Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Ruko di Ujung Gang
Jakarta itu keras, bestie.
Yang lembut cuma kasur empuk kalau rekening lagi tebal. Kalau isi dompet pas-pasan, kasur hotel bintang lima pun tetap terasa seperti papan tripleks. 😌
-----
Perjalanan menuju Jakarta terasa panjang dan melelahkan.
Di jam-jam awal, aku masih sempat menikmati pemandangan sawah dan hamparan hijau yang membentang di sepanjang jalan. Tapi semakin jauh mobil travel melaju, semakin berat pula kelopak mataku.
Maklum.
Semalaman aku nyaris tidak tidur.
Pikiranku terus dipenuhi wajah Lala dan Andi yang kutinggalkan di rumah ibu.
Sementara aku sibuk bergulat dengan rasa bersalah, Marni justru terlihat santai. Sejak berangkat, jemarinya tak pernah lepas dari layar ponsel. Sesekali dia tersenyum sendiri, kadang tertawa pelan sambil membalas pesan seseorang.
"Pacar baru ya?" godaku.
Marni langsung mengunci layar ponselnya.
"Heh. Kepo banget sih."
Aku terkekeh.
Untung ada Marni.
Kalau tidak, mungkin aku sudah mati gaya sepanjang perjalanan ini.
Menjelang sore, pemandangan di luar jendela mulai berubah.
Sawah dan kebun perlahan menghilang, digantikan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit. Jalan raya dipenuhi kendaraan sejauh mata memandang. Klakson bersahutan tanpa henti.
Aku sampai melongo.
"Ya Allah... gede banget..."
Marni langsung tertawa.
"Norak banget sih kamu."
"Lah, aku baru pertama kali ke Jakarta."
Dan memang benar.
Jakarta terasa seperti dunia yang berbeda.
Semuanya bergerak cepat.
Orang-orang berjalan cepat.
Kendaraan melaju cepat.
Bahkan udara di kota ini terasa terburu-buru.
Namun semakin jauh kami masuk ke dalam kota, semakin berbeda pula suasananya.
Mobil travel keluar dari jalan besar lalu memasuki kawasan pertokoan yang padat.
Gedung-gedung megah mulai menghilang.
Digantikan deretan ruko tua yang berdiri rapat tanpa celah.
Gang-gang sempit.
Lampu neon warna-warni.
Dan wajah-wajah asing yang membuatku tidak nyaman.
Beberapa perempuan berdandan mencolok berdiri di pinggir jalan.
Beberapa pria bertato duduk di atas motor sambil merokok.
Tatapan mereka tajam.
Membuat bulu kudukku meremang.
"Nah," kata Marni sambil menunjuk ke depan. "Kita sampai."
Aku mengikuti arah telunjuknya.
Sebuah ruko empat lantai berdiri di ujung gang buntu.
Cat putihnya kusam.
Dindingnya dipenuhi bercak lembap berwarna hitam.
Di atas pintu masuk tergantung lampu neon merah muda yang berkedip pelan.
Entah kenapa...
Melihat bangunan itu untuk pertama kalinya membuat perutku langsung terasa tidak nyaman.
Seperti ada sesuatu yang salah.
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Begitu turun dari mobil, hawa panas langsung menghantam wajahku.
Udara terasa pengap.
Bau parfum menyengat bercampur asap rokok dan aroma got yang menggenang memenuhi hidung.
Aku baru saja mengangkat tas dari bagasi ketika tiba-tiba muncul perasaan aneh.
Seolah ada seseorang yang sedang mengawasiku.
Aku mendongak.
Dan benar.
Di balik jendela lantai dua, berdiri seorang perempuan.
Rambutnya panjang terurai.
Kulitnya pucat.
Dia hanya diam memandangku.
Tanpa ekspresi.
Tanpa berkedip.
Aku mencoba tersenyum ramah.
Namun perempuan itu tidak membalas.
Dengan gerakan lambat, dia menarik gorden hitam dan menutup jendela.
Menghilang begitu saja.
Dadaku langsung mencelos.
Entah kenapa, firasat buruk tiba-tiba tumbuh di dalam hati.
"Ayo!"
Suara Marni membuyarkan lamunanku.
Aku buru-buru mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruko.
Dan saat itulah...
Tanpa kusadari sedikit pun...
Aku baru saja melangkah masuk ke tempat yang kelak akan mengubah seluruh hidupku menjadi mimpi buruk.
Malam pertama di Jakarta baru saja dimulai.
Dan sesuatu di dalam bangunan itu...
Sepertinya sudah menunggu kedatanganku.