NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Jika ada seseorang di luar sana yang mengatakan bahwa menjadi sekretaris pribadi seorang Chief Executive Officer (CEO) di KALUMPERRI CORP adalah lambang dari karier yang elegan, maka Aulia Putri siap melemparkan kamus tebal bahasa bisnis tepat ke arah wajah orang itu. Tanpa ragu. Bahkan jika perlu, dengan sudut kamus yang paling tajam.

Elegan? Cih, omong kosong macam apa itu?

Sebelum mencicipi lantai eksekutif gedung pencakar langit ini, Aulia membayangkan dirinya akan berjalan anggun dengan rok pensil setinggi lutut, membawa tablet berspesifikasi mutakhir, menjadwalkan pertemuan diplomatik antar-korporasi, dan menyesap kopi arabika berkualitas tinggi sambil mendiskusikan grafik saham yang bergerak naik.

Fakta di lapangan? Pekerjaannya jauh dari kata elegan. Pekerjaan Aulia lebih mirip seorang gembala di peternakan nirlaba, atau mungkin, seorang pengasuh balita berspesifikasi khusus, balita bertubuh bongsor, berwajah tampan rupawan, berkekayaan triliunan rupiah, namun memiliki tingkat kemalasan yang setara dengan kura-kira raksasa Galapagos.

"Aulia! Di mana Khatyr?! Tiga puluh menit lagi rapat umum pemegang saham dimulai, dan perwakilan konsorsium investor dari Swiss sudah duduk di ruang konferensi utama!"

Suara bariton milik Direktur Senior, Pak Haryo, bergaung panik sekaligus menggelegar melalui sambungan telepon interkom di atas meja kerja Aulia. Saking kerasnya suara itu, Aulia harus menjauhkan gagang telepon beberapa sentimeter dari telinga kanannya demi menyelamatkan gendang telinganya yang berharga.

Aulia menarik napas dalam-dalam, menata emosinya agar tetap berada di ambang batas profesionalisme yang tipis. "Sedang saya usahakan, Pak Haryo. Pak Khatyr saat ini sedang... em, meninjau ulang dokumen klausul investasi secara privat di ruang khusus. Beliau meminta waktu untuk fokus penuh dan tidak ingin diganggu siapapun."

"Bagus! Pastikan si anak muda itu tidak terlambat! Taruhannya adalah investasi senilai lima triliun, Aulia! Jika proyek ini lepas, dewan direksi tidak akan segan-segan menuntut pertanggungjawaban!"

Bukan meninjau dokumen, Pak. Beliau sedang meninjau alam bawah sadar, batin Aulia sarkas.

"Baik, Pak. Sepuluh menit lagi kami akan segera turun," jawab Aulia sesantai mungkin, berbohong demi menyelamatkan sisa-sisa harga diri perusahaan dan tentu saja, kelangsungan rekening banknya sendiri.

Setelah menutup telepon interkom dengan bunyi klik yang tegas, topeng senyum profesional di wajah Aulia langsung luntur. Ia melirik jam tangan digitalnya yang bermerek premium. Pukul 09.35 WIB. Waktu mereka tidak banyak.

Aulia bangkit dari kursi ergonomisnya. Alih-alih melangkah menuju ruang rapat utama yang megah dan berlantai marmer Italia, langkah kakinya yang dibalut stiletto hitam setinggi tujuh sentimeter justru berjalan cepat memutari lorong lantai paling atas. Ia melewati ruangan CEO yang kosong melompong, menuju ke arah bagian belakang gedung yang sama sekali tidak elit, Gudang Arsip Mati Lantai 42.

Gudang itu adalah tempat penyimpanan dokumen fisik pra-digitalisasi tahun 2010. Lembap, sunyi, berdebu, dan hampir tidak pernah dikunjungi manusia selama lima tahun terakhir. Dan justru karena alasan itulah, tempat ini menjadi lokasi persembunyian paling strategis di seluruh area korporat.

Aulia mendorong pintu kayu tebal yang berdecit ngilu, melangkah masuk ke dalam labirin yang dipenuhi deretan lemari besi tua. Matanya yang tajam dan terlatih menyapu sekeliling ruangan yang remang-remang, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada sebuah sudut terpencil di balik tumpukan kardus pembungkus kertas HVS setinggi dua meter.

Di sana, beralaskan karpet bulu domba tiruan berwarna abu-abu yang entah bagaimana caranya bisa diselundupkan ke tempat ini, seorang pria berwajah luar biasa tampan sedang meringkuk dengan posisi sangat nyaman.

Setelan jas custom-made dari penjahit terbaik di London seharga ratusan juta rupiah miliknya tampak sedikit kusut di bagian lengan. Di genggaman tangannya, sebuah konsol Nintendo Switch masih menyala samar, menampilkan layar hitam-merah bertuliskan Game Over. Sementara itu, sepasang matanya tertutup rapat oleh eye mask sutra hitam, dan mulutnya terbuka sedikit, mengeluarkan dengkur halus yang sangat teratur.

Dialah Khatyr Ali Fatih. Pria berusia 28 tahun yang memegang takhta tertinggi sebagai Chief Executive Officer di Kalumperri Corp. Seorang slacker genius murni yang memiliki moto hidup sakral: "Bekerjalah dengan efisiensi sistem maksimal di awal, agar sisa waktumu bisa digunakan untuk rebahan tanpa gangguan."

Khatyr tidak bodoh. Justru masalah utamanya adalah karena dia terlalu pintar. Di bawah kepemimpinannya yang kasual selama satu tahun terakhir, Kalumperri Corp berhasil merestrukturisasi sistem digital mereka hingga keuntungan naik sebesar lima belas persen. Tapi masalahnya, Khatyr menganggap keberhasilan sistem otomatisasi buatannya itu sebagai tiket gratis bagi dirinya untuk bisa tidur siang di mana saja dan kapan saja.

Aulia berdiri tegak, berkacak pinggang di depan tubuh bosnya. Debu gudang membuat hidungnya agak gatal, memperburuk suasana hatinya yang sudah di ujung tanduk. "Pak Khatyr," panggilnya, mencoba menahan volume suaranya agar tidak terdengar seperti teriakan monster.

Tidak ada respons. Khatyr justru memeluk salah satu bantal leher bermotif ayam jago yang tampak sangat kontras dengan setelan jas mahalnya dengan lebih erat. Ia bahkan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti nama menu makanan ojek online.

"Pak Khatyr Ali Fatih yang terhormat!" Aulia menaikkan suaranya satu oktav lengkap dengan penekanan di setiap suku kata.

Sang CEO hanya melenguh pelan. Tanpa membuka mata, tangan panjangnya bergerak meraba-raba udara, mencoba menggapai konsol game-nya yang sempat terlepas, sebelum akhirnya menyerah dan berbalik memunggungi sekretarisnya demi mencari posisi tidur yang baru.

Aulia memutar bola matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menahan diri agar tidak menendang karpet bulu tersebut. Menggembala seorang CEO miliarder yang merangkap sebagai manusia pemalas tingkat dewa ternyata tidak bisa menggunakan kekerasan fisik atau teriakan histeris. Makhluk jenis ini membutuhkan umpan sensorik yang tepat.

Aulia merogoh saku blazernya, mengeluarkan sebuah botol kecil berukuran travel yang selalu ia bawa ke mana-mana seperti senjata rahasia seorang agen dinas intelijen. Botol itu berisi konsentrat minyak esensial aroma kopi espresso murni yang dicampur dengan sedikit ekstrak vanila pekat.

Semprot. Semprot.

Aulia menyemprotkan cairan itu tiga kali ke udara tepat di atas hidung Khatyr.

Efeknya instan. Hanya dalam hitungan detik, kelopak mata di balik eye mask hitam itu bergerak. Hidung mancung milik Khatyr mengendus udara dengan gerakan cepat, persis seperti anak anjing yang mencium aroma daging panggang dari dapur. Sedetik kemudian, ia menyentak eye mask-nya ke atas dahi. Sepasang netra gelapnya yang tajam namun masih sayu karena kantuk langsung terbuka lebar, bertatapan langsung dengan tatapan sedingin es milik Aulia.

"Aulia..." Khatyr bergumam dengan suara bariton yang serak khas bangun tidur. Jika dalam situasi normal di dalam novel romantis, suara itu akan terdengar sangat seksi dan memabukkan. Namun bagi Aulia, suara itu adalah tanda bahwa misinya baru berjalan tiga puluh persen. "Jam berapa sekarang? Kenapa aroma kopinya pekat sekali? Apa ini sudah jam istirahat makan siang?"

"Sekarang jam sepuluh kurang lima belas menit pagi, Pak Khatyr yang terhormat. Dan jika dalam waktu sepuluh menit ke depan Anda tidak duduk manis di kursi utama ruang rapat konferensi dengan pakaian rapi dan dokumen yang lengkap..." Aulia membungkuk, memangkas jarak di antara mereka hingga wajahnya hanya berjarak tiga puluh sentimeter dari wajah bosnya. "...saya bersumpah demi seluruh kontrak kerja saya, saya akan menyita semua konsol game di ruangan Anda, memblokir alamat IP Wi-Fi privat di apartemen Anda, dan yang paling parah, saya akan menelepon Ibu Besar untuk melaporkan bahwa putra bungsunya yang jenius ini kembali bolos rapat demi memburu monster digital tingkat tinggi."

Mendengar ancaman terakhir yang membawa-bawa nama ibunya, Khatyr langsung terduduk tegak seolah-olah baru saja tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Wajah malas dan mengantuknya seketika berubah menjadi ekspresi syok yang dramatis.

"Kamu kejam sekali, Aulia Putri! Tega sekali kamu melakukan itu pada atasanmu sendiri? Aku ini CEO-mu, pemegang saham terbesar kedua di gedung ini!" protes Khatyr sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena bantal ayam jago.

"Dan saya adalah gembala Anda, Pak Khatyr. Tugas saya adalah memastikan domba premium seperti Anda tidak tersesat di gudang arsip saat uang lima triliun rupiah sedang menunggu di bawah," jawab Aulia tanpa berkedip, seraya mengulurkan sebuah tisu basah dari saku lainnya agar Khatyr bisa mengelap sisa-sisa kantuk di wajahnya. "Sekarang, berdiri, kancingkan jas Anda, dan mari kita selamatkan aset perusahaan ini sebelum Pak Haryo terkena serangan jantung di depan para investor Swiss."

Khatyr menghela napas panjang dan pasrah. Ia bangkit berdiri dengan ogah-ogahan, meratapi nasibnya yang harus kehilangan waktu tidur siang berharga hanya karena sekretaris pribadinya memiliki tingkat kedisiplinan yang setara dengan sersan militer.

Hari itu, di lantai teratas KALUMPERRI CORP, perang tak kasat mata antara seorang sekretaris ambisius yang ingin naik jabatan dan seorang CEO pemalas yang hanya ingin rebahan kembali dimulai dengan genderang perang yang ditabuh kencang.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!