari daftar tamu keluarga ini selamanya!"

Raditya menendang pintu kamar dengan kakinya hingga terbuka, lalu merebahkan Nadia di atas ranjang king size dengan sangat hati-hati, seolah-olah Nadia adalah barang pecah belah yang sangat mahal.

Ia tidak langsung pergi. Raditya berlutut di tepi ranjang, melepaskan sepatu yang dikenakan Nadia. "Berbaringlah. Saya akan panggil dokter keluarga untuk memeriksa kram perutmu."

Nadia buru-buru memegang tangan Raditya. "Nggak perlu, Mas. Tadi cuma karena mual banget jadi ototnya tegang. Sekarang kalau baunya udah ilang, Nadia udah mendingan kok."

Raditya menatap Nadia lurus ke matanya, mencoba mencari kebohongan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah wajah cantik yang terlihat lelah.

"Kamu yakin?"

Nadia mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bantal. Saat Raditya berbalik untuk mengambil segelas air putih, Nadia diam-diam menarik napas lega. Ia menyembunyikan senyum licik di balik selimutnya.

Gila... si Kulkas kalau lagi marah demi anak istrinya, gantengnya nambah seribu persen! Karismanya bener-bener tumpah-tumpah! batin Aurelia kegirangan.

"Minum ini," perintah Raditya sambil membantu Nadia duduk.

Nadia meminum airnya dengan patuh, namun matanya terus mencuri pandang ke arah Raditya yang kini membuka jasnya dan menyisakan kemeja putih yang sedikit ketat di bagian bahu.

"Mas... Mas nggak ke kantor?" tanya Nadia pelan.

"Nanti, setelah saya pastikan kamu tidak pingsan lagi," jawab Raditya kaku sambil duduk di kursi sofa dekat ranjang, seolah bersiap menjaga Nadia sepanjang waktu.

Nadia tersenyum dalam hati. Sepertinya, mulai hari ini si Kulkas bakal makin susah jauh-jauh dari gue.

****

Bersambung

1
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
Heresnanaa_: happy reading yaa 🫶
total 2 replies
MARWAH HASAN
aku suka yg cerita model begini
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
Heresnanaa_: aaa maaciw kaka😍🤭😚🥹🫂
total 1 replies
partini
wah tumben mafia bermain dulu bisa sikat tebas biarpun itu ibu ayah sodara ga penting,keren bang Radit
partini
wow
aku
sangat jelas..... 🤣🤣🤣🤣
partini
ahhh ternyata mafia juga Thor,masih di dalam perut aja aktif luar biasa gimana kalau dah lahir bisa lebih sadis dari ayahnya tu baby
MOZZA AUDYA
sikattt trussssssssss Thor buat nyaaaa seru bat drama siang yang di buat nadia 🤭
partini
itu baru di semprot kalau pakai jurus 10 tinju dan tendangan apa ko langsung 😂
MOZZA AUDYA
lanjut thorrr.... gk sabar nih nunggu drama di kantor nyaaa🤭
partini
ulet kadut itu,ayo nak bantu mommy buat hempas uler kadut 😂😂
tunggu aksi luar biasa bumil thor
𝐀⃝🥀Weny
si kulkas jadi bucin😁
MOZZA AUDYA
wahhhhh nampak aada drama baru yang akan di main kn nihh🤭
partini
Thor sekali pakai lingerie bagus deh perut Belendung uhhhh
partini
see main masuk aja kata ga berani wkwkwk
partini
lah masa udah ketauan aja sih ,roh nya Nadia ganti yg tau orang lain pula 🤦
MOZZA AUDYA
aduhh nadia jiwa barbar nya gk bisa di tahan sihhh 🤭
partini
good story 👍👍👍👍👍
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
partini
Nemu juga novel kaya gini suka "❤️
Heresnanaa_: hai kaka🤭
happy reading yaa 🤭
total 1 replies
rara🍁🍃🦋
mo nangis tapi mallu
Heresnanaa_: diam diem aja author engga liat kok🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!